STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 51 - Surprise?



🖤🖤🖤


Dia sangat profesional membuatku terus jatuh cinta padanya.


🖤🖤🖤


Ara dan Angel sedang berjalan pulang dari rumah teman kerja kelompok mereka, Claudia. Niatnya, malam ini Angel akan menginap di rumah Ara. Lagipula kan orangtua Ara sedang tak ada di rumah. Jadi tentu saja gadis itu sangat senang saat Angel bilang akan menginap di rumahnya.


"Ra, bukankah kau bilang, Ryuu sedang menunggumu di loteng rumahmu?" tanya Angel membuka pembicaraan.


Ara mengangguk, "Ya, dia bilang begitu, Ngel."


"Ah, aku hampir saja lupa bahwa kalian memang sudah berpacaran, hahaha," tawa Angel sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ara menunduk. Matanya menata langkah kakinya dan langkah kaki Angel yang berjalan beriringan.


"Kenapa kau terlihat sedih?" tanya Angel menyadari gelagat Ara.


Ara pun buru-buru menatap Angel sambil tersenyum penuh ceria.


"Ah, tidak kok. Tidak apa-apa."


"Ngomong-ngomong, ku lihat akhir-akhir ini kau jarang berdebat lagi ya dengan Revina. Kalian sudah berteman, ya?" sambung Ara mengubah topik pembicaraan.


Angel tertawa kecil, "Kami tidak berteman. Hanya saja, aku dan Revina sudah sepakat untuk tidak berdebat lagi," jawabnya santai.


"Ah, syukurlah. Aku senang mendengarnya," ujar Ara tersenyum manis.


"Yah, kalau kau tahu, sebenarnya Sam, aku dan Revina kecelakaan dari motor karena Sam tak fokus menyetir, ia sibuk melerai perdebatanku dan Revina," kata Angel dengan nada cukup sedih.


Ara menatap Angel penuh pengertian, "Sudahlah, masalah itu tak perlu kau pikirkan lagi. Yang terpenting, masalah kemarin bisa menjadi pembelajaran untukmu ke depannya, bukan?"


Angel tersenyum sambil merangkul Ara dari samping.


"Araaa! Aku mencintaimuuu!" seru Angel senang sambil mempererat rangkulannya.


Ara tertawa terbahak-bahak sambil mencoba melepaskan rangkulan Angel yang cukup menyekik lehernya. Sadar akan hal itu, Angel pun akhirnya melepaskan rangkulannya sambil tetap mempertahankan senyumannya.


Ara membalas senyuman Angel. Meski dalam hati, dirinya bertanya-tanya.


"Apa Angel tak ingat hari ini ulang tahunku? Begitu juga dengan Ryuu dan Sam. Padahal kan, setiap tahun dari kami berempat SMP, mereka tak pernah sekalipun melupakannya," batinnya cukup sedih.


***


Ara membuka pintu rumahnya perlahan. Tidak terkunci. Itu artinya, Ryuu sudah ada di dalam rumah Ara, bukan? Karena kan memang dia yang memegang kunci rumah Ara.


Ara berjalan perlahan menyusuri lantai rumahnya yang dingin. Berbagai hal kini menari-nari dalam pikirannya.


"Kenapa semua lampu mati? Bukankah Ryuu sudah masuk ke dalam rumahku? Lalu kenapa dia tak menyalakan lampu rumahku satupun?"


Aneh. Ya, sungguh aneh. Lebih aneh lagi saat Ara baru menyadari bahwa Angel tak ada di belakangnya sedari tadi.


"Eh? Kemana Angel?"


Ara pun kembali berjalan. Ia mencoba mencari saklar lampu ruang tamu. Karena demi apapun, Ara sangat membenci yang namanya gelap! Ya, Ara termasuk penakut jika berada di kegelapan. Itu sebabnya gadis itu tak pernah mematikan lampu kamarnya jika ia tidur.


DEG!!!


Langkah kaki Ara terhenti seketika. Napasnya kini memburu. Keringat dingin membasahi pelipis dan ceruk lehernya. Sepasang tangan yang cukup besar kini merangkulnya dari belakang!


Ara membulatkan matanya sambil mengambil ancang-ancang一menarik napas panjang. Lalu, dengan sekuat tenaga, ia berteriak sekencang-kencangnya seraya membalikkan badan.


"PERGI KAU, HANTU JELEK!!!"


Dengan secepat kilat, Ara meninju wajah hantu tersebut. Hingga yang ditinju terkapar tak berdaya.


TRING!!!


Lampu ruang tamu dan lampu-lampu lainnya tiba-tiba menyala bersamaan. Memperlihatkan ruang tamu yang sudah terhias begitu cantiknya dengan balon dan hias-hiasan lainnya. Tak lupa, ada tulisan HAPPY BIRTHDAY berwarna biru yang semakin membuat Ara terkejut.


"Eh? Sam? Angel? Revina? Rangga? Kalian semua..." Ara menatap semua teman-temannya satu persatu. Ia tak percaya akan di beri surprise seperti ini.


"Aku tak kau sebut, hah?" tanya seseorang di belakang Ara sambil mengusap-usap pipinya yang terkena tinju tadi.


Ara pun menoleh ke arah belakang. Betapa terkejutnya ia melihat Ryuu一 tepatnya pipi Ryuu, memerah akibat tonjokan maut dari Ara tadi.


"M.. Maafkan aku, Ryuu. Aku tidak sengaja," ujar Ara seraya membantu Ryuu untuk berdiri.


Sam, Angel, dan Revina tertawa terbahak-bahak melihat pipi Ryuu yang merah. Sedangkan Rangga hanya tersenyum, seperti orang meledek. Tentu saja, hal itu pasti membuat seorang Nakajima Ryuu cukup malu.


"Aku cuma merangkulmu dari belakang saja, sudah kau tinju. Apalagi jika aku merangkulmu dari depan?" protes Ryuu menatap sinis Ara.


Ara memanyunkan bibirnya sambil membantu一mengusap pipi Ryuu.


"Lagipula kau mengagetkanku, tahu! Ku kira kau hantu. Makanya ku tinju saja," ucap Ara membela diri. Yang membuat tawa Sam dan Angel semakin keras.


"Hei, sudah, sudah. Kalau kalian tertawa terus, acaranya mau dimulai kapan? Ini sudah malam, tahu," ujar Rangga serius yang sukses menghentikan tawa Sam dan Angel seketika.


"Oke, kalau begitu, ayo kita mulai acara ulang tahunnya!" seru Revina bersemangat. Lalu diikuti anggukan yang tak kalah semangat dari Sam dan Angel.


Sam, Angel, Revina, dan Rangga pun menyanyikan lagu 'Selamat Ulang Tahun' untuk Ara. Membuat gadis yang baru saja menginjak umur 18 tahun itu tersenyum penuh haru. Tak ia sangka, ternyata teman-temannya mau bersusah payah menyiapkan ini semua. Dan rasa bahagia Ara semakin bertambah kala menyadari bahwa tahun ini bertambah orang yang ikut merayakan ultahnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Revina dan Rangga?


Ara melirik perlahan Ryuu yang berada di sampingnya. Awalnya, Ryuu tak ikut menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun seperti yang lainnya. Namun, kala Ara menatap Ryuu dengan tatapan penuh harap, laki-laki itu pun mau tak mau harus mengeluarkan suara emasnya demi membuat Ara senang.


SKIP


"Terimakasih teman-teman, aku tak menyangka akan diberi Surprise seperti ini, hehehe," ujar Ara dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya. Mata bulatnya menatap kue ulang tahun yang sudah hampir setengah karena sudah dimakan tadi.



Note : Anggap aja ada kue ulang tahun disitu, ya. Hihihi


Semua teman-temannya mengangguk bersamaan. Terkecuali Ryuu yang diam saja sambil sibuk menatap objek lain.


Sam mengangguk mengiyakan, "Ya, kami juga bingung mau membuat konsep Surprise Ulang Tahun seperti apa karena waktunya tak lama lagi."


Ara tersenyum penuh arti menatap teman-temannya satu persatu.


"Aku sangat bahagia karena dikelilingi orang-orang yang menyayangiku," ucap Ara.


Rangga tersenyum simpul, "Jika kau sebahagia ini, aku juga turut berbahagia atas bertambahnya umurmu, Ra."


"Terimakasih, Rangga," balas Ara ikut tersenyum.


"Ra, aku juga ingin minta maaf sebenarnya karena dari awal kita satu kelas, aku tak menyukaimu. Itu karena..."


"Ssstt, sudah, sudah. Jangan bahas masa lalu. Lagipula aku tak mempermasalahkannya, kok," kata Ara memotong ucapan Revina seraya tersenyum manis.


Revina pun membalas senyuman Ara. Suasana seperti ini rasanya sangat hangat dan damai. Ya, tentu saja. Ara sangat nyaman dengan suasana seperti ini. Namun, tanpa Ara sadari, Revina merencanakan sesuatu dalam otak piciknya.


***


"Hei, ini sudah jam 11 malam, bagaimana kalau kita pulang?"


Pertanyaan dari Sam sontak membuat semua yang ada disitu menoleh padanya. Ya, benar juga sih. Ini sudah terlalu larut. Apalagi, besok mereka harus ke sekolah.


"Eh, tapi, sebelum pulang, aku ingin memberi sesuatu pada Ara terlebih dahulu," ujar Revina seraya menggapai tasnya lalu mencari-cari sesuatu di dalam tasnya tersebut.


"Hei, Rev. Kita semua kan sudah memberi Ara hadiah. Kau mau memberi Ara apa lagi?" tanya Angel sembari tertawa kecil.


"Ini, Cupcake spesial untukmu!" seru Revina seraya menyodorkan Cupcake berwarna pink kombinasi putih.


Tanpa ragu, Ara pun menerima Cupcake tersebut.


"Terimakasih, Revina!" seru Ara tersenyum manis.


"Sama-sama."


Sam berdehem, "Ya sudah, kalau begitu, mari kita pulang."


Sam, Angel, dan Revina pun bangkit dari duduk bersamaan. Terkecuali Rangga yang entah kenapa masih saja duduk sambil memperhatikan Ara.


"Eh? Rangga? Kau tak mau pulang?" tanya Revina menanyai sepupunya itu.


Rangga diam. Matanya tetap lurus menatap Ara. Merasa di tatap, mata bulat Ara ragu-ragu membalas tatapan Rangga.


"Ra, orangtuamu tak pulang malam ini?" tanya Rangga tiba-tiba.


Ara tertegun, "Eh?"


"Ku tanya, orangtuamu tak pulang malam ini?"


"Ehm, sepertinya 2-3 hari mereka baru akan pulang. Memangnya kenapa, Rangga?"


Rangga mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu detik selanjutnya, ia menatap Ryuu yang entah sejak kapan一 ternyata sedang menatapnya sinis.


"Ryuu, kau akan menginap di rumah Ara?" tanya Rangga sambil memicingkan matanya.


"Ya, kalau aku akan menginap, memangnya kenapa?" Ryuu balik bertanya lengkap dengan tatapannya yang tajam.


Rangga tertawa meledek, "Ra, kau yakin akan aman saja bersamanya? Kau tak takut kalau dia akan menginap berduaan bersamamu disini?"


Ara cukup tertegun dengan pertanyaan blak-blakan dari Rangga. Otak yang jarang ia pakai untuk berpikir itu pun kali ini berjalan lebih cepat dari biasanya. Iya sih, jika dipikir-pikir lagi, Ryuu tak pernah sekalipun menginap di rumahnya. Apalagi, mereka akan berduaan tanpa ada seorang pun yang mengusik. Tapi, kenapa Ara tak merasa takut sama sekali pada Ryuu?


Sebelum membuka suara, mata Ara tak sengaja menatap Ryuu sekilas. Rupanya, sahabatnya itu juga sedang menunggu jawabannya sedari tadi.


"Rangga, ayolah. Pertanyaanmu itu agak aneh untuk dijaw一"


"Aku tak takut kok kalau Ryuu akan menginap disini. Lagipula, aku mempercayainya. Dia tak akan mungkin berbuat macam-macam padaku. Lagipula, aku ini kan orangnya penakut. Jadi aku memang harus ditemani di rumah ini," jelas Ara memotong ucapan Angel tadi.


"Ya, tapi kan, kenapa tak kau saja yang menginap di rumah Ryuu? Disana kan lebih ramai, ada orangtua Ryuu juga kan?" tanya Rangga masih tak puas dengan penjelasan Ara.


"Maaf Rangga. Tapi, orangtua Ara sendiri yang menyuruhku untuk menemani anaknya disini. Itu artinya, aku harus menginap, bukan?" Ryuu membuka suaranya seraya menyalakan sebuah pesan suara di ponselnya.


"Ryuu, maaf ya. Kau kan tahu Ara itu orangnya sangat penakut. Jadi, bisa tidak kau menemani Ara di rumah? Tak lama kok, hanya untuk beberapa hari saja. Ya? Mommy mohon, ya?"


"Tenang saja kok, Mommy sudah bilang pada Bundamu. Dan Bundamu sudah mengizinkanmu menginap di rumah kami. Kalau begitu, terimakasih ya Ryuu. Semoga kalian akur ya, jangan bertengkar oke?"


Rangga diam. Ia tak bisa berbicara apapun lagi. Lebih tepatnya, skakmat.


"Tuh kan? Bahkan orangtua Ryuu dan orangtua Ara saja sudah sangat percaya. Ryuu dan Ara itu tak akan mungkin berbuat macam-macam," ujar Angel pada Rangga.


"Iya, kenapa sepertinya kau terlalu berlebihan khawatir pada Ara?" tambah Sam sambil tertawa kecil.


Rangga tak menjawab apa-apa. Laki-laki itu bangkit dari duduknya lalu berjalan duluan, pergi dari ruang tamu menuju pintu utama rumah Ara.


"Ya sudah, kalau begitu, kami pulang duluan ya, Ra?" ucap Angel seraya tersenyum manis.


Ara mengangguk, "Hati-hati di jalan ya, kalian! Oh iya, kalian bawa motor kan?"


"Iya, Sam dan Rangga bawa motor, kok," jawab Angel cepat.


Sam, Angel, dan Revina pun berjalan bersamaan pergi dari ruang tamu menuju pintu utama rumah Ara. Namun, sebelum benar-benar pergi, Revina menghentikan langkahnya sambil menoleh, menatap Ara yang masih duduk di ruang tamu bersama Ryuu.


"Ra, jangan lupa kau habiskan ya Cupcake itu malam ini? Soalnya jika besok, sepertinya akan basi," kata Revina mengingatkan.


Ara pun mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti seraya tersenyum manis pada Revina.


"Iya, Rev! Malam ini pasti akan ku habiskan, hehehe. Terimakasih, ya!"


Revina tersenyum. Lalu detik selanjutnya, gadis itu kembali melanjutkan langkahnya. Menyusul Rangga, Sam, dan Angel yang kini sudah berada diluar semua. Sambil berjalan, tanpa Ara sadari, Revina tersenyum licik.


"Aku sudah memberikan obat di dalam Cupcake tersebut. Dengan memakan itu, kau mungkin akan tak sadarkan diri. Yah. Ku harap, dengan tak sadarkan diri, kau akan melakukan sesuatu yang memalukan di depan Ryuu malam ini, hihihi," gumam Revina tertawa kecil.


***