STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 74 - Cara



🖤🖤🖤


Bagaimana caranya agar aku bisa terbebas dari zona pertemanan ini?


Ku mohon, aku mulai lelah.


🖤🖤🖤


Sepulang Sekolah...


"Apa?! Rangga mengajakmu berkencan?" pekik Angel sesaat setelah Ara selesai bercerita padanya.


"Ssst! Kau jangan berteriak, dong! Nanti ada yang dengar, bisa gawat!" seru Ara seraya menutup mulut sahabatnya itu.


Angel pun menepis tangan Ara yang menutup mulutnya. Setelah itu, ia mencoba mendekatkan posisi duduknya dengan Ara. Kebetulan, tempat duduk mereka memang bersebrangan.


"Hei, kita hanya berdua saja di kelas. Tak akan ada yang mendengar teriakanku tadi, Ra," ujar Angel menyadarkan Ara.


"Intinya, menurutmu bagaimana? Apa aku pura-pura kencan saja dengan Rangga agar aku bisa mengetahui bagaimana respon Ryuu?" tanya Ara meminta pendapat.


Angel menopang dagu dengan tangannya sambil menatap ke atas. Terlihat sekali bahwa ia sedang berpikir keras.


"Bagaimana kalau kita cek googul saja?" Angel balik bertanya, membuat Ara mengernyitkan dahi seketika.


"Eh? Maksudmu?"


"Pinjam ponselmu, Ra. Ada paket data kan?"


"A一Ada, sih. Tapi kenapa sekarang kau mau meminjam ponselku? Untuk apa?"


Angel berdecak mulai kesal karena Ara banyak bertanya padanya.


"Sudah, pokoknya aku pinjam dulu ponselmu. Aku tak punya paket data soalnya," kata Angel agak memaksa.


"Ah! Kau mau minta hotspot wifi, ya? Hmm, dasar. Hahaha."


Angel pun menepuk dahinya一merasa bahwa sahabatnya itu bahkan lebih polos dari yang ia kira. Entahlah, ia bingung harus menyebut Ara polos atau bodoh.


Tanpa permisi, akhirnya Angel merebut ponsel milik Ara dari tangan si pemilik. Membuat Ara terhenyak namun tak Angel perdulikan. Ia langsung mengetik sesuatu di ponsel Ara, berusaha mem-browsing sesuatu.


"Nih, Al. Lihat!" seru Angel seraya menunjukkan sesuatu dalam ponsel Ara.


...Cara Keluar Dari Friendzone...


1. Mulai main mata dengannya.


Teman bukan berarti tidak boleh main mata. Main mata menjadi tanda bahwa Anda sedang menggoda dan tertarik kepadanya.


2. Tunjukkan padanya kecantikan Anda


Pria akan mudah jatuh cinta melalui pandangan yang cantik dan indah. Bila Anda seorang perempuan, maka jangan sungkan untuk mengajaknya pergi dan berdandanlah.


3. Jangan selalu ada


Ada aturan yang berlaku untuk kencan dan pertemanan: Anda tidak boleh terlalu tersedia untuk orang lain. Tunjukkan kepadanya bahwa Anda memiliki hal-hal lain yang harus dilakukan. Katakan padanya Anda tidak bisa jalan-jalan karena Anda sibuk dengan sesuatu yang membuat Anda bahagia, seperti hobi favorit Anda.


4. Cobalah berkencan dengan pria lain


Ini bertujuan untuk membuatnya cemburu dan juga untuk menunjukkan kepadanya bahwa Anda seorang wanita yang membutuhkan hubungan.


5. Bicara dari hati ke hati


Anda perlu mulai berbicara tentang masalah hubungan anda dan mendapatkan lebih dalam tentang berbagai topik. Bonus dari ini adalah Anda akan melihat bagaimana dia menilai kencan dan hubungan diantara kalian.


"Tuh? Kau lihat, kan? Kau memang harus berkencan dengan Rangga. Kau harus membuat Ryuu cemburu!" seru Angel memprovokator. Membuat Ara bimbang sekaligus bingung.


"B-baiklah, kalau begitu. Semoga saja, Ryuu cemburu seperti apa katamu, ya," balas Ara ragu-ragu sambil tersenyum kecut. Sedangkan Angel tersenyum manis menyemangati sahabatnya tersebut.


***


Malam harinya...


^^^Altheara Ananda Putri^^^


^^^Rangga? ^^^


Rangga Kyle


Iya, ra? Ada apa?


^^^Altheara Ananda Putri^^^


^^^Aku ingin membahas tentang kencan kita hari Minggu nanti. ^^^


Rangga Kyle


Hmm, bagaimana? Apakah kau sudah memikirkannya?


^^^Altheara Ananda Putri^^^


^^^Sudah. Aku mau berkencan denganmu :) ^^^


Rangga Kyle


^^^Altheara Ananda Putri^^^


^^^Tapi ada syaratnya, ya. ^^^


Rangga Kyle


Syarat?


^^^Altheara Ananda Putri^^^


^^^Aku tidak mau pulang malam, hehehe. ^^^


Rangga Kyle


Hanya itu saja syaratnya?


^^^Altheara Ananda Putri^^^


^^^Iya, memangnya kenapa?^^^


Rangga Kyle


Tidak. Hanya saja, ku kira syaratnya rumit. Hahaha :D


Ara melempar pelan ponselnya ke ranjang. Lalu ia duduk di samping ranjangnya sambil menutup kedua matanya. Entah kenapa, hatinya terasa gelisah dan bimbang. Itu sebabnya ia tak berniat membalas lagi pesan Rangga.


Dibanding gelisah dan bimbang, Ara lebih merasakan takut dalam hatinya. Ya, ia takut jika ia dan Rangga berkencan, apakah Ryuu akan cemburu? Bagaimana kalau Ryuu ternyata biasa saja? Bagaimana jika nantinya ia malah terlihat seperti berpaling dari Ryuu?


"Ah! Aku bingung!" teriak Ara seraya menjatuhkan tubuhnya di kasur. Membiarkan tubuhnya terbaring dengan terlentang.


Ara pun menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Tatapannya kosong, pikirannya juga ikut kosong. Ia hampir tak memikirkan apa-apa selain memikirkan Ryuu sekarang.


Sebuah panggilan telepon berdering dari ponsel milik Ara. Membuat si empunya refleks mengangkat panggilan tersebut dengan cepat tanpa melihat siapa si pemanggil.


"Halo? Ya, siapa ini?" Ara memulai percakapan dengan nada malas.


"Al, kau tak menyimpan nomor ponselku ya? Ini aku, Ryuu."


DEG!!!


Ara yang sedang berbaring terlentang secepat kilat bangkit lalu duduk dengan posisi tegak. Ia sungguh terkejut dan tak menyangka Ryuu menelponnya malam-malam begini. Bukan, bukan masalah waktu menelponnya. Tapi, Ryuu memang jarang sekali mau menelpon Ara jika tak ada hal yang benar-benar penting.


"M... Maaf, Ryuu. Tadi aku refleks mengangkat telepon ini tanpa melihat nama yang memanggil, hehehe."


"Hmm, begitu ya."


Hening. Tak ada satupun yang berbicara. Hanya suara angin sepoi malam yang terdengar di telinga Ryuu dan Ara sekarang.


"Ehm, Ryuu. Ada apa kau menelponku malam-malam begini?"


"Tidak, tidak ada apa-apa kok. Aku kira, kau sudah tidur."


"Hahaha, tidur? Aku baru saja selesai belajar, Ryuu."


"Belajar? Kau belajar, Al?"


Ara mengernyitkan dahinya heran mendengar Ryuu yang bertanya padanya dengan nada sangat kaget. Hei, Ara itu hanya belajar. Kenapa Ryuu harus sekaget itu?


"Iya, aku belajar. Ujian Nasional kan tinggal beberapa minggu lagi, hehehe. Jadi, aku berusaha untuk mendapatkan nilai bagus dengan cara belajar sungguh-sungguh."


"Kau belajar sungguh-sungguh karena ingin menang dariku, kan? Sesuai perjanjian kita一"


"Sesuai perjanjian kita, kalau nilaiku lebih bagus darimu. Aku bisa bebas, bukan? Aku bebas dekat dan berpacaran dengan siapapun, termasuk denganmu. Hehehe," Ara memotong ucapan Ryuu dengan cepat sambil cengengesan. Berusaha mengingatkan sahabatnya itu perihal perjanjian mereka.


"Kau ini memang tak pernah lupa tentang perjanjian kita, ya?"


"Iya, dong! Aku selalu mengingatnya hahaha,"


"Kalau begitu, apakah kau ingat perjanjian pertama kita?"


DEG!!!


Ara menelan ludahnya kasar karena Ryuu mencoba membuatnya ingat perihal perjanjian pertama mereka. Jantungnya pun kini berdebar tak karuan bersamaan dengan lidahnya yang kelu. Ia kira, Ryuu sudah tak mempermasalahkan perjanjian pertama mereka karena sikap Ryuu beberapa hari kemarin一sungguh menunjukkan bahwa Ryuu mulai menyukainya. Namun, ternyata selama ini ia salah paham.


"Perjanjian pertama kita, jika kau bisa membuatku menyukaimu, aku tak akan menerima perjodohanku dengan Aoi di Jepang sana. Batas waktunya hingga waktu kelulusan kita tiba. Bagaimana? Kau masih ingat, bukan?"


GLEK!


Ara lagi-lagi menelan ludahnya kasar. Tanpa bicara apa-apa, ia pun menutup panggilan tersebut dengan sepihak. Perasaannya kini tak karuan antara kesal, sedih, dan gemas pada Ryuu. Ya, mengenal Ryuu selama 10 tahun lebih bukan jaminan Ara untuk mengetahui semua jalan pikiran sahabatnya itu.


Jalan pikiran Ryuu, memang tak pernah bisa Ara tebak.


"Ku kira, perlakuan manisnya kemarin-kemarin itu untuk menunjukkan rasa sukanya padaku. Ternyata aku hanya salah paham," gerutu Ara kesal.


Ara menatap sekeliling dinding kamarnya yang tertempel banyak foto Ryuu dan dirinya. Mulai dari foto kecil Ryuu, hingga foto mereka berdua yang hanya bisa di hitung jari. Ya, foto kecil Ryuu lebih banyak dibandingkan foto mereka berdua yang sedang bersama. Padahal, ia dan Ryuu sudah 10 tahun bersahabat. Tapi foto mereka berdua yang dalam 1 frame hanya beberapa saja.


"Aku memang harus berkencan dengan Rangga. Dengan ini, aku pasti akan membuat Ryuu cemburu! Dan dia pasti akan menyatakan perasaannya padaku!" seru Ara berapi-api.


"Namun, jika ternyata Ryuu masih tak punya perasaan apa-apa padaku, bagaimana? Tadi saja, dia mencoba membuatku ingat kembali tentang perjanjian pertama kita. Itu artinya, Ryuu masih belum menyukaiku, bukan?" tanya Ara lirih sambil menghela napas pasrah.