
"Kau mau tidak ikut ekskul Band-ku?"
Ryuu cukup terkejut. Namun ia malah menampakkan wajah datar, "Sejak kapan kau ikut ekskul?"
"Sejak hari ini, hehe. Jadi, bagaimana? Kau mau apa tidak?"
Ryuu diam. Terlihat seperti menimbang-nimbang tawaran Ara. Tidak. Tepatnya, permintaan Ara. Nada bicara gadis itu juga seperti 'menekan' agar Ryuu mau ikut Band dengannya.
"Akan ku pertimbangkan nan-"
"Eitss! Kau bilang kau akan mewujudkan permintaanku," potong Ara sambil tersenyum.
Ryuu mendesah pasrah. Ia pun segera berjalan meninggalkan Ara yang tersenyum penuh kemenangan. Lalu, tak lama Ryuu di susul kembali oleh sahabatnya itu.
"Ryuu, kenapa kau tak bawa sepedamu?"
"Ban sepedaku kempes kemarin."
"Kemarin? Bukankah kemarin kau ke rumah Revina menggunakan sepedamu?"
"Iya, aku memboncengnya."
Ara memanyunkan bibirnya sebal, "Hmm, jadi kau memboncengnya, toh."
"Iya, memangnya kenapa? Ada masalah?" tanya Ryuu sinis sambil melirik Ara sekilas.
Ara mengangguk, "Tentu saja! Aku saja jarang di bonceng olehmu! Kenapa Revina begitu mudahnya kau bonceng?"
Ryuu hanya diam, pandangannya lurus ke depan sambil berjalan. Ia mencoba tak mendengarkan Ara yang terus-menerus mengoceh.
Karna ocehan Ara semakin panjang dan bertele-tele, Ryuu menghentikan langkahnya dan menatap tajam Ara.
"Kenapa aku terdengar seperti mengkhianatimu? Lagipula, alasanku membonceng Revina karna memang aku akan mengajar les di rumahnya."
Ara menutup mulutnya, berusaha untuk tak mengucapkan apa-apa lagi. Tak lama setelah itu, mereka berdua pun kembali berjalan.
"Rasanya, jarakku begitu jauh denganmu setiap kali kau dekat dengan orang lain," ucap Ara pelan.
Ryuu hanya diam sambil membuang mukanya.
"Soalnya, Ryuu yang ku kenal tidak mudah dekat dengan siapapun. Apalagi dengan seorang perempuan."
Kali ini Ryuu melirik Ara sekilas. Lalu kembali membuang mukanya.
"Mungkin aku saja yang terlalu egois. Aku merasa hanya akulah teman dan sahabatmu satu-satunya di dunia ini."
"Memang kenyataannya seperti itu, 'kan?"
Ara membulatkan matanya, "Eh?"
"Aku hanya punya dirimu sebagai teman sekaligus sahabatku dari kecil."
"Lalu, lalu.. Revina? Bukankah kau juga berteman dengannya? Kalau tidak, mana mau kau mengajarinya les!"
Ryuu menunduk, terlihat seperti menyembunyikan wajahnya yang memerah. Ara yang segera menyadari akan hal itu, langsung menghentikan langkahnya dan menatap Ryuu terkejut.
"RYUU! J-jangan bilang kau.."
Ryuu menatap Ara datar, "Ini bukan seperti yang kau kira-"
"...kau menganggap Revina bukan sebagai teman?"
Ryuu diam. Namun, sorot matanya seperti mengiyakan pertanyaan Ara. Menyadari akan hal itu, Ara hanya bengong saja tanpa bisa berkata apa-apa lagi.
"Jika kau menganggap Revina bukan sebagai teman, lalu kau menganggap dia sebagai apa?" batin Ara yang tak berani mengungkapkan pertanyaannya secara langsung. Ia hanya menunduk sambil terus berjalan disamping Ryuu.
***
"Ah, sepertinya aku harus move on."
Angel yang baru saja menyeruput es jeruknya langsung tersedak seketika.
"Hah? Move on?"
Ara mengangguk. Pandangannya menyapu seluruh ruangan kantin sambil memanyunkan bibirnya. Istirahat kali ini, entah kenapa Ara begitu tak bersemangat. Bahkan untuk membicarakan Ryuu saja, Ara merasa sangat malas.
"Kenapa kau mau move on?" tanya Angel tak mengerti.
"Ryuu sepertinya menyukai seseorang di kelas kita."
Angel lagi-lagi tersedak jus jeruk, "B-benarkah? Kau tahu darimana?"
"Aku tahu sen-"
"Tidak, itu tidak benar."
DEG !!!
Angel dan Ara sama-sama terkejut ketika melihat laki-laki seumuran mereka yang tersenyum kuda-berdiri di samping Ara. Laki-laki itu pun duduk di sebelah Ara tanpa permisi terlebih dahulu.
"Sam, ayolah. Mood Ara sedang tidak baik, kau pergi saja dari sini sebelum Ara benar-benar ngamuk padamu," ujar Angel yang mengerti keadaan Ara.
Bukannya pergi, Sam malah merangkul pundak Ara, "Ku kasih tahu saja ya Ra, Ryuu itu tak menyukai siapapun di kelas kita."
"Benarkah?" tanya Ara penasaran.
Sedangkan Angel yang duduk di hadapan Ara terkejut karna Ara terlihat santai saja di rangkul oleh Sam.
"Hmm, melihatmu begitu penasaran, aku jadi semakin ingin bercerita."
"Cerita apa sih memangnya?" tanya Angel sambil memutar bola matanya agak kesal.
Sam pun tertawa, "Jadi begini..."
#FLASHBACK ON
Beberapa hari yang lalu..
Sepulang sekolah, di ekskul Basket..
"Oke, semuanya kita istirahat 10 menit!"
Sam yang juga anggota anak basket, langsung menghampiri Ryuu. Ia penasaran dengan apa yang terjadi pada kaptennya itu.
"Hmm, kapten, kau tidak istirahat seperti yang lain?"
Ryuu melirik Sam sebentar, lalu kembali melamun.
"Jarang sekali melihatmu melamun seperti ini. Kau sedang memikirkan apa, sih?"
"Bukan urusanmu," jawab Ryuu datar.
"Kau itu kaptenku! Tentu saja itu urusanku! Kau juga terlihat tidak fokus saat melatih anak-anak yang baru, tadi."
Ryuu berhenti men-dribble bola. Ia menatap Sam begitu aneh. Hingga yang ditatap tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, kau kenapa sih? Aku takut ditatap seperti itu olehmu."
"Aku mau bertanya," ujar Ryuu serius.
Sam menghentikan tawanya, "Apa?"
"Aku sedang gelisah."
"Hah? Gelisah? Karna apa?"
"Entahlah, aku merasa bersalah pada seseorang."
Sam pun lagi-lagi tertawa. Ia memukul-mukul pelan pundak Ryuu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ryuu, kau terlihat seperti orang yang jatuh cinta."
"Hah?" Ryuu membelalakan matanya kaget, lalu detik selanjutnya ia pun berwajah datar kembali.
"Dari SMP hingga sekarang, baru kali ini aku melihat wajahmu penuh dengan kegelisahan. Tidak salah lagi, kau sedang jatuh cinta!" seru Sam tersenyum sangat yakin.
Ryuu diam, ia terlihat seperti memikirkan sesuatu, "Aku tak pernah menyukai siapapun dalam hidupku. Kecuali keluargaku."
Senyuman Sam yang tadinya begitu merekah langsung menyusut seketika. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi karna Ryuu meninggalkannya yang masih mematung. Dalam hati, Sam begitu bingung dengan Ryuu yang sulit didekati. Bukan hanya sulit didekati, namun juga sulit dipahami.
#FLASHBACK OFF
"Ra! Ara! Kau dengar itu, kan? Ryuu tak pernah menyukai siapapun dalam hidupnya kecuali keluarganya sendiri!" seru Angel yang mulai bersemangat.
Ara tertawa canggung sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Perasaan kecewa dan senang berkumpul di hatinya. Kecewa karna Ryuu ternyata masih belum menyukainya, dan senang karna Ryuu tak menyukai siapapun, termasuk dirinya.
"Makanya, kau juga jangan gelisah ya Ra," ujar Sam sambil melepaskan rangkulannya di pundak Ara.
"T-tunggu sebentar, kenapa kau bersikap seolah-olah kau tahu?" tanya Ara kaget.
"Tahu apa?"
Ara membulatkan matanya sambil memukul pundak Sam, "Sial! Dasar penguping! Berarti selama ini kau tahu aku menyukai Ryuu?!"
Sam tertawa seraya mengangguk-angguk, "Tentu saja aku tahu, Ra. Bahkan aku tahu dari saat kita SMP."
"Peka juga ya kau," kata Angel sinis.
"Tentu saja, maka dari itu. Saranku, daripada kau menunggu Ryuu yang tidak peka itu, lebih baik kau bersamaku saja."
"Hmm, obrolan yang bagus, ya."
DEG !!!
Ara, Angel, dan Sam seketika terkejut dengan kedatangan Ryuu yang entah sejak kapan ada di samping Sam. Ryuu menatap datar semua yang ada di situ. Kecuali Ara. Ya, tatapan Ryuu kini begitu tajam pada sahabatnya itu.
"Tidak akan!" tolak Ara dengan tegas sambil mendorong Sam agar menjauhinya.
Sam pun tertawa canggung, "Hahaha, Ryuu. Duduklah, duduklah," ucapnya sambil memberikan tempat duduk untuk Ryuu.
"Ryuu, sejak kapan kau mendengar percakapan kami?" tanya Ara takut-takut.
"Sejak Sam menceritakan aku yang gelisah saat ekskul basket," jawab Ryuu dingin.
Angel menepuk jidatnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedangkan Sam hanya memasang ekspresi wajah yang canggung sekaligus tak enak pada Ryuu.
"R-ryuu, ini bukan seperti apa yang kau pikirkan," ujar Angel mencoba mencairkan suasana.
"Iya, benar. Ajakan pada Ara untuk bersamaku tadi hanya candaan saja, kok. Aku tak akan merebut Ara darimu," tambah Sam masih dengan wajah tak enak.
Ryuu melirik satu-persatu temannya yang ada disitu. Seperti biasa, wajahnya itu tak pernah menampakkan emosi yang ada. Tentu saja Ara tahu akan hal itu. Senang, kesal, sedih, wajah Ryuu tak pernah menampakkan apa yang ia rasakan. Maka dari itu, memang sulit menebak apa yang Ryuu pikirkan lewat ekspresinya.
"Kenapa kalian begitu terlihat takut padaku?" tanya Ryuu sambil membuang mukanya.
Sam lagi-lagi tertawa canggung. Namun kali ini, Angel juga ikut tertawa canggung sama sepertinya. Sedangkan Ara, entah kenapa ia tak bisa berkutik sedikitpun.
"Aku tak peduli Ara bersama siapa," ucap Ryuu sinis yang membuat Ara terkejut sekaligus sakit hati.
"Eh? Maksudmu bagaimana, sih?" tanya Angel bingung.
"Itu hak dia, mau bersama siapapun juga aku tak peduli."
Sam membelalakkan matanya, "Jadi, kau tak peduli jika aku merebut Ara darimu?"
"Silahkan saja," jawab Ryuu cepat sambil bangkit dari duduknya. Detik selanjutnya, ia pun berjalan meninggalkan tiga temannya tersebut di kantin.
"Hei, Ryuu. Kau mau kemana? Percakapan kita belum selesai!" seru Angel protes.
Sam menatap Ara, ia begitu terkejut melihat Ara yang matanya sudah berkaca-kaca dengan wajah yang memerah. Sam tahu, Ara pasti sakit hati mendengar Ryuu berucap seperti itu. Angel yang menyadari hal itu juga langsung merangkul Ara sambil mencoba menenangkannya.
"Akan kubuat Ryuu menyesali perkataannya," kata Sam sambil menatap punggung Ryuu yang semakin menjauh.
"Hei, jaga ucapanmu. Awas saja kau macam-macam dengan Ryuu," lirih Ara sambil terisak.
"Tidak, Ra. Aku malah akan membantumu agar Ryuu bisa menyukaimu."
"Hah? Maksudmu?" tanya Angel penasaran.
"Lihat saja nanti, kalian juga akan tahu," jawab Sam sambil tersenyum miring.