
🖤🖤🖤
I can't be "Just Friends" with you, because i can't just laugh with you and pretend that i am no longer hurting.
🖤🖤🖤
Siang ini, ke-6 remaja kelas 3 SMA itu sudah bersiap-siap untuk pulang. Mereka semua sudah berkumpul di depan Villa dengan barang bawaan masing-masing. Namun, sebelum benar-benar pergi, mereka memutuskan untuk berfoto bersama guna untuk kenang-kenangan.
Tapi, satu hal yang aneh. Ryuu bisa merasakan tatapan teman-temannya itu berbeda padanya sedari tadi. Ada apa sebenarnya?
Baru saja Ryuu akan bertanya, tiba-tiba Sam menepuk pundak Ryuu sambil tersenyum lebar.
"Kita punya sesuatu untukmu," katanya lalu diikuti anggukan oleh Revina dan Angel.
"Sesuatu?" gumam Ryuu dan Ara pelan. Mereka berdua tak sadar bergumam secara bersamaan.
Tanpa menunggu lama, Sam segera mengeluarkan kotak kecil dari saku jaketnya dan segera menyodorkannya pada Ryuu. Dengan wajah bertanya-tanya, Ryuu pun dengan cepat membuka kotak kecil tersebut.
"Eh? Jam tangan?" tanya Ryuu kaget saat isi kotak itu terbuka.
"Hehehe, kami mengumpulkan uang bersama-sama untuk membeli jam tangan limited edition itu. Semoga kau suka, ya," kata Revina tersenyum sumringah.
"Terimakasih, ya," kata Ryuu tersenyum simpul.
Ara membulatkan matanya kaget, "Eh?! Kok aku tak tahu soal ini, sih? Kalian membeli jam tangan itu tanpa mengajak dan memberi tahuku sama sekali!" sahutnya tak terima.
"Oh, iya! Kita berempat lupa memberi tahumu!" seru Angel menepuk jidatnya diikuti tawa canggung Sam.
"Ra, i-itu karena beberapa hari kemarin kau sangat sibuk menjenguk Ryuu tiap pulang sekolah di rumah sakit. Jadi kami tidak ada waktu memberitahumu soal kado ini," jelas Sam perlahan agar Ara mengerti.
Revina tertawa mendengar ucapan Sam, "Ra, kau kan sahabat aslinya Ryuu. Ku pikir, seharusnya kau punya kado yang spesial khusus untuk Ryuu. Bukankah begitu?" tanyanya meledek.
"Hmm, aku juga tahu sih hal itu. Tapi..."
"Jangan bilang, kau tidak punya kado sama sekali untuk Ryuu?" Rangga bertanya memotong ucapan Ara.
Ara terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa. Rasa gugup berkumpul dalam hatinya karena semua pandangan teman-temannya hanya tertuju padanya. Termasuk Ryuu yang sepertinya penasaran apakah Ara membawa kado atau tidak untuknya.
Sebenarnya, waktu itu Ara sudah berniat membeli kado untuk Ryuu di toko aksesoris pria dan wanita. Namun, karena ia bertemu dengan Ryuu dan Revina di toko tersebut, ia mengurungkan niatnya. Ah, rasanya ia ingin mengutuki dirinya sendiri karena kala itu terlalu terbakar api cemburu. Dan malah memutuskan untuk tak membeli kado apapun di toko itu.
"I-itu.. Aku tidak ada waktu一"
"Teman-teman, Al punya kado yang sangat spesial untukku. Dan dia terlalu malu untuk memperlihatkannya pada kalian semua," potong Ryuu sambil tersenyum manis pada Ara. Melihat itu, Ara langsung salah tingkah.
"Eh, kenapa Ryuu tersenyum manis?" batinnya dalam hati.
Rangga mengernyitkan dahinya tak mengerti, "Kado spesial? Jika kado itu sangat spesial, kenapa Ara harus malu untuk menunjukkannya pada kita semua?" tanyanya diikuti anggukan oleh Revina, Sam, dan Angel.
"Wah, pasti kado dari Ara sangat mengagumkan ya kalau Ryuu saja bilang sangat spesial untuknya," puji Angel tersenyum sumringah. Berbeda dengan Revina yang memasang wajah tak suka mendengar ucapan Angel.
"Kado apa sih, memangnya? Aku jadi penasaran," kata Revina ketus sambil memutar bola matanya.
Ara menggelengkan kepalanya. Sebenarnya, ia juga tak tahu apa yang diucapkan Ryuu tentang 'kado spesial' tersebut. Jelas-jelas Ara tak punya kado apapun untuk Ryuu. Namun, kenapa Ryuu bilang seperti itu pada semua teman-temannya? Apa jangan-jangan Ryuu ingin membuat Ara malu di hadapan semua teman-temannya itu?
"Kalian penasaran kan, apa kado spesial dari Al untukku?" tanya Ryuu lalu diikuti anggukan oleh teman-temannya itu.
"R-ryuu, aku kan一"
SRETTT!
BRUGGHH!
Ryuu menarik tangan Ara hingga tubuh Ara menempel sangat lekat dengan tubuhnya. Ara sempat memekik kaget namun di detik selanjutnya Ryuu tak memberikan kesempatan untuk Ara bicara.
Ya, setelah tubuhnya mendekap tubuh Ara, tanpa izin Ryuu langsung menarik kepala bagian belakang Ara dengan kedua tangannya. Menahan kepala sahabatnya itu agar tetap diam di posisinya. Sadar apa yang dilakukan Ryuu terhadapnya, Ara membelalakkan matanya kaget. Sama kagetnya dengan teman-temannya yang melihat hal itu.
Bagaimana tidak?
Ryuu mencium bibir Ara di depan semuanya! Walaupun hanya sebuah kecupan kecil, tapi tetap saja itu membuat jantung Ara rasanya mau meledak di tempatnya. Kenapa tiba-tiba Ryuu menciumnya? Ada apa sih dengannya? Ingin sekali Ara bertanya namun lidahnya terasa kaku karna debaran jantungnya membuatnya tak fokus.
"Ryuu! Kenapa kau mencium Ara di hadapan kami?" tanya Rangga dengan nada tinggi.
"Iya, benar! Apa maksudmu?" tambah Revina yang nada bicaranya tak kalah tinggi.
Berbeda dengan reaksi Rangga dan Revina, Sam dan Angel justru tak tahu harus berkata apa. Dua sejoli itu malah saling berpandangan dengan tatapan tak percaya atas apa yang Ryuu lakukan pada Ara. Benar-benar diluar dugaan, pikir mereka.
"R-ryuu.. A-apa yang kau lakukan?" tanya Ara terbata-bata dengan tatapan kosong. Ia sendiri tak tahu harus senang atau bingung dengan hal ini.
Ryuu tersenyum manis. Sambil mempertahankan senyumannya, ia menyentuh bibir pink Ara dengan ibu jari kanannya. Membuat sahabatnya itu tak bisa berkutik karena debaran jantung yang semakin tak karuan.
"Terimakasih ya atas kado spesialnya, Al," ujar Ryuu seraya melirik semua teman-temannya yang masih saja menatapnya tak percaya.
"K-kado spesial?" tanya Ara tak mengerti.
Ryuu tertawa renyah, "Hahaha, kau lupa bahwa kau sendiri yang bilang akan memberikan first kiss-mu padaku sebagai kado ulang tahunku? Dan tadi, aku sudah mendapatkan itu, bukan?" tanyanya seraya mengusap lembut kedua pipi Ara yang memerah.
"J.. Jadi kalian pacaran?!" pekik Revina kaget.
"Eh? Ryuu? Serius kau pacaran dengan Ara?" tanya Sam ikut kaget.
Ryuu mengangguk sambil tersenyum manis.
Rangga pun menggelengkan kepalanya tak percaya, "Tak mungkin! Saat di sungai tadi, kau masih bilang bahwa Ara itu adalah sahabatmu!"
"Ya, memang. Tapi mulai detik ini, Al adalah milikku," jawab Ryuu dengan cepat.
"EH?!" teriak semua teman-temannya termasuk Ara yang mendengar hal itu.
***
"Al, kau harus duduk denganku."
Suara Ryuu yang ada di belakang mengejutkan Ara yang sedang kebingungan mencari tempat duduk di dalam Bus. Ya, semua teman-temannya sudah duduk di tempat pilihan mereka. Hanya Ara saja yang masih belum bisa menentukan akan duduk dimana.
Karena masih saja berdiri di tempatnya, Ryuu segera bangkit dari duduknya lalu menghampiri Ara.
"Ayo, sini. Kau kan pacarku, jadi kau harus duduk bersamaku, bukan?" tanya Ryuu sambil tersenyum manis lalu menarik tangan Ara, menuntunnya menuju tempat duduk pilihan Ryuu yang ada di belakang tadi.
Kali ini, Rangga duduk dengan Revina. Oh, jangan tanya Sam dan Angel karena mereka sudah pasti duduk bersama.
Revina memutar bola matanya kesal saat Ryuu dan Ara berjalan melewati tempat duduknya. Sedangkan Rangga hanya diam sambil memainkan ponselnya, mencoba tak menghiraukan.
"Rangga. Menurutmu, apakah ini terasa aneh?" tanya Revina menanyakan pendapat.
"Aneh? Apanya?"
"Ryuu yang tiba-tiba memutuskan pacaran dengan Ara. Bukankah itu aneh?"
Rangga mengangguk-anggukan kepalanya, "Benar juga, sih. Kemarin malam saja saat Ara menyanyikan lagu bahasa jepang untuk Ryuu, Ryuu terlihat tak suka hingga membuat Ara sakit hati dan pergi dari Villa, ya."
"Tuh, kan? Kau saja menyadari hal itu, bukan?"
"Iya, menurutku sih, untuk saat ini lebih baik kita diam saja dulu. Kita lihat seberapa seriusnya Ryuu pada Ara."
Revina mengangguk, ia setuju dengan Rangga. Meski hatinya terasa panas, tetap saja ia harus tetap diam sesuai ucapan sepupunya itu.
Sementara itu..
Di tempat duduk Bus paling belakang..
"R-ryuu, kau serius akan berpura-pura jadi pacarku?" tanya Ara sambil berbisik, khawatir teman-temannya akan mendengar suaranya.
Ryuu diam seraya melirik Ara sinis. Bukan menjawab, ia malah memasangkan earphone di telinganya dan mulai mendengarkan lagu dari ponselnya.
"Ah, kau malas menjawab pertanyaanku ya," kata Ara cengengesan sambil menatap ke arah luar jendela Bus yang sedang melaju.
Seiring dengan melajunya Bus, pikiran Ara melayang ke beberapa waktu sebelumnya. Tepat saat dirinya dengan Ryuu berbincang di atas batu besar dekat sungai.
Flashback On
"Al, ku rasa, aku bisa membantumu."
Ara mengernyitkan dahinya heran, "Eh? Maksudmu?"
"Aku akan menjadi pacarmu."
Hening. Untuk beberapa saat, Ara mencoba menetralisir apa yang di katakan Ryuu padanya. Tunggu, menjadi pacar? Apa Ara tak salah dengar?
"Hei, kenapa kau malah melamun?" tanya Ryuu ketus seraya mengguncang pundak Ara agar tersadar dari lamunannya.
"E.. Eh?"
"Jadi, bagaimana? Maksudku akan menjadi pacarmu itu dalam konteks pura-pura, bukan serius. Kau jangan berharap terlalu tinggi makanya," jelas Ryuu lalu diikuti anggukan mengerti oleh Ara.
"Tapi, kenapa kau harus berpura-pura menjadi pacarku? Untuk apa?"
Ryuu memutar bola matanya sambil berdecak kesal, "Inilah yang membuatku malas bicara dengan orang bodoh sepertimu."
Ara hanya cengengesan mendengar sindiran ketus Ryuu.
"Jika aku berpura-pura menjadi pacarmu, ku pikir Rangga pasti menyerah untuk mendekatimu lagi. Dan kau akan terbebas darinya. Bagaimana? Kau paham kan?"
Ara membulatkan matanya karena baru mengerti apa yang Ryuu katakan. Dengan senyum lebar, Ara mengangguk-anggukkan kepalanya setuju.
"Baiklah, berarti mulai detik ini, kita resmi berpura-pura pacaran. Dan kau harus menerima semua konsekuensinya."
Setelah berucap seperti itu, Ryuu segera bangkit dari duduknya lalu berjalan meninggalkan Ara yang masih duduk terdiam di tempatnya. Tanpa Ara sadari, Ryuu tersenyum miring sambil terus berjalan meninggalkannya.
Flashback Off
"Eh? Aku melamun sebentar, dan kau sudah tertidur?" tanya Ara dalam hati ketika lamunannya terbuyarkan. Ia kaget melihat Ryuu yang mendengarkan lagu dengan earphone malah tertidur sangat pulas di sampingnya.
"Ah, sudah kuduga. Wajahmu yang sedang tertidur adalah wajah tampanmu nomor kedua setelah tatapan tajammu, hihi," batin Ara sambil tertawa kecil.
"Tapi, jika dipikir-pikir, apa ya yang dimaksud Ryuu soal aku harus menerima semua konsekuensi ketika berpura-pura pacaran dengannya? Aku tak mengerti," lanjut Ara bingung sambil terus memperhatikan wajah damai Ryuu yang tertidur.