
🖤🖤🖤
Yang bertahan akan pergi jika kepercayaannya sudah disia-siakan.
🖤🖤🖤
Pagi harinya...
"Ryuu! Ryuu! Bangun!"
Sebuah teriakan penuh kepanikan sukses membuat Ryuu membuka matanya dengan cepat. Saat matanya itu sepenuhnya terbuka, ia sungguh terkejut melihat Vino berdiri di samping ranjangnya dengan wajah panik.
"Ada apa, Ayah?" tanya Ryuu dingin sambil bangkit dari tidurnya.
Bukannya menjawab, Vino malah berjalan mondar-mandir sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. Membuat Ryuu jadi heran sekaligus aneh dengan tingkah ayahnya tersebut.
"Ada apa, Yah? Jawab aku," Ryuu kembali mengulang pertanyaan dengan tegas.
"Bundamu, Ryuu!" seru Vino spontan.
Ryuu mengernyitkan dahinya, "Ada apa dengan Bunda?"
"Bundamu hilang! Dia tak ada di kamarnya pagi ini!"
DEG!!!
Ryuu melebarkan matanya seketika. Refleks, ia langsung turun dari ranjangnya dan berlari keluar kamar. Sedangkan Vino mengikuti dari belakang.
Ryuu sampai di dalam kamar orangtuanya, yaitu Vino dan Yui. Disana, ia dengan cepat mengecek lemari juga laci milik Yui. Kosong. Ya, semuanya kosong tanpa ada sisa. Itu artinya...
Yui bukan hilang. Tapi memang sengaja kabur dari rumah tanpa sepengetahuan Ryuu dan Vino.
"Eh? Kosong?" gumam Vino sesampainya ia dikamarnya. Ia berdiri di belakang Ryuu dengan tatapan tak percaya一menatap lemari dan laci istrinya yang benar-benar kosong tak ada sisa.
"Bagaimana bisa Bunda kabur, Yah? Kenapa kau bisa tak sadar?" tanya Ryuu sedih sekaligus heran.
Vino menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat, "Aku tak tahu, Ryuu. Tadi malam, aku tidur di ruang tamu karena tak berani menghampiri Bundamu di kamar ini."
Ryuu terdiam. Matanya itu menatap seisi ruangan kamar sambil berpikir keras. Kira-kira, kemanakah Yui kabur dengan membawa semua barang-barang miliknya?
Mata hitam Ryuu tiba-tiba menangkap sesuatu yang ada di atas meja dekat ranjang. Tanpa berlama-lama, ia langsung berjalan dan mengambil benda tersebut.
"Eh? Testpack?" batin Ryuu aneh. Ia memicingkan matanya menatap tespack itu yang kini ada di tangannya.
"Ayah, ini testpack milik siapa?" tanya Ryuu seraya menunjukkan tespack tersebut pada Vino.
Vino membelalakkan matanya kaget setengah mati. Lalu, secepat kilat ia berjalan menghampiri Ryuu dan mengambil tespack itu dari tangan anaknya.
"Dua garis merah? Itu artinya..." Ucapan Vino terhenti. Suaranya terasa tercekat di dalam tenggorokannya karena saking terkejutnya.
"Maksudmu, Bunda... Hamil, Yah?" tanya Ryuu memperjelas keadaan. Ia ikut terkejut setengah mati sama seperti Ayahnya.
***
"Ra, hari ini kenapa Ryuu tak ke Sekolah?"
Ara menundukkan kepalanya mendengar pertanyaan Angel yang masuk ke telinganya. Siang ini, tepatnya istirahat kali ini一seperti biasa mereka akan nongkrong di kantin bersama Sam, pacar dari Angel sekaligus teman dari Ara. Bagi pembaca setia, pasti sadar akhir-akhir ini Sam selalu menghabiskan waktu bersama Angel dan Ara setiap istirahat sekolah.
Kenapa?
Itu karena Sam tak mau menyia-nyiakan masa-masa SMA-nya yang sebentar lagi selesai.
(Author peringatkan lagi nih ya, waktu Ujian Nasional tinggal 2 minggu lagi dan waktu kelulusan tiba tinggal 1 bulan lagi)😂
"Aku juga tidak tahu kenapa Ryuu tak ke sekolah hari ini, Ngel," jawab Ara dengan lemas.
Sam mengernyitkan dahinya heran, "Aneh, ya. Ini pertama kalinya Ryuu tak ke sekolah selama kita di SMA ini. Terlebih, hari ini ia tanpa keterangan alias alfa, lho."
Ara mengangguk-anggukan kepalanya pelan. Ya, memang ada benarnya juga ucapan Sam. Selama mereka SMA, Ryuu tak pernah sekalipun izin atau sakit di SMA ini. Izin atau sakit saja tak pernah, apalagi alfa? Tapi, kenapa sekarang Ryuu tak ke sekolah dan tanpa keterangan? Untuk murid se-jenius Ryuu, bukankah itu sangat aneh?
Angel menyeruput jus alpukatnya lalu menatap Ara dalam-dalam.
"Ra, apa kau belum menjelaskan pada Ryuu tentang masalah kemarin?" tanya Angel membuyarkan lamunan Ara.
"Dia bilang..." Ara menundukkan kepalanya lengkap dengan mata yang berkaca-kaca, "...dia tak mau melihat wajahku lagi ataupun berbicara padaku lagi, Ngel."
Angel berdecak kesal mendengar penjelasan Ara. Sedangkan Sam menatap Ara iba.
"Marahnya orang pendiam benar-benar luar biasa, ya," gumam Sam kecil tapi suaranya masih bisa didengar oleh Angel yang berada di sampingnya.
Angel pun mencubit pelan lengan Sam hingga membuat pacarnya itu terpekik kaget.
"Kenapa kau mencubitku?" protes Sam.
"Luar biasa? Katamu marahnya orang pendiam itu luar biasa? Luar biasa dari mananya? Yang ada malah menyusahkan, tahu!"
Ara diam tak bergeming sambil tetap menundukkan kepalanya. Ia tak menghiraukan Angel dan Sam yang kini sedang berdebat dihadapannya. Hingga beberapa menit berlalu, perdebatan antara Sam dan Angel sudah selesai. Mereka baru sadar bahwa sekarang bukanlah saat yang tepat untuk berdebat, apalagi mereka berdebat dihadapan orang yang sedang sedih一yaitu Ara.
"Ra, sebenarnya aku bingung dengan apa yang ada didalam pikiran Ryuu. Kenapa dia harus semarah itu sih padamu? Toh, kau kan bukan pacarnya. Dia tak punya hak untuk marah, kan?" tanya Angel dengan nada protes.
"Ehm, kalau itu..." Ara mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk, "...sepertinya Ryuu memang sedang sensitif. Ia sedang ada masalah keluarga yang begitu serius."
"Eh? Masalah keluarga?" tanya Angel dan Sam bersamaan.
Ara mengangguk perlahan, "Tapi, kalian jangan bilang siapa-siapa, ya."
Angel dan Sam pun mengangguk-anggukan kepalanya setuju dengan tatapan yang meyakinkan Ara. Ah, lagipula, Ara juga sudah tahu bahwa Angel dan Sam tak mungkin menyebarkan apa-apa tentang ceritanya. Dua sejoli itu tak bisa diragukan lagi tentang kesetiaannya sebagai teman.
DEG!!!
Mata Angel dan Sam otomatis terbelalak lebar mendengar penjelasan Ara.
"Eh? Berselingkuh?" tanya mereka saling berpandangan, kaget setengah mati.
***
Mulai pulang sekolah hari ini, SMA Soetomo sudah mengadakan BimBel (Bimbingan Belajar) bagi anak kelas 12 yang sebentar lagi akan Ujian Nasional. Itulah sebabnya di jam 18:20 ini Ara baru saja berjalan pulang ke rumahnya. Ya, ia tak membawa sepeda karena ban sepedanya kempes. Kini, ia berjalan sendirian di trotoar jalan raya. Tak sedikitpun berniat untuk naik Bus ataupun taksi untuk pulang ke rumah.
Sambil terus berjalan, Ara melamun. Ia memikirkan berbagai macam masalah di otak dangkalnya. Mulai dari pertengkarannya dengan Ryuu, masalah keluarga Ryuu, hingga masalah UN yang 2 minggu kurang akan dilaksanakan. Ah, ini benar-benar membuat Ara frustasi memikirkannya.
Perlahan, Ara merasakan tetesan hujan mengenai pipi putihnya.
"Eh? Hujan?" batin Ara tersentak kaget.
Tanpa pikir panjang, Ara pun segera berlari mencari tempat berteduh karena hujan semakin lama semakin deras. Dimanapun itu, asal ia bisa berteduh dan tak kehujanan. Tak lama kemudian, ia beruntung menemukan kios kecil yang sudah tutup di samping jalan raya. Ia segera melangkahkan kakinya kesana dan berteduh di kios kecil tersebut.
***
"Eh? Hujan?"
Ryuu menghentikan langkah kakinya yang lunglai tatkala menyadari tetes demi tetes air hujan jatuh mengenai rambutnya. Beruntung, dihadapannya ada sebuah minimarket. Tanpa berlama-lama, ia pun segera masuk dan berteduh di dalam minimarket tersebut.
"Ryuu?"
Sebuah sapaan terdengar dari arah samping Ryuu berdiri. Refleks, Ryuu menoleh ke arah sampingnya.
"Tante?" Ryuu cukup kaget melihat keberadaan Santia一Mommy-nya Ara yang berada di dalam minimarket ini juga.
"Kau mau beli apa kesini?" tanya Santia ramah, mencoba memulai percakapan.
"Ah, tidak, Tante." Ryuu menggeleng perlahan, "Aku hanya menumpang untuk berteduh saja."
"Oh, begitu. Berarti kau baru pulang dari sekolah, ya? Kenapa tak pulang bersama Ara?" tanya Santia lagi.
Ryuu tertegun mendengar pertanyaan Santia. Detik berikutnya, ia baru sadar kenapa Santia bertanya seperti itu padanya. Mungkin karena ia sedang memakai baju sekolah dan juga membawa tas sekolah. Jadi Santia menganggap ia baru saja pulang dari sekolah dan tak pulang bersama Ara.
Padahal sebenarnya, Ryuu memang tak ke sekolah hari ini. Ia berniat untuk ikut bersama Ayahnya, mencari Bundanya yang kabur. Namun, Vino tak mengizinkan Ryuu untuk ikut dan menyuruh Ryuu agar tetap untuk ke sekolah. Karena bagaimanapun, Vino tak mau mengacaukan belajar anaknya. Apalagi UN sebentar lagi akan dilaksanakan.
Awalnya, Ryuu memang menuruti perintah Vino untuk tetap ke sekolah apapun yang terjadi. Namun, ditengah-tengah perjalanan ke Sekolah, Yui menelpon Ryuu untuk segera ke Bandara. Tanpa pikir lama, ia pun segera pergi ke Bandara menggunakan taksi.
Sesampainya di dalam Bandara, ia segera disambut oleh senyuman menyedihkan Yui一sang Bunda. Yui menjelaskan pada Ryuu bahwa ia akan ke Jepang, ke rumah neneknya Ryuu disana. Sedangkan Ryuu menanyakan tentang testpack yang ia temukan di kamar Yui pagi ini. Dan ternyata, benar.
Testpack itu adalah milik Yui.
Ternyata, Yui sedang hamil 3 bulan saat ini. Ryuu mengerti, pantas saja Bundanya itu sangat sensitif akhir-akhir ini. Ryuu sempat melarang Yui untuk pergi ke Jepang, namun nyatanya Bundanya itu menolak untuk tinggal bersama Vino lagi. Mereka berdua akan benar-benar bercerai.
Ya, begitulah. Ryuu juga tak bisa lama-lama mengobrol dengan Yui di Bandara karena jam penerbangan Yui ke Jepang sudah tiba waktunya. Sebelum pergi, Yui memeluk erat anaknya itu sambil menangis dan berpesan untuk selalu menjadi anak yang baik. Sebenarnya, berat hatinya untuk meninggalkan anak semata wayangnya itu. Namun, keadaan memaksanya untuk pergi dari sini. Dan tentu saja, Ryuu mengerti akan hal itu.
"Ryuu? Kenapa kau melamun?" tanya Santia membuyarkan lamunan Ryuu seketika.
Ryuu pun tersadar dari lamunannya, "Ehm, maaf Tante. Oh iya, apa Tante juga ke minimarket ini untuk berteduh?" tanya Ryuu menutupi kesedihannya dan mencoba terlihat normal dihadapan Santia.
"Hahaha, tidak. Aku bawa payung kok. Aku ke minimarket ini untuk membeli obat krim."
"Obat krim? Untuk siapa, Tante?"
"Untuk Ara."
Ryuu mengernyitkan dahinya tak mengerti.
"Memangnya, Al sakit apa, Tante?"
"Eh? Kau tidak tahu ya, Ryuu? Ara kan menderita alergi panas. Kalau terkena panas matahari yang berlebihan, kulitnya akan gatal dan ruam kemerahan. Biasanya sih yang sering ruam di daerah leher dan punggungnya," jelas Santia yang sukses membuat Ryuu tersentak kaget.
Pikiran Ryuu langsung melayang ke kejadian beberapa hari yang lalu. Saat ia selesai mencium Ara, ia melihat banyak ruam kemerahan di leher Ara.
Sebenarnya Ara juga sudah menjelaskan pada Ryuu perihal alergi yang ia derita. Namun, karena pada saat itu Ryuu sedang emosi, Ryuu sama sekali tak mempercayai ucapan Ara dan menganggap bahwa ruam-ruam kemerahan tersebut adalah kissmark dari Rangga.
Dan kini, mendengar penjelasan langsung dari Santia, benar-benar membuat Ryuu merasa sangat bersalah. Ia tak seharusnya marah dan lebih mempercayai ucapan Rangga ketimbang Ara一sahabatnya sendiri. Apalagi, ia sudah mengucapkan hal yang menyakitkan pada Ara kemarin一bahwa ia tak mau lagi melihat ataupun bicara pada Ara.
"Al pasti sangat sedih karena ucapanku yang seperti itu. Aku sangat keterlaluan karena tak mempercayainya," batin Ryuu khawatir sekaligus menyesal dengan apa yang ia katakan kemarin.
"Ryuu? Kenapa kau banyak melamun?"
Lagi-lagi pertanyaan Santia membuyarkan lamunan Ryuu. Bedanya, kali ini Ryuu segera berpamitan pada Santia untuk pergi dari minimarket.
"Ryuu, pakailah payung ini!" seru Santia yang membuat Ryuu menghentikan langkahnya di depan pintu minimarket.
Ryuu menoleh ke belakang, ke arah Santia berdiri.
"Tidak usah, Tante. Terimakasih," tolak Ryuu dengan sopan sambil tersenyum simpul.
Santia menggeleng sambil berjalan menghampiri Ryuu, "Ini, pakailah. Aku akan menghubungi Daddy-nya Ara agar dia ke minimarket ini. Kebetulan dia bawa payung saat berangkat kerja tadi pagi. Jadi, pakai payungku ini, ya. Aku tak mau kau sakit, Ryuu. Apalagi sebentar lagi kau akan UN di sekolah," ujar Santia seraya memberikan payungnya ke tangan Ryuu.
Ryuu terdiam cukup lama menatap Santia. Sedangkan Mommy dari Ara itu tersenyum penuh arti. Sifatnya yang sangat keibuan benar-benar membuat hati Ryuu terenyuh. Dan Ryuu merasa Ara harus beruntung memiliki Ibu seperti Santia.
"Ini, sayang. Pakailah," sambung Santia. Senyuman tetap menghiasi wajah putih berserinya.
Ryuu mengangguk lalu membalas senyuman Santia, "T... Terimakasih, Tante. Kalau begitu, aku pergi dulu."
***