STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 86 - Universitas



...🖤🖤🖤...


...Aku meragukan kemampuanku dalam hal pelajaran....


...Tapi perihal mencintaimu, aku sudah tak pernah ragu lagi....


...🖤🖤🖤...


Ara, Sam, Angel, dan Rangga sudah berada di dalam tempat karaoke. Mereka kini sedang memperhatikan dan mendengarkan Ara yang sedang bernyanyi. Suaranya yang halus dan merdu membuat siapa saja yang mendengar akan takjub. Ya, termasuk Rangga. Sepanjang Ara bernyanyi, mata Rangga tak lepas dari Ara. Ia juga tak henti-hentinya tersenyum, membuat Ara menjadi canggung sendiri.


Selesai Ara bernyanyi, gadis itu kemudian duduk di samping Angel. Membiarkan Sam yang kini sudah memegang mic dan bernyanyi dengan suara falsnya.


"Untuk pensi nanti, kau mau menampilkan apa?" tanya Angel membuka pembicaraan dengan Ara.


"Oh iya, aku lupa. Pensi kelas 12 memangnya kapan dilaksanakan?" Ara balik bertanya pada Angel.


"Sekitar 2 minggu lagi, sih. Hmm, berarti kau belum menentukan akan menyanyikan lagu?"


Ara mengangguk sambil memanyunkan bibirnya.


"Aku tak memikirkan pensi. Yang ku pikirkan kemarin-kemarin hanya UN dan Ryuu saja."


Mendengar nama Ryuu disebut, Rangga yang duduk cukup jauh dari Ara tiba-tiba saja kini menghampiri dan duduk tepat di samping kiri Ara duduk.


"Untuk pensi nanti, bukankah Band kalian akan tampil?" tanya Rangga menatap Ara dan Angel bergantian.


Angel mengangguk pelan, "Tapi aku, Ara, Ryuu, Sam, dan Revina belum latihan sama sekali. Kau kan tahu, ruang band dikunci. Itu karena semua kegiatan ekstrakulikuler sekarang sudah dihentikan sekolah kan?"


"Hmm, benar juga ya." Ara mengangguk-angguk sambil menyentuh dagu bawahnya, "Karena adik kelas kita dari kelas 10 sampai 11 akan menghadapi Ujian Akhir Semester, maka semua kegiatan ekstrakulikuler dihentikan sekolah," jelas Ara memperjelas pada Rangga.


"Kalau begitu, kalian mau tidak latihan di studio band-ku?" tanya Rangga menawarkan. Membuat Angel dan Ara sontak kaget bersamaan.


"Eh? Kau punya studio band?" Ara mengedip-ngedipkan matanya tak percaya.


Rangga mengangguk sambil tersenyum manis, "Bukan punyaku sih, tapi punya kakakku. Kalau kalian mau latihan disana, nanti aku akan bilang pada kakakku, hehehe. Tenang saja, kalau kalian yang latihan pasti akan gratis kok."


"Eh? Serius? Kalau begitu, aku mau!" seru Sam tiba-tiba. Membuat Angel dan Ara menoleh pada laki-laki itu.


"Dasar, kalau dengar yang gratisan pasti kau selalu nomor satu," nyinyir Angel lalu dibalas cengengesan oleh Sam. Sedangkan Ara dan Rangga hanya tertawa kecil melihat dua pasangan tersebut.


"Ya sudah, kalau begitu, nanti aku akan ajak Ryuu dan Revina juga. Mereka kan juga anggota Band-ku," kata Ara sambil tersenyum.


Rangga ikut tersenyum. Senyumannya terlihat begitu tulus pada Ara. Hingga Ara tak sadar sebenarnya ada sesuatu yang Rangga rencanakan dalam otaknya.


***


Ara berada di dalam kamarnya. Sudah hampir 1 jam ia menatap layar ponselnya yang mati. Sesekali ia berguling-guling di ranjangnya. Ya, ada sesuatu yang membuatnya gelisah. Bukan masalah Ujian Nasional lagi, melainkan tentang Ryuu.


Ara ingin mengajak Ryuu untuk ikut bersamanya latihan Band di studio milik kakaknya Rangga. Tapi, bagaimana caranya? Bahkan Ara saja tak bisa berbicara dengan Ryuu. Lalu bagaimana cara mengajaknya kalau begitu?


Perlahan tapi pasti, Ara menyentuh sesuatu yang melingkar di lehernya. Apalagi kalau bukan kalung dari Ryuu? Itu adalah kalung yang tak pernah ia lepas dari lehernya selama hampir 1 tahun ini. Dan tak terasa, ia dan Ryuu akan segera lulus tak lama lagi.


Tapi, di detik-detik perpisahan SMA, kenapa hubungan ia dan Ryuu harus renggang untuk kesekian kalianya?


Ara mendesah pasrah. Ia pun memutuskan untuk menutup matanya meski ia belum terlalu mengantuk. Lagipula, besok pagi ia dan anggota Band lain akan latihan di studio milik Kakaknya Rangga.


Bersamaan dengan Ara yang menutup matanya, sebuah pesan masuk ke ponsel gadis itu. Namun, karena ponsel miliknya di silent, ia jadi tak bisa mendengar ada notifikasi pesan. Padahal, pesan itu adalah pesan dari Ryuu untuknya.


***


Esoknya...


"Eh? Ryuu? Ada apa?"


Langkah kaki Ara seketika terhenti tatkala melihat Ryuu berdiri di depan rumahnya. Ryuu mengenakan baju putih casual lengkap dengan tas hitam di belakang punggungnya一yang semakin membuatnya terlihat sangat tampan di mata Ara.



*anggap aja lagi gendong tas punggung ya Ryuu-nya wkwk😂*


Ah, ini bukan saat yang tepat untuk mengagumi ketampanan Ryuu. Ara sadar akan hal itu.


"Kau tak baca pesanku tadi malam?" Ryuu bertanya dengan nada super dingin. Membuat Ara semakin bingung.


Sambil mengernyitkan dahinya, Ara pun menghampiri Ryuu cukup canggung.


"Pesan? Pesan apa?"


Ara segera membuka resleting tas selempangnya dan meraih ponsel di dalam tas tersebut. Setelah itu, ia langsung membuka pesan dan membaca pesan dari Ryuu yang ternyata terkirim ke ponselnya sejak tadi malam.


"Al, kau ada waktu besok? Temani aku pergi ke tempat yang penting."


Ara mengerjapkan matanya berkali-kali. Bergantian menatap Ryuu dan pesan yang ada di ponselnya. Dalam otaknya, Ara berpikir keras. Tempat penting? Tempat penting seperti apa yang dimaksud Ryuu? Dan kenapa Ryuu mengajaknya?


"Hari ini aku, Sam, dan Angel akan berlatih untuk persiapan pensi nanti. Apa kau tak ingin ikut, Ryuu?" Ara bertanya dengan nada ragu-ragu.


Ryuu mengernyitkan dahinya seketika, "Pensi? Memangnya akan ada pensi di sekolah kita?"


Ara mengangguk dengan cepat.


"Pensi ini hanya diperuntukkan untuk kita yang sudah kelas 12. Ku dengar sih, Pensi ini juga akan ditampilkan selesai acara wisuda nanti. Yang jelas, ada waktu sekitar kurang lebih 1 bulan untuk kita berlatih," jelas Ara cukup panjang lebar.


Ryuu mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. Namun, yang membuat Ara bingung adalah一Ryuu kini menatapnya tajam. Eh? Apa Ryuu tak mengerti apa yang dijelaskan Ara? Tidak, tidak mungkin. Ara sangat yakin penjelasannya tersebut sangat dimengerti oleh sahabatnya itu.


"R.. Ryuu, ada ap-"


"Al, apa kau sudah belajar?" potong Ryuu dengan cepat.


"Eh?" Ara memiringkan kepalanya sedikit, tanda bingung semakin menjalar, "Maksudmu apa?"


Bukannya langsung menjawab, Ryuu malah menarik napas lalu menghembuskannya cukup keras, hingga Ara bisa mendengar itu.


"Ryuu, UN kan sudah selesai. Itu artinya, kita tak harus belajar lagi kan? Mata pelajaran kita sudah habis di kelas 12 ini bukan?" tanya Ara bertubi-tubi, tak mengerti apa yang dimaksud Ryuu.


"Ya, kau benar. UN sudah selesai. Tapi一"


"Tapi apa?"


Ryuu tersenyum simpul, garis senyumannya terlihat bukan niat dari hatinya. Bersamaan dengan itu, Ryuu pun menarik tangan Ara. Berjalan cukup cepat meninggalkan pekarangan rumahnya dan juga rumah Ara.


Mau tak mau, Ara harus mengikuti ritme jalan Ryuu一yang ada di depannya. Gadis itu membiarkan pergelangan tangannya ditarik oleh Ryuu. Toh, tarikan tangan dari Ryuu tak menyakitinya.


"Kita mau kemana, Ryuu?"


"Ke Halte Bus," jawab Ryuu cepat.


"Ya, aku tahu. Maksudku, kau akan membawaku kemana? Di dalam pesan yang kau kirim, kau bilang kau ingin aku menemanimu, kan? Kemana?"


"Ikut saja aku. Kau juga akan tahu sendiri," kata Ryuu ketus sambil terus berjalan cepat一sembari menggenggam pergelangan tangan Ara.


***


"Universitas?"


Ryuu menghentikan langkahnya. Ia segera menoleh ke belakang, tepat dimana Ara berdiri dengan wajah kebingungan. Bagaimana tidak? Ryuu ternyata mengajak Ara untuk pergi ke Universitas ternama yang ada di daerah situ.


"Kenapa terkejut? Memangnya kau tidak pernah masuk ke dalam Universitas ya?" tanya Ryuu dengan nada meremehkan.


"M-memangnya kita boleh masuk ke dalam Universitas ini?" tanya Ara heran.


"Ya, tentu saja boleh. Ini kan hari Minggu. Universitas ini terbuka untuk umum di hari Minggu, Al," jelas Ryuu cepat.


"Al, ada apa? Kenapa kau masih diam saja?"


Ara menggelengkan kepalanya, "Aku hanya merasa tidak pantas memasuki Universitas menakjubkan ini," jawab Ara dengan mulut setengah menganga dan mata yang tak sedikitpun berkedip. Rupanya, gadis itu masih tak percaya berdiri di depan gerbang pintu Universitas yang sangat bergengsi tersebut.


"Ayo, masuk," ajak Ryuu seraya berniat meraih pergelangan tangan Ara. Namun, disaat yang bersamaan一Ara malah berjalan mendahului Ryuu. Membuat laki-laki itu mengurungkan niatnya sambil berdehem canggung.


Ara menoleh ke belakang, menyadari suara Ryuu yang berdehem cukup keras.


"Ryuu? Ada apa?"


Ryuu buru-buru memasang ekspresi dinginnya seperti biasa.


"Tidak, ayo masuk ke dalam," ujar Ryuu berjalan menghampiri Ara. Mereka pun akhirnya berjalan beriringan memasuki Universitas tersebut.


***


"Ini adalah gedung fakultas ekonomi. Nah, yang di ujung sana, itu adalah gedung fakultas kedokteran."


"Oh iya, kau lihat pohon beringin itu? Nah, disamping pohon beringin tersebut adalah gedung laboratorium kimia."


Ara tersenyum-senyum sendiri melihat Ryuu yang sibuk mengoceh一lebih tepatnya, sibuk menjelaskan nama-nama gedung yang ada di sekitaran Universitas tersebut. Ya, sudah hampir setengah jam Ryuu tak berhenti bicara sambil terus berjalan一ditemani Ara yang berada di sampingnya.


Awalnya, Ryuu tak menyadari Ara yang sedari tadi tersenyum-senyum sendiri. Namun, karena Ara tak bisa berhenti menyembunyikan senyumannya, Ryuu memutuskan untuk berhenti berbicara. Ia cukup kesal karena sepertinya, Ara tak fokus pada apa yang diucapkan Ryuu.


"Eh? Ryuu? Kenapa berhenti bicara?" tanya Ara kaget karena Ryuu tiba-tiba diam sambil membuang muka.


"Kau tak mendengarkanku, Al. Untuk apa aku capek-capek menjelaskan?"


"A-aku mendengarkanmu, kok!" seru Ara membela diri.


"Kalau kau fokus mendengarkanku, kenapa kau senyum-senyum sendiri sedari tadi? Memangnya ada yang lucu dari ucapanku?" tanya Ryuu ketus sambil terus membuang muka, tanpa menoleh ke arah Ara yang masih berjalan beriringan disampingnya.


"Aku hanya kagum pada wawasanmu yang begitu tinggi tentang kampus ini. Kau tahu semua letak dan nama-nama gedung beserta fakultas dan kegunaannya. Lagipula, sebentar. Bukankah kau bilang, kau ingin aku menemanimu kesini? Lalu kenapa kau harus repot-repot menjelaskan ini itu sedari tadi? Bukankah aku tugasnya hanya menemanimu saja?"


Tep!


Langkah kaki Ryuu terhenti. Bersamaan dengan itu, Ryuu segera menatap Ara serius. Membuat Ara mau tak mau harus ikut berhenti berjalan dan balik menatap Ryuu juga.


"Aku berniat untuk kuliah disini, Al. Dan ku harap, kau juga bisa tergugah untuk ikut kuliah disini," kata Ryuu dengan nada lembut. Membuat Ara yang mendengarnya agak bergidik karena tak biasa mendengar nada bicara Ryuu selembut itu.


"Tapi, Ryuu. Aku tidak sepintar dirimu. Dan juga一"


"Pendaftaran kuliah dan ujian masuk disini sekitar 3 minggu lagi. Jadi, persiapkan dirimu untuk belajar. Kita akan sama-sama kuliah disini. Itu yang disampaikan Mommy-mu padaku, Al."


DEG!!!


"Eh? Mommy? Tapi, Mommy belum bilang apa-apa padaku, Ryuu!"


"Mommy-mu sendiri yang minta padaku, untuk membujukmu agar mau kuliah disini. Mau bagaimanapun, ini adalah impian orangtuamu, Al. Mengenai jurusan, itu sih terserah padamu mau masuk jurusan apa," jelas Ryuu.


"Yang jelas, apapun jurusan yang kau pilih, kau harus mau kuliah disini."


Ara menundukkan kepalanya seraya mengangguk tanda mengerti, meski dalam hatinya terasa tak karuan. Ia merasa tak sanggup jika harus kuliah apalagi di Universitas sehebat ini. Saat sedang menunduk seperti itu, Ryuu diam-diam memperhatikan Ara. Ada sesuatu di kepala laki-laki jenius tersebut yang sedari tadi ia pikirkan. Dan juga ingin ia sampaikan pada Ara.


"Al, kau sepertinya tak mengingat apapun ya," celetuk Ryuu yang sukses membuat Ara menatap Ryuu heran.


"Hah? Ingat? Ingat apa, Ryuu?"


"Beberapa malam yang lalu, saat kau kehujanan dan rumahmu terkunci. Akhirnya kau kusuruh ke rumahku agar kau tak kedinginan. Masih ingat?"




Ara mengangguk tanda mengingat itu, namun mimik wajahnya masih terlihat heran seperti sebelumnya.


"Seingatku, saat itu aku tidur di sofa ruang tamu rumahmu, Ryuu. Lalu saat aku terbangun di pagi harinya, aku sudah berada di kamarku," kata Ara menerangkan.


"Kau yakin tak ingat apapun selain itu?" Ryuu mencoba membuat Ara mengingat-ngingat.




"Iya, aku yakin," Pertanyaan Ryuu membuat Ara semakin lama semakin heran sekaligus bingung.


Otak kecil Ara berusaha mengingat-ngingat apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu. Namun, nihil. Ara tak bisa mengingat apapun kecuali ketika ia tertidur di sofa ruang tamu di rumah Ryuu.


Ara melirik Ryuu yang sedari tadi tengah menatapnya serius. Bisa dilihat, meski ekspresi Ryuu seperti itu, tapi Ryuu terlihat tak puas dengan jawaban Ara yang mengatakan bahwa ia tak mengingat apapun.


"Ehm, Ryuu, apa aku melupakan sesuatu yang penting antara kita?" tanya Ara takut-takut.


Baru saja Ryuu akan menjawab, tiba-tiba ponsel Ara berdering di dalam tasnya. Tanpa berlama-lama, Ara pun segera mengambil ponselnya lalu mengangkat telepon tersebut tanpa melihat nama si pemanggil.


"H-halo? Ini siapa?"


"Halo, ini aku, Rangga. Ra, kau dimana sekarang?"


"Rangga? Ehm, a-aku sekarang sedang bersama Ryuu di Universitas X,"


Ara melirik sekilas Ryuu yang kini sedang berekspresi dingin padanya. Ia menebak Ryuu pasti tak suka mendengar nama Rangga disebut. Entahlah, ia juga tak tahu pasti kenapa Ryuu sepertinya sangat benci pada Rangga, tapi malah dekat dengan sepupu Rangga yaitu Revina.


"Aku, Angel, Sam, dan Revina menunggumu di studio band milik kakak-ku! Kau sudah tahu alamatnya kan? Cepat kesini, Ra,"


"B-baiklah, aku segera kesana. Maaf ya jika membuat kalian menunggu,"


"Tidak apa-apa kok, hahaha. Oh iya, Ra. Ajak juga Ryuu sekalian. Tanpa gitaris kita tidak akan bisa memulai latihan band,"


"Oke, nanti Ryuu akan ku ajak juga. Kalau begitu kumatikan dulu ya teleponnya."


"Iya. Hati-hati di jalan, sayang,"


Tut!


Ara tersentak kaget mendengar kata 'sayang' terlontar dari mulut Rangga. Detik selanjutnya, ia menggeleng-gelengkan kepalanya karena merasa Rangga terlalu blak-blakan memberi kode 'suka' padanya.


Melihat ekspresi wajah Ara yang cukup aneh, Ryuu pun menatap Ara tajam seolah bertanya apa yang terjadi padanya.


"Eh? Kenapa, Ryuu?" tanya Ara kaget sesaat setelah ia melihat ke arah Ryuu disampingnya.


"Justru kau yang kenapa. Kenapa ekspresimu begitu? Ah, sepertinya kau begitu senang dipanggil 'sayang' oleh Rangga sehingga membuatmu berekspresi bodoh seperti sekarang ini," ketus Ryuu sembari membuang pandangannya ke sembarang arah.


Ara mengernyitkan dahinya, "Eh? Kok kau bisa tahu?"


"Teleponmu tadi mode loudspeaker, bodoh."


DEG!


Mata Ara membulat sempurna. Ia baru sadar bahwa memang telepon dari Rangga tadi dalam mode loudspeaker yang artinya, Ryuu juga bisa mendengar apa saja yang Rangga ucapkan.


"B-bukan begitu, Ryuu. Aku bukan terlalu senang karena dipanggil sayang. Aku hanya kaget一"


"Sudahlah, ayo kita pergi," potong Ryuu dengan cepat. Enggan mendengarkan penjelasan kikuk Ara.


"K-kemana?"


"Ke studio Band, bukan?"