STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 9 - Hadiah



"Cepat jalannya! Lambat sekali."


Ara berjalan menaiki tangga bambu buatan dengan mati-matian. Jangan tanya Ryuu ada dimana. Tentu saja laki-laki itu sudah sampai di paling atas anak tangga. Ia hanya berdiri memperhatikan Ara yang masih di bawah.


Oh, Ara yang malang.


"Aku sudah tak kuat lagi," keluh Ara yang nafasnya sudah tersengal-sengal.


Ryuu memutar bola matanya, "Kau sendiri yang bersemangat ingin ke tempat camping ini. Tapi malah kau juga yang mengeluh."


"Dasar aneh," tambah Ryuu yang membuat Ara semakin ciut dibuatnya.


Ara berusaha tetap semangat menaiki anak tangga. Dalam hati, andai saja ia tahu tempat campingnya menanjak seperti ini, pasti ia tak akan mau disuruh survei kesini. Pasalnya, Ara memang paling tak bisa yang namanya jalan menanjak.


Karna pandangan Ara hanya terfokus ke arah Ryuu yang sudah di atas, tanpa sadar Ara menginjak kayu yang entah dari mana asalnya.


"AWWW!!!"


Ara langsung meringis kesakitan seraya duduk di anak tangga. Ia begitu terkejut melihat batang kayu yang runcing menancap di sepatunya.


"Ryuu! Bantu ak-"


"Bodoh, kau ini kenapa sih?"


Ara cukup terkejut melihat Ryuu yang sudah berdiri di belakangnya. Sahabatnya itu pun segera duduk di samping Ara sembari melihat kaki Ara yang malang tertancap kayu runcing.


"Sini, ku cabut."


"Ja-jangan!!!"


Ryuu menatap Ara sinis, "Kalau tidak dicabut, bisa infeksi."


"Tapi pasti sakit, kan?" tanya Ara dengan mata berkaca-kaca.


"Sakitnya sebentar, kok. Malah jika tidak dicabut, akan semakin parah," jelas Ryuu mencoba meyakinkan.


Ara terdiam. Rasa sakit yang menjalar di kakinya memang terasa menyiksa. Namun, ia terlalu takut untuk mencabut kayu dari kakinya itu. Walaupun Ryuu yang akan mencabutnya, tetap saja ia takut.


"Lihat, keluar darah dari sepatumu."


Ara membelalakan matanya kaget, "Duh, aku harus bagaimana ini?"


"Sudah kubilang, lebih baik dicabut saja kayu itu."


"Ti-tidak mau.."


"Kau ini memang keras kepala, ya."


Ara menunduk, air matanya yang ia tahan sedari tadi keluar begitu saja. Tak bisa dipungkiri, tertusuk kayu runcing memang sakit bukan? Apalagi jika tertusuknya di kaki. Manusia lemah seperti Ara sudah pasti tak bisa menahan rasa sakit itu.


"Begini saja. Jika kau membolehkanku mencabut kayu dan mengobati kakimu itu, kau akan ku beri hadiah," ucap Ryuu tiba-tiba.


Ara menaikkan alisnya bingung, "Hadiah?"


"Iya, hadiah."


Jantung Ara sebenarnya berdebar mendengar kata 'hadiah'. Pikirannya langsung melayang kemana-mana sekarang.


"Aku yang akan memutuskan hadiahnya apa, bukan dirimu," kata Ryuu seolah membaca pikiran Ara.


"Y-ya sudah. Baiklah, aku mau jika ada hadiah."


"Jika ada hadiah, kau baru mau. Seperti anak kecil saja," gumam Ryuu pelan.


"A-apa? Kau bicara apa, Ryuu?" tanya Ara yang tak mendengar jelas ucapan Ryuu.


"Tidak. Bukan apa-apa. Ya sudah, ku cabut ya."


"Tutup matamu," sambung Ryuu cepat.


Ara pun menutup matanya. Bisa ia rasakan tangan Ryuu yang menyentuh sepatunya-kakinya sekarang. Dengan perlahan, Ryuu menarik kayu tersebut dan melemparnya ke tempat yang aman. Bukan di tengah tangga seperti tadi.


Ara merasakan kakinya berdenyut. Rasanya begitu ngilu dan perih. Sambil menggigit bibir menahan tangis, Ara membuka matanya.


"Sudah?" tanya Ara dengan mata berkaca-kaca.


"Sudah. Ayo, lanjut jalan."


Ryuu berjalan duluan di depan Ara. Melihat itu, Ara segera bangkit berniat menyusul Ryuu. Namun, baru saja satu langkah, Ara langsung berteriak kesakitan.


"Ryuu! Aku tak bisa berjalan! Kaki kananku sakit!"


Ryuu menoleh ke belakang. Sambil menghembuskan napas, ia berjalan mendekati Ara kembali. Namun, anehnya Ryuu membelakangi Ara sambil berjongkok.


"Naiklah," kata Ryuu singkat.


"Eh? Kau yakin?"


"Ku hitung sampai tiga. Jika belum naik juga, ku tinggalkan kau," jawab Ryuu sinis.


"Satu..."


"Dua..."


"Ti-"


HUP!!!


Ara dengan cepat naik ke punggung Ryuu. Tentu saja ia tak akan menyia-menyiakan kesempatan itu, bukan? Detik selanjutnya, Ryuu pun kembali berjalan menaiki tangga sambil menggendong Ara di punggungnya.


Ara melingkarkan tangannya di pundak Ryuu sambil menangis tersedu-sedu. Jujur saja, rasa sakit di kakinya itu makin lama makin terasa sakit.


"Di atas nanti, aku akan obati kakimu."


"Eh? Memangnya kau bawa P3K?"


"Aku ini ketua basket. Banyak anak basket yang kaki dan tangannya terluka akibat latihan. Jadi, aku selalu siapkan P3K di tasku."


Tangisan Ara semakin kencang, "Kau ini walaupun menyebalkan tapi perhatian juga ya pada anggota basketmu. Huhuhu.."


Ryuu berdecak kesal, "Diamlah. Kau jelek kalau menangis."


Ajaib. Tangisan Ara seketika berhenti. Membuat Ryuu malah merasa heran pada sahabatnya itu. Tumben sekali Ara menurut padanya.


"Hehehe.. hihihi..."


Ryuu menghentikan langkahnya karna risih mendengar Ara yang cekikikan layaknya anak kecil.


"Tadi menangis, sekarang tertawa. Kau ini kenapa, sih?" tanya Ryuu sebal sekaligus aneh.


"Ti-tidak kok. Aku jadi ingat sesuatu, hehe."


Ryuu kembali berjalan menaiki tangga, "Ingat apa?"


"Dulu, saat kita baru masuk SMP, kau juga pernah berkata seperti itu."


"Berkata apa?"


"Ih! Tadi! Kau berkata 'Diamlah. Kau jelek kalau menangis', begitu," ujar Ara seraya memperagakan nada dingin Ryuu.


"Tidak usah di peragakan juga kali," batin Ryuu dalam hati.


"Lalu?"


"Lalu, aku pun menangis di atas loteng sekolah. Tak kusangka kau akan mengikutiku ke loteng dan berkata 'Diamlah. Kau jelek kalau menangis.' Hahaha. Kau begitu sok tegar saat itu padahal kau sendiri sedih 'kan karna tak terpilih jadi ketua kelas?"



Ryuu menggeleng-gelengkan kepalanya, "Aku tak ingat apa yang kau katakan."


"Ih! Kau ini!" seru Ara sebal sambil memajukan bibirnya.


"Hebat kau bisa mengingat hal seperti itu. Kalau aku, mungkin tak akan bisa."


"Hmm, aku hebat, bukan?"


Ryuu tersenyum sinis sambil menoleh ke arah Ara, "Ya, karna aku hanya akan mengingat hal yang penting saja. Kalau tak penting, tak ada gunanya ku ingat-ingat."


Mendengar itu, Ara membelalakan matanya sambil mencubit pipi Ryuu pelan dari belakang. Ia begitu gemas sekaligus sebal pada sahabatnya itu. Ya, meskipun sebenarnya Ara tahu, bahwa Ryuu tak akan mungkin sedikitpun melupakan apapun yang terjadi di antara mereka.


🐱🐻🐱


"Wah, tempatnya bagus sekaliii!!!"


Ara membulatkan matanya melihat pemandangan sekitar tempat camping. Begitu hijau, begitu asri, dan begitu menenangkan di matanya. Memang benar kata pepatah, manusia harus bersakit-sakit dahulu baru bersenang-senang kemudian.


"Kita harus foto tempat camping ini dan kirim ke Mommy dan Bunda, Ryuu!" seru Ara sambil mengambil ponsel di jaketnya.


"Kita cari tempat duduk dulu kalau begitu."


Ryuu yang masih menggendong Ara pun berjalan menyusuri lokasi tempat camping. Berhentilah ia di sebuah batu besar dan segera menurunkan Ara disitu.


"Bukalah," ujar Ryuu yang seketika membuat pipi Ara memerah.


"Buka sepatumu, maksudku," sambung Ryuu sambil berdecak sebal.


Ara pun membuka sepatunya. Betapa terkejutnya ia melihat darah yang keluar cukup banyak dari kakinya. Sambil meringis, ia menatap Ryuu dalam-dalam.


"Obatinya jangan pakai alkohol, ya?"


Ryuu menggeleng sambil membuka tasnya dan mengambil kotak P3K, "Bodoh. Kalau tak pakai alkohol, kakimu akan lama sembuhnya."


"Ya sudah, deh. Iya," ucap Ara pasrah.


Dua menit kemudian, kaki Ara sudah terbungkus kain kasa dan plester. Ryuu menyarankan agar Ara tak memakai sepatunya dulu. Karna jika kakinya kena tekanan sepatu, lukanya pasti tak akan kering dan lama sembuh.


"Kau sudah seperti dokter saja, ya. Hahaha," kata Ara tertawa sambil menepuk pundak Ryuu pelan.


"Siapapun pasti bisa mengobati luka kecil seperti ini. Bukan hanya dokter saja yang bisa," ucap Ryuu sinis yang membuat tawa Ara berhenti seketika.


"Ah, iya! Aku akan ambil foto tempat camping ini dan mengirimkannya pada Bunda dan Mommy. Mereka pasti senang melihat tempat campingnya sama seperti foto di instagram!" seru Ara bersemangat sambil membuka aplikasi kamera di ponselnya.


CKREKKK!


CKREKKK!


CKREKKK!


Merasa sudah cukup, Ara kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya.


"Sudah, kan? Ayo kita turun dari sini dan pulang," ajak Ryuu seraya bangkit dari duduknya.


"Ryuu, tu-tunggu sebentar!" Ara dengan cepat menarik lengan Ryuu hingga laki-laki itu duduk kembali.


"Ada apa? Bukankah sudah cukup surveinya?"


"Bu-bukan soal itu, Ryuu."


"Lalu? Mau apa lagi kita berlama-lama disini?"


Ara memajukan bibirnya, "Ish, kau ini."


"Kenapa, sih?" tanya Ryuu mulai kesal.


"Tadi, saat di bawah tadi, kau bilang kau akan memberiku hadiah jika aku mau diobati kakinya. Sekarang, mana hadiahnya?"


Ryuu membuang muka, "Itu hanya iming-iming agar kau mau diobati saja."


"Eh? Hanya iming-iming?!"


Ara merasa kecewa sekaligus kesal pada Ryuu. Padahal, dalam hatinya Ara sudah berharap akan terjadi sesuatu diantara mereka berkat 'hadiah' tersebut. Namun, ternyata hadiah yang di janjikan hanyalah omong kosong belaka.


Siapa yang tak kesal, coba?


Ara dan Ryuu hanya diam saling berpandangan. Situasi seperti itu benar-benar membuat jantung Ara berdebar tak karuan. Sambil menelan ludahnya, Ara mencoba membuka suara. Namun ia mengurungkan niatnya saat Ryuu mendekatkan wajahnya pada Ara.


30 senti..


20 senti..


10 senti..


Jantung Ara semakin berisik berdetak. Tangan dan kakinya dingin. Dan aliran darahnya terasa begitu cepat mengalir. Ara pun menutup matanya gugup. Eh? Sebenarnya hadiah apa yang dimaksud Ryuu? Sebuah ciuman, kah? Entahlah, pikiran Ara benar-benar terasa kosong sekarang.


"Hei, kenapa kau menutup matamu?"


Ara membuka matanya perlahan, "Eh?"


"Ku tanya, kenapa kau menutup matamu?"


"K-ku kira, kau mau-"


FLICK!!!


Ryuuu menjentik dahi Ara pelan. Namun cukup untuk membuat Ara meringis dan berteriak.


"Awww!! Sakit, tahu!!"


"Ayo, naik lagi ke punggungku," ujar Ryuu tak memperdulikan Ara yang menatapnya kesal.


"Cepat naik," sambung Ryuu agak menekan suaranya.


Ara berdecak sambil memajukan bibirnya. Detik selanjutnya, Ryuu sudah berjalan sambil kembali menggendong Ara di punggungnya. Entah sadar atau tidak, Ara terlalu kencang melingkarkan tangannya di pundak Ryuu hingga cukup mencekik leher laki-laki itu.


"Kalau kau berniat membunuhku, bukan begitu caranya," kata Ryuu datar.


Ara segera melonggarkan dekapan lingkaran tangannya, "Eh, ma-maaf."


"Untuk masalah hadiah, nanti akan ku berikan saat masuk sekolah besok."


"Serius?"


"Iya, aku serius," jawab Ryuu dingin namun malah membuat Ara tersenyum kegirangan.


"ASYIKKK! BESOK DAPAT HADIAH DARI RYUU!" teriak Ara dalam hati sambil menyembunyikan wajahnya yang senang dengan tangan kanannya.


Berbeda dengan Ara, Ryuu malah menyesali perkataannya sendiri.


"Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berkata tanpa berpikir terlebih dahulu. Menjanjikan sebuah hadiah untuk Ara adalah hal yang salah. Ya, dia bisa salah paham padaku," batin Ryuu menunduk menyesal sambil terus berjalan menuruni anak tangga.