
Esoknya, sepulang sekolah...
"Al, kau mau langsung pulang?"
Ara menghentikan langkahnya seraya menoleh ke belakang. Ia cukup terkejut karna orang yang bertanya itu adalah Ryuu-dengan wajah super dinginnya. Apalagi, entah sengaja atau tidak, Ryuu malah menarik pelan rok Ara tadi.
"Tidak. Niatnya sih aku, Angel, dan Sam akan belajar bersama di rumah Angel," jawab Ara sambil tersenyum manis. Namun, yang disenyumi malah membuang mukanya.
"Oh, ku kira kau akan langsung pulang."
"T-tidak kok. Memangnya kenapa, Ryuu?"
"Tidak, tidak ada apa-apa," ucap Ryuu cepat sambil merapikan bukunya dan dimasukkan dalam tasnya.
Ara diam sambil mengangguk-angguk. Dalam hati, gadis itu merasa tak puas dengan ucapan Ryuu. Ia pun segera mencubit pipi Ryuu seraya tertawa kecil.
"Kau rindu pulang bersama denganku, ya?" tanya Ara meledek.
Ryuu memutar bola matanya kesal, "Lepaskan."
"Tidak mau!" seru Ara yang malah semakin mengencangkan cubitannya di pipi sahabatnya itu.
"Ck, dasar keras kepala," gumam Ryuu pelan namun masih bisa di dengar oleh Ara.
"Katakan dulu, kau pasti rindu pulang bersamaku, 'kan? Soalnya, sudah hampir 1 minggu ini kau selalu pulang ke rumah Revina dulu," ujar Ara sambil memajukan bibirnya sebal.
"Itu 'kan karna-"
"Iya aku tahu, karna kau mengajarinya les, 'kan? Bukankah tidak wajar jika mengajar les setiap hari? Lagipula, memangnya kau dibayar berapa sih oleh Revina sampai-sampai kau rela setiap hari mengajar les di rumahnya?" tanya Ara bertubi-tubi.
Ryuu menghembuskan napasnya seraya memejamkan mata, "Kau itu bertanya apa mengintrogasiku?"
"Hehe, dua-duanya," ucap Ara tersenyum malu.
"Sebenarnya, aku tak dibayar sama sekali."
DEG!!!
"Eh?!"
Ara membelalakkan matanya kaget setengah mati. Namun, baru saja ia akan bertanya, tiba-tiba di pintu kelas sudah berdiri Angel dan Sam yang entah kapan datangnya.
"Ra, ayo kita ke rumah Angel!" ajak Sam penuh semangat.
Angel meninju pelan pundak Sam, "Aku tidak mengajakmu tahu!"
"Kan Ara yang mengajakku, hehe," ucap Sam sambil tersenyum kuda.
Angel mendengus kesal lalu membuang muka. Ia tidak bisa bicara apa-apa lagi-kalau memang ternyata Ara yang mengajak Sam ke rumahnya. Ya, mau bagaimana lagi 'kan?
"R-ryuu, aku ke rumah Angel dulu, ya," kata Ara sambil tersenyum simpul.
Ryuu mengangguk, "Hari ini aku libur mengajar les."
"Oh, berarti kau langsung pulang?"
Lagi-lagi Ryuu mengangguk. Detik selanjutnya, ia pun segera memakai tas sekolah miliknya dan bangkit dari tempat duduknya.
"Hati-hati di jalan," ucap Ryuu dingin sambil berjalan melewati Ara.
Tepat di dekat pintu kelas, Sam mencegat langkah Ryuu seraya tersenyum-senyum.
"Eits, kau mau kemana, kapten?" tanyanya yang masih mempertahankan senyumannya.
"Pulang," jawab Ryuu datar.
"Hmm, bagaimana kalau kau ikut bersama kita?"
"Untuk apa aku ikut?" tanya Ryuu ketus yang membuat senyuman Sam memudar.
"Ehm, k-kau bisa membantu Ara di pelajaran fisika, matematika, kimia, bahasa inggris, dan bahasa jepang," jawab Sam.
"Al, kau payah di pelajaran yang tadi Sam sebutkan?" tanya Ryuu tanpa menoleh kepada Ara yang ada di belakangnya.
"E-eh? Iya, benar. Aku-"
"Hmm, hebat sekali ya Sam bisa tahu pelajaran yang tidak kau kuasai," ucap Ryuu dingin sambil berjalan melewati Sam dan Angel. Ryuu pun berjalan semakin jauh menjauhi ke-3 temannya itu.
Ara diam mematung. Dalam hati, ia sungguh tak mengerti apa yang tadi di ucapkan Ryuu. Hebat? Sam hebat bisa mengetahui pelajaran yang tak ia kuasai? Menurut Ara, apa hebatnya hal itu? Bahkan, Angel juga tahu ia payah dalam pelajaran yang tadi Sam sebutkan. Lalu, kenapa Ryuu berkata seperti itu pada Sam?
Ara harus tahu alasannya!
"Maaf teman-teman, aku mau pulang saja ya!" seru Ara seraya berlari meninggalkan Sam dan Angel, menyusul Ryuu yang sudah jauh didepan sana.
"H-hei! Ra! Ara!" teriak Angel yang bersiap mengejar Ara. Namun, niatnya itu di gagalkan Sam karna laki-laki tersebut menarik tangannya.
"Berarti hanya aku saja ya yang ke rumahmu hari ini, hehe," ucap Sam tersenyum-senyum.
Angel menepis tangan Sam, "Sudah ku bilang kan? Jangan kurang ajar!"
"Iya, iya. Maaf. Tanganku tanpa sadar menarik tanganmu."
Angel memutar bola matanya sebelum ia berjalan meninggalkan Sam. Melihat itu, Sam hanya tertawa kecil dan membiarkan Angel semakin menjauh dari tempatnya berdiri.
"Angel! Ayo pulang bersamaku!!!" teriak Sam sambil berlari, mencoba mengejar Angel yang sudah jauh.
"TIDAK! PERGI SANA!"
***
"Ryuu, tunggu aku!"
Ara mempercepat laju sepedanya agar sejajar dengan sepeda Ryuu. Namun, nyatanya Ryuu malah semakin jauh di depan sana. Membuat gadis itu cukup banyak mengeluarkan tenaga untuk mengayuh sepeda lebih cepat lagi.
Karna tak kuat, Ara akhirnya berniat menghentikan laju sepedanya. Tapi, sayangnya ia terlalu cepat menge-rem sepedanya dan...
BRUKKK!!!
"RYUU!!!" teriak Ara kesakitan karna jatuh dari sepeda.
Nihil, Ryuu sudah jauh di depan sana. Laki-laki itu tak akan mungkin mendengar teriakannya sekarang. Dengan tertatih-tatih, Ara mencoba berdiri dan membersihkan seragamnya yang kotor karena terkena jalan.
"Ada yang bisa ku bantu?" tanya seorang lelaki yang muncul di samping Ara.
Ara membulatkan matanya kaget, "Eh? T-tidak. Tidak apa-apa kok."
"Lututmu berdarah. Sebaiknya kita obati dulu," ucap laki-laki itu sambil menggendong tubuh kecil Ara ala Bridal Style.
Ara hanya diam saat dirinya di bawa ke tempat duduk yang ada di halte Bus. Entah kenapa, ia merasa laki-laki yang menggendongnya tersebut begitu khawatir dengannya. Padahal 'kan, mereka tak saling kenal.
"Duduk disini, ya," ujar laki-laki itu seraya menurunkan tubuh Ara di tempat duduk halte Bus.
Setelah itu, laki-laki tersebut mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah kotak P3K. Dia pun mengambil obat luka, alkohol, plester, dan kain kasa.
"Tahan ya, mungkin akan terasa sedikit sakit."
Beberapa menit kemudian..
"Oke, sudah selesai," kata laki-laki itu sambil tersenyum. Detik selanjutnya, ia pun pergi mengambil sepeda Ara yang masih ada di samping jalan dan membawanya ke dekat halte.
"Ada yang masih sakit?" tanyanya heran karna melihat Ara yang dari tadi hanya diam.
"Eh? T-tidak kok," jawab Ara tersenyum canggung.
"Oh, ku kira masih ada yang sakit," ujar laki-laki itu seraya duduk di samping Ara.
Pipi Ara memerah. Ini pertama kalinya ia berduaan bersama laki-laki selain Ryuu. Ya, di sekitaran halte Bus itu memang sangat sepi. Apalagi di siang menjelang sore seperti ini. Jarang ada orang atau kendaraan yang berlalu-lalang.
"Ehm, m-maaf, sebelumnya apa aku boleh tahu namamu dulu?" tanya Ara canggung.
Laki-laki tersebut tertawa, "Hahaha, oh iya ya! Aku lupa menyebutkan namaku! Mungkin karna aku terlalu khawatir melihat gadis cantik sepertimu jatuh di depan mataku."
Pipi Ara semakin memerah saat mendengar kata 'cantik'. Oh tidak, ia dibuat meleleh hanya dengan 1 kata saja. Cantik? Bahkan Ryuu saja tak pernah menyebutnya cantik. Tapi kenapa laki-laki disampingnya itu begitu serius mengucapkan kata 'cantik' padanya?
"Namaku Rangga. Rangga Kyle," ujar laki-laki itu sambil tersenyum manis.
Ara hanya diam seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Namamu?"
"E-eh? Namaku Altheara Ananda Putri. Panggil saja-"
"Putri!" potong Rangga dengan cepat.
Ara menggeleng, "Nama panggilanku itu Ara. Panggil saja Ara!"
"Tidak, aku lebih nyaman memanggilmu Putri. Karna kau begitu cantik layaknya Putri," ucap Rangga yang membuat Ara kehabisan kata-kata.
Ara pun menunduk menyembunyikan wajahnya yang malu. Menyadari hal itu, Rangga menyentuh kepala Ara agar tegak seperti semula.
"Ku lihat, tadi kau seperti mengejar-ngejar seseorang dengan sepedamu."
"I-iya, aku memang mengejar seseorang."
"Siapa?"
"Eh? Siapa apanya?"
"Siapa yang kau kejar sampai kau jatuh seperti tadi?"
Ara memajukan bibirnya, "Dia sahabatku. Hubungan kami memang akhir-akhir ini cukup renggang."
"Sahabat? Jadi, yang tadi mengayuh sepeda di depanmu itu adalah sahabatmu?" tanya Rangga seperti tak percaya.
"Iya, dia sahabatku."
"Hmm."
"Ada apa, Rangga?"
Rangga tersenyum, "Ku kira, dia pacarmu."
DEG!!!
Ara membelalakkan matanya kaget. Entah kenapa, pendengarannya sangat sensitif dengan kata 'pacar'. Ya, wajar saja. Mungkin karna selama 17 tahun dia hidup, ia tak pernah memiliki seorang pacar. Hidupnya selalu menempel pada Ryuu, yang malah membuat semua teman laki-lakinya tak tertarik padanya.
"Oh iya Put, sebenarnya aku baru pindah ke daerah sini, lho."
"Eh? Benarkah?"
Rangga mengangguk, "Papahku dipindahkan perusahaannya kesini. Jadi aku ikut pindah, deh. By the way, aku asli orang Yogyakarta."
"Wah, Yogya? Jauh sekali ya," ucap Ara sambil mengangguk-angguk.
"Oh iya, boleh minta nomor ponselmu?"
Ara tersenyum, "Boleh kok-"
"Al, rupanya kau disini."
DEG!!!
Ara dan Rangga terkejut bersamaan dengan kedatangan Ryuu yang entah sejak kapan ada di samping mereka berdua.
"Ryuu?!" teriak Ara terkejut setengah mati. Pasalnya, Ryuu 'kan tadi sudah jauh mengayuh sepedanya, tapi kenapa sekarang dia ada di halte bus ini?
"Ayo pulang," ucap Ryuu dingin sambil menarik tangan Ara agar berdiri.
Ara meringis sambil memegangi lututnya yang sudah di perban oleh Rangga. Menyadari hal itu, Ryuu berjongkok dan memperhatikan lutut Ara.
"Kau jatuh?" tanyanya datar.
Ara mengangguk, "Syukurlah ada Rangga yang menolong dan mengobatiku."
"Dasar ceroboh," gumam Ryuu pelan yang membuat Ara hanya cengengesan.
Pandangan Ryuu kini teralihkan pada Rangga. Ditatap dingin oleh Ryuu, Rangga malah tersenyum penuh ceria.
"Perkenalkan, namaku Rangga Kyle. Aku baru saja pindah-"
"Ayo, Al. Kita pulang," ucap Ryuu sambil menggendong Ara di punggungnya.
"Eh? Kau tak bawa sepeda? Sepedamu kemana?" tanya Ara yang baru sadar bahwa Ryuu datang kesini dengan berjalan kaki.
"Berisik, jangan banyak tanya."
Ara menutup mulutnya rapat-rapat. Setelah berpamitan pada Rangga, mereka berdua pun akhirnya pulang menggunakan sepeda milik Ara. Ya, gadis itu dibonceng oleh Ryuu. Di perjalanan, entah kenapa Ryuu tak membuka suaranya sama sekali. Karna merasa diabaikan, Ara akhirnya memeluk Ryuu dari belakang.
"Lepaskan," ujar Ryuu ketus.
"Hehe, akhirnya kau bicara juga," kata Ara sambil melepaskan pelukannya.
"Ngomong-ngomong, Ryuu. Sepedamu sebenarnya kemana? Kenapa kau jalan kaki menjemputku di halte bus?" sambung Ara penasaran.
"Sebenarnya, aku sudah sampai rumah."
"Eh? Maksudmu?"
"Aku tak akan bilang untuk kedua kalinya."
Ara berpikir keras, "Oh, jadi kau itu sudah sampai rumah tadi? Lalu, karna kau tak melihatku ada dibelakangmu, kau akhirnya mencariku?"
Ryuu diam. Tapi, diamnya itu sangat bisa di mengerti Ara. Karna terlalu senang, Ara pun kembali memeluk Ryuu dari belakang sambil tertawa kecil.
"Kau mengkhawatirkanku ya? Uh, so sweet-nyaaa..."
Ryuu memutar bola matanya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia tak bisa menyangkal sama sekali, bahwa memang ia mengkhawatirkan Ara saat tadi. Dan nyatanya-tanpa Ryuu bilang pun, Ara sudah mengerti bahwa Ryuu mengkhawatirkan dirinya.
"Kalau sikapmu seperti ini terus, aku jadi sulit menyerah padamu. Ryuu," batin Ara sambil terus mempererat pelukannya pada Ryuu.