STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 66 - Mendekati



🖤🖤🖤


Kau tahu apa yang lebih buruk dari patah hati?


Mencintai namun bertahan untuk tidak mengungkapkan.


🖤🖤🖤


Pagi ini, Ara merasa geram dengan seorang laki-laki yang duduk disampingnya tanpa dia undang ke rumahnya. Pasalnya, pagi ini ia sedang sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Tapi nafsu makannya itu langsung menurun一ketika laki-laki itu duduk disampingnya dengan santainya.


"Apa-apaan, sih? Kenapa kau ke rumahku, Ryuu?" tanya Ara ketus lengkap dengan tatapan sinisnya.



Baru saja Ryuu akan menjawab, tiba-tiba Santia datang membawa dua piring roti sandwich dan dua gelas susu vanilla. Melihat itu, Ara pun mengernyitkan dahinya heran.


"Mom, kenapa bawa dua roti dan dua susu? Aku kan tidak makan sebanyak itu, Mom," ujarnya terheran-heran.


Santia tertawa kecil sambil menyimpan roti dan susu tersebut di meja makan. Tepatnya di depan Ara dan Ryuu.


"Yang satu lagi bukan untukmu, tahu. Tapi untuk Ryuu," jawab Santia.


Ryuu menggelengkan kepala dengan kuat, "Tidak apa-apa, Tante. Aku disini hanya ingin menunggu Al selesai sarapan saja. Kami akan berangkat sekolah bersama pagi ini."


Ara sontak membulatkan matanya kaget mendengar penuturan Ryuu. Eh? Berangkat sekolah bersama? Apa Ara tak salah dengar?


"Tidak, tidak apa-apa kok. Kau harus ikut sarapan bersama Ara. Bagaimanapun, kau sudah seperti anggota keluarga kami disini. Jadi jangan sungkan ya, Ryuu," kata Santia tersenyum hangat.


Ryuu pun akhirnya mengangguk seraya bersusah payah membalas senyuman Mommy-nya Ara itu. Beberapa detik selanjutnya, Santia pergi lagi ke dapur meninggalkan Ara dan Ryuu yang berada di ruang makan.


"Kenapa kau memperhatikanku? Cepat makan, atau kau kutinggalkan," ujar Ryuu ketus sambil menjentik pelan dahi Ara.


"A.. Awww!" jerit kecil Ara sambil mengusap-usap dahinya.


"Ryuu! Apa-apaan, sih kau ini? Kenapa kau menjentik dahiku?" protes Ara menatap kesal Ryuu yang hanya berekspresi datar padanya.


Ryuu menggelengkan kepalanya, "Tidak, hanya saja, aku rindu menjentik dahimu itu. Rasanya sudah lama aku tak melakukannya," jelas Ryuu yang sukses membuat Ara tersentak seketika.


Ya, benar juga apa kata Ryuu. Sudah beberapa minggu ini hubungan mereka renggang, dan tentu saja Ryuu sudah lama tak menjentik dahi Ara. Dekat saja tidak, apalagi untuk sekedar menjentik dahi?


Jauh di dalam lubuk hati Ara, dia merasa cukup senang karena Ryuu menjentik dahinya tadi. Entahlah, ia merasa apapun yang dilakukan Ryuu terhadapnya一asalkan Ryuu senang, maka ia juga akan ikut senang. Ya, sekonyol itu pemikiran Ara terhadap laki-laki yang ia cintai ini.


"Cepat makannya," tegur Ryuu membuyarkan lamunan Ara. Saat Ara menoleh, ternyata sandwich dan susu vanilla milik Ryuu sudah habis. Entah sejak kapan.


"Eh? Sudah habis?"


Ryuu mengangguk sambil tersenyum miring.


"Aku pernah dengar, bahwa kejeniusan seseorang dilihat dari seberapa cepat ia menghabiskan makanan."


Ara memanyunkan bibirnya sebal. Ia merasa cukup tersindir dengan perkataan Ryuu padanya.


"Cepat habiskan. Ini sudah jam 6 lewat, tahu," tegur Ryuu lagi.


Ara pun mengangguk dengan malas, "Iya, iya" serunya pelan sambil memakan sandwich miliknya yang masih utuh tersebut.


***


Sesampainya di Sekolah...


"Ryuu! Bisa tidak jangan berjalan bersamaan denganku? Kau bisa jalan duluan seperti biasanya, kan?" protes Ara sambil menghentikan langkahnya dan menatap Ryuu yang berada di sampingnya.


Ryuu berdehem sebentar. Lalu setelah itu, ia menoleh一menatap Ara yang menatapnya kesal.


"Kenapa aku tak boleh berjalan bersamamu? Lagipula kan, seluruh murid di Sekolah ini masih menganggap kita berpacaran. Mereka belum tahu sama sekali bahwa kita putus," jawab Ryuu sekenanya.


Ara berdecak kesal, "Tidak perlu memberitahukan kepada mereka semua bahwa kita sudah putus. Dengan menjaga jarak dan tidak saling mendekati saja, murid-murid disini pasti bisa tahu bahwa kita sudah putus."


Ryuu diam. Dia hanya memutar bola matanya sambil membuang muka.


"Al," panggil Ryuu tak lama kemudian.


"Apa?" jawab Ara ketus.


"Aku akan sedikit bertanya blak-blakan padamu."


"Iya, apa?"


"Apakah kau dan Rangga sekarang sudah berpacaran?"



Ara tersentak kaget mendengar pertanyaan Ryuu. Hah? Berpacaran dengan Rangga? Kenapa Ryuu bisa menganggapnya seperti itu? Apa karena akhir-akhir ini Ara dan Rangga selalu dekat?


"Ryuu, kau yakin pertanyaan itu bukan untukmu sendiri?"


Ryuu mengernyitkan dahinya bingung, "Maksudmu?"


"Bodoh! Kenapa aku harus keceplosan, sih?" batin Ara kesal.


Ryuu terdiam beberapa saat. Namun, matanya itu tak lepas dari kontak mata bersama Ara. Mendengar penuturan Ara tadi, tentu saja Ryuu kini merasa bimbang. Apa dia harus memberitahukan pada Ara bahwa Ayahnya dengan Mamahnya Revina berselingkuh? Namun, kenapa Ryuu merasa ragu untuk memberitahukan hal tersebut?


Perlahan tapi pasti, Ryuu berjalan sedikit demi sedikit mendekati Ara. Tentu saja, hal itu membuat Ara mau tak mau harus memundurkan langkahnya seiring dengan langkah mendekat dari Ryuu. Hingga pada akhirnya, Ara merasa di belakangnya ada dinding yang membuatnya tak bisa mundur lagi.



Ryuu pun menghentakkan tangan kirinya ke dinding dengan pelan. Bisa Ryuu lihat, Ara cukup terkejut dengan perlakuannya yang tiba-tiba itu.


"Al, aku mau bercerita padamu. Tapi, sepertinya ini bukan saat yang tepat," ujar Ryuu dingin. Namun, Ara bisa merasakan ada rasa sedih dalam cara bicara Ryuu.


Ryuu pun terdiam. Namun pikirannya melayang ke kejadian tadi malam yang membuatnya sungguh tak tahu harus bagaimana. Ya, karena ini adalah masalah besar yang pertama kali ia rasakan.


Flashback On


Tadi malam, pukul 23:50


PRANGGG!!!


"Aku tak mau lagi menjadi istrimu! Aku ingin pulang saja ke Jepang! Aku ingin kita bercerai, Vino!" teriak Yui diikuti vas bunga di ruang tamu yang ia lempar ke sembarang arah.


"Yui, dengarkan penjelasan aku dulu! Jelas-jelas aku tak berselingkuh padamu. Kenapa kau tak percaya ucapanku?" tanya Vino lirih. Dengan perlahan, ia berjalan mendekati Yui untuk memeluk istrinya tersebut.


Di balik dinding dekat ruang tamu, berdiri seorang laki-laki berusia 18 tahun yang mengintip pertengkaran kedua orangtuanya. Hatinya begitu hancur seiring dengan kata demi kata yang dilontarkan oleh Yui, Sang Bunda. Bukan, ini bukanlah Bunda yang dia kenal sedari dulu. Bundanya tak pernah sekasar dan se-arogan ini, termasuk pada Ayahnya.


"Jangan dekati aku! Atau aku akan lempar semua yang ada disini!" seru Yui mengancam.


"Sayang, aku mohon, jangan bersikap seperti ini. Kau harus pikirkan juga bagaimana perasaan Ryuu, anak kita."


"Oh? Jadi kau lebih mementingkan perasaan Ryuu? Dibanding perasaanku?"


"Bukan begitu, aku sangat mementingkan perasaan kalian berdua. Tapi, kumohon, jangan bersikap seperti ini. Ryuu pasti bisa mendengar pertengkaran kita di kamarnya."


"Aku tak di kamar kok, Yah. Aku disini," ujar Ryuu seraya berjalan mendekati Vino dan Yui di ruang tamu.


Yui dan Vino cukup terkejut melihat kedatangan anaknya yang tiba-tiba. Namun, bukannya menyelesaikan pertengkaran, Yui malah tetap melanjutkannya di depan Ryuu.


"Lihat saja, aku akan pergi bersama Ryuu ke Jepang! Aku akan meninggalkanmu disini bersama selingkuhanmu itu!" teriak Yui penuh emosi. Namun matanya sudah berlinang air mata.


"Aku akan buktikan bahwa aku tak berselingkuh, sayang. Wanita itu adalah partner kerjaku. Kau harus bertemu dengannya agar meluruskan masalah ini semua. Yang jelas,dia bukanlah selingkuhanku," jelas Vino lirih sambil menunduk. Ryuu tahu, Ayahnya itu sedang menahan tangisnya.


"Aku mohon, jangan bawa Ryuu ke Jepang. Jangan pergi kesana. Aku sangat menyayangi kalian berdua. Kumohon," sambung Vino memohon seraya bersujud di depan Yui dan Ryuu.


Ryuu yang melihat itu pun tersentak kaget lalu segera menarik badan Ayahnya agar kembali berdiri tegak. Dia merasa Vino tak perlu melakukan itu, apalagi di depan Ryuu sendiri.


Hening. Hanya ada suara tangisan dari kedua orangtuanya. Karena sungguh terdengar pilu dan menyesakkan dada, tanpa sadar air mata jatuh ke pipi Ryuu. Untuk pertama kalinya, Ryuu menangis di hadapan kedua orangtuanya.


"Ryuu, kau harus pilih. Kau pilih ikut Bunda, atau Ayahmu?" tanya Yui di sela-sela tangisannya.


Ryuu menggeleng dengan kuat sambil menyeka air mata Bundanya.


"Aku memilih kalian berdua. Aku tak bisa pilih salah satunya saja," jawab Ryuu seraya menatap sedih Yui dan Vino secara bergantian.


Sedangkan Vino terdiam, laki-laki berumur 43 tahun itu tetap menangis sambil menutup kedua wajahnya.


"Kalau kau tak bisa memilih, berarti kau memilih tinggal bersama Ayahmu," kata Yui yang semakin membuat Ryuu bingung sekaligus sedih.


Vino menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Ryuu, kau harus ikut Bundamu ke Jepang. Ya, kau harus menjaga Bundamu disana. Biarkan Ayah sendiri disini," ujar Vino lirih. Tangisannya sudah mereda namun ekspresinya masih terlihat sangat menyedihkan.


Flashback Off


"Kenapa? Kenapa sekarang bukan saat yang tepat, Ryuu?" tanya Ara yang kini mulai khawatir sekaligus bingung. Pertanyaannya itu sukses membuat Ryuu membuyarkan lamunannya tadi.


Ryuu menunduk, "Ceritanya panjang. Aku bingung harus mulai darimana."


"Kalau begitu, kau bisa cerita pelan-pelan, Ryuu. Aku akan mendengarkan semuanya," kata Ara penuh rasa iba. Ia bisa merasakan sorot mata Ryuu yang meredup.


Ryuu menatap lurus Ara lalu mengangguk. Dia berusaha tersenyum walau yang terlihat oleh Ara adalah senyuman pahit.


"Aku akan menceritakannya nanti malam. Apa kau ada waktu?"


"A... Ada."


"Baiklah, kalau begitu nanti malam aku akan ke rumahmu," ujar Ryuu lalu dibalas anggukan oleh Ara.


"Kira-kira, apa yang mau diceritakan oleh Ryuu, ya? Jarang sekali Ryuu mau bercerita padaku. Walaupun aku sahabatnya, tapi Ryuu adalah tipe yang introvert dan jarang mau bercerita soal dirinya," batin Ara bertanya-tanya.


"Jika aku mengatakan bahwa aku akan benar-benar pindah ke Jepang bersama Bunda, apakah Ara akan sedih nantinya? Aku sadar. Aku sudah sering membuatnya sakit hati dan sedih. Aku tak mau membebani pikirannya lagi. Walaupun dia mencintaiku, tapi aku tak berhak untuk membuatnya sedih lagi untuk yang kesekian kalinya," batin Ryuu seraya mengusap pelan rambut Ara. Tentu saja, mendapat perlakuan seperti itu membuat Ara senang sekaligus kaget.


***


WEY, KOMEN YA DIBAWAH APAKAH COVER YANG SEKARANG BAGUS ATAU ENGGAK?🤣


Oh iya, next up sekitar siang atau sore ya! Lop yuuuu😹😻🤣🤣🤣🤣