
Jam pulang sekolah...
"Ra, jangan pulang dulu! Kita 'kan ada ekskul Band!" seru Sam sambil menahan pundak Ara.
Ara menoleh sambil tertawa malu, "Oh iya, aku lupa hehe."
Gadis itu lalu mengikuti Sam yang berjalan keluar kelas. Diluar, ternyata sudah ada Ryuu, Angel, dan Revina. Awalnya, Ara tersenyum manis saat melihat Ryuu. Namun senyuman itu redup ketika ia melihat Revina yang berdiri sangat dekat dengan Ryuu.
"Ayo, kita pasti sudah di tunggu Coach Jeremy!" kata Sam penuh semangat seraya berjalan lebih dulu di depan.
Mereka pun mengikuti Sam dari belakang. Sesekali-Ryuu, Revina, dan Ara bisa melihat bagaimana Sam yang menggoda Angel di belakangnya. Sungguh pemandangan yang lucu. Karna apa? Karna tak peduli seberapa keras Angel marah-marah, Sam malah terlihat begitu senang dan terus menggodanya.
"Diam kau, jelek!!!" seru Angel kesal seraya berusaha memukul punggung Sam yang ada di depannya.
Sam menghindari pukulan Angel dan tertawa, "Jelek-jelek begini, kau pasti akan suka padaku, hahaha!"
"Jangan harap, bodoh!"
"Hahaha, kita lihat saja nanti!"
Pertengkaran antara Sam dan Angel terhenti karna mereka semua sudah ada di depan ruang Band. Ryuu yang berjalan paling belakang dengan cepat membuka pintu ruang band seraya mendorong pelan Ara agar jalan lebih dulu darinya.
"Hmm, kenapa harus aku duluan yang jalan," batin Ara heran sambil berjalan masuk ke ruang Band.
Langkah kaki Ara terhenti seketika saat melihat seorang lelaki tinggi, berkulit putih, dan berambut blonde tersenyum bahagia padanya. Senyuman yang tak asing. Ara yang pelupa mencoba mengingat dengan cepat siapa orang yang ada dihadapannya itu.
DEG!!!
Ara membelalakkan matanya kaget seraya mundur beberapa langkah. Ya, dia sudah ingat sekarang.
"Rangga?!"
"Putri, akhirnya kita bertemu lagi."
Rangga tanpa aba-aba memeluk tubuh kecil Ara. Terkejut karna tak pernah dipeluk oleh laki-laki manapun selain Daddy-nya, tentu saja Ara langsung mendorong tubuh Rangga. Oh, kini gadis itu tak berani menatap Ryuu yang ada dibelakangnya. Sudah ia tebak pasti semua teman yang ada dibelakangnya terkejut melihat Ara dipeluk oleh Rangga.
Bagaimana Ara bisa menjelaskan situasi aneh ini?
"Minggir," kata Ryuu dingin seraya menyentuh kedua pundak Ara agar bergeser ke samping.
Ryuu pun duduk di kursi yang tersedia di ruang Band. Diikuti oleh Sam, Revina, dan Angel. Sedangkan Ara masih diam mematung, tak tahu harus bicara apa.
"Sudah ku duga kau se-nekat ini, Rangga," ujar Revina yang mengejutkan semua orang.
"Eh? Revina, kau mengenal Rangga?" tanya Ara kaget.
"Dia sepupuku. Kami seumuran. Dan mulai besok, dia akan bersekolah disini."
DEG!!!
Ara semakin shock mendengar ucapan Revina. Sedangkan Rangga, dia hanya diam sambil cengegesan melihat wajah terkejut Ara.
"Ehm, ehm. Ra, duduklah sini," ucap Angel sambil menuntun Ara agar duduk di sebelahnya.
Sambil duduk, Ara tak sengaja melihat ekspresi wajah Ryuu sekilas. Oh tidak, wajah menakutkan diperlihatkan Ryuu sekarang. Entahlah, apa mungkin Ryuu cemburu melihat Ara dipeluk oleh laki-laki lain? Tidak, tidak mungkin. Ara sangat yakin Ryuu tak akan mungkin cemburu pada Rangga.
"Aku juga duduk disini, ya Put," kata Rangga seraya duduk disamping Ara.
Ara tertawa canggung sambil menatap Revina disebelah Ryuu, "Kau harusnya duduk didekat sepupumu, Rangga."
"Tidak, tidak mau. Aku nyaman denganmu, makanya aku ingin selalu di dekatmu."
Blush~
Pipi Ara merah seketika mendengar ucapan Rangga. Angel yang ada di samping Ara hanya menggeleng-gelengkan kepala karna menganggap ucapan Rangga adalah gombalan semata. Tapi kenapa Ara bisa terlihat begitu bawa perasaan pada ucapan ucapan Rangga?
"Selamat siang menjelang sore, anak-anak!" seru Coach Jeremy seraya melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi ruang Band.
"Apa dia selalu hobi mengumpat di kamar mandi, ya?" bisik Sam di telinga Angel.
Angel menahan tawanya, "Diam kau, jangan sok akrab denganku."
"Baiklah, aku tidak mau ya banyak basa-basi. Kita langsung ke intinya saja, oke?"
Mereka semua yang ada disitu mengangguk. Terkecuali Ryuu yang tiba-tiba mengangkat tangan kanannya.
"Disini ada orang asing, Coach," kata Ryuu ketus seraya melirik Rangga sekilas.
Coach Jeremy tertawa, "Hahaha, sebenarnya dia bukan orang asing sih bagiku. Dia ini anaknya sahabat karibku. Dan mulai besok, dia akan pindah ke sekolah ini."
Ryuu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil membuang muka. Sadar akan hal itu, Sam segera ikut mengangkat tangan kanannya.
"T-tapi, tetap saja Coach! Dia 'kan bukan anggota Band kita!" tambah Sam.
"Hmm, soal itu, bagaimana ya-"
Rangga berdiri dari tempatnya duduk. Sambil memasang senyuman manis, ia pun berpamitan pada semua yang ada disitu. Termasuk pada Ryuu, walau dari awal Ryuu terlihat sangat tak suka dengan kehadirannya. Entahlah, Rangga juga tidak tahu pasti.
Sebelum menutup pintu ruang Band, Rangga menghentikan langkahnya sambil menatap Ara dalam-dalam.
"Sekedar info saja, ya. Aku ke ruangan ini bukan karna ingin ikut Band. Tapi aku ingin bertemu Putri. Oke, dah!" seru Rangga seraya keluar dan menutup pintu ruang Band.
Angel dan Sam menatap Ara yang pipinya semakin memerah. Satu pertanyaan terlintas di benak Angel dan Sam. Putri? Ara dipanggil Putri oleh Rangga yang tak mereka kenal itu? Tidak aneh juga sih. Karna nama belakang Ara adalah Putri. Altheara Ananda Putri. Tapi, tetap saja. Rasanya begitu asing dan baru kali ini ada yang memanggil Ara itu adalah Putri. Ya, dari SMP hingga sekarang, tak ada yang memanggilnya selain nama panggilannya, Ara.
"Baik, kita lanjutkan ya! Jadi begini, rencananya 2 minggu lagi sekolah SMA lain akan mengadakan Acara Musik Festival."
"Lalu, Coach?" tanya Sam penasaran.
"Anggota Band dari anak IPS yaitu vokalisnya mengalami cedera pita suara. Jadi, untuk 3-4 bulan ke depan dia tidak boleh bernyanyi dulu. Nah, disini kabar baiknya untuk kalian semua!"
"Kabar baik?" kali ini Ara ikut bertanya.
"Iya, kabar baik! Karna sekolah kita sudah terlanjur membayar uang iuran ikut festival musik tersebut, jadi uang iuran itu tidak bisa diambil kembali. Nah, bagaimana kalau kalian saja yang ikut festival musik itu? Hitung-hitung untuk meningkatkan popularitas kalian juga kan?"
DEG!!!
Ara, Angel, Sam, dan Revina terlihat sangat shock dan terkejut mendengar penjelasan Coach Jeremy. Terkecuali Ryuu yang menampakkan ekspresi datar. Melihat anak muridnya terkejut, Coach Jeremy tertawa terbahak-bahak.
"Coach, ayolah! Waktu 2 minggu itu sangat sebentar sekali! Kami bahkan belum belajar apa-apa di Band ini!" protes Ara paling duluan diantara yang lain.
"Benar! Benar tuh, Coach! Kalau penampilan kami nanti jelek di festival musik itu, kami bisa menjelekkan nama SMA ini. SMA Soetomo!" tambah Angel, diikuti oleh anggukan Sam yang setuju dengan ucapan Angel.
Tawa Coach Jeremy terhenti seketika. Entah kenapa, suasana di ruang Band jadi aneh. Sama seperti anehnya ekspresi Coach Jeremy yang berubah menjadi datar. Bukan, lebih tepatnya menyeramkan.
"Itulah tantangan dalam suatu Band. Waktu 2 minggu untuk latihan terbilang cukup lama. Dulu, saat aku SMA, aku pernah bersama Band-ku diberi waktu latihan hanya 3 hari saja. Kalian seharusnya bersyukur masih diberi waktu 2 minggu untuk latihan! Bukannya mengeluh seperti ini," imbuh Coach Jeremy dengan tegas.
"Baik, aku setuju, Coach," kata Ryuu tiba-tiba.
Ara langsung menatap Ryuu kesal, "Hei, pikirkan juga anggota yang lain!"
Ryuu bangkit dari tempat duduknya. Sambil menatap tajam Ara, ia dengan cepat berjalan dan berdiri di samping Ara yang masih duduk. Melihat itu, tentu saja Ara ikut berdiri mencoba menantang Ryuu.
"Apa, hah?" tanya Ara ketus.
"Coach, jika kami berhasil latihan selama 2 minggu dan penampilan kami bagus di festival musik nanti, aku punya 1 permintaan," ucap Ryuu tapi matanya tetap menatap Ara tajam.
"Apa permintaanmu?" tanya Coach Jeremy.
"Aku ingin keluar dari Band ini."
Semua yang ada disitu terkejut setengah mati, "Eehhh??!!"
***
Malam harinya..
"Ryuu menyebalkan! Kau keterlaluan! Ugh! AKU KESAL PADANYA!"
Ara memukul-mukul bantalnya kesal sambil berguling-guling di kasur empuknya. Bagaimana ia tak kesal? Entah angin dari mana, Ryuu mengiyakan latihan Band yang hanya diberi waktu 2 minggu. Bukan hanya itu saja. Ryuu juga berkata jika latihan band-nya itu sukses dan bagus pada saat penampilan festival nanti, ia akan keluar dari Band!
Sungguh, Ara tak mengerti jalan pikiran Ryuu.
"Seharusnya aku tahu dari awal! Kau itu masuk Band terpaksa karna ku pinta, 'kan? Kau tak pernah serius ikut ekskul band ini!"
TING!
Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Ara. Tanpa berlama-lama, Ara membuka isi pesan itu.
Ara dengan cepat membalas pesan Angel tersebut.
♡Altheara Kawaii♡ : Belum, Ngel. Ada apa?
Tak lama menunggu, balasan dari pesan Ara pun masuk ke ponselnya.
☆Angelica☆ : Saat pulang ekskul Band tadi, kenapa kau tak pulang bersama Ryuu?
♡Altheara Kawaii♡ : Ryuu bilang, dia ada urusan. Jadi aku pulang sendiri, deh.
☆Angelica☆ : Bohong. Ryuu bohong padamu, Ra. Dia malah pergi bersama Revina ke taman belakang sekolah.
♡Altheara Kawaii♡ : Ah masa sih? Ryuu selama ini tak pernah berbohong padaku. Mungkin kau salah lihat saja, hahaha :D
☆Angelica☆ : Aku serius, Ara!!!
☆Angelica☆ : Kau harus percaya padaku! Ryuu dan Revina sangat mencurigakan, mereka bicara sesuatu yang tidak aku mengerti.
♡Altheara Kawaii♡ : Mereka membicarakan apa?
Lama sekali Ara menunggu balasan dari Angel. 10 menit kemudian, Angel baru membalas pesan Ara. Entah apa yang ia lakukan sampai membuat Ara menunggu lama.
☆Angelica☆ : Maaf ya Ra, aku disuruh ke super market oleh papahku. Besok saja ya aku ceritanya di sekolah, Bye!
Ara menepuk jidatnya. Duh, padahal dia sudah sangat penasaran. Tapi, Angel malah menggantung dirinya seperti ini. Ara pun akhirnya mencoba untuk tidur. Namun niatnya itu terurungkan karna mendengar suara notif pesan lagi dari ponselnya.
TING!
"Duh, Angel! Katanya kau mau ke super market, tapi kenapa-"
DEG!!!
●Nakajima Ryuu● : Al
Ara menelan ludahnya kasar saat melihat isi pesan tersebut. Eh? Ada angin apa Ryuu mengirim pesan padanya? Padahal, Ryuu hanya mengirim pesan dengan 1 kata saja. Tapi itu sukses membuat jantung Ara bisa copot dari tempatnya.
♡Altheara Kawaii♡ : Iya, Ryuu. Ada apa? :)
●Nakajima Ryuu● : Hari minggu nanti, aku akan menemanimu belajar pelajaran yang tidak kau kuasai. Tidak ada penolakan.
♡Altheara Kawaii♡ : Eh? Belajar? Dimana?
"Duh, hari minggu kan waktunya istirahat di rumah. Kenapa harus pakai belajar segala sih?" batin Ara mulai sebal.
●Nakajima Ryuu● : Dah, selamat malam.
Ara mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia pun dengan segera menarik selimut dan berbaring di kasurnya. Oh tidak, sepertinya malam ini ia akan susah tidur karna ucapan Angel yang membuatnya penasaran. Dan juga isi pesan Ryuu yang memaksanya harus belajar di hari minggu.
Ara tidak tahu harus bicara apa lagi selain menutup matanya dan mencoba untuk tidur sebisa mungkin.
***
"Selamat pagi, my sweety honey lovely!"
Angel meninju pipi Sam saat laki-laki itu mencoba merangkulnya dari samping. Tanpa bicara apapun, Angel pergi meninggalkan Sam yang tertawa cekikikan. Entah kenapa, tinjuan Angel di pipinya malah terasa seperti usapan lembut saja. Dan menurutnya, usapan lembut itu terasa penuh cinta di pipinya.
Dasar Sam yang aneh.
"Selamat pagi, Ara!" seru Sam sesampainya di kelas.
"Berisik!" kesal Angel seraya duduk di bangkunya.
"Cieee, kau cemburu ya aku mengucapkan selamat pagi untuk Ara?"
"Jangan mimpi, bodoh!"
"Uhhh, bilang saja kau cemburu hahaha.."
Ara hanya tertawa melihat pertengkaran kedua temannya itu. Namun, tawa itu tak berlangsung lama karna Ara mengingat suatu hal yang penting. Dengan cepat, Ara langsung menghampiri Angel dan duduk di sampingnya.
"Ngel, kau harus cerita padaku! Cepat, mumpung Ryuu dan Revina belum datang ke kelas!" seru Ara yang dari sorot matanya terlihat sangat penasaran tingkat akut.
"Lho? Kau tak berangkat bersama Ryuu pagi ini?"
Ara menggeleng, "Tidak. Aku berangkat duluan, cepat ceritakan Ngel!"
Angel pun mengangguk. Sambil menarik napas panjang, ia mulai bercerita...
Flashback, jam 17:44 sore kemarin..
Di taman belakang sekolah..
Angel berjalan melewati taman belakang sekolah. Pasalnya, ia baru saja keluar dari toilet yang letaknya dekat dengan taman. Namun, langkah kakinya terhenti saat melihat Ryuu dan Revina yang ada di taman tersebut. Karna penasaran, Angel pun bersembunyi di balik pohon dan mulai menguping pembicaraan mereka.
"Kembalikan padaku, aku tahu kau yang selama ini mengambilnya dariku," kata Ryuu ketus.
"Oke, aku akan kembalikan padamu. Tapi apa kau yakin? Karna jika kau mengambilnya dariku, aku akan memberitahukan soal ini pada Ara!"
"Terserah kau saja. Sekarang aku sudah tak peduli kau mau memberitahukan pada Ara atau tidak."
"Baiklah, kalau itu maumu! Aku akan memberitahukan hal ini bukan hanya pada Ara, tapi juga 1 sekolah ini!"
"Ya, silahkan. Lakukan sesukamu."
Ryuu membalikkan badan dan berniat untuk pergi. Namun, tiba-tiba saja Revina memeluk Ryuu dari belakang. Oh, jangan tanya Angel yang sekarang sudah sangat shock melihat fenomena itu.
Ternyata, Ryuu tidak diam. Laki-laki itu dengan cepat berbalik dan mendorong tubuh Revina pelan. Detik selanjutnya, Ryuu benar-benar pergi meninggalkan Revina yang diam mematung. Persis seperti orang bodoh yang ditolak cintanya.
Di balik pohon, Angel tertawa kecil karna melihat Revina yang terlihat sangat menyedihkan sekarang. Namun, tetap saja Angel tak mengerti apa yang sebenarnya Revina dan Ryuu bicarakan. Benar-benar mencurigakan.
Flashback Off
"Hmph! Berani-beraninya dia memeluk Ryuu!" seru Ara sebal sambil memanyunkan bibirnya sebal.
Angel mencoba menenangkan Ara, "Tenanglah, Ra. Aku yakin Ryuu tak ada perasaan apapun pada Revina."
"Tapi, tetap saja mereka berdua bawa-bawa namaku dalam pembicaraan mereka. Bukankah itu sangat mencurigakan? Jangan-jangan-"
"Jangan-jangan, Ryuu dan Revina berpacaran? Karna Ryuu tak mau kau kecewa, ia meminta Revina untuk berjanji merahasiakan hal itu. Tapi, Revina tetap ingin dan bersikeras memberitahukan hal itu padamu. Makanya, Ryuu marah pada Revina karna cewek itu mau melanggar janjinya," jelas Sam yang entah sejak kapan ada di belakang Ara dan Angel.
Ara membelalakkan matanya kaget, "Sam! Jadi selama ini kau sudah tahu?!"
"Tidak, aku hanya menebak saja setelah mendengar cerita dari Angel tadi! Hahaha.." kata Sam sambil tertawa terbahak-bahak.
Angel dengan cepat meninju pipi Sam untuk yang kedua kalinya. Melihat itu, Ara cukup terkejut. Namun, ia merasa puas karna keinginannya sudah dilakukan oleh Angel terlebih dahulu.
"Jangan asal menyimpulkan, idiot!" seru Angel ikut kesal seperti Ara.
Sam mengangguk-angguk sambil tetap tertawa, "Kalau kau meninjuku untuk ketiga kalinya, kau harus berpacaran denganku ya!"
"Jangan harap, dasar gila!"
Tawa Sam terhenti seketika saat melihat kedatangan Ryuu di kelas. Dengan secepat kilat, ia menyuruh Ryuu agar segera duduk di bangkunya. Sedangkan Ara dan Angel mencoba mengobrol seperti biasa agar Ryuu tak curiga.
"Ryuu, tumben kau kesiangan. 2 menit lagi bel masuk berbunyi, lho!" kata Sam memulai pembicaraan.
"Aku tak membawa sepedaku," jawab Ryuu datar.
Tak ada hujan, tak ada angin. Tiba-tiba Sam tersenyum penuh kemenangan. Perlahan tapi pasti, ia berjalan mendekati Angel dan Ara.
"Ryuu, tahu tidak? Kemarin sore..."
Mata Sam melirik Angel sekilas. Sadar akan hal itu, Angel segera melotot pada Sam. Angel tahu laki-laki itu pasti akan membocorkan sesuatu pada Ryuu. Sungguh biadab, menurutnya.
"Ada apa, kemarin sore?" tanya Ryuu.
"Angel kan menguping-"
BRUGGHH!!!
Tanpa sadar, Angel kembali meninju pipi Sam. Tapi, kali ini Sam tidak tertawa seperti yang sebelum-sebelumnya. Melainkan tersenyum penuh kemenangan pada Angel. Ara yang ada di sebelah Angel pun menepuk jidatnya. Ia sadar apa yang dilakukan Angel sekarang adalah sebuah kesalahan dalam hidup.
"Selamat, hari ini kau resmi jadi pacarku. Hehe," ujar Sam yang tetap mempertahankan senyumannya.
"TIDAKKK!!!"