
🖤🖤🖤
Are you fighting for someone who loves you?
Or
Are you fighting for someone to love you?
~Arch Hades~
🖤🖤🖤
"Harusnya, di jam-jam seperti ini aku belajar, tahu. Bukannya malah membuang waktu berhargaku untuk hal yang tak penting," keluh Ryuu melirik Ara sekilas.
Ara memanyunkan bibirnya sambil menundukkan kepalanya. Matanya menatap ke arah bawah dimana kakinya dan Ryuu berjalan bersamaan. Ya, di pagi hari yang cukup cerah ini, mereka berdua memutuskan untuk pergi kencan. Sesuai permintaan Angel.
"Kita mau kemana?" tanya Ryuu menghentikan langkahnya.
Ara yang dua langkah lebih jauh dari Ryuu pun ikut menghentikan langkahnya. Sambil menaikkan kedua bahunya, Ara tersenyum lebar一menampilkan deretan gigi putihnya yang bersih.
"Aku juga tidak tahu kita akan kencan kemana, hehehe," ujar Ara cengengesan.
Ryuu berdecak kesal, lalu kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda tadi. Tak mau tertinggal di belakang, Ara pun ikut berjalan di samping Ryuu.
"Bagaimana kalau kita ke halte Bus dulu saja? Sambil menunggu Bus, kita bisa memikirkan tempat kencan yang bagus! Bagaimana?" seru Ara meminta pendapat Ryuu.
Ryuu mengangguk tanpa bicara apa-apa. Matanya yang kecoklatan itu menatap lurus ke depan, tanpa menatap Ara sedikitpun.
Ara menghela napasnya, "Ryuu terlihat tak senang sedikitpun dengan kencan ini. Padahal, ini kencan pertama kita," batin Ara sedih.
"Ya, mau bagaimana lagi? Namanya juga pacaran pura-pura, hehehe," sambungnya sambil tersenyum pahit.
***
Di halte Bus...
"Jadi? Kita akan kemana?"
Ara terhenyak sebentar mendengar pertanyaan Ryuu yang tiba-tiba. Tanpa menunggu jawaban dari Ara, laki-laki itu pun duduk di bangku panjang yang di sediakan di halte Bus.
Ara tertawa canggung seraya ikut duduk di samping Ryuu, "Bagaimana kalau kita ke taman saja? Taman di Balai Kota juga bagus."
"Disana pasti ramai. Aku tidak mau," jawab Ryuu dengan cepat.
"Bagaimana kalau bioskop?"
"Disana pasti kau hanya mau menonton film romantis saja. Aku tidak mau."
"Ehm, b-bagaimana kalau T*meZone?"
"Memangnya kita anak-anak, apa?"
Ara menarik napasnya panjang sambil tertawa menahan kesal. Gadis itu benar-benar tak mengerti apa yang dipikirkan Ryuu mengenai sesuatu yang bernama 'Kencan'.
"Ya sudah, kalau begitu lebih baik kita tidak usah kemana-mana ya, hahaha," kata Ara cukup canggung.
Ryuu menatap Ara tajam. Membuat yang di tatap malah salah tingkah sekarang.
"Aku tahu tempat yang bagus untuk kita kencan," ujar Ryuu dingin.
Ara pun menelan ludahnya kasar sambil mengernyitkan dahinya bingung.
"Tempat yang bagus?" tanyanya dalam hati.
***
DEG!!!
Ara membelalakkan matanya kaget kala dirinya dan Ryuu sudah sampai di tempat tujuan yang Ryuu maksud. Gadis itu tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya sekarang. Eh? Tempat ini? Tempat ini yang dimaksud Ryuu 'Tempat yang bagus'? Apa Ara salah lihat?
Ara pun mengusap-usap kedua matanya dengan tangannya. Oh, tidak! Tempat yang ia lihat di depannya itu adalah asli. Ini adalah tempat yang menurut Ryuu bagus untuk kencan mereka.
"Ryuu? Ini kan..."
"Sedari kecil, saat pertama kali aku menginjakkan kaki di Indonesia, aku ingin sekali ke tempat ini, Al," jelas Ryuu memotong ucapan Ara.
"Eh? Memangnya sebelumnya kau belum pernah ke tempat ini? Di jepang memangnya tidak ada?"
Ryuu menggeleng cepat, "Tidak ada. Makanya, aku ingin sekali kesini. Namun Bunda dan Ayah tidak pernah mengizinkanku ke tempat ini karena menurut mereka, kala itu aku sudah besar. Padahal umurku saja saat pindah ke Indonesia baru 8 tahun," jelas Ryuu lagi membuat Ara tertegun mendengarnya.
Ara mencoba menahan tawa dengan cara menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Ia benar-benar kaget sekaligus aneh pada Ryuu sekarang. Bagaimana tidak? Ia dibawa ke tempat yang menurut Ryuu bagus, tapi tidak menurut Ara.
Tempat main anak-anak, Wahana Main Bola yang ada di dalam Mall Violetta.
"Hahaha, Ryuu! Kau serius mau ke wahana ini? Kenapa kita tak ke T*mezone saja kalau begitu?" tanya Ara heran, ia tak sanggup menahan tawanya lagi.
"T*mezone itu hanya untuk anak-anak, tahu," kata Ryuu ketus. Wajahnya mulai memerah karena Ara terus menertawainya.
Ara mengusap perutnya yang sakit karena banyak tertawa sambil mengangguk-angguk, "Wahana main bola juga untuk anak-anak, Ryuu."
"Pokoknya, aku mau kesini," ujar Ryuu dingin seraya berjalan duluan memasuki wahana main bola. Namun, beberapa langkah lagi akan sampai, langkah kaki Ryuu terhenti seketika.
"Ryuu? Ada apa?" tanya Ara yang ada di samping Ryuu.
Ryuu tak menjawab. Matanya fokus melihat sosok yang ada di hadapannya sekarang. Sial, itu adalah teman sekelasnya! Tapi yang pasti, diantara kerumunan teman sekelasnya itu terdapat Rangga. Dan sepertinya Ara tak menyadari akan hal itu.
"Ryuu? Ara? Wah, kebetulan sekali, ya!"
Ryuu berdecak kesal, "Sial, mereka menyadari kita ada disini," gumam Ryuu namun masih bisa Ara dengar.
"Eh, siapa?" Mata Ara mengikuti arah mata Ryuu. Betapa terkejutnya ia kala melihat beberapa kerumunan teman sekelasnya yang entah sejak kapan sudah ada dihadapannnya dan Ryuu sekarang. Terlebih, ada satu orang di antara kerumunan teman sekelasnya itu yang menatapnya intens.
"Kalian sedang apa disini? Wah, apa jangan-jangan..."
"Kalian sedang kencan, ya?!"
"Tapi, dari jauh, kulihat Ryuu dan Ara akan masuk ke Wahana Main Bola ini."
"Iya, iya! Kenapa kencannya tak ke bioskop atau makan saja?"
"Aneh sekali kalau kencan ke Wahana Main Bola, ya! Hahaha, tak mungkin juga sih!"
Ryuu menelan ludahnya sambil melirik Ara sekilas. Dalam hati, ia takut Ara akan bilang pada teman-temannya bahwa ia dan Ara memang akan kencan di Wahana Main Bola. Jika sampai Ara bilang begitu, bukankah martabat Ryuu sebagai laki-laki akan jatuh? Mau ditaruh di mana wajah Ryuu kalau sampai teman-temannya tahu akan hal itu?
Ryuu tak bisa jamin, sih. Ara akan bilang atau tidak. Karena di pikiran Ryuu, Ara itu sangat polos dan bodoh. Bisa saja kan Ara bilang dengan polosnya :
"Iya, aku dan Ryuu memang akan kencan di Wahana Main Bola ini. Ryuu sendiri yang menginginkan itu."
Atau...
"Sebenarnya, aku juga tak mau kencan di Wahana Taman Bola ini. Tapi, karena Ryuu sangat menginginkannya, mau bagaimana lagi? Aku akan menuruti kemauannya karena aku sangat mencintainya, hehehe."
Atau juga...
"Hahaha, lucu sekali bukan? Laki-laki kelas 3 SMA mengajak pacarnya kencan di Wahana Main Bola? Sungguh tidak tahu malu, ya!"
Ryuu menggeleng-gelengkan kepalanya karena imajinasinya sudah diluar batas. Tidak, tidak. Ryuu tak boleh terlihat kikuk dan canggung seperti ini di depan teman-temannya. Bagaimanapun, Ryuu harus segera keluar dari situasi ini!
"I-itu..."
"Aku yang ingin main di Wahana Main Bola ini, kok! Kenapa memangnya? Aneh?" tanya Ara memotong ucapan Ryuu.
Ryuu menoleh ke arah Ara sambil membelalakkan matanya kaget. Detik selanjutnya, Ryuu pun mengangguk-anggukan kepalanya sambil merangkul Ara dari samping.
Kali ini, Ara yang menoleh ke arah Ryuu sambil membelalakkan matanya kaget.
"Iya, nih! Al sendiri yang ingin kencan disini. Ya, walau aku tidak mau, tapi mau bagaimana lagi? Aku sangat mencintainya, sih," ujar Ryuu yang sukses membuat Ara salah tingkah.
"Tidak, aku tidak boleh pakai perasaan!" jerit Ara dalam hati. Ia berusaha mengatur deru nafas dan detak jantungnya.
"Wah, Ryuu yang cuek di kelas juga ternyata punya sisi seperti ini, ya!"
"Kau sangat pengertian pada perempuan seperti Ara, hahaha!"
"Hahaha, iya! Iya!"
Ara memanyunkan bibirnya sebal, "Hei, jangan meledekku, ya!"
"Tidak, kok, tidak! Hahaha, bercanda, Ra!"
Mata Ara tak sengaja berkontak mata dengan Rangga. Oh, tidak. Tatapan Rangga entah kenapa terlihat tak suka dengan dirinya dan Ryuu.
Tatapan tak suka?
Atau...
Tatapan tak percaya?
Entahlah, yang jelas, Ara merasa bahwa Rangga seperti masih meragukan hubungannya dengan Ryuu. Jika sampai Rangga tahu bahwa hubungannya dengan Ryuu hanya pura-pura saja, Rangga pasti akan kembali gencar mendekatinya. Tentu saja, Ara tak mau itu terjadi.
"D-darling, kita masuk ke dalam, yuk! Aku sudah tak sabar ingin mandi bola, hehehe," kata Ara sambil tertawa canggung. Ia pun menyentuh pipi kanan dan kiri Ryuu dengan kedua tangannya. Dalam hati, ia takut Ryuu akan menepis tangannya.
"Iya, honey. Ayo kita masuk!" seru Ryuu diluar dugaan Ara. Eh? Kenapa Ryuu terlihat sangat manis sekarang?
"Ya sudah, kalau begitu, kami pergi dulu, ya!"
"Selamat bersenang-senang atas kencan kalian, hahaha!"
"Dah, Ryuu! Dah, Al!"
Teman-temannya itu pun akhirnya pergi dari hadapan Ryuu dan Ara. Oh, syukurlah. Dalam hati, Ara berdoa semoga saja perlakuannya tadi pada Ryuu bisa membuat Rangga percaya akan hubungan mereka.
"Hei, sampai kapan kau mau menyentuh pipiku seperti ini?" tanya Ryuu dingin, membuyarkan lamunan Ara seketika.
"Ehm, M.. Maaf!" seru Ara seraya melepaskan kedua tangannya dari pipi putih Ryuu.
"Ya sudah, ayo kita masuk ke dalam," ajak Ryuu seraya menggenggam tangan Ara tiba-tiba.
DEG!!!
"E.. Eh?" Ara membulatkan matanya kaget. Sedangkan Ryuu memutar bola matanya sambil berdecak.
"Ini latihan, tahu."
"Latihan?"
"Kau lupa apa yang kemarin aku bicarakan soal latihan?"
Ara mengangguk dengan cepat tanda mengingat hal tersebut. Detik selanjutnya, gadis itu pun tersenyum lebar pada Ryuu.
"Jika kau terus-terusan bersikap seperti ini padaku, aku bisa saja semakin menyukaimu, tahu!" seru Ara membuat Ryuu tertegun seketika.
"Kau ini blak-blakan sekali, ya. Yah, orang bodoh memang akan mengucapkan apapun yang ada dalam pikirannya tanpa berpikir panjang terlebih dahulu," kritik Ryuu pedas sambil membuang mukanya.
Ara cengengesan mendengar kritikan Ryuu.
"Eh, tapi bisa saja kan? Malah kau yang akan menyukaiku berkat hubungan pura-pura ini? Hehehe, semoga saja, ya!"
Ryuu melirik Ara tajam sekilas, lalu kembali membuang muka, "Jangan harap," katanya seraya berjalan bersamaan dengan Ara tanpa sedikitpun melepaskan genggaman tangannya.