
🖤🖤🖤
Kemarin, hari ini, dan nanti mungkin akan selalu sama. Aku yang selalu mencintaimu dan kau yang tak akan pernah mencintaiku.
🖤🖤🖤
Beberapa hari kemudian...
"Anak-anak, Ibu harap kalian tidak berleha-leha lagi ya dalam belajar. Karena Ujian Nasional tinggal 2 bulan lagi. Itu artinya, waktu belajar kalian hanya tersisa 1 bulan saja," ujar Bu Mika selaku wali kelas 12 MIPA B.
Semua anak-anak disitu pun mengangguk tanda mengerti. Namun, beberapa diantara mereka ada yang mengeluh karena belum siap dengan Ujian Nasional. Termasuk Sam yang mengeluh pada Ryuu sekarang.
"Bagaimana ini, Ryuu? Pelajaran bulan-bulan kemarin saja aku belum mengerti, tapi UN sudah mau dimulai saja," keluh Sam cukup panik.
Ryuu diam. Matanya tetap fokus ke depan, memperhatikan wejangan dari Bu Mika.
"Ah, kau ini..." desah Sam pasrah karena Ryuu sepertinya tak memperdulikan keluhannya.
"Setiap hari minggu, biasanya aku pergi ke Perpustakaan Kota untuk belajar. Kau bisa ikut denganku kalau kau mau," kata Ryuu tapi matanya tetap menatap Bu Mika di depan sana.
Sam yang tadinya cemberut langsung sumringah saat mendengar ucapan Ryuu. Ternyata, Ryuu tak sejahat yang ia kira.
"Boleh ku ajak Angel juga?" tanya Sam antusias.
"Terserah. Asal kau bisa membagi waktu antara pacaran dengan belajar."
Sam mengangguk tanda mengerti, "Siap, Boss!"
***
Istirahat Sekolah, di Kantin...
Sam, Angel, Ryuu, dan Ara duduk di bangku & meja kantin yang sama. Sam di samping Ryuu, sedangkan Angel di samping Ara. Mereka berempat duduk layaknya sepasang kekasih yang sedang double date. Hingga bisik-bisik dari orang-orang di kantin terdengar sangat jelas di telinga Sam, Angel, dan Ryuu.
"Lihatlah, mereka sangat so sweet ya!"
"Iya, benar-benar couple goals!"
"Ah~, aku jadi ingin punya pacar kalau melihat mereka berempat bersama-sama."
"Iya, ya. Mereka terlihat sangat serasi."
Sam terkekeh geli mendengar semua penuturan orang-orang di Kantin. Sedangkan Angel dan Ryuu memilih untuk diam, berusaha tak memperdulikan hal tersebut.
"Kita berempat memang couple goals, ya. Hihihi," ucap Sam cengengesan seraya menyuapkan sesendok sop buah ke mulutnya.
Angel dengan cepat mencubit tangan Sam. Namun, baru saja Sam akan protes, Angel segera memberi kode pada Sam dengan kedua matanya一yang mengarah pada Ara.
"Eh?"
Sam cukup terkejut melihat Ara yang diam dengan wajah datar seraya mengaduk-aduk sop buah tanpa sedikitpun memakannya. Eh? Ada apa dengan temannya itu? Kenapa Ara terlihat sangat tak bersemangat hari ini?
"Ra?" Angel mencoba memanggil Ara.
Ara diam. Tatapannya kosong dan tangannya terus saja mengaduk-aduk sop buah miliknya.
"Ra, apa sop buahnya tak enak?" tanya Sam bingung karena ia juga memesan sop buah yang sama seperti Ara.
Nihil, Ara tetap diam dengan tatapan kosongnya.
Kali ini pandangan Sam dan Angel beralih pada Ryuu yang sedang fokus meminum Ice Cappucino sambil membaca buku fisika. Merasa di tatap begitu intens, Ryuu pun balas menatap Sam dan Angel dengan tatapan datar.
"Kenapa?" tanya Ryuu sekenanya.
Angel berdecak kesal, "Lihat tuh, Ara. Kau berbuat apa padanya hingga dia seperti itu?"
Ryuu melirik Ara sekilas, lalu kembali menatap Angel.
"Dia memangnya kenapa? Dia terlihat sangat sehat, tuh."
"Ck, maksudku, kau berbuat apa pada Ara hingga membuat mood dia hancur begitu?" tanya Angel memperjelas pertanyaannya.
Ryuu tak menjawab. Perlahan, ia menutup buku fisika super tebalnya itu lalu menyimpan buku tersebut di atas meja dihadapannya. Sambil menyeruput kembali Ice Cappucino-nya, Ryuu menatap Ara dingin.
"Aku kesal sekali melihat sikap santainya itu," gumam Angel namun masih bisa Sam dengar.
Sam diam, ia tak bisa berkata apa-apa karena dirinya juga sependapat dengan Angel. Sikap santai Ryuu membuat mereka berdua kesal.
"Al?"
Ara tersentak kaget lalu segera menatap Ryuu yang duduk di hadapannya.
"Eh? Iya?"
Ara mengangguk lalu segera menyuapkan sendok berisi sop buah ke mulutnya. Lagi-lagi, Ara kembali melamun dengan tatapan kosongnya.
"Tuh, kan? Kalian lihat sendiri, kan? Al itu bukan sedang tidak mood, dia hanya sedang ingin melamun saja," kata Ryuu pada Sam dan Angel.
Sam menepuk jidatnya. Sedangkan Angel diam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia benar-benar tak mengerti dengan apa yang terjadi antara Ara dan Ryuu. Padahal, beberapa hari yang lalu mereka semua baru saja merayakan ulang tahun Ara yang ke 18 tahun. Angel kira, itu akan semakin memperbagus hubungan Ryuu dan Ara. Tapi, kenapa jadi seperti ini? Kenapa sepertinya Ara sedang menyembunyikan sesuatu dalam pikirannya?
"Ara jatuh cinta pada Ryuu dan bertepuk sebelah tangan selama 10 tahun. Dan bulan-bulan kemarin, hubungan persahabatan mereka berubah menjadi pacaran. Harusnya kan, hubungan mereka menjadi lebih harmonis dari yang sebelum-sebelumnya. Tapi, kenapa akhir-akhir ini aku merasa Ryuu dan Ara tak terlihat seperti sepasang kekasih?" batin Angel dalam hati.
***
"Ra, kau tak bawa sepedamu hari ini ya?" tanya Angel sesaat setelah dirinya dan yang lainnya sampai di parkiran sekolah sore ini.
"Iya, aku tak bawa. Dari rumah aku jalan kaki saja," jawab Ara dengan suara pelan.
Revina dan Rangga saling berpandangan. Menyadari bahwa Ara sepertinya sedang tak bersemangat hari ini. Sedangkan Angel diam, menatap sendu Revina dan Rangga.
"Oh iya, ngomong-ngomong, Ryuu dan Sam kemana, Ngel?" tanya Revina mengalihkan pembicaraan.
"Mereka berdua ekskul basket terlebih dahulu. Ku dengar sih, ekskul basket sekolah kita akan mengikuti turnamen."
"Hah? Turnamen?"
"Iya."
Rangga menggeleng-gelengkan kepalanya, "Bukankah sebentar lagi akan Ujian Nasional? Kenapa ekskul basket diperbolehkan mengikuti turnamen?"
Angel mengangkat kedua bahunya, "Aku juga tak tahu, deh."
Hening. Tak ada satu pun yang berbicara. Pandangan Angel, Revina, dan Rangga sama-sama menuju obyek yang sama. Siapa lagi kalau bukan Ara yang sedang melamun dengan tatapan kosong?
"Ra, bagaimana jika ku antar saja kau sampai rumah? Aku dijemput supir pribadiku sih," ucap Angel memecah keheningan.
Karena Ara masih saja melamun, Angel pun memajukan sedikit mulutnya tepat di dekat telinga Ara.
"Ara? Altheara?"
Ara tersentak mendengar suara Angel, "Eh? Iya?"
"Kau mau ku antar sampai rumah, tidak?"
"Ehm, itu..."
"Bagaimana jika aku saja yang mengantarmu? Jalan rumahku kan memang melewati jalan rumahmu. Tak seperti jalan rumah Angel yang berbeda dan tak sejalan dengan rumah kita. Bagaimana?" Rangga memotong ucapan Ara, mencoba memberikan tawaran tumpangan.
"Hmm, benar juga sih, ya," kata Revina agak memprovokasi.
Angel menatap Ara dalam-dalam. Keputusan memanglah ada di tangan Ara, bukan di tangan siapa-siapa. Jujur saja, Ara tak ingin merepotkan Angel. Apalagi jalan rumah Angel jauh dari jalan rumahnya. Namun, apa memang Ara harus menerima tawaran tumpangan dari Rangga?
"Ra, sebentar lagi hujan. Ayo, kau ingin diantar siapa? Rangga atau Angel?" tanya Revina cukup menyudutkan Ara.
"Aku..."
"...pilih bersama Rangga saja," sambung Ara ragu-ragu.
"Oke, kalau begitu, aku ambil sepedaku dulu, ya!" seru Rangga penuh semangat seraya berjalan mengambil sepedanya yang terparkir rapi.
Tak lama kemudian, Rangga sudah duduk di sepedanya dan bersiap untuk mengayuh. Begitupun dengan Ara yang juga sudah duduk di belakang, berboncengan dengan laki-laki itu.
"Kalau begitu, hati-hati ya Ra!" seru Angel tersenyum seraya melambai-lambaikan tangannya.
Ara mencoba membalas senyuman Angel. Meski senyumannya terlihat sangat tak alami. Ya, tentu saja Angel juga menyadari hal itu.
Rangga pun segera mengayuh sepedanya, keluar dari area parkiran menuju gerbang sekolah disana. Sedangkan Angel tetap fokus menatap Ara yang makin lama makin menjauh. Jujur saja, Angel cukup khawatir. Ia takut dan khawatir Ryuu akan tahu bahwa Ara pulang di antar Rangga. Bukankah nantinya hubungan Ara dan Ryuu malah semakin runyam?
Berbanding jauh dengan Angel, Revina diam-diam tersenyum licik. Dalam hati, ia terus tertawa一bahagia karena usahanya yang sangat sukses.
"Dilihat dari gerak-gerik Ara, sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. Apa jangan-jangan dia bertengkar dengan Ryuu?"
"Cupcake dariku sepertinya berfungsi dengan baik ya. Tak sia-sia aku memasukkan obat mabuk ke dalam Cupcake itu. Hihi, pasti Ara melakukan hal yang aneh hingga membuat dirinya dan Ryuu bertengkar."
Dari kejauhan, tanpa Angel dan Revina sadari一berdiri seorang laki-laki yang memakai baju ekskul basket. Ya, itu tak lain adalah Nakajima Ryuu. Entah sejak kapan Ryuu berdiri di dekat parkiran sekolah. Yang pasti, Ryuu melihat dengan jelas bahwa Rangga membonceng Ara. Tak ingin berdiri ditempatnya terlalu lama, Ryuu pun membalikkan tubuhnya. Ia berjalan kembali menuju lapangan basket dengan langkah yang lunglai.
"Apa aku melakukan sesuatu pada Al?Yang terakhir ku ingat saat aku menginap di rumahnya beberapa hari yang lalu一adalah saat dimana Ara menghampiriku di ruang tamu. Lalu, ia duduk di hadapanku. Setelah itu..."
Ryuu menggeleng-gelengkan kepalanya. Sambil berjalan, otak jeniusnya itu berputar. Mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, nihil. Ia tak bisa mengingat apapun.
"Jika aku tak melakukan apapun pada dia, lalu..."
"...Ada apa sebenarnya dengan Al?"