
🖤🖤🖤
Besok, aku akan mencintaimu lebih dari hari ini...
Begitu pula dengan hari-hari yang akan datang...
🖤🖤🖤
"Ryuu.. Kau membaca..."
"Iya, aku membacanya," potong Ryuu dengan cepat. Ekspresinya sangat tak bisa dimengerti oleh Ara sekarang.
"Ehhh?!" teriak Ara tak percaya. Detik selanjutnya ia pun menutup mulutnya dengan kedua tangannya, karena orang-orang di sekitarnya menatapnya aneh.
Ryuu tersenyum miring. Detik berikutnya, ia mengeluarkan sesuatu dari saku sweeter-nya. Betapa terkejutnya Ara saat melihat kertas catatan miliknya memang ada pada Ryuu sekarang.
"Eh? Kok bisa? Kau mencuri catatanku, ya?"
"Enak saja, kau kira aku pencuri, apa?"
"Lalu, kenapa kertas catatanku ada padamu?"
"Entahlah," jawab Ryuu lagi-lagi tersenyum miring.
Ara menelan ludahnya kasar. Oh, tidak. Demi apapun, gadis itu kini merasa malu sekali berada di samping Ryuu. Ya, ia tahu一bahwa tak mungkin jika Ryuu tidak membaca kertas catatannya sama sekali! Ryuu pasti sudah membacanya!
"Biar ku bacakan ya..." kata Ryuu dengan santainya.
Ara menggeleng cepat. Ia refleks langsung ingin merebut kertas catatan miliknya yang ada di tangan Ryuu. Namun, rupanya gerakan tangannya itu kalah gesit dengan elakan Ryuu.
"Ryuu, ayolah!" keluh Ara sebal sambil memanyunkan bibirnya.
Ryuu diam. Matanya fokus menatap kertas catatan Ara. Dengan ekspresi meledek, laki-laki itu memutuskan membaca kertas catatan milik Ara tersebut meski sang Empunya tak mengizinkannya.
🖤Rencana Kencan bersama Nakajima Ryuu 🖤
1. Bergandengan tangan sambil menentukan akan kencan dimana
2. Berusaha membuat Ryuu tersenyum atau tertawa
3. Kurangi rasa canggung dan grogi saat bertatapan dengan Ryuu
4. Tidak boleh membuat Ryuu kesal
5. Berbicara santai
6. Jika kami berkencan di Bioskop, aku akan menyandarkan kepalaku di bahunya sambil bergandengan tangan
7. Jika kami berkencan di T*mezone, aku akan membuat suasana lebih seru dan romantis lagi
8. Tapi kencan dimanapun, asal itu bersama Ryuu, aku pasti akan senang!
9. Selesai kencan, berfoto sebagai bukti kencan. Lagipula, ini kan kencan pertama kita! Aku harus mengambil foto yang banyak hehehe
10. Setelah itu, pergi makan di Restoran Jepang agar menimbulkan kesan nostalgia untuk Ryuu.
11. Bersuap-suapan dengan Ryuu sambil mengobrol sesuatu yang lebih spesifik
12. Selesai makan, pergi ke Rumah Sakit untuk menjenguk teman-teman
13. Pulang dari Rumah Sakit, pergi ke Balai Kota untuk menikmati pemandangan sore. Oh, so sweet sekali, bukan?
14. Lalu, setelah itu, pulang ke Rumah. Di perjalanan, aku akan mengajak Ryuu becanda hingga membuatnya bisa tertawa terbahak-bahak
15. Di depan Rumahku/Rumah Ryuu, aku akan
SRETTT!!!
Ara secepat kilat menarik kertas miliknya dari tangan Ryuu. Entah sejak kapan, ia berdiri di hadapan Ryuu dengan wajah memerah layaknya kepiting rebus. Bahkan Ryuu hampir saja tertawa melihatnya dengan wajah seperti itu.
"Ayo kita pulang!" seru Ara seraya berjalan duluan. Meninggalkan Ryuu yang masih duduk di Bangku Taman.
Sambil berjalan, Ara mengutuki dirinya sendiri.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh! Kenapa kertas catatan memalukan ini ada pada Ryuu? Dasar ceroboh, kau! Araaaa!" batinnya dalam hati. Demi apapun, Ara sekarang malu setengah mati pada Ryuu.
***
Di depan Rumah Ara...
"Ya sudah, Ryuu. Kalau begitu, aku masuk duluan ke dalam, ya!"
Ryuu menghentikan langkahnya mendengar Ara membuka suara. Ia diam, tapi sorot mata kecoklatannya itu seakan berkata pada Ara untuk tetap diam di tempatnya.
"Eh? Mau apa lagi, memangnya?" tanya Ara bingung.
"Aku belum tahu catatanmu yang nomor ke-15, tahu," jawab Ryuu dingin.
Ara menelan ludahnya. Entah sejak kapan, keringat dingin membasahi pelipisnya.
"Ah, hahaha. Aku yakin catatanku ini sama sekali tak penting untukmu, Ryuu. Untuk apa kau repot-repot ingin tahu semuanya?" elak Ara sambil tertawa dipaksakan.
Ryuu merubah sorot matanya sekarang. Kali ini, tatapannya dipertajam seakan memaksa Ara一untuk memberitahunya soal kertas catatan itu di nomor 15 yang belum selesai Ryuu baca.
Ara tersenyum grogi. Perlahan tapi pasti, gadis itu berjalan mundur mendekati pagar besi rumahnya. Rencananya, saat Ryuu lengah, Ara akan kabur masuk ke dalam rumahnya.
Namun, Ara membelalakkan matanya saat menyadari bahwa semakin ia berjalan mundur, Ryuu juga semakin berjalan maju mendekatinya.
"R.. Ryuu? Kau sudah mengerjakan PR?" tanya Ara berusaha mengalihkan pikiran Ryuu.
"Aku sudah mengerjakan semuanya."
GLEK!
Entah untuk yang ke berapa kalinya, Ara menelan ludahnya.
"Oh iya, kartun kesukaanmu yang ada di Channel TV Qwety kan mulai malam ini! Kau tak ingin menontonnya, apa?"
GLEK!
Ara menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "B-bagaimana.. K-kalau..."
BRUKKK!!!
Karena Ara berjalan mundur cukup cepat, ia menubruk pagar besi rumahnya cukup kencang dari belakang. Sambil meringis, ia pun menatap Ryuu yang kini berdiri di hadapannya. Mereka hanya berjarak sekitar 30 senti saja. Cukup dekat, bukan?
"Bagaimana kalau kau memberitahukan padaku isi catatanmu nomor terakhir, yaitu di nomor 15?" Ryuu melanjutkan ucapan Ara yang tertunda tadi.
Ara mengkerutkan dahinya, "Ryuu, kenapa kau bersikeras ingin tahu?"
"Karena jika itu ada hal kaitannya denganku, aku pasti ingin tahu," jawab Ryuu dengan cepat yang membuat Ara diam seketika.
Skakmat. Ara tak tahu lagi harus bicara apa.
"Jika kau tidak memberitahukannya padaku, mungkin aku akan melakukan sesuatu padamu," ancam Ryuu dengan nada dingin, lengkap dengan tatapannya yang menusuk hati Ara.
*Gambar hanya ilustrasi
Ara mengedipkan kedua matanya berkali\-kali. Ia sungguh tak mengerti apa yang Ryuu bicarakan.
"Ara? Kau sudah pulang? Cepat masuk ke dalam, Nak! Di luar sangat dingin sekarang!" teriak Santia, Mommy-nya Ara dari dalam rumahnya.
Ara cukup terkejut mendengar suara Momm-nya. Dengan ragu-ragu, ia mencoba menjawab ucapan Mommy-nya tersebut.
"Iya, Mom! Aku akan segera masuk ke dalam!"
Ara berniat untuk membuka pagar besi rumahnya. Namun, dengan cepat Ryuu menahan Ara. Laki-laki itu menahan Ara dengan cara menggebrakkan kedua tangannya di samping kepala Ara一hingga Ara tak bisa berlari ke arah kanan atau kiri.
Ara menatap Ryuu dengan tatapan bingung. Detik selanjutnya, debaran jantungnya berdebar kian cepat tatkala menyadari bahwa wajah Ryuu sangat dekat dengan wajahnya sekarang.
"Cepat beritahu aku, atau aku akan menciummu saat Mommy-mu keluar dari rumah," ancam Ryuu yang membuat Ara kaget setengah mati.
"E-eh?!"
"Kau tak mau itu terjadi, bukan? Kalau begitu, cepat beritahu aku."
"Ta.. Tapi..."
Ryuu berdecak kesal sambil semakin mendekatkan wajahnya.
"Tapi apa, hmm?"
"Aku malu..." gumam Ara lirih, namun suaranya itu masih bisa di dengar Ryuu.
"Sejak kapan Altheara Ananda Putri memiliki rasa malu? Bukankah biasanya kau tak tahu malu?"
Oh, Ara merasa dirinya sedang di cemooh oleh Ryuu sekarang.
Karena Ara terlalu lama diam, Ryuu kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Ara. Bedanya, kali ini laki-laki itu memiringkan kepalanya hingga membuat Ara membelalakkan matanya seketika.
"R... Ryuu!" pekik Ara kaget seraya menutup bibirnya dengan kedua tangannya.
Ryuu tersenyum simpul. Ara kira, Ryuu akan menyerah dan membiarkan Ara pergi begitu saja. Rupanya, ia tetap mencium Ara tepat di tangan yang Ara gunakan untuk menutupi bibirnya.
Oh, Ara merasa jantungnya akan meledak sekarang!
"Baiklah, sepertinya kau terlihat lelah. Kita lanjutkan saja pembicaraan ini nanti, ya," kata Ryuu dengan santainya seraya berjalan meninggalkan Ara yang diam mematung.
Untuk beberapa saat, Ara mencoba menenangkan dirinya dan juga jantungnya yang berdebar sangat kencang. Perlakuan Ryuu tadi, sungguh mengagetkan, bukan?
Beberapa langkah lagi Ryuu akan sampai rumahnya, Ara dengan cepat berlari menghampiri Ryuu.
Ryuu pun menatap Ara bingung, "Ada apa lagi?"
Ara diam. Sorot matanya itu menatap Ryuu begitu dalam. Hingga yang di tatap malah semakin kebingungan.
"Sudah ku bilang, pembicaraan ini kita lanjutkan nanti sa一"
"Aku sangat menyukaimu, Ryuu! Aku sangat-sangat mencintaimu!"
DEG!!!
"Eh?"
Ara kini memasang ekspresi sangat serius. Ia tak mau pengakuan cintanya yang entah untuk ke berapa kalinya一ini di remehkan Ryuu seperti yang sebelum-sebelumnya.
CUP!
Ara secepat kilat mengecup pipi Ryuu. Ya, saking cepatnya sampai Ryuu tak ada kesempatan untuk mengelak. Setelah itu, Ara pun berlari sekencang-kencangnya. Membuka pagar besi rumah, lalu masuk ke dalam rumahnya一meninggalkan Ryuu yang diam mematung di tempat.
Ara merasa tak adil jika hanya dirinya saja yang terkejut dengan perlakuan Ryuu. Ya, ia merasa, ia juga harus membuat Ryuu terkejut dengan perlakuannya, bukan?
Tanpa Ara sadari, ternyata kertas catatan miliknya jatuh tepat di hadapan Ryuu. Mungkin karena dirinya berlari dengan cepat tadi. Tak ingin penasaran terlalu lama, Ryuu dengan sigap mengambil kertas catatan itu dan segera membaca rencana kencan nomor terakhir, yaitu nomor 15.
15. Di depan Rumahku/Rumah Ryuu, aku akan berkata padanya bahwa aku sangat menyukai dan sangat mencintainya!
note : Jika aku beruntung, aku mungkin akan mendapatkan balasan dari pengakuan cintaku, hehehe. Semoga saja!
Ryuu menggeleng-gelengkan kepalanya saat selesai membaca kertas tersebut. Dalam hati, ingin sekali ia menertawakan tulisan Ara tersebut. Namun, mengingat Ara yang tadi mencium pipinya tanpa izin, membuat Ryuu diam seribu bahasa.
Tanpa Ryuu sadari...
Ritme jantungnya itu sama seperti Ara sedari tadi.
Â
Â
Â