
🖤🖤🖤
Ada 2 alasan mengapa seseorang berubah :
1. Pikiran mereka telah terbuka
2. Hati mereka telah terluka
🖤🖤🖤
Malam ini, Ryuu sedang belajar di kamarnya seperti biasa. Mengingat, Ujian Nasional sebentar lagi akan dilaksanakan. Namun tak seperti malam-malam kemarin, ia merasa kali ini otaknya itu tak bisa fokus belajar.
Pikirannya melayang ke hari Minggu yang lalu, saat dirinya bertemu dengan Diana, Mamah dari Revina.
Flashback On
"Jadi, ada perlu apa anak dari Pak Vino ingin bertemu dengan saya?" tanya Diana dengan senyuman manis.
"Saya tidak mau berbasa-basi. Saya ingin tanya, ada hubungan apa anda dengan Ayah saya?" Ryuu balik bertanya dengan wajah penuh serius.
Diana tersentak kaget mendengar pertanyaan Ryuu yang begitu frontal. Ia tak menyangka akan ditanya seperti itu oleh anak dari rekan kerjanya di kantor, Vino. Terlebih, pertanyaannya itu sungguh membingungkan.
"Eh? Hubungan saya dengan Pak Vino? Kami hanyalah rekan kerja kok," jawab Diana keheranan.
"Rekan kerja? Lalu, kenapa foto anda ada di tas kerja Ayah saya?" tanya Ryuu yang kini mulai terdengar mengintrogasi.
Diana mengernyitkan dahinya semakin heran, "Eh? Foto saya ada di tas kerja Pak Vino? Sejak kapan?"
Ryuu pun mengambil foto Diana yang berada dalam saku celananya. Ia segera menyodorkan foto itu pada pemiliknya.
DEG!!!
Diana menggeleng-gelengkan kepala dengan mata yang terbelalak kaget. Sedangkan Ryuu menatap tajam Diana. Berusaha menyudutkan wanita itu dengan tatapan tajam darinya.
"Foto ini, kenapa bisa ada di Pak Vino? Setahuku, yang memotret saya di foto ini adalah Pak Jean," jelas Diana yang sukses membuat Ryuu mengernyitkan dahinya.
"Pak Jean? Siapa dia?"
"Dia adalah karyawan kantor yang juga sesama rekan kerja saya dan Pak Vino. Sepertinya, Pak Jean sengaja menjebak Pak Vino dengan memasukkan foto saya ke dalam tas kerjanya."
"Untuk apa Pak Jean melakukan itu?"
"Bulan depan, akan ada kenaikan pangkat untuk karyawan lama. Pak Jean mungkin tak mau Pak Vino naik pangkatnya di MW Company. Apalagi, Pak Vino kan sudah lama menjadi karyawan di MW Company."
"Lalu? Apa hubungannya Pak Jean dengan foto anda yang ada di dalam tas Ayah saya?"
"Begini, nak Ryuu. Di MW Company itu ada peraturan yaitu sesama karyawan tak boleh ada yang memiliki hubungan spesial. Seperti berpacaran, suami-istri, orangtua-anak, dan lain sebagainya. Jadi, mungkin Pak Jean memasukkan foto saya ke dalam tas Pak Vino untuk membuktikan pada Bos一bahwa Pak Vino dengan saya mempunyai hubungan spesial. Dengan begitu, Pak Vino dan saya pasti akan dipecat dari MW Company," jelas Diana panjang lebar.
Baru saja Ryuu akan bertanya lebih lanjut, tiba-tiba saja pandangannya teralihkan pada Ara yang berlari melewatinya一keluar dari Cafe. Tanpa pikir panjang, Ryuu segera berlari mengejar Ara. Meninggalkan Diana sendirian di dalam Cafe dengan perasaan yang masih heran dan kaget.
Flashback Off
Ryuu menghentikan ucapannya seraya mengacak-ngacak rambutnya dengan frustasi. Ia sendiri tak tahu harus percaya atau tidak ucapan dari Diana. Hatinya benar-benar gusar dan gundah karena percakapannya dengan Diana di Cafe waktu itu belum selesai.
"Aku harus kembali bertemu dengan Mamahnya Revina. Ya, harus!"
***
Esoknya...
Di Kantin Sekolah...
"Wah, senyumanmu semakin hari semakin lebar saja ya. Pasti ada sesuatu yang terjadi, kan?" ledek Sam yang mengagetkan Ara dan Angel tiba-tiba dari belakang.
Di ledek seperti itu, senyuman Ara pun luntur. Ia segera meminum jus jeruk kesukaannya sambil membuang muka, menyembunyikan wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus.
"Hei, Sam. Jangan diledek seperti itu. Ara pasti malu, tahu!" bela Angel seraya mencubit pelan lengan Sam yang kini sudah duduk disampingnya.
"Kau tahu, tidak? Ryuu kemarin memelukku!" seru Ara sangat senang. Sepertinya, ia sudah tak menghiraukan ledekan dari Sam tadi.
Sam tertawa meremehkan, seperti tak percaya ucapan Ara.
"Ih, ini serius, tahu! Ryuu memang memeluk Ara. Hubungan mereka sudah mulai menemukan titik terangnya sekarang," kata Angel sebal karena Sam terlihat tak percaya.
Ara mengangguk setuju dengan ucapan Angel pada Sam.
"Lihat saja, aku pasti akan berpacaran sungguhan dengan Ryuu!" seru Ara dengan percaya diri.
Hening. Sam dan Angel sama-sama diam, tak sedikitpun menatap Ara yang sedari tadi masih tersenyum-senyum. Merasa ucapannya tak didengarkan, Ara pun mengikuti arah pandang Sam dan Angel yang bukan menatapnya sama sekali. Melainkan menatap seseorang disampingnya.
DEG!!!
"R... Ryuu?!" pekik kecil Ara, terkejut dengan kedatangan Ryuu yang tiba-tiba.
"Kau melihat hantu? Kenapa wajahmu pucat saat melihatku?" tanya Ryuu dingin seraya duduk disamping Ara.
"Ehm, bukan begitu一"
"Ryuu! Apakah kau akan berpacaran dengan Ara?" tanya Angel spontan, memotong perkataan Ara.
Sam dan Ara membelalakkan mata kaget secara bersamaan. Oh, tidak. Pertanyaan Angel terdengar sangat blak-blakan dan frontal. Dan jujur saja, Ara cukup malu dengan pertanyaan tersebut.
"Eh? Pacaran? Siapa bilang?" Ryuu balik bertanya dengan raut wajah polos. Membuat Ara semakin malu dibuatnya.
"A... Aku ke toilet dulu, ya," kata Ara seraya bangkit dari duduknya, lalu pergi dari situ.
Tanpa pikir panjang, Ryuu pun segera mengikuti Ara一berjalan dari belakang tanpa sepengetahuan sahabatnya itu. Sedangkan Sam dan Angel hanya tertawa melihat Ryuu yang terlihat seperti sedang menguntit seseorang.
"Aku yakin, Sam. Sebentar lagi mereka benar-benar akan memiliki hubungan lebih dari sekedar teman masa kecil," ujar Angel meyakinkan Sam.
Sam pun tersenyum sambil mengangguk tanda mengerti, "Ya, ku harap begitu. Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka," balas Sam diikuti anggukan oleh Angel.
***
Di Kelas 3 MIPA B...
"Eh, Ra! Kau melihat Ryuu, tidak?" tanya Rangga sesampainya Ara di kelas.
Ara menghentikan langkahnya, melirik Revina yang sedang duduk di tempat duduk milik Rangga. Ah, sepertinya Revina menyuruh Rangga untuk menanyakan keberadaan Ryuu pada Ara.
"Tidak, aku tidak lihat sama sekali," jawab Ara datar seraya kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda, menuju tempat duduknya.
"Kau yakin tak lihat, Ra? Kalau begitu, siapa yang sedari tadi ada dibelakangmu?" tanya Revina sinis seraya bangkit dari duduknya, berjalan perlahan menghampiri Ara.
Ara pun tersentak kaget seraya menoleh ke arah belakang. Di belakangnya, ternyata ada Ryuu yang sedang berdiri一menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"R.. Ryuu? Kau mengikutiku, ya?" protes Ara kesal.
"Kau bilang, kau akan ke kamar mandi. Kenapa kau malah ke kelas?" Ryuu balik bertanya dengan santainya. Membuat Ara entah kenapa semakin kesal.
"Wah, Ryuu. Kau mengikuti Ara sampai ke kelas? Kau ini penguntit atau apa?" ledek Rangga sambil tertawa geli. Namun dengan cepat Revina memelototi Rangga agar sepupunya itu menghentikan tawanya.
"Aku mau pergi dari sini. Awas saja jika kau mengikutiku lagi!" seru Ara seraya memutar balik tubuhnya. Berjalan keluar kelas dengan hentakan kaki yang keras. Terlihat sekali bahwa Ara sedang kesal pada Ryuu.
Kali ini, bukan Ryuu yang berjalan mengikuti Ara. Melainkan Rangga yang tanpa pikir panjang langsung berlari mengejar Ara yang sudah berjalan tak begitu jauh.
"R... Ryuu," panggil Revina pelan.
Ryuu tak menggubris panggilan Revina. Ia malah duduk di tempat duduk miliknya sambil berpikir keras dalam otaknya.
"Kenapa Al terlihat kesal padaku? Memangnya aku bicara apa hingga membuatnya seperti itu?" batin Ryuu terheran-heran.
Revina menghampiri Ryuu lalu menarik tempat duduk milik murid lain agar bisa duduk disamping Ryuu. Ryuu yang melihat itu pun hanya memutar bola matanya seraya membuang muka.
"Simpan kembali tempat duduk itu. Lagipula itu bukan tempat dudukmu, kan?" tanya Ryuu ketus membuat nyali Revina untuk berbicara ciut seketika.
"Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu, Ryuu," kata Revina sambil menyimpan kembali tempat duduk yang ia tarik tadi.
"Menyampaikan apa?"
"Kata Mamahku, apa kau ingin bertemu dengan Mamahku lagi? Soalnya, percakapan kalian waktu di Cafe belum selesai. Apakah benar, Ryuu?" tanya Revina.
Ryuu terdiam sejenak mendengar pertanyaan Revina. Lalu, tak lama setelah itu, ia pun mengangguk.
"Aku akan mempertemukan Ayahku dan Mamahmu. Bagaimana menurutmu?" tanya Ryuu meminta pendapat.
Revina mengangguk setuju, "Ya, aku juga berpikiran yang sama denganmu. Semoga saja, orangtua kita tak berselingkuh, ya."
"Ya, semoga saja."
***
"Ra! Ra!"
Ara menghentikan langkahnya seraya menghadap ke arah Rangga yang berada disampingnya. Senang karena Ara mau berhenti, Rangga pun tersenyum. Tak memperdulikan wajah muram Ara padanya.
"Kau kenapa, sih?" tanya Rangga penasaran.
Ara menundukkan kepala sebentar. Lalu, ia segera menatap lurus Rangga yang ada dihadapannya.
"Menurutmu, jika seorang laki-laki tak mau berpacaran dengan perempuan. Apa alasannya?" tanya Ara yang membuat Rangga kebingungan.
"Eh? Kalau begitu, itu artinya si laki-laki tak menyukai perempuan tersebut," jawan Rangga sekenanya. Membuat raut wajah Ara semakin muram.
"Memangnya kenapa? Kau mau pacaran pura-pura lagi dengan Ryuu?" Rangga bertanya dengan nada meledek.
"Aku kira dia mau menembakku sungguhan karena kemarin-kemarin sikapnya itu sangat manis padaku. Tapi..."
Ara menghentikan ucapannya dalam hati. Pikirannya tertuju pada kejadian beberapa menit yang lalu一yang sukses membuat dirinya kesal pada Ryuu.
"***Ryuu! Apakah kau akan berpacaran dengan Ara?" tanya Angel spontan***.
"***Eh? Pacaran? Siapa bilang?" Ryuu balik bertanya dengan raut wajah polos***.
"Ah! Mendengarnya menjawab seperti itu membuatku kesal sendiri. Sepertinya hanya aku saja yang merasa hubungan ini ada kemajuan. Tapi ternyata, Ryuu sama sekali tak menganggapnya seperti itu," batin Ara sedih.
Secepat kilat, Rangga langsung mendorong Ara pelan ke tiang dinding sekolah. Tentu saja, Ara membelalakkan matanya kaget karena perlakuan Rangga yang tiba-tiba. Apalagi, jarak antara wajahnya dengan wajah Rangga cukup dekat, hingga membuatnya merasa tak nyaman.
"Rangga? Apa-apaan, sih?" tanya Ara protes.
"Mau kuberitahu tidak, bagaimana caranya agar Ryuu mengungkapkan perasaannya padamu?" Rangga balik bertanya dengan nada misterius. Membuat Ara mau tak mau penasaran akan hal itu.
"A.. Apa?"
"Kalau begitu, kencanlah denganku. Maka, kau akan bisa lihat bagaimana tanggapan Ryuu jika melihatmu berkencan denganku. Bagaimana, Ra? Apa kau mau?" tawar Rangga sambil tersenyum manis. Sedangkan Ara hanya bisa mengerjap-ngerjapkan mata sambil berpikir keras atas tawaran Rangga.