STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 7 - Malu Sekali



Ryuu memutar bola matanya, "Masalahnya, kedua orangtuaku melihat dari atas loteng rumahku, bodoh."


DEG!!!


Ara membelalakkan matanya seketika, "EH??!!"


Dengan cepat Ryuu menutup mulut sahabatnya itu, "Jangan teriak-teriak, berisik," ucapnya datar.


"Ceritakan! Ceritakan padaku kenapa orangtuamu bisa melihat kita ber-"


"Ya, ya, ya. Aku akan bercerita," potong Ryuu cepat.


#FLASHBACK ON


Ara menjauhkan dirinya dari Ryuu. Bibirnya itu terasa kaku, seperti ada sesuatu yang baru saja menyengatnya. Apa lagi kalau bukan bibir Ryuu? Suasana canggung pun tercipta. Hening. Tak ada satu pun diantara mereka yang berani bicara.


Ara tak sengaja berkontak mata dengan Ryuu. Ia pun buru-buru membuang muka dan segera berlari dari situ menuju pagar untuk keluar dari taman itu. Meninggalkan Ryuu yang berdiri mematung tanpa kata-kata.


Speechless, tentu saja.


Mereka bersahabat sejak kecil dari umur mereka 8 tahun. Dan ini tahun ke-10 mereka bersahabat. Mana mungkin sahabat itu berciuman? Itu bukanlah hal yang akan dilakukan oleh sepasang sahabat, bukan?


Setelah Ara benar-benar pergi, Ryuu memutuskan untuk ikut pergi dari taman belakang rumahnya itu. Langkah kakinya benar-benar kaku dan tatapannya juga kosong. Kejadian tadi benar-benar tak pernah ia duga.


"Kenapa jadi begini, sih? Kenapa harus Altheara yang jadi ciuman pertamaku? Kenapa harus dia, sahabatku sendiri?" batinnya dalam hati sambil terus berjalan.


Baru saja Ryuu masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang, tiba-tiba saja orangtuanya turun dari tangga loteng dan menghampirinya. Tanpa berkata apa-apa, Ryuu menatap orangtuanya itu bingung.


"Anak Bunda dan Ayah sudah besar, ya. Tak terasa sebentar lagi akan kuliah, menikah, dan punya anak," ucap Vino sang Ayah memulai pembicaraan.


Ryuu mengernyitkan dahinya bingung, "Hah?"


"Ayolah, kau tahu 'kan Bunda dan Ayah hanya punya kamu. Jadi wajar saja Bunda dan Ayah ingin segera menggendong cucu darimu," canda Yuu pada anaknya.


"Kalian berdua bicara apa, sih? Aku tak mengerti," ujar Ryuu sambil berjalan melewati orangtuanya. Ia berniat untuk pergi ke kamarnya.


"Kau pikir, Ayah dan Bundamu tak lihat?"


DEG!!!


Ryuu terkejut setengah mati. Langkah kakinya pun terhenti seketika. Mukanya memerah, merah hingga ke telinganya. Ia benar-benar tak bisa bergerak mendengar ucapan ayahnya tadi. Rasa malu berkumpul menjadi satu dalam dirinya.


"Kau dan Ara.. habis berciu-"


"Tidak, itu hanya kecelakaan. Tidak seperti yang kalian pikirkan," kata Ryuu yang memotong ucapan Vino.


Yuu dan Vino pun tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan anaknya. Membuat Ryuu semakin jengkel namun terlalu malu untuk menoleh ke belakang.


"Kau pikir Bunda dan Ayah percaya?" Tanya Yuu meledek anaknya.


"Hahaha, benar. Jika hanya kecelakaan, kenapa kalian ciuman selama itu?" tambah Vino yang semakin membuat Ryuu malu.


Tanpa berkata apa-apa, Ryuu pun segera pergi dari situ menuju kamarnya. Ia mencoba mengabaikan canda tawa Bunda dan Ayahnya di belakang sana. Bagaimanapun, Ryuu merasa sangat malu sekarang. Dia benar-benar tak bisa terima hal seperti ini menimpa dirinya.


#FLASHBACK OFF


"Hahaha, ku kira Ayah dan Bundamu akan marah padamu. Ternyata dia malah meledekmu, ya. Hahaha.." ujar Ara seraya tertawa terbahak-bahak menertawakan Ryuu yang terlihat kesal sekarang.


"Bodoh," kata Ryuu dingin, singkat, dan jelas. Namun, satu kata tersebut mampu menghentikan tawa Ara.


"Ehm, Maaf," ucap Ara sambil berdehem.


Hening. Ryuu hanya diam menatap Ara. Di tatap seperti itu, tentu saja Ara merasa heran.


"Ryuu? Kenapa?"


Tatapan Ryuu semakin tajam. Setajam silet yang mencoba menerobos jantung Ara. Detak jantung Ara pun semakin tak beraturan saat Ryuu tiba-tiba saja menempelkan kepalanya di kepala Ara.


"Al.." panggilnya hampir berbisik.


Ara segera menengadahkan kepalanya agar kepala Ryuu tak menempel lagi padanya. Dengan wajah merah bak kepiting rebus, Ara menutupi pipinya dengan rambutnya yang panjang. Kini, ia menatap Ryuu bingung sekaligus senang.


"Kau mau apa, Ryuu?"


"Hah?"


"Tadi, kau mau apa?"


Ryuu tersenyum sinis, "Memangnya kau mengharapkan apa?"


"Hah? Berharap? Tidak, kok. Aku tidak mengharapkan apa-apa."


"Terlihat jelas di wajahmu bahwa kau mengharapkan sesuatu terjadi lagi diantara kita."


"Ti-tidak! Mana mungkin aku-"


"Ku tegaskan saja ya. Kejadian seperti kemarin tak akan terulang lagi. TAK AKAN LAGI. Jadi, ingat itu baik-baik."


Emosi Ara mulai naik mendengar ucapan Ryuu. Sambil melotot dan menghentakan kakinya, Ara mendorong tubuh Ryuu hingga jatuh ke lantai. Gadis itu pun kini berada di atas Ryuu. Ya, menatapnya dengan tatapan penuh kekesalan.


"Hei, kau ini kenapa? Sakit tahu!"


"Asal kau tahu saja, ya. Kau sebelumnya sudah pernah-"


"Pernah apa?"


Ara merasa nyalinya ciut seketika mendengar suara Ryuu yang mulai terdengar dingin lagi.


"Tidak, tidak jadi," ucap Ara seraya bangkit.


Setelah berucap seperti itu, ia pun pergi meninggalkan Ryuu yang masih terkapar di lantai. Jika dipikir-pikir, kenapa Ara senang sekali sih meninggalkan Ryuu saat mereka sedang berbicara? Entahlah, Ryuu juga tak mengerti pikiran dari sahabatnya itu.


🐻🐻🐻


"Ra, Ara. Pinjam pulpenmu, dong!"


Ara menoleh ke arah sumber suara. Ya, suara tepat di samping tempat duduk Ryuu. Siapa lagi kalau bukan Sam? Dengan wajah cengengesannya, ia mencoba memohon pada Ara agar dipinjamkan pulpen.


"Tidak mau. Wleee.." kata Ara sambil menjulurkan lidahnya.


"Huh, dasar pelit!"


Ara membelalakan matanya kesal, "Tukang penguping tidak pantas bicara seperti itu!"


"Hah? Tukang penguping? Sejak kapan aku tukang penguping?"


"Kau lupa apa pura-pura bodoh, hah?"


"Sam, Ara. Sepertinya asik sekali ya mengobrolnya."


DEG!!!


Ara dan Sam langsung diam seketika saat ditegur oleh Bu Mika, wali kelas mereka. Apalagi, kini memang mereka sedang belajar pelajaran fisika yang butuh ketenangan dan konsentrasi. Jadi wajar saja kan jika Bu Mika menegur dua muridnya tersebut?


Ryuu tanpa berkata dan tanpa menoleh ke arah Sam langsung memberikan pulpennya begitu saja. Mengerti maksud dari Ryuu, Sam pun mengambil pulpen itu dengan senyuman merekah.


"Terimakasih, Ryuu."


Ryuu hanya diam sambil terus memperhatikan Bu Mika yang sedang menerangkan apa yang ada di papan tulis. Sedangkan Ara yang ada disamping Ryuu juga, merasa tak terima saat ia melihat Ryuu meminjamkan pulpen pada Sam.


"Huh, kenapa harus dipinjamkan sih? Kalau saja Sam tidak duduk dekat dengan Ryuu, pasti Ryuu tidak akan berbaik hati meminjamkan pulpen padanya," batin Ara sambil melihat Sam yang kini asyik menulis di bukunya.


(note : Jadi Ryuu itu duduk di tengah-tengah antara Sam dan Ara. Sam sebelah kanan, dan Ara sebelah kiri.)


🐱🐱🐱


Teng! Teng! Teng!


Bel pulang sekolah berbunyi. Semua murid pun berhamburan keluar dari kelas. Ada yang langsung pulang, ada juga yang tidak karna ikut ekskul terlebih dahulu. Sama seperti Ryuu sekarang.


"Ryuu, ekskulmu sudah mulai aktif lagi, ya?" tanya Ara sambil menghampiri Ryuu yang masih berada di tempat duduknya.


"Iya." jawab Ryuu datar. Ia sibuk memainkan game di ponselnya.


"Ya sudah, kalau begitu, aku pulang duluan ya."


Ryuu mengangguk tanpa menatap Ara sedikitpun. Merasa diabaikan, Ara pun mengajak Angel untuk segera keluar dari kelas. Meninggalkan Ryuu yang tidak menatap ke arahnya sedikitpun.


"Ra, Ryuu kenapa sih?" Tanya Angel seraya terus berjalan.


"Tidak tahu, tuh. Mungkin dia kesal kali ya padaku."


"Hah? Kesal? Kesal kenapa?"


"Saat istirahat tadi, aku mendorongnya hingga ia jatuh ke lantai. Aku berusaha untuk mengingatkan dia tentang ciuman waktu itu. Tapi karna tak berani, aku malah pergi meninggalkannya."


Angel menepuk jidatnya, "Ya ampun, sudah pasti ia kesal padamu, Ra. Aku juga kalau jadi Ryuu pasti akan kesal padamu."


"Duh, iya juga ya," batin Ara dalam hati.


Dua gadis itu pun sudah berada di parkiran sekolah. Namun, mata lentik Ara melihat seseorang yang tak asing ada di parkiran sekolah. Seorang pria paruh baya dengan jas hitam, lengkap dengan mobil hitam juga di belakangnya.


"Om Vino?" sapa Ara dengan wajah terkejut.


"Eh, Ara? Tidak pulang bersama Ryuu?"


"Tidak, Om. Ekskul basket Ryuu sudah mulai aktif lagi jadi mulai hari ini dia akan kembali ekskul."


Angel menatap Ara dengan tatapan bertanya, "Ini ayahnya Ryuu?" bisik Angel.


Ara mengangguk sambil ikut berbisik, "Iya, benar. Tampan bukan? Sama seperti anaknya."


Angel pun cengengesan saja mendengar ucapan Ara.


"Ini yang satu lagi, kau temannya Ryuu?" Tanya Vino pada Angel.


"Ah, iya Om. Namaku Angelica Nasution. Dipanggil Angel, hehe," jawab Angel memperkenalkan diri sambil berjabat tangan dengan Vino.


"Baiklah kalau begitu. Ra, ayo naik ke mobil."


"Eh?" Ara mengernyitkan dahinya bingung.


"Om kesini untuk menjemputmu, Ra. Bukan menjemput Ryuu, hahaha." jawab Vino yang semakin membingungkan Ara.


"Ada sesuatu yang mau Om bicarakan di rumah," tambah Vino sambil tersenyum.


Ara hampir saja meleleh dengan senyuman Vino. Ia pun segera sadar bahwa orang yang ada dihapadannya ini adalahnya Ayahnya Ryuu. Namun, dilihat dari segi manapun, Vino dan Ryuu sangat mirip. Jadi, wajar saja jika Ara merasa senyuman tadi adalah senyuman Ryuu. Ya, meski Ryuu orangnya jarang sekali tersenyum. Setidaknya Ara bisa melihat senyuman Ryuu di wajah Vino.


"Angel, Om dan Ara pergi duluan, ya."


"Iya, Om. Hati-hati."


"Dah, Ngel! Aku duluan ya!"


Ara dan Vino pun masuk ke dalam mobil. Tak berapa lama kemudian, mobil sudah melaju pergi dari sekolah menuju rumah Ara. Yang tepatnya ada disamping rumah Ryuu.


"Apa ya yang akan Om Vino bicarakan?" batin Ara dalam hati.


"Apa Om Vino akan membicarakan hal kemarin? Saat aku dan Ryuu tak sengaja berciuman? Ah, tidak. Aku malu sekaliii.." batin Ara lagi, wajahnya yang putih bersih pun mulai memerah sekarang.