
🖤🖤🖤
Maaf. Aku benar-benar minta maaf.
🖤🖤🖤
Sudah hampir satu jam lebih Ara berteduh di kios kecil yang ada di samping jalan raya. Namun, ternyata hujan tak sedikitpun mereda. Ah, gawat. Ini benar-benar gawat. Ara merasa tak ada gunanya menunggu hujan mereda dan berteduh seperti ini. Malam ini ia harus segera belajar, mengulang kembali pelajaran yang sudah ia pelajari pagi tadi.
Ara pun mengumpulkan tekad dan niat untuk menerobos hujan yang sangat deras ini. Namun, baru satu langkah melangkahkan kaki, ia melihat Ryuu berjalan melewatinya menggunakan payung yang tak asing dimatanya.
"Eh? Ryuu? Kenapa dia pakai payung Mommy? Dan kenapa juga dia memakai seragam sekolah sekarang? Bukankah hari ini dia alfa tidak ke sekolah?" batin Ara bertanya-tanya melihat Ryuu yang sudah berjalan cukup jauh di depannya. Dan sepertinya Ryuu juga tak menyadari keberadaan Ara yang tadi sedang berteduh di depan kios.
"Aku harus menghampirinya!" seru Ara seraya berlari menerobos hujan. Berusaha mengejar Ryuu yang langkah kakinya cukup cepat.
Saat sedang berlari seperti itu, pikiran Ara tiba-tiba saja mengingat hal yang diucapkan Ryuu padanya kemarin.
"Sudah ku bilang, kan? Aku tak mau melihat ataupun berbicara padamu lagi."
DEG!!!
Seketika, Ara menghentikan laju larinya. Ia menatap sedih punggung Ryuu yang tertutup setengah oleh payung. Niatnya untuk menghampiri Ryuu lenyap bersamaan dengan air matanya yang mulai menetes. Menyatu dengan air hujan yang membasahi seluruh tubuhnya.
"Aku tak boleh egois. Aku harus mengerti keadaan Ryuu yang tak mau dekat-dekat denganku," batin Ara seraya berjalan pelan. Matanya itu tak lepas menatap Ryuu yang sudah cukup jauh di depannya.
"Jelas-jelas Ryuu ada di depan sana. Tapi, kenapa rasanya ia sangat jauh dan sulit ku gapai? Kenapa jarak diantara kami begitu jauh rasanya?" batin Ara lagi. Sambil terus berjalan, ia menangis. Meluapkan kesedihannya hari ini bersamaan dengan turunnya hujan yang deras.
***
Hujan masih turun dengan deras. Dan langit juga tak memberikan tanda-tanda akan berhentinya hujan. Kini, Ryuu sudah sampai di depan rumah Ara. Tak mau berlama-lama, ia segera menekan bel rumah Ara sembari mengetuk-ngetuk pintu. Rupanya, Ryuu masih tak sadar dengan keberadaan Ara yang sedari tadi berada di belakangnya.
Di belakang Ryuu, Ara mengernyitkan dahinya bingung. Ada urusan apa Ryuu ke rumahnya? Dan kenapa Ryuu terlihat begitu gelisah?
Karena merasa tak ada respon dari dalam rumah Ara, Ryuu pun membalikkan tubuhnya. Berniat untuk pulang ke rumahnya. Namun, ia kaget setengah mati saat melihat Ara yang ternyata ada di belakangnya.
DEG!!!
"Kau..." ucapan Ryuu tercekat di tenggorokannya. Ia menatap kaget kondisi Ara yang benar-benar malang. Baju yang basah kuyup, wajah yang pucat, dan tubuh yang menggigil kedinginan.
"Kau ada di belakangku dari tadi? Kenapa kau tak ikut menggunakan payung yang kupegang? Lagipula, payung ini kan milik Mommy-mu. Kau pasti tahu hal ini, kan?"
Ara tak menjawab apapun. Sambil menggigil kedinginan, ia berjalan melewati Ryuu. Di detik selanjutnya, tangannya kini menggapai dan mencoba membuka knop pintu rumahnya. Namun, terkunci. Pintu rumahnya ternyata terkunci.
"Mom... Buka pintunya! Aku sudah pulang," ujar Ara bersusah payah mengeluarkan suara. Ia sudah sangat kedinginan, dan kepalanya juga sangat pusing sekarang.
Ryuu yang melihat itu pun tak tinggal diam. Ia dengan cepat menarik tangan Ara lalu berjalan. Ya, ia akan membawa Ara masuk ke dalam rumahnya karena rumah Ara masih terkunci sekarang. Selain itu, ia tahu kenapa Santia belum pulang dari minimarket. Mommy-nya Ara itu bilang akan pulang bersama Bram, Daddy Ara. Dan itu pasti akan memakan waktu yang lama, kan?
Tentu saja, Ryuu tak mungkin tega membiarkan Ara menggigil kedinginan sendirian di depan rumah一menunggu kedatangan Santia yang tak pasti.
"Lepaskan tanganku, Ryuu. Aku harus pulang, aku harus belajar malam ini," kata Ara setengah berbisik. Sebenarnya, ia sudah tak kuat lagi untuk bicara ataupun berjalan.
Ryuu tak menghiraukan penolakan Ara. Ia terus berjalan sambil menarik tangan Ara,hingga ia sampai di depan pintu rumahnya.
Tanpa berlama-lama, Ryuu pun merogoh saku celananya dan mengeluarkan kunci dari saku celanya tersebut. Oh, rupanya ia memiliki kunci rumah cadangan. Tak seperti Ara yang hanya memiliki satu kunci rumah. Itu pun yang memegang kunci rumah adalah Mommy-nya.
"Masuklah," kata Ryuu dingin sesaat setelah pintu rumahnya terbuka.
Ara diam tak bergeming. Ia menatap Ryuu dalam-dalam, sedangkan Ryuu membuang muka. Tak sedikitpun menatapnya.
"A.. Aku..."
Ryuu kembali menarik tangan Ara dan membawa gadis itu masuk ke dalam rumahnya. Ia benar-benar tak mau mendengar kalimat penolakan dari Ara. Hingga akhirnya, sampailah mereka di ruang tamu rumah Ryuu.
"Tunggu disini," kata Ryuu sambil melepaskan genggaman tangannya pada Ara. Setelah itu, ia berjalan pergi dari situ. Pergi menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
Tak lama kemudian, Ryuu berjalan一 menuruni anak tangga lalu kembali menghampiri Ara yang berada di ruang tamu. Betapa kagetnya Ara melihat Ryuu yang kini membawa sebuah handuk dengan ukuran cukup besar.
"Ini, keringkan tubuhmu," kata Ryuu seraya menyodorkan handuk tersebut pada Ara.
Ara menggeleng lemas, "Tidak usah, Ryuu. Aku一"
Ryuu tiba-tiba melebarkan handuk itu lalu merentangkannya一menutupi setengah tubuh Ara dan sebagian kepala sahabatnya tersebut. Membuat Ara mau tak mau harus menerima pemberian handuk dari Ryuu.
"T.. Terimakasih," ujar Ara dengan suara pelan. Kepalanya semakin lama terasa semakin pusing tujuh keliling. Hingga tanpa sadar, tubuhnya ambruk seketika.
Beruntung, Ryuu dengan sigap menahan tubuh Ara agar tak terjatuh ke lantai. Kini, gadis itu berada dalam dekapannya. Ia benar-benar mendekap dengan erat tubuh kecil Ara yang kedinginan. Tak peduli bajunya akan ikut basah terkena baju Ara, yang penting sahabatnya itu bisa merasakan kehangatan lewat dekapannya.
***
20 menit berlalu. Kini, Ryuu sedang menatap Ara yang masih dalam keadaan pingsan. Ia sengaja membaringkan tubuh Ara di sofa ruang tamu dan menyelimuti gadis itu dengan selimut miliknya.
Tak lupa, sebuah kompresan ditempel oleh Ryuu di dahi Ara agar sahabatnya itu tak demam. Teh hangat juga sudah disiapkan olehnya untuk jaga-jaga seandainya Ara tersadar dari pingsannya一ia pasti akan segera memberikan teh hangat itu pada Ara. Namun, sepertinya tak ada tanda-tanda Ara akan tersadar. Dibanding pingsan, Ara terlihat seperti orang yang sedang tertidur pulas.
"Al? Kau sudah sadar?" tanya Ryuu menarik kembali tangannya ke posisi semula. Ia tak mau terlihat seperti akan mengusap rambut Ara.
Ara tak menjawab apapun selain menatap Ryuu sayu. Membuat Ryuu kebingungan sendiri apakah Ara sudah sadar atau belum.
"Al?" Ryuu mencoba melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Ara. Namun, hasilnya sama. Ara tetap diam dengan tatapan sayunya.
"Ah, sepertinya kau belum sadar, ya," gumam Ryuu mengerti pada akhirnya. Ya, ia hampir saja lupa tentang perkataan Santia一bahwa Ara seringkali mengigau setiap malam.
Ryuu pun kini mengambil kompresan dari dahi Ara. Lalu mengecek suhu dahi Ara melalui telapak tangannya. Sudah normal. Ya, syukurlah Ara tak mengalami demam yang lama karena Ryuu sigap melakukan pertolongan pertama.
"Kalau begitu, aku akan ganti baju dulu, ya," kata Ryuu seraya bangkit dari sofa. Berniat pergi ke kamarnya.
Namun, baru saja satu langkah, sebuah tangan menahan pergelangan tangan Ryuu. Membuat Ryuu refleks menoleh ke belakang, ke arah Ara yang ternyata sudah dalam posisi duduk.
"Ryuu..." Suara Ara terdengar serak namun sangat lirih di telinga Ryuu.
Ryuu diam. Mereka saling bertatapan lama. Cukup lama hingga Ryuu tak sadar bahwa kini Ara sudah dalam posisi berdiri di hadapannya.
"Kau masih marah padaku, Ryuu?" tanya Ara setengah berbisik. Matanya masih terlihat sayu dan lesu.
Ryuu membuang muka. Berdiri membelakangi Ara. Ia membiarkan Ara terus bicara dibelakangnya.
"Apa kau membenciku?" tanya Ara lagi. Kali ini ia melangkahkan kakinya perlahan, mendekati Ryuu yang membelakanginya.
Ryuu tetap diam. Ia sendiri tak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan Ara.
"Waktu kelulusan tinggal 1 bulan lagi. Tapi hingga saat ini, ternyata aku masih belum bisa membuatmu menyukaiku," lirih Ara sambil menundukkan pandangannya.
"Bukannya membuatmu menyukaiku, aku malah membuatmu membenciku. Aku memang bodoh. Sangat bodoh," sambung Ara mengutuki diri sendiri.
Ryuu perlahan membalikkan tubuhnya一kembali menghadap Ara seperti sebelumnya. Menatap sahabatnya itu yang sedang menunduk.
"Aku tak membencimu, Al. Sedikitpun aku tak pernah membencimu," kata Ryuu yang akhirnya membuka suaranya. Sukses membuat Ara menegakkan kepalanya dan menatap Ryuu dalam-dalam.
"Syukurlah, ku kira karena masalah Rangga kemarin, kau jadi membenciku, Ryuu."
Ryuu menggeleng, "Justru aku minta maaf karena tak mempercayai ucapanmu perihal alergi panasmu itu," elak Ryuu tak setuju dengan ucapan Ara.
Ara tersenyum manis meski matanya masih terlihat sayu dan lesu. Oh, jangan lupakan Ara yang kini sedang dalam keadaan mengigau. Jadi, apapun yang dikatakan oleh Ryuu malam ini tak akan mungkin Ara ingat di keesokan harinya.
Tanpa permisi, Ara tiba-tiba memeluk tubuh Ryuu erat. Tentu saja Ryuu kaget akan hal itu. Namun, ia tak sedikitpun menolak pelukan dari Ara tapi tak juga membalas pelukan tersebut. Ia membiarkan Ara memeluknya tanpa mengucapkan apa-apa.
"Ku harap, kau selalu semangat dan sabar menghadapi masalah yang ada, ya. Aku, Altheara Ananda Putri, akan selalu mendukungmu bagaimanapun keadaanmu, Ryuu," kata Ara sambil mengeratkan pelukannya pada Ryuu.
Ryuu mengangguk pelan, "Aku tak punya seseorang yang akan mendukungku lagi selain kau dan Tante Santia, Al. Terimakasih banyak. Maafkan aku juga karena masih sering membuatmu sakit hati atas perlakuanku," balas Ryuu lirih.
"Kau masih punya Bunda Yui dan Om Vino, kan? Kau masih punya dua orangtua yang akan selalu mendukungmu."
"Tidak. Ayahku sudah diluar ekspestasiku. Sedangkan Bunda, beliau pergi ke Jepang hari ini, Al. Itu sebabnya hari ini aku tak ke sekolah."
Ara refleks melepaskan pelukannya lalu menatap Ryuu bingung.
"Eh? Bundamu ke Jepang? Lalu, kenapa seharian ini kau masih memakai baju seragam sekolah? Apa sehabis kau mengantar Bunda Yui ke Bandara, kau tak langsung pulang ke rumah, Ryuu? Kau kemana selama seharian ini?" Ara bertanya bertubi-tubi hingga membuat Ryuu kewalahan sendiri mendengarnya.
"Kau ini jelas-jelas masih terlihat mengigau. Tapi kenapa kau masih bisa sangat aktif seperti orang yang sedang sadar?" batin Ryuu aneh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ryuu, jawab aku!"
"Aku memang tak pulang ke rumah, Al. Sehabis dari Bandara, aku pergi ke Perpustakaan Kota untuk menyibukkan diri selama seharian ini, itu saja," jawab Ryuu pada akhirnya.
Ara menatap Ryuu penuh pengertian. Ia tahu maksud dari kata "menyibukkan diri" yang Ryuu bilang.
"Menyibukkan diri? Kau menyibukkan diri agar tak berlarut-larut dalam kesedihan, kan? Sebenarnya kau sangat sedih karena Bunda Yui pergi ke Jepang, kan?" tanya Ara menduga-duga.
Ryuu diam seribu bahasa. Ya, dugaan Ara memanglah 100% benar. Selama seharian ini ia berusaha untuk tak bersedih atas kepergian Bundanya ke Jepang. Itu sebabnya ia tak pulang ke rumah dan lebih memilih berada di Perpustakaan Kota hari ini.
"Ryuu. Aku tahu ini sangat berat untukmu. Maka dari itu, kumohon. Ceritakan semua padaku yang kau pendam selama ini. Karena bagaimanapun, aku adalah sahabatmu, kan?"
Ryuu menatap kedua bola mata Ara yang masih saja terlihat sayu. Namun bedanya, kali ini mata Ara terlihat berkaca-kaca. Seolah gadis itu turut merasakan kesedihan yang Ryuu tutupi dalam ekspresi dinginnya.
"Kau tetap mendeklarasikan dirimu sebagai sahabatku, Al?" tanya Ryuu yang membuat Ara bingung seketika.
"Eh? Aku memang sahabatmu, kan? Jika bukan, berarti aku apa dimatamu?" Ara balik bertanya heran.
"Kau..."
Ucapan Ryuu terhenti. Sepasang manusia berbeda jenis kelamin itu saling berpandangan lama. Hingga pada akhirnya, Ryuu kembali membuka suara.
"Kau orang yang berharga, Al."