
🖤🖤🖤
Kau orang yang paling tak bisa jujur dengan perasaanmu sendiri.
Dan itu pasti berat untukmu, kan?
🖤🖤🖤
Pulang sekolah sore ini, Ara mengumpulkan tekad dan keberanian untuk berbicara pada Ryuu tentang kesalahpahaman kemarin. Berkat info dari Sam, Ara tahu bahwa sore ini Ryuu berada di Perpustakaan Sekolah. Tanpa berlama-lama lagi, ia pun segera berlari untuk mendatangi Ryuu disana.
"Jantungku berdebar sekali. Aku takut ia tak mau mendengarkan penjelasanku. Apalagi, ia bilang tak mau bicara atau melihatku lagi," batin Ara sambil terus berlari ke Perpus.
Sesampainya di depan pintu Perpus yang terbuka lebar, mata coklat Ara mencari-cari dimana keberadaan Ryuu.
"Dimana sih Ryuu?" batinnya seraya berjalan masuk ke dalam Perpus yang memang sebentar lagi akan tutup.
DEG!!!
Langkah kaki Ara terhenti. Ia dengan cepat bersembunyi di balik rak buku yang besar一tatkala melihat Ryuu dan Revina sedang duduk berduaan di bangku panjang Perpus.
"Eh? Sedang apa mereka berduaan disini?"
Ada perasaan kesal dan cemburu saat Ara melihat Ryuu dan Revina yang bisa mengobrol dengan santai. Dan rasa kesal juga cemburunya itu bertambah saat ia mendengar percakapan dua orang tersebut dari jarak tak begitu jauh.
"Aku sudah bilang pada Mamahku, Ryuu. Hari Minggu nanti kau akan mempertemukan Ayahmu dan Mamahku, kan? Tapi entah kenapa, Mamahku menolak hal itu. Ia tak mau bertemu dengan Ayahmu," ujar Revina yang sukses membuat Ara bertanya-tanya.
"Eh? Orangtua mereka akan saling bertemu? Untuk apa?" batin Ara bingung.
"Kenapa Mamahmu tidak mau? Bukankah tak ada hubungan apa-apa antara Mamahmu dengan Ayahku?" tanya Ryuu ketus.
Revina menggeleng pelan sambil menunduk, "A-aku tidak tahu, Ryuu."
Tak puas dengan jawaban Revina, Ryuu dengan cepat menarik dagu gadis itu agar menatapnya lurus.
"Kau...."
Revina menelan ludahnya kasar saat menyadari tatapan Ryuu yang sangat tajam padanya.
"....menyembunyikan sesuatu dariku, ya?" sambung Ryuu dingin.
"A-aku bingung mau menjelaskannya padamu bagaimana, Ryuu," kata Revina seraya melepaskan jari Ryuu yang terpaut di dagunya.
"Jelaskan padaku. Aku tak ingin masalah keluargaku dan keluargamu semakin rumit."
"Ta.. Tapi..."
"Jelaskan padaku, Revina," kata Ryuu tegas.
Bukannya menuruti ucapan Ryuu, Revina malah berlari dengan cepat keluar Perpus. Meninggalkan Ryuu yang masih duduk di bangku. Tak ada pilihan lain, mau tak mau Ryuu harus mengejar Revina yang kabur tersebut.
"Duh, kenapa mereka jadi lari-larian seperti ini sih?" tanya Ara bingung seraya ikut berlari mengikuti Ryuu dari belakang.
Setelah sekian lama berlari mengejar Revina, akhirnya Ryuu bisa menahan tangan gadis itu agar tak kabur lagi. Sedangkan Ara kembali bersembunyi, berniat untuk menguping percakapan mereka lagi.
"Jelaskan padaku. Apa susahnya sih?" tanya Ryuu memulai kembali percakapan. Ia benar-benar kesal sekaligus heran dengan apa yang Revina pikirkan.
Revina menunduk sambil terisak. Bukannya menjawab, ia malah menangis tersedu-sedu di hadapan Ryuu. Yang malah semakin membuat Ryuu dan Ara bingung.
"Kenapa kau menangis?" tanya Ryuu yang juga mewakilkan pertanyaan Ara.
"O.. Orangtua kita benar-benar berselingkuh, Ryuu!" seru Revina sambil menyeka air mata yang terus-menerus keluar dari pelupuk matanya.
DEG!!!
Mata Ara terbelalak lebar mendengar hal itu. Ia benar-benar terkejut setengah mati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Ini benar-benar diluar dugaannya yang sebelumnya macam-macam terhadap Ryuu dan Revina.
"Mamahmu bilang padaku di Cafe waktu itu, katanya ada yang memasukkan fotonya ke dalam tas kerja Ayahku. Dan orangnya adalah Pak Jean. Aku benar-benar mengingat ucapan Mamahmu itu."
"Lalu, kenapa kau sangat yakin mengatakan bahwa Orangtua kita benar-benar berselingkuh? Kau ada bukti darimana?" sambung Ryuu heran. Belum sepenuhnya mempercayai kata-kata Revina.
"Aku mendengar percakapan mereka di telfon kemarin malam. Dan saat pagi tadi, aku membuka ponsel Mamahku dan menemukan pesannya bersama Ayahmu一Pak Vino. Mereka benar-benar sedang menjalin hubungan, Ryuu!" jelas Revina sambil terus menangis.
"Ini, buktinya jika kau tak percaya. Aku sudah memotret percakapan mereka di ponselku."
Revina menyodorkan ponselnya pada Ryuu. Dengan cepat, Ryuu mengambil ponsel itu dan melihat apa yang ada di layar. Terlihat banyak percakapan pesan yang sangat romantis antara Mamah Revina dan Ayah Ryuu. Benar-benar seperti dua pasangan yang sedang dimabuk cinta.
Ryuu tak bisa berlama-lama melihat isi percakapan tersebut. Ia dengan cepat memberikan kembali ponsel Revina pada si empunya. Speechless, ia benar-benar tak bisa berkata apa-apa lagi. Hatinya sangat hancur mengetahui kebenaran yang sebenarnya. Ya, jika sudah begini, mau tak mau一terima atau tidak terima一keluarga Ryuu dan Revina pasti akan berantakan tak lama lagi.
Dan mereka harus siap menerima itu semua meski dengan hati yang tak siap.
Ryuu pun membalikkan tubuhnya lalu berjalan meninggalkan Revina. Sedangkan Revina kembali menangis, membiarkan Ryuu pergi begitu saja. Melihat hal itu, tentu saja Ara tak bisa diam di tempatnya. Tanpa pikir panjang ia langsung berlari ke parkiran sekolah, berniat menemui Ryuu disana.
***
"R-ryuu..."
Suara Ara rasanya tercekat di tenggorokannya. Di parkiran sekolah一tepatnya di bawah pohon beringin一Ryuu terduduk lemah sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Ya, untuk pertama kalinya dalam hidup Ara, ia tak pernah melihat Ryuu begitu se-menyedihkan ini. Ryuu yang ia kenal tak pernah menunjukkan emosinya. Emosi senang, sedih, marah, selalu laki-laki itu sembunyikan dari siapapun.
Awalnya, Ara memang berniat untuk mencegat Ryuu di parkiran sekolah. Namun, melihat Ryuu seperti ini, ada rasa ragu dihatinya. Jika ia sekarang mendekati Ryuu, apakah Ryuu akan merasa tenang dengan kehadirannya? Ya, ia takut kalau kehadirannya itu justru malah membuat suasana hati Ryuu semakin hancur.
Apa yang harus Ara lakukan?
Tak lama kemudian, Ryuu terlihat bangkit dari duduknya dan segera berjalan menuju sepeda yang ia parkir. Sepertinya, Ryuu tak menyadari kehadiran Ara yang berdiri tak begitu jauh darinya.
"Aku harus menghibur Ryuu di saat-saat seperti ini. Bagaimanapun, pasti masalah ini benar-benar membuatnya terpukul," batin Ara iba.
Perlahan tapi pasti, Ara pun berjalan menghampiri Ryuu. Namun, tinggal 1 langkah lagi agar berada disamping Ryuu一 laki-laki itu segera menoleh ke arah Ara dengan tatapan yang super dingin.
"R-ryuu..." panggil Ara lirih.
Ryuu menatap Ara beberapa detik. Lalu membuang muka seolah tak mau menggubris kedatangan Ara. Ia dengan santai segera menaiki sepedanya.
"Ryuu! Tunggu dulu! Aku mau bicara!" seru Ara menahan agar Ryuu tak mengayuh pedal sepedanya.
Ryuu menuruti ucapan Ara. Namun, ia tak sedikitpun melihat wajah sahabatnya itu dan lebih memilih menatap objek lain di depannya.
"Aku... tadi mendengar percakapanmu dengan Revina, Ryuu," kata Ara memulai percakapan.
Ryuu tetap diam tak bergeming.
"Kenapa kau tak pernah cerita padaku soal ini?"
"Aku tahu, mungkin kau tak ingin bercerita padaku agar aku tak ikut memikirkan masalah keluargamu ini. Tapi, setidaknya dengan kau bercerita, beban pikiranmu tak akan serumit ini."
"Lagipula, bukankah kita ini masih bersahabat? Mengapa kau tak menceritakan segala keluh kesahmu pada sahabatmu?"
Ryuu tetap saja diam meski Ara terus berbicara. Tak ada tanda-tanda laki-laki itu akan membuka suara. Tatapannya tetap lurus ke arah depan tanpa sedikitpun menatap Ara.
"Ryuu, jawab aku!" Nada bicara Ara tak sengaja meninggi karena merasa ucapannya tak dianggap oleh Ryuu.
"Bukankah sudah kubilang kemarin sore? Aku tak mau melihat ataupun berbicara denganmu lagi," Ryuu membuka suara yang sukses membuat hati Ara tertohok mendengarnya.
Setelah berkata seperti itu, Ryuu pun segera mengayuh pedal sepedanya一meninggalkan Ara yang terpaku di tempatnya. Mata Ara berkaca-kaca, ia benar-benar tak tahu harus apa jika hubungannya dengan Ryuu seperti ini. Ia ingin mengklarifikasi dan menjelaskan pada Ryuu perihal hubungannya dengan Rangga一dan tentang ciuman yang Ryuu tuduh padanya.
Namun, disisi lain, ia juga ingin menemani Ryuu yang kini sedang rapuh. Ia ingin Ryuu menceritakan semuanya padanya. Tapi sepertinya nihil. Hati Ryuu benar-benar tertutup sekarang. Mustahil ia bisa mendekati Ryuu lagi karena tadi saja, kedatangannya tak disambut baik oleh Ryuu.
"Kau orang yang paling tak bisa jujur dengan perasaanmu sendiri. Dan itu pasti berat untukmu, kan?" batin Ara dalam hati.