STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 62 - Semangat!



🖤🖤🖤


Kamu : /ka-mu/


Adalah definisi paling tepat untuk sesuatu yang tidak bisa aku miliki.


🖤🖤🖤


Esoknya, jam istirahat sekolah...


"Ra, kau tak mau ke kantin?"


Pertanyaan dari seorang Angelica Nasution diabaikan oleh Ara. Ara malah sibuk menulis di buku tanpa sedikitpun sadar akan pertanyaan Angel untuknya. Melihat hal itu, tentu saja Angel heran.



"Ini sudah istirahat. Kenapa kau masih saja belajar?" tanya Angel setengah protes.


Kali ini, Ara menatap Angel beberapa detik. Setelah itu, ia pun kembali menulis. Entahlah, Angel juga tak tahu apa yang merasuki Ara hingga sahabatnya itu jadi mengabaikannya hanya karena fokus belajar.


Disebrang tempat duduk Ara, ternyata Ryuu juga sedang belajar一tak ingin kalah dari Ara. Angel yang melihat pemandangan itu pun menggeleng-gelengkan kepala semakin heran.


"Kalian berdua kenapa sih? Terutama kau, Ara. Aku tak pernah melihatmu seserius ini dalam belajar. Apalagi, kau itu orang yang paling tidak bisa melewatkan waktu istirahat untuk makan," kata Angel seraya menatap Ara dan Ryuu bergiliran.


"Wajar saja. Orang jenius seperti Ryuu tak akan mungkin bersantai-santai sepertimu. Lagipula, UN kan sebentar lagi. Tak ada salahnya kan untuk belajar lebih giat dari biasanya?" tanya Revina yang tiba-tiba saja duduk di hadapan Ryuu.


Angel berdecak kesal sambil menatap sinis Revina.


"Kau pikir, kau juga jenius apa? Cih, nilaimu saja bahkan lebih hancur dariku," gerutu Angel dengan suara pelan.


"Hah? Kau bilang apa?" tanya Revina menaikkan nada suaranya.


"Ku perjelas, ya. Nilaimu bahkan lebih hancur dariku! Ya, aku mengaku bodoh. Jika aku bodoh, berarti kau masuk kategori idiot. Hahaha," sindir Angel tertawa lepas.


Baru saja Revina akan membalas ucapan Angel, tiba-tiba saja Ryuu menggebrak mejanya cukup kencang. Ia menatap Angel dan Revina dengan tatapan kesal.


"Bisa tidak kalian pergi? Suara kalian lebih menganggu daripada seekor lalat. Terutama kau, Angel," ujar Ryuu sedingin es kutub.


Angel membulatkan matanya kaget sekaligus kesal mendengar Ryuu berkata seperti itu padanya. Ara yang melihat itu pun tak tinggal diam, ia ikut menggebrak meja一sama seperti yang Ryuu lakukan sebelumnya. Membuat Ryuu mau tak mau harus menoleh ke arah dimana Ara duduk.



"Lalat? Jika kau bilang Angel adalah lalat, berarti kau adalah sampah yang sedang dikelilingi oleh lalat," kata Ara membalas ucapan pedas Ryuu pada Angel.


Ryuu diam. Tanpa bicara apa-apa lagi, ia pun kembali melanjutkan belajarnya.


Revina berdehem pelan, "Ryuu, lain kali, apa kau mau mengajariku les lagi?" tanya Revina dengan nada bicara yang manja, ia mencoba mengubah topik pembicaraan.


Ryuu tak menghiraukan pertanyaan Revina. Ia tetap fokus belajar dan menulis di bukunya. Malahan, Ara yang panas hati sendiri mendengar pertanyaan Revina untuk Ryuu tadi.


"Angel, ayo kita ke kantin saja," ajak Ara seraya berdiri lalu mengambil buku dan pulpen dari mejanya.


"Eh? Kau mau belajar di kantin?" tanya Angel kaget.


Ara mengangguk, "Jika kita disini, sepertinya akan ada yang terganggu. Ayo, kita ke kantin saja."


Revina seketika langsung menelan ludahnya kasar mendengar sindiran halus dari Ara. Lain dengan Revina, Ryuu tampaknya tak ambil hati dengan sindiran Ara tersebut. Ia masih saja fokus belajar sambil sesekali menulis kembali materi yang ia pelajari.


Sesaat sebelum keluar dari kelas bersama Angel, Ara sempat melirik Revina dengan tatapan tak menyenangkan. Membuat Revina yang menyadari itu pun kebingungan sendiri. Namun, baru saja Revina akan bertanya apa maksud dari Ara menatapnya seperti itu一Ara segera berjalan keluar dari kelas sambil menarik tangan Angel.


"Eh, sejak kapan Ara berani menatapku seperti itu? Dan juga, sejak kapan dia berani menyindirku secara halus tadi?" batin Revina aneh.


"Al seperti itu sejak kau memberinya Cupcake aneh. Dia sudah tak akan mempercayaimu lagi sebagai temannya mulai saat ini," kata Ryuu seakan membaca pikiran Revina. Namun, tatapan Ryuu tetap lurus menatap buku tanpa sedikitpun menatap Revina yang duduk dihadapannya.


"Hei, sudah ku bilang, aku tak memberi obat apapun ke dalam Cupcake itu! Hari sabtu kemarin saat di lapangan basket kan aku sudah menjelaskan semuanya padamu! Cupcake itu milik saudaraku! Dia salah memasukkan resep ke dalam Cupcake tersebut!" seru Revina berkilah.


Ryuu mengangguk-anggukan kepalanya sambil terus menulis. Ia terlihat tak perduli dengan penjelasan omong kosong dari Revina.


"Aku akan minta maaf dan menjelaskan semuanya pada Ara. Ini jelas-jelas salah paham."


"Hmm, silahkan saja."


Revina mengangguk pelan, ia sengaja membuat ekspresi menyedihkan di wajahnya tersebut demi mendapat perhatian Ryuu.


"Aku yakin, Ara akan memaafkanku. Karena ini adalah kesalahpahaman semata," ujar Revina penuh keyakinan.


Kali ini, Ryuu menghentikan tangan kanannya yang sedari tadi fokus menulis. Ia dengan cepat menatap Revina dengan tatapan penuh rasa ketidaksukaan.


"Ku ingatkan saja, ya. Al mungkin lugu, tapi ia tak bodoh. Ia tahu mana teman yang tulus, dan teman yang penuh kepura-puraan sepertimu," kata Ryuu sinis seraya bangkit dari tempat duduknya. Setelah itu, ia berjalan perlahan menuju keluar kelas.


"R.. Ryuu! Kau mau kemana?"


"Ke lapangan basket. Lebih baik mengobrol bersama Sam daripada dengan Rubah Licik sepertimu," jawab Ryuu sambil terus berjalan tanpa menoleh ke arah Revina.


Namun, di detik selanjutnya, Ryuu malah menghentikan langkahnya, "Eh, satu lagi. Aku mau bilang, Al bisa saja sih memaafkanmu,"


Revina yang mendengar itu pun membulatkan matanya. Ada rasa senang saat Ryuu bicara seperti itu padanya. Ya, ia sudah duga. Asalkan menjelaskan dengan akting yang bagus, pasti ia bisa mendapatkan maaf dari Ara.


"Yah, sepertinya hanya Al saja, satu-satunya orang yang bisa memaafkanmu. Lain halnya denganku," kata Ryuu sinis lalu kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda tadi menuju pintu keluar kelas.


Setelah Ryuu pergi, Revina mengacak-acak rambutnya kesal. Dalam hati, ia sungguh menyesal karena sudah memberikan Cupcake pada Ara di malam ulang tahun Ara. Andai saja Revina memberikan Cupcake itu tak di depan Ryuu, mungkin Ryuu tak akan tahu niat busuknya. Dan mungkin Ara sudah memakan Cupcake pemberiannya tersebut tanpa sepengetahuan Ryuu.


"Ah! Aku lupa bahwa Rangga di lapangan basket bersama Sam! Dasar orang aneh, padahal dia bukan anggota ekskul basket. Tapi malah senang bermain basket bersama anggota ekskul itu," gerutu Revina kesal. Niatnya, jika ada Rangga di sampingnya, Revina akan mengadukan rasa kekesalannya kepada sepupunya tersebut.


***


Di Kantin Sekolah...


"Ra, habiskan dulu es jerukmu. Bel masuk sebentar lagi berbunyi," kata Angel mengingatkan Ara.


Ara menganggukkan kepalanya. Namun, tangan dan matanya itu masih saja fokus menulis. Membuat Angel yang melihat itu terheran-heran.



"Cerita padaku. Kenapa kau mendadak rajin belajar seperti ini?" tanya Angel sambil mengernyitkan dahinya.


Ara menghentikan tangannya yang sedang menulis. Perlahan, ia menatap Angel dengan tatapan yang sulit Angel mengerti.


"K.. Kau kenapa? Apa kau melakukan kesalahan pada Ryuu? Apa Ryuu menghukummu untuk terus belajar walaupun sedang jam istirahat sekolah?" tanya Angel bertubi-tubi. Kali ini perasaan herannya berubah menjadi khawatir.


Ara buru-buru menggelengkan kepala, tanda tak membenarkan ucapan Angel.


"Aku... Membuat semacam perjanjian dengannya," kata Ara mulai menjelaskan.


"Hah? Perjanjian?"


"Ketimbang perjanjian, sepertinya lebih pantas disebut tantangan."


Angel mengernyitkan dahinya tak mengerti, "Maksudmu?"


"Ehm, Ngel. Kau ingat kan tantangan pertama yang Ryuu berikan padaku beberapa bulan yang lalu? Aku sudah menceritakan padamu waktu itu. Kau masih ingat?"


"I.. Iya, aku masih ingat. Tantangan Ryuu untukmu adalah kau harus bisa membuat Ryuu menyukaimu. Batas waktunya sampai kelulusan SMA kita, kan?"


Ara mengangguk pelan, "Syukurlah, kau masih ingat."


"Hei, apapun itu asalkan tentangmu, aku pasti ingat. Kau kan sahabatku!" seru Angel lalu diikuti senyum hangatnya.


"Lalu, apa hubungannya hal itu dengan kau yang mendadak rajin belajar begini?" sambung Angel tak lama kemudian.


"Ryuu menantangku lagi dengan tantangan ke-2. Dia menantangku dengan nilai UN. Jika nilai UN-ku lebih besar darinya, aku boleh menjauhinya dan bebas berpacaran dengan siapa saja. Tapi, jika nilai UN-ku lebih kecil darinya, aku tak boleh menjauhinya dan Ryuu akan terus membuatku berharap padanya hingga aku tak akan pernah bisa lepas darinya," jelas Ara yang sukses membuat mulut Angel menganga kaget.


"Hah? Tantangan konyol macam apa itu?" tanya Angel tak mengerti.


"Ini karena aku bilang padanya, aku menyerah. Aku ingin menjauhinya dan melupakannya. Ku kira, dia akan setuju. Tapi nyatanya, dia malah menambah tantangan seperti itu," jawab Ara sambil menundukkan kepalanya.


Angel terdiam beberapa saat. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Ra, jika Ryuu memberikan tantangan seperti itu, bukankah itu artinya dia tak ingin kau menjauh darinya? Dia itu benar-benar tak mau melepaskanmu, tahu!"


"Ah, tapi sepertinya Ryuu tak begitu, deh."


Angel menggeleng kuat, "Kau harus percaya kata-kataku!"


Ara mengigit bibir bawahnya. Ia berpikir, apa mungkin Ryuu seperti yang dikatakan Angel tadi? Ryuu tak ingin Ara menjauhinya apalagi melupakannya. Aneh, Ara merasa Ryuu bukanlah orang seperti itu.


"Oh iya, by the way, aku akan memberitahukanmu sesuatu yang pasti akan membuatmu kaget!" seru Ara tak lama setelah ia diam.


"Apa? Apa?" tanya Angel antusias.


"Mommy-ku bilang, aku dan Ryuu sudah direncanakan akan dijodohkan jika kami sudah dewasa. Dan kau tahu, tidak? Mommy berkata begitu di depanku dan di depan Ryuu!"


Angel membelalakkan matanya kaget, "Eh? Serius?!"


"Iya, aku serius!"


"La.. Lalu, bagaimana tanggapan Ryuu?"


"Ehm, dia seperti orang kebingungan saat itu. Mungkin karena dia juga sebenarnya punya calon yang dijodohkan Neneknya di Jepang sana. Jadi, dia harus memilih antara aku atau gadis yang di Jepang," jawab Ara. Ada rasa sedih di hatinya saat mengatakan itu.


Melihat Ara yang mulai sedih, Angel pun mencubit pipi Ara gemas. Ia mencoba menghibur Ara dengan senyuman lebarnya.


"Jika sudah begini, kau yakin akan menyerah terhadap Ryuu?" tanya Angel.


Ara menggelengkan kepalanya pelan.


"Sebenarnya, aku memang sudah bertekad untuk menyerah pada Ryuu. Aku akan melupakannya dan mencoba mencari seseorang yang pantas aku miliki. Tapi..."


Angel mengangguk, ia benar-benar mengerti perasaan sahabatnya itu.


"Ehm, Ra. Bagaimana kalau begini saja? Kau harus tetap menerima tantangan nilai UN dari Ryuu. Tak peduli kau menang atau kalah, yang penting kau harus menjalankan misi dari tantanganmu yang pertama. Yaitu, kau harus membuat Ryuu bisa menyukaimu sebelum waktu lulus SMA tiba!" seru Angel mencoba mengembalikan kembali semangat Ara.


Ara tersenyum mendengar ucapan Angel. Entah kenapa, rasa optimis yang terkubur dalam hatinya tiba-tiba saja merangkak keluar. Menyadari akan hal itu, Angel pun ikut tersenyum senang.


"Kali ini, di sisa waktu sebelum kelulusan SMA kita, aku akan senantiasa membantumu Ra! Aku janji! Maka dari itu, kau harus semangat ya!" seru Angel mencoba membangkitkan semangat Ara.


Ara bangkit dari duduknya. Ia dengan cepat menghampiri Angel yang duduk di hadapannya lalu segera memeluk dari samping sahabatnya itu.


"Terimakasih, ya Angel! Aku bersyukur punya sahabat sepertimu," ujar Ara penuh rasa haru.


Angel mempererat pelukan dari Ara, "Sama-sama, Ra. Aku juga bersyukur punya sahabat sepertimu."