STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 69 - Sadar



🖤🖤🖤


Tak usah terburu-buru. Cinta punya waktunya sendiri. Ia punya detak dan detik yang tak pernah kita mengerti, ia punya bahasa yang tak semua orang bisa pahami. Maka, teruslah mencintai. Perihal ikatan biar Tuhan yang menghendaki.


🖤🖤🖤


Ara dan Ryuu sudah berada dalam taksi yang melaju menuju Rumah Sakit terdekat. Di dalam taksi, Ara tak henti-hentinya meringis sambil terus memperhatikan luka di lengannya. Melihat hal itu, Ryuu pun tak tinggal diam. Ia segera mengambil tisu untuk mengelap darah yang terus keluar dari lengan Ara.



"Ini, kau harus mengelapnya dengan tisu," ujar Ryuu seraya menyodorkan tisu pada Ara.


Ara berhenti meringis. Ia dengan cepat menatap Ryuu, menolak tisu pemberian Ryuu dengan sorot matanya.


"Sampai kapan kau tak mau menerima bantuanku, hah?" tanya Ryuu ketus sambil menarik pelan lengan Ara agar mendekat padanya. Lalu, detik selanjutnya, ia segera mengelap perlahan darah yang ada di lengan sahabatnya itu.



Ara kembali meringis tatkala tisu putih yang ada di tangan Ryuu mulai menyentuh permukaan lengannya. Mendengar ringisan Ara, Ryuu pun menghentikan pergerakan tangannya.


"Apa terasa sangat sakit?" tanya Ryuu lembut.


Ara mengangguk, berusaha menahan tangisannya.


"Aku punya pertanyaan untukmu," kata Ryuu seraya kembali mengelap lengan Ara dengan sangat pelan.


"A... Apa?"


"Kenapa kau bisa ada di Cafe Garden? Kenapa kau menguntitku?"


Ara refleks menelan ludahnya. Ia sungguh tak tahu harus menjawab apa.


"Itu karena aku dapat info dari Sam. Katanya, kau mau berkencan dengan Revina," jawab Ara takut-takut namun dengan hati yang sedih.


Ryuu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menarik napas panjang.


"Aku tak bilang akan kencan pada Sam. Aku bilang, aku akan bertemu dengan Revina dan Mamahnya hari Minggu ini. Kenapa si bodoh itu malah bilang begitu padamu?"


Ara menunduk. Ia sendiri tak tahu kenapa Sam bilang begitu padanya. Kemungkinan, Sam salah dengar. Atau mungkin juga, Sam sengaja ingin Ara menguntit Ryuu hari Minggu ini di Cafe Garden.


Ah, Ara sekarang paham maksud dari Sam. Temannya itu ingin Ara menyelidiki sendiri hubungan yang sebenarnya terjadi antara Ryuu dan Revina. Makanya, Sam bilang begitu padanya.


"R... Ryuu, aku juga ingin bertanya padamu," ucap Ara setelah sekian lama ia diam.


Ryuu mengangguk tanda membolehkan Ara bertanya. Namun, pandangannya itu fokus pada lengan Ara yang sedang ia elap darahnya.



"Jujur padaku. Kenapa kau bertemu dengan Mamahnya Revina?"


Kali ini, Ryuu yang menelan ludahnya kasar. Tanpa sadar, ia menghentikan pergerakan tangannya di lengan Ara seraya membuang muka.



"Ujian Nasional sebentar lagi. Aku tak mau mengacaukan pikiran Al. Ya, cukup aku saja yang mengemban dan memikirkan masalah keluargaku. Al jangan sampai tahu. Karena, kalau dia tahu masalah ini, ia pasti akan terganggu belajarnya dan akan terus memikirkanku. Aku tak mau itu terjadi," batin Ryuu sedih.


Karena Ryuu cukup lama diam, Ara mulai berpikiran yang aneh-aneh. Mungkin saja, benar ucapan Revina tadi. Bahwa Ryuu dan Revina sudah berpacaran. Dan pertemuan Ryuu tadi dengan Mamahnya Revina tak lain adalah pertemuan antara Mertua dan Menantu.


Bukankah begitu?


Ara pun menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dengan rasa penasaran sekaligus sedih, ia hendak menanyakan sesuatu lagi pada Ryuu.


"R... Ryuu, apa kau berpacaran dengan一"


"Tuan, kita sudah sampai di Rumah Sakit," ujar supir taksi tak sengaja memotong pertanyaan Ara.


Ryuu mengangguk pelan. Ia dengan cepat memberikan uang tarif pada supir taksi tersebut. Detik selanjutnya, ia pun menatap Ara yang terdiam karena pertanyaannya dipotong tadi.


"Ayo, kita turun," ajak Ryuu seraya membuka pintu mobil taksi.


***


"Apa kata dokter tadi? Apakah lukamu cukup parah?" tanya Ryuu sesaat setelah ia dan Ara keluar dari pintu utama Rumah Sakit.


Ara tak menjawab. Gadis itu memilih terus berjalan meninggalkan Ryuu di belakangnya.


"H... Hei!" seru Ryuu seraya mempercepat langkah kakinya. Berusaha sejajar dengan Ara.


"Karena kau sudah ke Rumah Sakit, aku akan menjawab pertanyaanmu," ujar Ryuu berhenti melangkah. Membuat Ara mau tak mau ikut menghentikan langkah kakinya juga.


Dengan perasaan penasaran sekaligus takut sakit hati lagi, Ara pun menghadap Ryuu sambil menatapnya penuh rasa sedih.


"Tak perlu. Aku tak perlu jawabanmu lagi. Aku tak perlu tahu apakah ada aku atau tidak dalam hatimu," ujar Ara lirih.


"M... Maksudmu?" tanya Ryuu kebingungan.


"Kau sudah punya pacar. Jadi, sudah di pastikan bahwa tak akan ada aku di dalam hatimu."


"Kau bicara apa, sih? Aku tak mengerti."


Ara tersenyum getir, "Kau berpacaran kan dengan Revina? Buktinya, kau bertemu dengan Mamahnya Revina sebagai pertemuan antara Mertua dan Menantu. Bukankah begitu, Ryuu?"


DEG!!!


Ryuu membulatkan matanya kaget sekaligus kesal dengan tuduhan Ara yang aneh. Jelas-jelas, ia bertemu dengan Mamahnya Revina bukan untuk pertemuan sebagai Mertua dan Menantu. Melainkan, Ryuu ingin meluruskan masalah tentang perselingkuhan Ayahnya dengan Mamah Revina. Ya, itu saja. Tak lebih.


"Aku tak pernah ada niatan untuk berpacaran dengan siapapun itu. Termasuk pada Revina," jelas Ryuu tegas.


"Lalu, kalau begitu, apa hubunganmu dengan Revina? Sampai-sampai, kau mengadakan pertemuan dengan Mamahnya?" tanya Ara masih belum percaya.


Ryuu mendesah pasrah seraya menundukkan kepalanya. Lagi, hati dan pikirannya berperang melawan keraguan. Ia tak mau memberitahukan soal perselingkuhan Ayahnya dan Mamahnya Revina pada Ara. Namun, jika Ryuu tak memberitahukan hal ini, pasti Ara tak akan pernah berhenti mencurigai Ryuu.


"Tentang ada atau tidaknya kau di hatiku, aku belum bisa jamin," ujar Ryuu seraya menatap Ara一mengalihkan topik pembicaraan.


Ara pun menatap tajam Ryuu, sadar bahwa Ryuu berusaha mengalihkan topik. Tentu, ia tak akan begitu saja melupakan topik yang sebelumnya dibicarakan.


"Aku hanya butuh jawabanmu tentang hubunganmu dengan Revina dan Mamahnya. Sekarang, aku sudah tak butuh jawaban tentang ada atau tidaknya aku dalam hatimu, Ryuu!" seru Ara mulai kesal.


Ryuu kembali menundukkan kepalanya. Ia benar-benar tak tahu harus menjawab apa lagi. Melihat ekspresi Ryuu yang kini cukup menyedihkan, Ara pun mulai menatap Ryuu khawatir. Ara sadar, mungkin ia terlalu memojokkan Ryuu dan terlalu mendesak Ryuu untuk menjawab pertanyaannya.


Apalagi, saat ini Ryuu sedang dilanda masalah keluarga yang ia sendiri tak tahu apa masalahnya. Itu artinya, ia tak seharusnya bersikap seperti ini. Ia seharusnya lebih mengerti keadaan Ryuu.


Ya, Ara kini mulai sadar akan hal itu. Apalagi, Ryuu adalah tipe orang tertutup atau introvert. Tak mudah membuat seorang Nakajima Ryuu menceritakan apa saja yang terjadi padanya. Sebagai sahabatnya selama 10 tahun lebih, Ara kini mulai sadar dan mengerti Ryuu.


"Ryuu dan Revina tak berpacaran? Ya, aku tahu Ryuu tak pernah sekalipun berbohong padaku. Itu artinya, kini aku harus mempercayainya, bukan?"


"Ah! Apa mungkin, masalah keluarga Ryuu ada hubungannya dengan Revina dan juga Mamahnya?" batin Ara memutar otaknya cepat.


"Al," panggil Ryuu yang sukses membuat Ara tersentak kaget.


"I... Iya?"


"Untuk saat ini. Aku masih belum bisa memberitahumu apapun. Tapi, jika masalah ini sudah selesai, aku janji akan menceritakannya dan berterus terang padamu," ujar Ryuu masih dengan ekspresi menyedihkannya.


Ara yang tadinya menatap Ryuu khawatir, mencoba tersenyum ceria. Ia berusaha menghibur Ryuu dengan senyumannya tersebut.


"Kenapa ekspresimu sekarang berubah? Tadi, kau menatapku kesal. Sekarang, kau malah tersenyum. Ada apa sih dengan otakmu itu?" tanya Ryuu ketus.


Senyuman Ara semakin lebar. Ia senang jika Ryuu sudah mulai ketus dan tsundere lagi padanya. Menurutnya, lebih baik melihat Ryuu ketus, dingin, dan tsundere daripada melihat Ryuu sedih.


"Aku tahu. Kau tak ingin aku ikut memikirkan masalahmu, kan?" tanya Ara setelah sekian lama ia tersenyum.


Ryuu mengangguk seraya membuang muka, "Kau harus belajar tanpa pikiran yang mengganggumu, Al. Ingat, nilai ujian nasionalmu harus lebih bagus dariku. Jika kau menang, bukankah kau bisa terbebas dariku?"


"Iya, aku memang ingin menang. Nilai UN-ku pasti bisa lebih besar darimu!" seru Ara penuh semangat.


"Jika aku menang, aku bisa terbebas darimu kan? Selain itu, aku bebas menjauhimu dan bisa berpacaran dengan siapapun. Tapi, jika aku kalah, aku akan terus terjebak dalam zona pertemanan kita ini, dan kau akan terus membuatku berharap tanpa kepastian."


"Kalau begitu, aku lebih memilih untuk menang!" sambung Ara tersenyum ceria, membuat Ryuu membulatkan mata kaget.


"Eh? Kau tetap memilih menang?"


Ara mengangguk, senyumannya itu tak pudar dari wajahnya.


"Dengan begitu, aku bisa berpacaran dengan siapapun, kan? Termasuk denganmu! Bukankah begitu, Ryuu? Hehehe," sambung Ara yang sukses membuat pipi Ryuu memerah seketika.


Ryuu pun membuang mukanya, "Lakukan sesukamu," katanya dingin.


Senyuman Ara pun semakin merekah. Ia dengan cepat mencubit kedua pipi Ryuu agar sahabatnya itu tak lagi membuang mukanya.



"Jika kau bilang begitu, bukankah artinya kau memperbolehkanku untuk jadi pacarmu?" tanya Ara penuh rasa senang.


"Entahlah," jawab Ryuu ketus seraya melepaskan cubitan Ara dari pipinya.


Tak lama setelah itu, Ryuu pun kembali berjalan. Meninggalkan Ara yang masih tersenyum-senyum sendiri di tempatnya.


"Ryuu! Jika aku bilang bahwa aku semakin mencintaimu, bagaimanaaa?" teriak Ara pada Ryuu yang masih terus berjalan. Namun, tak disangka. Teriakan Ara itu sukses membuat orang yang berlalu-lalang disitu menatapnya seketika.


Dengan perasaan cukup malu, Ara pun berlari mengejar Ryuu yang sudah berjalan cukup jauh di depannya.


"Ryuu! Kau tak menjawab pertanyaanku!" seru Ara seraya terus berlari. Tapi, seruannya itu tak digubris sedikitpun oleh Ryuu. Menyadari hal itu, Ara menarik napasnya panjang. Bersiap untuk kembali berteriak seperti tadi. Tak peduli orang-orang disekitarnya menatapnya aneh, asalkan Ryuu bisa mendengar teriakannya tersebut.


"Ryuu! Aku mencintaimu!" teriak Ara sangat keras. Ia tak sadar bahwa jaraknya antara Ryuu sudah cukup dekat.


Ryuu pun menghentikan langkahnya sambil berdecak kesal, "Berisik, Al. Kau membuat orang-orang menatapmu semua. Kau tak takut dibilang orang aneh, hah?"


"Tidak, aku tak takut, hehehe. Lagipula, aku kan memang orang aneh. Orang aneh yang setiap hari semakin mencintaimu!" jawab Ara sukses membuat Ryuu diam seribu bahasa.


Tanpa bicara apa-apa lagi, Ryuu kembali melanjutkan langkahnya yang sebentar lagi akan sampai di trotoar jalan. Diikuti Ara yang berjalan disampingnya sambil terus berteriak layaknya orang tak waras.


"Aku mencintaimu, Ryuu! Aku mencintaimu! Hei, apa kau dengar? Aku mencintaimuuu!"


Ryuu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menutup telinganya dengan kedua tangannya. Ia tak mengerti kenapa Ara bisa se-percaya diri itu mengucapkan cinta padanya. Ya, urat malu Ara kini sudah putus, pikir Ryuu.


"Al, diam. Sudah cukup. Kau bisa meneriaki hal itu nanti saat di kamarmu," ujar Ryuu berusaha menghentikan teriakan Ara. Alih-alih berhenti, Ara malah semakin mengeraskan suaranya.


"Jika aku terus berteriak begini, mungkin saja kau akan menjawab pernyataan cintaku! Ryuu, pokoknya, aku sangat mencintaimuuu! Aku benar-benar mencin一"


DEG!!!


Teriakan Ara terhenti begitu saja saat sebuah tangan meraih pundaknya agar dirinya menghadap ke samping一tepatnya ke arah Ryuu berdiri. Detik berikutnya, mata coklat Ara terbelalak kaget ketika menyadari sebuah kecupan kecil mendarat di pipinya.



Bersamaan dengan kecupan itu, Ryuu membisikkan sesuatu di telinga Ara. Membuat jantung Ara berdegup begitu kencang sekarang.


"Kalau kau berteriak lagi, aku akan mencium bibirmu di depan banyak orang," bisik Ryuu mencoba mengancam.


Ara mengangguk perlahan. Ia merasa waktu berhenti berputar saat Ryuu mengecup pipinya tadi. Setelah itu, Ryuu pun kembali berjalan. Meninggalkan Ara yang membeku di tempatnya dengan perasaan berbunga-bunga.


Pipi Ara memerah. Jantungnya berdegup kencang seakan ingin lompat dari tempatnya. Ia benar-benar kaget dengan apa yang tadi Ryuu lakukan dan bisikkan padanya.


"Apa Ryuu... mulai membalas perasaanku? Apa dia mulai menyukaiku?" batin Ara menduga-duga. Ia sangat penasaran sekaligus bahagia sekarang.


***


Bagaimana tanggapan kalian ttg chapter kali ini? 😹


Like, komen, dan votenya jangan lupa yaaa kawan2 ku tercintahhh😹❤ I love youuuu:v🐾