STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 68 - Kebohongan Revina



🖤🖤🖤


Setelah sekian lama lari dari kenyataan, kini aku harus mulai bisa menerimanya.


🖤🖤🖤


"Kalau aku tak bisa membalas perasaanmu, bagaimana?" tanya Ryuu ketus.


"Hmm maka dari itu, aku mau bertanya padamu. Karena sebelumnya, aku tak pernah menanyakan hal ini," kata Ara menatap Ryuu dalam-dalam.


"Apa?"


Ara tersenyum pahit. Entah kenapa, pikirannya tertuju pada saat dia melihat Ryuu memeluk Revina di Atap Sekolah. Oh, tidak. Rasa sakit kembali menggerayangi hatinya.


"Apa tak ada sedikitpun aku di hatimu?" tanya Ara yang tentu saja membuat Ryuu tersentak kaget.


Ryuu terdiam. Sorot mata hitamnya itu menatap ke bawah, tak sedikitpun membalas tatapan Ara. Sebenarnya, jantung Ara cukup berdegup kencang menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut Ryuu. Kira-kira, Ryuu mau menjawab apa, ya?


"Al..." ucap Ryuu setelah sekian lama diam.


"Hmm?" sahut Ara dengan penuh rasa penasaran.


Baru saja Ryuu akan membuka mulutnya, tiba-tiba suara nada dering terdengar begitu nyaringvdari dalam kamar Ryuu. Saking nyaringnya, Ara bisa mendengar suara nada dering tersebut meski posisinya bersebrangan dengan rumah Ryuu.


Ryuu segera meraih ponselnya yang tak jauh dari posisinya berdiri. Sebelum menjawab telepon, Ryuu menatap Ara yang ekspresi wajahnya terlihat bertanya-tanya.


"Ini telepon dari Revina. Kita lanjutkan saja pembicaraan kita besok," kata Ryuu sebelum akhirnya dia menutup jendela dan gorden kamarnya begitu cepat. Meninggalkan Ara yang masih berdiri, terpaku memandangi jendela kamar Ryuu yang kini terpaku rapat.


"Telepon? Revina sudah berani menelpon Ryuu? Ada apa sebenarnya dengan hubungan mereka berdua?" gumam Ara bertanya-tanya lirih. Hatinya teriris lagi, entah untuk yang keberapa kalinya.


"Aku harus menyelidiki apa hubungan mereka sebenarnya!" batin Ara lalu segera menutup jendela dan gorden kamarnya.


***


SKIP


Beberapa hari kemudian...


Ara sedang mengendap-endap mengikuti Ryuu yang berjalan tak begitu jauh dari arah depannya. Hari Minggu siang ini, dia menguntit Ryuu yang akan pergi entah kemana. Ya, ia berspekulasi bahwa hari ini adalah hari kencannya Ryuu bersama Revina. Entah kenapa hatinya meyakinkan hal itu padahal ia tak tahu apa-apa.


Sebenarnya, simple sih. Dilihat dari setelan pakaian yang Ryuu kenakan, Ryuu tidak terlihat akan pergi ke Perpustakaan Kota. Dan juga, Ara tahu dari Sam bahwa hari ini Ryuu akan bertemu dengan Revina. Sebagai perempuan yang berpikiran normal, tentu saja Ara merasa Ryuu dan Revina bukan hanya bertemu, tapi juga berkencan. Atau mungkin, Revina yang mengajak Ryuu kencan dan berencana untuk menyatakan perasaannya pada Ryuu? Entahlah, Ara juga tak tahu pasti. Dirinya hanya bisa menduga-duga saja.


Kini, Ara sedang berdiri di Halte Bus. Jaraknya berdiri dengan jarak Ryuu tak cukup jauh, hanya berkisar beberapa meter saja. Namun, untungnya Ryuu tak menyadari keberadaan Ara sama sekali. Hingga pada akhirnya, Ryuu menaiki Bus dari arah pintu depan. Sedangkan Ara sengaja naik Bus dari arah pintu belakang.


"Semoga firasatku ini tak benar, Ya Tuhan," mohon Ara dalam hati dengan jantung yang mulai berdegup kencang. Hatinya cukup takut menerima kenyataan一andai saja benar bahwa Revina dan Ryuu akan berkencan hari ini. Selain takut, hatinya juga bimbang. Menguntit seseorang adalah perbuatan kriminal, bukan? Namun, jika tidak menguntit Ryuu hari ini, Ara tak akan tahu kebenaran dari hubungan Ryuu dan Revina seperti apa.


"Jika Ryuu tahu bahwa aku menguntitnya, apakah dia akan marah? Aku tahu ini perbuatan tak baik dan termasuk kriminal. Tapi, mau bagaimana lagi?" batin Ara sambil memperhatikan Ryuu di depan yang duduk di bangku Bus tak jauh dari posisi Ara duduk.


***


Di Cafe Garden...


Ara menyeruput Americano Ice miliknya perlahan. Walau pergerakannya terlihat santai, tapi matanya tak sedikitpun lepas dari arah Ryuu yang duduk di bangku Cafe tak jauh darinya. Hati Ara masih berdegup kencang, antara takut dan penasaran. Apa benar Ryuu akan berkencan dengan Revina? Tapi, kenapa mereka berkencan di Cafe? Dan juga kenapa Revina sampai sekarang belum datang? Ini sudah hampir jam 12 siang. Sedangkan Ryuu dan Ara sudah berada di dalam Cafe hampir 30 menit yang lalu.


Tak sesuai dugaan, pupil mata Ara membesar kala melihat seorang wanita anggun berumur 40 tahunan berjalan lalu duduk di hadapan Ryuu. Ara mengernyitkan dahinya bingung. Tentu saja, dia pasti bingung sekaligus kaget sekarang.


"Eh? Siapa wanita itu? Kenapa dia duduk di tempat Ryuu?" batin Ara bertanya-tanya.


"Berarti, Ryuu tak berkencan dengan Revina. Dia janjian untuk bertemu dengan Wanita asing ini. Dasar Sam, dia salah dengar apa bagaimana sih? Ucapannya itu tak bisa dipercaya."


Dari kejauhan, Ara bisa melihat Ryuu dan Wanita itu sedang berbincang. Namun, dilihat dari sorot mata dan wajah Wanita itu, Ara bisa menebak bahwa Wanita itu terlihat kaget dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Seperti tak mempercayai apa yang Ryuu ucapkan. Ah, sayang. Ara tak bisa melihat ekspresi wajah Ryuu karena posisi Ryuu duduk membelakangi Ara.


"Apa sih yang mereka bicarakan? Kenapa Wanita itu ekspresinya aneh sekali?" batin Ara masih terus bertanya-tanya.


Saat Ara sedang fokus-fokusnya memperhatikan Ryuu dan Wanita asing itu, tiba-tiba saja seorang gadis sebaya dengannya duduk di hadapannya tanpa permisi.


Ara pun tersentak kaget lalu segera merapikan poninya dengan canggung. Menutupi bahwa dirinya tak memperhatikan Ryuu dan Wanita itu sama sekali.


"Ara, kenapa kau bisa ada di Cafe ini?" tanya Revina tersenyum lebar. Menyadari rasa canggung Ara yang luar biasa.


"Sial! Kenapa aku harus bertemu dia, sih? T... Tapi, tunggu sebentar. Kenapa ada Revina sekarang? Apa ternyata Revina dan Ryuu akan benar-benar kencan hari ini? Lalu, jika memang benar, siapa Wanita yang sekarang sedang berbincang dengan Ryuu? Ah! Aku bingung sekali!" batin Ara kebingungan sendiri.


"Hei, kau tak menjawab pertanyaanku?" tegur Revina menyadarkan Ara.


Ara tertegun sekejap, lalu segera membuang rasa canggungnya dan memasang ekspresi serius juga sorot mata yang dingin.


"Kalau memang aku disini, kenapa? Ada masalah untukmu, Rev?" tanya Ara ketus.


Revina tertawa kecil melihat ekspresi Ara yang benar-benar menunjukkan bahwa gadis itu tak menyukainya. Cukup lucu, memang. Dia tak bisa memungkiri bahwa Ara pasti masih marah padanya soal Cupcake yang ia berikan waktu ultah Ara dua bulan yang lalu.


"Kau ke Cafe ini bersama Ryuu?" tanya Revina yang membuat Ara tersedak Americano Ice yang sedang dia minum.


"K...kalau iya, memangnya kenapa?" Ara balik bertanya dengan ketus.


Revina mendesah pasrah sambil menunduk, "Ah, sudah pasti sih ya, Ryuu pasti akan mengajakmu kesini. Ku pikir, dia tak akan mengajakmu lho, karena kan..." Revina sengaja menghentikan ucapannya. Dia ingin tahu bagaimana reaksi Ara.


"Karena apa?" tanya Ara mulai penasaran.


Mendengar pertanyaan Ara, Revina pun tersenyum penuh kemenangan. Lalu dengan perlahan, ia mengangkat wajahnya yang sebelumnya menunduk. Menatap lurus Ara yang sedang menatapnya penasaran.


"Karena kan... Ini pertemuan pertama Ryuu dengan Orangtuaku, walau hanya Mamahku saja sih. Karena Papahku kan sibuk di Kantor," jelas Revina mulai melancarkan aksinya.


"Pertemuan? Pertemuan untuk apa?"


Revina memasang ekspresi terkejut yang dibuat-buat. Namun, rupanya Ara tak menyadari hal itu karena rasa penasaran mengalahkan kesadarannya.


"Hah? Memangnya Ryuu belum bilang apa-apa padamu? Ryuu dan aku kan sudah berpacaran," kata Revina sekenanya.


DEG!!!


"A... Apa? Pacaran?" gumam Ara membelalakkan matanya kaget.


Revina mengangguk sambil tersenyum malu, "Iya. Hubungan kami belum terlalu lama, sih. Lagipula, wajar saja kau tidak tahu. Ryuu memang tak mau memberitahumu karena dia tahu, kau masih sangat menyukainya bukan? Tapi, melihatmu hari ini datang ke Cafe ini bersama Ryuu, ku rasa Ryuu sudah bersedia memberitahumu soal hubungan kita yang sebenarnya," jelas Revina panjang lebar.


Pikiran Ara langsung kosong seketika mendengar penjelasan Revina. Dia berhenti menyeruput Americano Ice miliknya dan memilih untuk menatap Ryuu di depan sana. Oh, tidak. Ara bisa mendengar suara hatinya mulai remuk, sangat remuk.


"Mamahku dan Ayahnya Ryuu memang berselingkuh. Tapi, aku akan memanfaatkan ini untuk bisa berbohong pada Ara bahwa aku berpacaran dengan Ryuu. Tak ku sangka, dia sepertinya percaya ucapanku. Hahaha," batin Revina penuh kemenangan.


"Eh? Kenapa Al bisa ada disini?" tanya Ryuu tersentak kaget melihat Ara yang berlari keluar dari Cafe.


Tanpa pikir panjang, Ryuu pun langsung mengejar Ara secepat kilat. Bahkan dia lupa berpamitan pada Mamahnya Revina. Entahlah, pikirannya langsung kalut saat melihat Ara yang keluar dari Cafe dengan mata berkaca-kaca.


"Al! Tunggu aku!" seru Ryuu bersusah payah mengejar Ara di depannya.


Bukannya berhenti, Ara malah mempercepat laju larinya. Selain merasa malu karena ketahuan menguntit Ryuu sampai ke Cafe, ia juga merasa kesal dan marah pada Ryuu perihal hubungannya dengan Revina.


Sebenarnya, Ara tak ingin percaya begitu saja pada ucapan Revina. Tapi, dilihat dari kedekatan Ryuu dan Revina akhir-akhir ini, juga pertemuan Ryuu dengan Mamahnya Revina一bukankah itu sangat mencurigakan? Ya, Ara tak bisa berhenti berprasangka.


BRUKKK!!!


"A... Awww!!!"


Sebuah batu berukuran sedang sukses membuat Ara tersandung ke arah depan. Syukurlah, dia masih bisa menahan tubuh kecilnya dengan lengan bagian kanannya. Karena kalau lengannya itu tak menahannya, pasti tubuhnya akan jatuh begitu saja ke tanah.


Ara pun segera bangkit. Dia tersentak kaget saat menyadari dirinya sudah berlari sampai Halte Bus. Tanpa berlama-lama, ia langsung duduk di bangku panjang Halte Bus tersebut.



"Al, kau tidak apa-apa?" tanya Ryuu sesampainya dia di hadapan Ara, dengan nafas cukup tersengal-sengal.


Ara diam. Tak berniat menjawab pertanyaan Ryuu. Sedangkan Ryuu, matanya itu menatap iba lengan kanan Ara yang penuh darah akibat gesekan dengan tanah saat tersandung tadi.




"Ayo, kita ke rumah sakit," ajak Ryuu dengan suara lembut seraya mengulurkan tangannya.


Ara hampir saja terbuai dengan suara lembutnya Ryuu. Namun, entah kenapa pikirannya langsung tertuju lagi pada Ryuu dan Revina yang memiliki hubungan spesial. Membuat hatinya mulai panas dan remuk lagi.


"Aku tak butuh bantuanmu," kata Ara ketus.


"Kau butuh bantuanku. Jika bukan aku yang membantumu, lalu siapa?"


"Aku tak butuh siapapun! Aku bisa sendiri!" seru Ara mulai kesal.


Ryuu diam seribu bahasa. Dia tak ingin mengucapkan apapun lagi, karena pasti nantinya ia dan Ara akan terus berdebat tanpa henti. Dalam diamnya, ia berpikir dengan otak super jeniusnya itu. Berpikir bagaimana caranya agar Ara mau ikut dengannya ke Rumah Sakit tanpa harus berdebat dengan gadis itu.


"Al," panggil Ryuu tak lama kemudian.


"Apa?"


"Kau kesini menguntitku, kan?"


Ara menelan ludahnya kasar. Rasa malu memenuhi dirinya.


"Iya, aku menguntitmu."


"Itu tindakan kriminal. Kau bisa dihukum pidana," ujar Ryuu dingin.


"Kenapa? Kau ingin melaporkanku pada Polisi? Silahkan!" tantang Ara kesal.


Ryuu berdecak seraya menjentik dahi Ara gemas. Hal itu tentu saja membuat Ara semakin kesal sekaligus geram.


"Aku akan memaafkanmu karena kau menguntitku. Tapi, ada syaratnya. Kau harus mau ikut ke Rumah Sakit bersamaku," kata Ryuu dengan sorot mata yang serius.


"Tidak, tidak mau!" tolak Ara cepat.


Ryuu lagi-lagi terdiam beberapa saat. Hingga pada akhirnya, ia mengingat sesuatu hal antara dirinya dengan Ara beberapa hari yang lalu. Tepatnya, saat dirinya dan Ara sedang melihat bintang jatuh.


"Al, waktu malam kemarin-kemarin, kau bertanya sesuatu kan padaku?" tanya Ryuu mulai membuka suara lagi.


"Memangnya aku bertanya apa?"


"Kau bertanya padaku, 'apa tak ada sedikitpun aku di hatimu?'. Aku belum sempat menjawab pertanyaan itu, bukan?"


DEG!!!


Ara menelan ludahnya kasar sambil membuang muka. Ia tak bisa menatap Ryuu sama sekali. Eh? Kenapa tiba-tiba Ryuu membahas topik ini? Ada apa dengannya? Ah, entahlah. Ara juga tak tahu kenapa.


"Aku akan menjawab pertanyaanmu itu jika kau ikut bersamaku ke Rumah Sakit untuk mengobati lukamu," kata Ryuu yang sukses membuat Ara menatapnya dengan cepat.


"Eh?" Ara membelalakkan matanya kaget menatap Ryuu dengan tatapan tak percaya. Jantungnya langsung berdegup kencang kala menyadari tatapan Ryuu yang begitu serius padanya.




***


HOLAAA😹😹😹


Aku udh ngga UP berapa hari sihhh??? 3 harian yaaa??? Tapi yg ngedm aku di ig banyakkk bgt wkwkwk pd nanyain


Ka, kapan Up?


Thor, UPnya doongggg ditungguuuu


Kangen Ryuu, kangen Al


Keuwuan mereka kapan nih dilanjutin? Mana lg seru-serunya karena banyak konflik wkwk


dan lain sebagainya🤣


Jadi alasan aku ngga UP itu karena aplikasi yang biasa aku pakai buat ngetik novel error. Aku harus nge-BACK UP semua data-data tulisan yang udah aku tulis sebelumnya. Dan itu makan waktu cukup lama karena gagal aja, gatau kenapa😭 Padahal plot penting dari novel STUCK IN FRIENDZONE ini ada di aplikasi ituuu tauuu😭 Udah ku tulis semua plotnya, sampai ending pula😭 Tapi, yah. Namanya musibah kan ya heuheuheu😌


Akhirnya, aku ngetik novel ini ngga di aplikasi itu lagi. Aku pakai note biasa yg ada di hpku. Semoga aja ga ikutan error yah😊 Aamin😅


Aku mau double UP, tapi satu lagi agak sorean kali ya hehehe belum di edit.


Big Love,


Meow🐾💕