STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 11 - Ekskul



Esoknya..


Istirahat pertama


"Ra, hei! Ara!"


Lamunan Ara terbuyarkan ketika Angel-sahabatnya itu mencubit pipinya pelan. Betapa terkejutnya Ara ketika ia tersadar bahwa dihadapannya ada beberapa anak 3 IPS yang sedang menatapnya.


"Eh? A-apa?" Ara linglung sendiri sambil merapikan poninya.


"Anak-anak IPS menawarkan kita sesuatu," jawab Angel lalu diikuti anggukan oleh anak-anak IPS itu.


"Kita bicaranya di taman belakang sekolah saja, ya? Kalau di kantin, tidak enak dengan yang lain," ujar salah satu dari anak IPS tersebut.


Ara mengangguk mengiyakan, ia dan Angel pun mengikuti anak-anak IPS yang mulai berjalan menuju taman belakang sekolah. Dari belakang, Ara bertanya-tanya sendiri ada urusan apa anak IPS dengan mereka yang anak MIPA?


Sesampainya di taman belakang sekolah, mereka semua duduk di bangku panjang yang di sediakan disitu. Sambil malu-malu, Ara dan Angel pun ikut duduk.


"Jadi, apa yang mau kalian bicarakan?" tanya Ara memulai percakapan.


"Begini, Ra. Ekskul band sedang mencari personil baru."


"Eh? Personil baru?"


"Jadi, kalian semua anak Band?" sambung Ara cukup terkejut.


Mereka semua mengangguk, "Kalau berkenan, kau mau tidak ikut Band kami? Dengan Angel juga."


"Eh?" Angel gelagapan sendiri ketika namanya disebut.


"Aku tidak bisa main alat musik," ucap Ara mengeluh.


"Tapi kau 'kan punya suara yang bagus, Ra!" seru Angel yang membuat mata anak-anak IPS tersebut tersenyum sumringah.


"Wah! Kalau Ara suaranya bagus, kau bisa jadi vocalis! Kebetulan memang vocalis kami sedang sakit jadi tak bisa latihan."


"Hmm, satu-satunya alat musik yang bisa ku mainkan hanya Drum. Karna kebetulan ada Drum di rumahku punya kakak laki-laki ku," kata Angel memanggut-manggutkan kepalanya.


"Oke! Berarti sudah di putuskan, ya! Kalian berdua ikut band kami!"


"Eh? T-tapi, 'kan kita sudah kelas 3! Berarti kita hanya ikut band selama 1 tahun saja?" tanya Ara yang masih bingung.


"Benar! Apalagi tahun depan mungkin kita akan sibuk untuk UN," tambah Angel.


"Nah, maka dari itu, kita gunakan waktu 1 tahun kita ini dengan semaksimal mungkin ya! Kita tak boleh kalah dari band-band kakak kelas yang dulu!" seru salah satu dari anak IPS dengan penuh semangat. Sedangkan Ara dan Angel hanya saling berpandangan tak tahu mau menjawab apa.


***


Teng! Teng! Teng!


Semua murid SMA Soetomo berhamburan keluar dari kelasnya. Ada yang langsung pulang, ada juga yang ekskul terlebih dahulu. Namun, berbeda dengan Ara yang masih berada di kelasnya. Ia tak mau pulang, namun tak ekskul juga karna memang Ara tak ikut ekskul apapun.


"Ara! Ternyata kau masih disini!" seru Angel di pintu kelas seraya menghampiri Ara yang sedang melamun di mejanya.


"Aku hanya ingin menyendiri, Ngel," lirih Ara sangat lesu.


"Kau ini kenapa, sih? Dari tadi pagi kau terlihat tak bersemangat seperti biasanya!"


"Tidak, kok. Aku hanya lelah saja."


"Lelah? Jangan bilang ini karna Ryuu!"


Ara mengangguk, "Yang bisa membuatku seperti ini siapa lagi kalau bukan dia?"


"Ck, apa lagi yang dia perbuat?" tanya Angel berdecak kesal sambil duduk di dekat Ara.


"Nanti saja aku ceritanya. Kau 'kan mau ekskul badminton. Cepat sana ganti baju!" perintah Ara sambil tersenyum dipaksakan.


"Ah, tak bisa! Aku tak bisa melihatmu seperti ini! Kau seperti bukan Ara yang ku kenal. Kau tidak se-ambisius saat SMP dulu!"


"Ambisiku memang sedang naik turun, Ngel."


"Ya sudah, ceritakan padaku ada apa denganmu."


Baru saja Ara mau membuka suara, tiba-tiba seorang laki-laki berbadan tinggi datang dan berdiri dekat pintu kelas. Kedatangan laki-laki tersebut tentu mengejutkan Ara dan Angel.


"Sam?! Mau apa kau kemari?!" tanya Angel yang sudah emosi duluan.


Sam pun tertawa, "Haha, aku kesini bukan untuk menguping kok. Aku hanya ingin kasih tahu bahwa anak Band dari kelas IPS mencarimu dan Ara."


Angel dan Ara saling berpandangan tanpa berkata-kata.


"Kalian ditunggu di ruang Band sekarang. Sudah ya, itu saja. Bye!" tambah Sam seraya pergi dari situ.


***


"Maaf! Ara! Sepertinya kau tidak bisa jadi vocalis di Band kami."


Ara membelalakan matanya kaget, sama seperti Angel yang ada disampingnya. Pasalnya, mereka baru saja sampai di ruang Band namun langsung mendengar kalimat tak menyenangkan seperti itu. Bagaimana Ara tak shock? Padahal dia sudah membulatkan tekad akan ikut Band untuk mencari kesibukan sebelum UN tahun depan.


"K-kenapa aku tak bisa?" tanya Ara tak mengerti.


"Pelatih Band kami, Coach Jeremy, tidak membolehkan ada personil baru masuk dalam Band kami."


"Eh?" Ara dan Angel saling berpandangan kecewa.


"Tapi, kabar baiknya, kalian diperbolehkan membuat Band baru. Jadi, kalian harus cari personil Band kalian sendiri."


Mata Ara dan Angel yang tadinya kecewa langsung berbinar seketika. Senyuman pun merekah di bibir dua gadis belia itu.


"Wah, kalau begitu, kami pasti akan mencari personil Band kami!" seru Angel bersemangat.


"Tapi, kata Coach Jeremy, kalian berdua harus mencari personil Band yang sudah benar-benar jago main alat musik ya."


"Oke! Siap!"


"Dan kata Coach Jeremy juga, jangka waktu kalian mencari personil Band adalah 1 minggu. Jika dalam 1 minggu personil Band kalian tidak lengkap juga, maka terpaksa Band kalian akan dibubarkan."


DEG!


Senyuman Angel dan Ara yang tadinya merekah, malah menyusut seketika. Tunggu, apa kata anak Band tadi? 1 minggu? Mencari personil Band lain dalam 1 minggu? Apa itu mungkin? Dan kenapa kedengarannya Coach Jeremy itu kejam sekali? Memberi waktu 1 minggu adalah hal yang paling tak masuk akal bagi Angel dan Ara.


Lalu, apa yang harus mereka lakukan?


***


Ara berjalan pulang menuju rumahnya dengan wajah kusut. Ya, akhir-akhir ini ia memang sering berangkat sekolah tak memakai sepeda. Dengan niat, ingin selalu di bonceng Ryuu. Namun, nyatanya niatnya itu tak berjalan dengan baik. Karna kini, setiap pulang sekolah Ryuu pasti akan ke rumah Revina dulu untuk mengajarkan les padanya.


Dan asal kalian tahu saja, bahwa ini sudah ke-3 harinya Ara pulang sendirian tanpa ditemani Ryuu seperti biasanya. Entah kenapa gadis itu merasa jaraknya dengan Ryuu agak sedikit renggang sekarang.


Langkah kaki Ara terhenti seketika saat menyadari dihadapannya ada Ryuu-yang sedang menatapnya dingin.


"R-ryuu?" Ara mengernyitkan dahinya karna bingung apa yang dilakukan Ryuu berdiri di samping jalanan seperti ini.


"Bodoh. Lama sekali kau jalannya."


Ara semakin tak mengerti, "K-kau menungguku?"


"Kalau ku bilang aku sengaja menunggumu 1 jam dan berdiri di sini selama itu, apa kau akan percaya?"


"Hmph, tidak tidak tidak. Ryuu yang ku kenal paling tak bisa menunggu seseorang!" seru Ara spontan.


Ryuu tersenyum miring, "Nah, itu kau tahu sendiri."


Ara pun menundukkan kepalanya kecewa. Bagaimanapun, Ryuu tak akan mungkin dengan sengaja menunggunya selama itu 'kan? Lagipula, Ara pasti akan merasa aneh kalau Ryuu bisa tahan menunggu seseorang sepertinya.


"Ayo, pulang," ucap Ryuu seraya berjalan duluan di depan Ara.


Ara mengangguk lalu menyusul Ryuu dan berjalan tepat di samping laki-laki tampan itu. Ia pun mencoba tersenyum dan ceria seperti biasanya. Bagaimanapun, Ara tak mau sampai Ryuu tahu bahwa dia sedang galau sekarang.


Galau karna ia dan Angel hanya diberi waktu 1 minggu untuk mencari personil Band mereka sendiri, juga galau karna Ryuu yang harus selalu ke rumah Revina tiap hari untuk mengajarkan les.


"Ngomong-ngomong, kau tidak ke rumah Revina untuk mengajarkan dia les?" tanya Ara membuka pembicaraan.


Ryuu menggeleng, "Tadinya hari ini aku akan mengadakan latihan basket. Namun dibatalkan karna lapangan basket sedang di renovasi dan di cat."


"Hmm begitu.."


"Kau juga, kenapa baru pulang? Bukankah kau tidak ikut ekskul sama sekali?"


"Itu, karna.. ehm.."


Ryuu menghentikan langkahnya dan menatap Ara, "Karna apa?"


Di tatap tiba-tiba seperti itu, tentu saja Ara gelagapan sendiri.


"Duh, bagaimana aku menjelaskannya ya?" tanya Ara kebingungan sambil mengacak-acak poninya.


"Apa? Kau galau karna aku tak jadi memberimu hadiah tiga hari yang lalu?"


DEG!!!


Ara membelalakkan matanya kaget. Ya, ia benar-benar kaget setengah mati.


"Eh?! Kok kau bisa tahu?!"


Ryuu tersenyum miring, "Tentu saja aku tahu."


"Huh, jahat! Kau tahu aku galau karnamu tapi kau bersikap seolah tak bersalah!" seru Ara kesal sambil memukul pundak Ryuu pelan.


TEP!


Tangan Ara ditahan oleh Ryuu agar tak memukul pundaknya lagi. Mereka pun saling berpandangan lama sambil diselimuti keheningan. Saking heningnya, Ara sampai bisa mendengar detak jantungnya yang tak beraturan itu.


"Maaf."


Ara membulatkan matanya, "Eh?" M-maaf?"


Ryuu mendekatkan wajahnya ke wajah Ara. Karna pikiran Ara sudah tak jernih, gadis itu pun malah menutup matanya. Namun, diluar dugaan, Ryuu ternyata hanya menempelkan dahinya di pundak Ara.


"Al, aku minta maaf." ucap Ryuu cukup lirih.


"Eh? Ada apa sih?" tanya Ara masih tak mengerti.


"Aku sebenarnya sudah menyiapkan hadiah untukmu. Tapi-"


"Tapi apa?"


"...hadiahnya hilang."


DEG!!!


Perasaan Ara cukup campur aduk sekarang. Antara senang bahwa ternyata Ryuu sudah punya hadiah untuknya. Dan kecewa karna ternyata hadiahnya itu sudah hilang. Perasaan campur aduk tersebut malah membuatnya tak bisa berkata apa-apa.


"Sebagai gantinya, aku akan mewujudkan 1 permintaanmu."


"Hmm, cuma 1 saja?" tanya Ara tak puas.


Ryuu pun mengangkat kepalanya dan menatap Ara sinis, "Kalau tak mau, ya sudah."


"Ehh, iya iya aku mau."


Ara memutar otaknya. Berpikir permintaan apa yang bagus agar ia tak kehilangan kesempatan tersebut. Bagaimanapun, momen dimana Ryuu akan mewujudkan permintaannya tak akan pernah terjadi lagi. Jikalau terjadi, mungkin hal tersebut satu banding seribu. Sungguh mustahil akan terjadi lagi, bukan?


Pandangan mata Ara tertuju pada bibir indah Ryuu. Bibir itu adalah bibir yang hanya dimiliki oleh manusia berwajah malaikat saja, menurutnya. Ya, agak berlebihan memang. Namun, berkat pemikirannya itu, Ara jadi memikirkan hal yang macam-macam.


Seperti..


Meminta Ryuu untuk menciumnya, mungkin?


"Jangan meminta hal yang aneh-aneh. Aku tak akan bisa mewujudkannya kalau begitu," kata Ryuu seakan membaca pikiran Ara.


Ara pun tertawa canggung sambil menyembunyikan wajahnya yang merah dengan rambutnya yang panjang.


"Apaan, sih? Aku tak memikirkan hal macam-macam, kok."


"Tertulis sekali di wajahmu bahwa kau minta dicium, 'kan?"


Wajah Ara semakin memerah, "Hei! Santai sekali kau bicara seperti itu!"


"Ya sudah, cepat sebutkan apa permintaanmu padaku."


Ara kembali memutar otaknya. Entah ada angin dari mana, tiba-tiba saja Ara teringat akan sesuatu hal yang tak kalah membuatnya galau. Apa lagi kalau bukan..


"Kau mau tidak ikut ekskul Band-ku?" tanya Ara sambil tersenyum ceria. Sedangkan Ryuu yang ada di hadapannya hanya menatapnya datar.


Apakah Ryuu akan mengiyakan permintaan Ara? Kenapa rasanya Ara begitu ragu meminta hal tersebut pada sahabatnya itu?