
Flashback On
"Hei, jangan dekat-dekat dengan Ryuu! Dia itu ucapannya sangat jahat!"
"Iya, ayo kita jauhi saja!"
"Iya, benar! Lagipula dia bukan orang sini. Dia orang asing yang bersekolah disini!"
"Ya, ya kau benar! Bahasa indonesianya saja tidak jelas!"
"Ayo, kita pergi saja! Jangan mau dekat-dekat dia!"
"Ayo, ayo!"
Ara kecil yang masih berumur 8 tahun meremas baju seragamnya dengan kesal. Dari kejauhan, dia melihat Nakajima Ryuu, sedang dibully oleh teman laki-laki sekelasnya. Awalnya, Ara berusaha untuk tak memperdulikan Ryuu. Namun, lama kelamaan dia muak.
Ara berjalan dengan hentakan kaki yang begitu keras. Ia menghampiri Ryuu, yang kini merenung dibawah pohon dekat toilet sekolah. Untuk sesaat, Ryuu tak menyadari keberadaan Ara. Namun karna Ara membelai pelan rambut Ryuu, laki-laki itu akhirnya menengadahkan kepalanya.
"Apa?" tanya Ryuu ketus.
Ara mencoba tersenyum meski kedatangannya malah disambut ketus oleh Ryuu.
"Kenapa tak bermain bersama yang lain? Waktu istirahat sekolah masih lama, lho," ujar Ara dengan ramah.
"Aku tidak sudi bermain bersama orang yang tak suka denganku," jawab Ryuu dingin.
Ara menahan tawanya. Ia baru sadar bahwa suara Ryuu memang terdengar aneh saat berbicara bahasa Indonesia. Mungkin karna dia memanglah bukan orang sini, melainkan pindahan dari Jepang. Jadi logat bahasa indonesianya sangat sangat aneh di dengar.
"Kau kenal aku tidak?" tanya Ara seraya duduk di samping Ryuu.
Ryuu menatap tajam Ara dari atas hingga bawah, "Tidak. Siapa kau?"
"Hmm, setidaknya ingatlah nama anak kelasmu. Namaku Altheara Ananda Putri. Kau bisa memanggilku Ara," kata Ara memperkenalkan diri.
"Ala?" tanya Ryuu memastikan. Namun, hal itu nyatanya membuat Ara tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, kau cadel ya? Kenapa namaku jadi Ala? Hahaha," tawa Ara meledek.
Ryuu memalingkan wajahnya kesal, "Kau kesini hanya untuk meledekku ya. Kau sama saja seperti yang lain,"
"Eh! Enak saja! Aku kesini untuk menjadi sahabatmu, tahu!" seru Ara tak terima disamakan dengan teman-temannya yang lain.
"Sahabat? Apa itu sahabat?"
Ara menepuk jidatnya. Ia sadar, sepertinya Ryuu masih belum terlalu tahu arti dari kosa kata bahasa Indonesia.
"Sahabat itu dalam bahasa jepangnya apa ya? Ah! Dalam bahasa inggris, sahabat itu adalah Best Friend!" jelas Ara sambil tersenyum sumringah.
Ryuu terdiam. Terlihat dari matanya, ia mengerti maksud dari ucapan Ara. Karna lama menunggu jawaban, Ara pun menggenggam tangan kanan Ryuu sambil mempertahankan senyumannya.
"Mulai sekarang, kita bersahabat ya. Kau tidak akan akan sendirian lagi mulai hari ini, karna aku akan selalu ada disampingmu," ucap Ara yang sukses membuat pipi putih Ryuu memerah.
"Ah, lucunyaaa.." sambung Ara yang tak tahan melihat ekspresi malu-malu Ryuu seraya mencubit pelan pipi anak laki-laki itu.
"Ngomong-ngomong, kau boleh kok memanggilku dengan panggilan Al. Karna kau cadel, pasti kau tidak bisa memanggilku dengan panggilan Ara, kan?"
Ryuu mengangguk pelan sambil mengalihkan pandangannya, "Sebenarnya, rumahku berada disamping rumahmu. Ayahku dan Ayahmu bekerja di kantor yang sama, Al."
"Hah? Serius? Berarti dari kemarin kau sudah mengetahui hal itu ya? Tapi kau diam saja dan tak bilang bahwa rumahmu disamping rumahku!"
"Bagaimana aku bisa bilang padamu? Ngobrol denganmu saja baru kali ini," ujar Ryuu ketus.
Ara mengangguk sambil tersenyum-senyum, "Wah, berarti mulai sekarang, aku boleh dong ya main ke rumahmu terus!"
"Tidak, tidak boleh. Kau tidak boleh merepotkanku maupun Bundaku!" seru Ryuu tegas. Tapi, nyatanya ucapannya tak di dengarkan Ara sedikitpun. Ara malah terus tersenyum-senyum sambil sesekali mencubit pipi putih Ryuu.
Flashback Off
Ryuu melihat album foto miliknya. Di album tersebut, ada satu foto yang begitu mengusiknya namun membuatnya nostalgia juga.
Foto itu menampilkan dua anak kecil beserta keluarganya yang sedang piknik di taman. Satu anak laki-laki dan satu anak perempuan. Si anak laki-laki terlihat begitu ceria dan riang sambil memegang bunga yang ia cabut dari taman tersebut. Sedangkan ekspresi si anak perempuan tidak terlihat karna membelakangi kamera.
"Aku tak yakin, anak yang begitu ceria dan riang ini adalah dirimu, Ryuu."
DEG!!!
Ryuu terlonjak kaget dari tempat tidurnya. Ia dengan cepat menoleh ke arah belakangnya. Terlihatlah wajah Ara yang begitu sumringah sekarang.
"Hei, kapan kau masuk ke kamarku?" tanya Ryuu masih kaget.
"Dari tadi aku sudah mengetuk pintu kamarmu, tapi kau tak membukakan pintu. Ya sudah, aku masuk saja, hehe," jelas Ara sambil duduk di kasur Ryuu.
"Keluar sana, dasar pengganggu."
Ara cengengesan, menampilkan deretan giginya yang putih bersih, "Kau lupa malam ini adalah makan malam rutin bulanan keluarga kita?"
"Ngomong-ngomong, makan malam sudah siap tuh. Kau juga sudah dipanggil Bunda Yuu dan Ayah Vino," sambung Ara.
Ryuu menggeleng, "Tidak, aku tidak mau makan malam. Kau saja sana."
Ara memicingkan mata. Tentu saja ia tak terima dengan jawaban Ryuu. Bagaimanapun, sangat aneh rasanya jika kegiatan makan malam rutin keluarga mereka kekurangan personil walaupun hanya 1 orang saja.
"Ayolah, Ryuu! Aku tadi juga sudah membuat tumis kentang balado kesukaanmu!" seru Ara sambil bangkit dari duduknya, lalu menarik kedua tangan Ryuu agar ikut bangkit dari kasurnya.
"Aku tidak mau, al," kata Ryuu ketus.
"Ah, pokoknya kau harus ikut!"
"Kubilang tidak mau, ya tidak mau!"
"Ayolah, Ryuu!"
Ekspresi wajah Ryuu yang sedari tadi datar berubah total. Kali ini, wajahnya memancarkan aura yang benar-benar aneh dan berbeda. Sebagai sahabatnya dari kecil, tentu saja Ara menyadari akan hal itu.
"R-ryuu?" tanya Ara takut-takut.
Ryuu tersenyum miring dengan tatapan tajam khas miliknya, "Bagaimana aku bisa membalas perasaanmu jika kau saja sangat keras kepala seperti ini?"
DEG!!!
Ara diam seribu bahasa. Jantungnya seakan tertohok begitu saja dengan ribuan tombak runcing. Sakit sebenarnya mendengar ucapan Ryuu yang begitu dingin seperti itu. Namun, bukan Ara namanya kalau langsung menyerah begitu saja.
"Kau menantangku, Ryuu?" tanya Ara ikut menatap tajam Ryuu. Namun, nihil. Ara tak sanggup menatap Ryuu dengan tatapan selain tatapan jatuh cinta.
"Ya. Aku akan menantangmu. Kau begitu mencintaiku, kan?"
Pipi Ara memerah sampai ke telinga karna mendengar Ryuu bertanya seperti itu padanya.
Ryuu kembali tersenyum miring, "Ku beri kau waktu hingga kelulusan SMA kita tiba. Jika disaat itu kau masih belum bisa membuatku menyukaimu, berarti persahabatan kita selesai."
Ara membelalakan matanya kaget, tak terima dengan tantangan yang Ryuu berikan, "Eh? Kok begitu?"
"Ya, pokoknya aku tak mau tahu. Kalau kau tidak terima tantanganku, berarti perasaanmu padaku itu hanya seukuran biji jagung."
Hati Ara memanas mendengar Ryuu yang terdengar menyepelekan perasaannya. Tidak. Ara merasa, ia tak boleh terus-terusan membiarkan Ryuu menganggap perasaannya itu lelucon semata. Bagaimanapun, ia harus membuktikan pada Ryuu, atau kalau bisa pada semua orang — bahwa perasaannya pada Ryuu itu benar-benar nyata.
"Oke! Ku terima tantanganmu!" seru Ara dengan tekad menggebu-gebu.
Ryuu mengangguk. Tanpa berkata apa-apa, ia bangkit dari kasurnya lalu berjalan melewati Ara yang diam mematung.
Sebelum membuka knop pintu, Ryuu menoleh sebentar pada Ara, lalu kembali melihat lurus ke arah depan.
"Aku tak bisa jamin sih, kau bisa keluar dari Friend zone atau tidak. Mungkin selamanya kau akan terus berada di zona persahabatan kita saja. Ya, Stuck in friendzone," kata Ryuu sebelum akhirnya dia keluar dan menutup pintu kamarnya.
Ara menelan ludah dengan kasar. Matanya berkaca-kaca. Darahnya berdesir kencang. Dan tangannya ia kepalkan. Jelas sekali terlihat bahwa kini Ara merasa sakit hati dengan ucapan Ryuu. Namun, Ara berusaha untuk menahan gejolak di dadanya. Ia tak mau menangis di saat seperti ini. Apalagi, sekarang ini dia berada di rumah Ryuu, bukan rumahnya.
"Lihat saja, Ryuu! Kalau kau sudah jatuh cinta padaku, aku akan mempermainkanmu sebagaimana kau mempermainkan perasaanku!" batin Ara pada akhirnya.