
🖤🖤🖤
Mencintai boleh, terlalu dikejar jangan.
Karena cinta tak seharusnya berjuang sendirian.
🖤🖤🖤
"Aku punya ide yang bagus untuk ulang tahun Al," kata Ryuu sambil tersenyum miring.
"Hei, hei, hei. Bisa tidak tak pakai ekspresi seperti itu? Kau terlihat sedang merencanakan sesuatu yang jahat, tahu!" seru Angel bergidik.
Sam menatap Angel sekilas. Lalu pandangannya teralihkan pada Ryuu.
"Memangnya, ide seperti apa yang kau inginkan?"
"Ya, kita hanya membuat surprise saja. Tak lebih. Jam 12 malam kita datang ke rumahnya sambil membawa kue ulang tahun dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya."
Angel menepuk jidatnya mendengar penjelasan dari Ryuu, "Ryuu, bukankah itu terlalu klise?"
"Ya, ku pikir rencana Ryuu akan lebih so sweet karena tahun ini kan kau sudah resmi jadi pacar Ara," tambah Sam.
Ryuu diam sambil memasang ekspresi jutek. Ia merasa tersudutkan sekarang.
"Aku! Aku punya ide yang bagus! Dan aku yakin tak ada seorang pun yang punya ide surprise ulang tahun seperti ini," sahut Revina tiba-tiba membuka suara.
"Eh? Ide apakah itu?" tanya Angel dan Sam bersamaan. Sedangkan Ryuu hanya melirik Angel sekilas saja.
***
Karena hanya ada dua hari yang tersisa, Ryuu dan kawan-kawan membagi tugas masing-masing untuk ulang tahun Ara. Sam dan Rangga bagian dekorasi, Angel bagian perkadoan, Revina bagian kue ulang tahun, dan Ryuu bagian dari salah satu rencana yang di ajukan oleh Revina.
Setelah meminta izin dari Santia dan Bram, Orangtuanya Ara, Ryuu pun mempersilahkan Sam dan Rangga mendekorasi bagian ruang tamu rumah Ara. Karena memang ruang tamu-lah yang akan tempat utama. Kebetulan juga, Santia dan Bram pergi ke luar kota untuk beberapa hari. Jadi, Sam dan Rangga bisa leluasa mendekor tanpa masalah.
Sedangkan Angel membeli kado-kado hasil dari perkumpulan uangnya, Ryuu, Sam, Rangga, dan Revina. Gadis itu membeli sekitar tujuh kado untuk Ara. Bagaimanapun, ia ingin acara ulang tahun Ara yang ke-18 ini berkesan untuknya.
Lain dari Angel, Revina malah menawarkan kue ulang tahun buatan tantenya secara cuma-cuma. Ya, itu karena tantenya dan tante Rangga itu seorang pembuat kue. Tapi, entah kenapa Revina tak sedikitpun meminta uang untuk membeli kue tersebut pada teman-temannya.
Hingga pada hari H...
"Al, orangtuamu pulang hari apa?" tanya Ryuu tiba-tiba menghampiri Ara sesaat setelah bel pulang sekolah berbunyi.
"Sepertinya hari Sabtu nanti. K.. Kenapa?" Ara balik bertanya dengan ragu-ragu.
"Oh, tidak. Tidak ada apa-apa, kok. Nanti malam, aku boleh ke rumahmu tidak?"
DEG!!!
"EH?!"
Teriakan keras Ara membuat seisi teman kelas menatapnya secara bersamaan. Di tatap seperti itu, Ara hanya cengengesan sambil meminta maaf.
"Ngomong-ngomong, aku boleh bertanya, tidak?"
Ara menelan ludahnya, "Apa?"
"Kenapa sepertinya kau menjaga jarak denganku? Ini sudah hampir seminggu lebih, Al."
Pikiran Ara melayang pada kejadian malam saat mereka berdua pulang dari kencan. Tepatnya, di depan rumah Ara. Ryuu mencoba mencium bibir Ara meskipun gadis itu sudah menutup bibirnya dengan tangannya. Menurut Ara, bukankah itu terlalu agresif? Bahkan sampai detik ini saja, jantung Ara masih berdebar kencang mengingat kejadian itu.
"Malam ini aku akan ke rumahmu. Tepatnya, aku ingin ke loteng rumahmu," ujar Ryuu membuyarkan lamunan Ara.
"Eh? Untuk apa?"
"Aku ingin membicarakan sesuatu padamu."
"T.. Tapi.."
"Tapi apa?"
"Hari ini aku dan Angel akan ke rumah Claudia, teman sekelompokku untuk mengerjakan tugas FISIKA," jelas Ara.
Ryuu membulatkan matanya, "Kerja kelompok? Bersama Angel?"
Ara mengangguk.
Pandangan Ryuu pun beralih pada Angel yang kini pura-pura tak memandangnya.
"Kenapa jadi seperti ini? Ini kan bukan dari rencana kita, tahu!" gerutu Ryuu dalam hati sambil tetap memperhatikan Angel.
Menyadari tatapan tajam dari Ryuu pada Angel, Ara pun menutup mata Ryuu dengan kedua tangannya.
"Apa-apaan, sih?" protes Ryuu seraya menepis kedua tangan Ara.
Ara tersenyum manis, "Jika kau ingin ke rumahku, silahkan saja. Sepertinya aku juga akan pulang agak malam."
Ryuu memejamkan kedua matanya geram. Ini benar-benar diluar rencananya dan juga rencana teman-temannya.
"Nih, kunci rumahku. Kau bisa masuk duluan dan tunggu aku di loteng rumahku, ya," ujar Ara seraya memberikan kunci rumahnya pada Ryuu.
Setelah itu, Ara dan Angel pun pergi dari kelas. Meninggalkan Ryuu yang berdiri mematung dengan tatapan kosong.
"Ryuu, bagaimana? Kau sudah dapat kunci rumah Ara?" tanya Sam seraya menghampiri Ryuu. Diikuti oleh Revina dan Rangga.
"Eh?" Ryuu memasang ekspresi tak mengerti.
"Hei, ini kan bagian dari rencana kita! Kau harus mendapatkan kunci rumah Ara, aku dan Rangga segera mendekor ruang tamu, sedangkan Angel mengajak Ara kerja kelompok," jelas Sam membuat Ryuu cukup bingung.
"Ini kan bukan rencana yang kita rencanakan sebelumnya, Sam," keluh Ryuu.
"Tapi, setidaknya kau bisa mendapatkan kunci rumah Ara kan, Ryuu?" kata Revina.
Ryuu terdiam. Ada benarnya juga apa yang dikatakan Revina. Ya, setidaknya, Ryuu sudah mendapatkan kunci rumah Ara. Dan Ryuu seharusnya tidak mempermasalahkan sesuai rencana apa tidak.
"Ayo, kita segera ke rumah Ara. Ruang tamu rumahnya akan aku dan Rangga sulap menjadi ruang tamu luar biasa," ujar Sam penuh semangat.
"Ya, nanti saat Ara membuka pintu rumahnya, ia akan terkejut dengan kejutan ruang tamu," tambah Rangga.
Sam mengangguk, "Ya, sisanya, itu tugas Ryuu yang harus menunggu Ara di atas loteng rumahnya."
Ryuu mengangguk malas sambil memutar bola matanya. Meski dalam hati, dirinya memohon kepada Tuhan agar rencana untuk surprise ulang tahun Ara dilancarkan sampai selesai.