
🖤🖤🖤
Hujan itu turun, bukan jatuh.
Yang jatuh itu aku, di hatimu.
🖤🖤🖤
"Ryuu, tunggu aku!"
Ara berusaha mengejar Ryuu yang berjalan menuju Villa yang mereka tempati. Susah payah Ara mengejar Ryuu, namun sepertinya Ryuu malah semakin mempercepat langkahnya. Entah kenapa, laki-laki itu merasa kesal karena melihat Ara bersama Rangga tadi.
"Ryuu, kau dimana?!"
Ryuu menghentikan langkahnya seketika. Ia menoleh ke belakang, tak ada Ara atau siapapun itu dibelakangnya. Kening Ryuu sedikit mengkerut heran. Hei, kemana perginya Ara? Bukankah Ara sedang mengejar Ryuu tadi?
BRUGHH!!!
"Ryuu! A-awww!!!"
DEG!!!
Ryuu tanpa pikir panjang berbelok arah dan berlari, ia mencoba mencari dimana keberadaan Ara. Namun, nihil. Walau ia bisa mendengar suara Ara, tapi ia tak sedikitpun melihat keberadaan dimana sahabatnya itu.
"Ryuu! Hiks, hiks.. Jangan tinggalkan aku. Disini gelap..."
Ryuu mempertajam pandangannya ke segala arah. Tetap saja, tak ada Ara yang masuk dalam pandangannya. Hanya ada banyak pohon beringin yang menjulang tinggi dan lampu jalan yang minim cahaya. Dimana Ara sebenarnya?
"Al! Kau dimana?"
Tak ada pilihan lain, akhirnya Ryuu membuka suara. Ya, sedari tadi laki-laki itu bersusah payah untuk tak membuka suaranya. Ia tak ingin Ara tahu bahwa ia sangat mengkhawatirkannya sekarang.
"Ryuu! Aku disini! Di bawah sini!"
Ryuu segera mengalihkan pandangannya ke arah bawah jurang yang cukup pendek. Rupanya, Ara terpeleset dan jatuh ke bawah sana. Jalan di sekitaran Villa ini memang cukup curam dan licin. Jadi, wajar saja Ara jatuh karna berlari mengejar Ryuu tadi.
Tak lama kemudian, Ryuu sudah berada di bawah jurang pendek tersebut. Ia sangat kaget melihat kaki Ara yang kini memerah akibat terkilir.
Detik berikutnya, Ryuu pun duduk di hadapan Ara. Ia menarik pelan kaki Ara untuk dilihat seberapa buruk kondisi kaki sahabatnya itu. Jujur saja, Ara cukup terkejut dengan perlakuan Ryuu yang entah kenapa terasa lembut menurutnya sekarang.
"Apa sangat sakit?" tanya Ryuu pelan.
Ara mengangguk sambil terisak.
"Aku akan mengurut kakimu, jadi jangan bergerak ya."
"Hah? T-tidak mau! Sakit, tahu!" seru Ara menggeleng cepat, "Aku tidak mau diurut!"
Ryuu berdecak sambil menjentik pelan kening Ara, "Ck, seperti biasa. Dasar keras kepala."
Ara terdiam seraya memajukan bibirnya, tanda ia tak bisa menjawab apa-apa lagi.
"Sini, aku mengurut kakimu agar kau bisa berjalan lagi. Bukan untuk mematahkan kakimu," ujar Ryuu sambil kembali menyentuh kaki kiri Ara.
"T-tapi! Tapi ada syaratnya ya!"
Ryuu terdiam sebentar, lalu mengangguk, "Iya. Apa syaratnya?"
"Aku boleh menciummu kalau kakiku sudah diurut olehmu!" seru Ara spontan tanpa sadar. Detik selanjutnya, Ara langsung membulatkan mata sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia saja tak percaya dengan apa yang dikatakannya tadi.
"Baiklah, ku terima syaratmu," kata Ryuu tanpa pikir panjang.
"E-ehhh?!"
***
"Rangga, kau sudah menemukan Ara?" tanya Revina saat Rangga baru saja sampai di depan pintu utama Villa.
Rangga mengangguk tanpa bersuara sedikitpun. Ia berjalan melewati Revina menuju kamarnya yang sudah ditentukan pagi tadi. Terlihat dari ekspresi Rangga, sepertinya laki-laki itu sedang kesal. Ya, sebagai sepupu jujur saja Revina sadar akan hal itu.
"Lho, jika Ara sudah ditemukan, kemana yang lainnya sekarang?" batin Revina aneh.
Tak lama kemudian, datang Sam yang berjalan santai dengan ekspresi yang menurut Revina sangat menjijikkan sekarang.
"Sam, kenapa kau tersenyum-senyum sendiri?" tanya Revina heran.
Sam tak menjawab apapun. Rupanya, pikirannya itu kini sedang melayang pada peristiwa tadi dimana Angel berani menciumnya duluan untuk pertama kalinya.
"Ah, ada yang sedang dimabuk cinta sepertinya," sindir Revina sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sam tertawa terbahak-bahak mendengar sindiran Revina untuknya, "Kau tidak tahu betapa manisnya ekspresi Angel tadi padaku," katanya seraya kembali tersenyum-senyum dan mengingat kejadian bagaimana Angel menciumnya tadi.
Revina mengangguk-anggukan kepalanya saja. Ia tak mau bicara lama-lama dengan orang yang sedang di mabuk cinta. Karna menurutnya, orang yang sedang di mabuk cinta pasti sangat aneh jika diajak bicara.
"Hei, ngomong-ngomong, apa Ara sudah ditemukan?" tanya Sam yang baru sadar akan Ara.
"Iya, sudah. Rangga yang menemukan Ara katanya."
"Eh? Rangga? Lalu, jika yang menemukan Ara adalah Rangga, dimana Ara sekarang?"
"Tidak tahu, Rangga kesini tidak bersama Ara."
DEG!!!
"Eh? Lalu kemana perginya Ara? Apa dia bersama Angel?"
"Angel? Tidak, Ara tadi mengejar Ryuu dan pasti mereka berdua sedang bersama sekarang," jawab Rangga yang entah sejak kapan hadir diantara Sam dan Revina.
Sam membelalakkan matanya kaget, "Angel memangnya tidak kembali ke Villa, Rev?"
Revina menggeleng, "Tidak tahu. Kalau Angel sudah kembali kesini, aku pasti sudah berdebat dengannya sekarang."
DEG!!!
Rasa kaget yang bertambah dan rasa khawatir kini bercampur aduk di dalam dada Sam. Tanpa pikir panjang, dia berlari kembali keluar dari area Villa. Sam yakin, Angel tak mematuhi ucapannya. Pacarnya itu tetap mencari dimana keberadaan Ara dan tak kembali ke Villa sesuai perintah Sam.
***
"Sudah terasa baikan kakimu?"
Ara mengangguk setelah Ryuu baru saja selesai mengurut kakinya itu. Ia pun langsung mengubah posisi duduk dengan men-sejajarkan kakinya, sama seperti Ryuu yang ada disampingnya.
Entah kenapa, suasana canggung tercipta sekarang.
Ara menelan ludahnya sambil melirik Ryuu sekilas. Betapa terkejutnya ia saat menyadari bahwa Ryuu juga meliriknya, bersamaan dengannya. Oh, rasa canggung semakin bertambah karna tak ada satupun diantara mereka berdua yang mau berbicara.
"Kenapa?" tanya Ryuu tiba-tiba.
"E-eh?"
"Kenapa kau diam saja?"
"K-kau juga sama-sama diam sepertiku," Ara mengernyitkan dahinya bingung, "Lagipula kenapa kau masih disini bersamaku?"
"Oh, jadi kau ingin ditinggal olehku? Kau pikir aku orang yang seperti itu?" sindir Ryuu sinis.
Ara menggeleng cepat, "Tidak, kok! Bukan seperti itu maksudku! H-hanya saja..."
"Aku sedang menunggu kau melakukan syaratmu yang tadi kau sebutkan."
DEG!!!
Ara menelan ludahnya kaget seraya membelalakkan matanya, "Hei! T-tadi itu aku bercanda, kok! Kenapa kau ambil serius? Hahaha," katanya sambil tertawa dipaksakan.
"Oh, begitu ya? Hmm, sebenarnya aku tahu sih alasannya kenapa syarat tadi kau bilang hanya bercanda," kata Ryuu dingin lalu membuang mukanya.
"Alasannya?"
"Iya, kau 'kan tadi sudah dicium oleh Rangga. Jadi aku yakin kau tidak akan mau menciumku sekarang."
Rasa kaget Ara kian bertambah. Gadis itu kembali membelalakkan matanya kaget, "H-hei! Tidak kok! Aku tidak berciuman dengan Rangga! I-itu..."
"Itu apa?" tanya Ryuu yang masih membuang muka, enggan menatap Ara.
"D-dia sendiri yang mau menciumku. I-itu bukan keinginanku, Ryuu," jawab Ara sambil menundukkan kepalanya, "Tapi karna kau datang, syukurlah Rangga tidak jadi melakukannya padaku. T-terimakasih karna kau telah datang mencariku, Ryuu," sambungnya dengan suara lirih.
Ryuu melirik Ara sekilas lalu kembali membuang mukanya, "A-aku tidak berniat mencarimu, kok. Jangan salah paham ya! Aku tadi hanya cari angin saja dan tak sengaja melihatmu berduaan dengan Rangga dibawah pohon."
Ara diam. Ia tak sedikitpun mengeluarkan suara. Heran akan hal itu, Ryuu pun kini menatap Ara yang sedang menunduk.
"Hei, kau kenapa?" tanya Ryuu dengan suara cukup lembut.
Ara tetap diam. Hanya terdengar isakan tangis yang bisa didengar oleh Ryuu.
"K.. Kau menangis?"
Ara menggeleng seraya menatap Ryuu dengan tatapan yang sangat dalam, "Hahaha, maaf Ryuu. Aku bukan menangis sedih. Hanya saja aku merasa sangat lega sekarang."
"Lega kenapa?"
"Kalau kau tidak datang tadi, mungkin aku sudah dicium oleh Rangga. Dan aku sangat tidak mau itu terjadi."
Ryuu terdiam sesaat sebelum akhirnya kembali bertanya, "Kenapa kau tak mau dicium olehnya?"
Mendengar pertanyaan bodoh Ryuu, Ara pun menatap Ryuu dengan tatapan super kesal seraya mencubit kedua pipi sahabatnya itu.
"Itu karna aku tidak mencintainya, Ryuu! Kau 'kan tahu sendiri bahwa yang ku cinta adalah dirimu!" seru Ara sangat serius.
DEG!!!
Ryuu terlihat membelalakkan matanya kaget melihat ekspresi Ara yang sangat serius padanya. 10 tahun mereka bersahabat, Ryuu bersumpah baru kali ini melihat ekspresi Ara yang seserius ini.
Ara melepaskan kedua tangannya dari pipi Ryuu. Entah kenapa, ada rasa malu saat ia bilang cinta pada Ryuu tadi. Aneh, ini bukan pertama kalinya ia mengatakan cinta pada Ryuu, tapi kenapa tadi Ryuu terlihat sangat kaget? Memangnya ada yang berbeda dari ucapannya tadi?
"Al, ayo kita kembali ke Villa. Yang lainnya pasti sedang menunggu kita disana," kata Ryuu seraya berdiri, lalu membantu Ara agar ikut berdiri juga.
Ara meringis ketika kaki kirinya menginjak tanah, "A-awww!!!"
"Apa masih sangat sakit?" tanya Ryuu cukup khawatir.
Ara mengangguk. Ia kini berdiri hanya dengan satu kaki saja yaitu kaki kanannya. Ya, kaki kirinya dibiarkan agar tak menginjak tanah.
"Aku bisa kok jalan. Kau jangan mengkhawatirkanku," ujar Ara yang cukup salah tingkah dengan tatapan Ryuu padanya.
Ryuu berdecak. Tanpa aba-aba ia langsung menarik kedua pundak Ara agar mendekat padanya. Ara pun menengadahkan kepalanya untuk menatap Ryuu yang lebih tinggi darinya. Demi apapun, situasi ini benar-benar membuat jantung Ara berdegup kencang.
"R.. Ryuu?"
Ryuu diam, ia malah mempertajam kontak matanya dengan Ara. Oh, demi apapun, Ara semakin salah tingkah dan aliran darahnya itu semakin berdesir kencang.
"Kau bilang jika aku mengurut kakimu, kau akan menciumku, kan?" tanya Ryuu yang membuat pipi Ara memerah seketika.
"I.. Itu kan.."
"Apa? Itu kan syarat yang kau tentukan sendiri. Kau mau melanggarnya?"
GLEK!!!
Ara menelan ludahnya kasar. Ia sungguh tak tahu harus bicara apa lagi. Ya, memang sih, Ara sangat mencintai Ryuu. Tapi untuk mencium Ryuu duluan, itu sangat tidak mungkin bagi Ara. Ya, lebih tepatnya, ia tak sanggup jika harus mencium Ryuu duluan.
Ryuu menghela napas panjang, membuang muka, lalu kembali menatap tajam Ara, "Mungkin kesempatanmu menciumku duluan tak akan pernah terulang lagi di masa yang akan datang."
"K-kesempatan?"
"Ya. Jadi, apa kau mau melewatkan kesempatan ini, Al?" tanya Ryuu sambil tersenyum sinis melihat ekspresi Ara yang begitu kaku.