
Malam ini, Ara berada di taman belakang rumah Ryuu. Sambil bermain ayunan, Ara memperhatikan Ryuu yang berdiri membelakanginya. Sehabis makan udang asam manis bersama Bunda-nya tadi, Ara diajak Ryuu kesini. Entah untuk apa. Lagipula, daritadi ia tidak berbicara sedikitpun. Bagaimana Ara bisa tahu apa maksud dari Ryuu mengajak gadis itu kesini?
"Ryuu.." panggil Ara pelan.
"Apa?" tanya Ryuu tak sedikitpun menoleh ke arah Ara.
"Kenapa kau mengajakku kesini? Ada yang mau kau bicarakan?"
"Tidak," jawabnya dingin.
Ara pun mengernyitkan dahinya bingung, "Lalu? Kenapa kau mengajakku kesini kalau kau tak mau membicarakan sesuatu?"
Bukan menjawab, Ryuu malah menoleh dan menatap Ara dingin dan sinis. Begitu lama Ryuu menatap Ara seperti itu hingga yang ditatap salah tingkah.
"Ryu, kalau begitu, aku pu-pulang saja. Ya?"
Ara pun segera bangkit dari ayunan dan membalikkan tubuhnya untuk berjalan. Namun, baru 1 langkah, pundaknya ditahan oleh tangan Ryuu dari belakang.
"Ya ampun, mau dia apa sih? Pulang tak boleh. Tapi disini pun aku tak diajak bicara," kesal Ara dalam hati.
"Aku.. menunggu permintaan maaf darimu, bodoh."
"Eh?" Ara tak mengerti.
Ryuu melirik Ara dingin, lalu membuang muka, "Wajahmu selalu saja memperlihatkan wajah tanpa dosa."
"Memangnya apa salahku? Kenapa aku harus minta maaf?" tanya Ara tak terima.
Ryuu diam. Ia memutuskan untuk tak bicara apa-apa lagi. Membuat Ara yang ada dihadapannya semakin kesal saja.
"Lihat? Kau lagi-lagi diam." Sindir Ara kesal.
Mendengar itu, Ryuu dengan cepat menatap Ara. Namun, tatapannya kali ini lebih tajam dari sebelumnya. Beberapa detik kemudian, ia pun berjalan menjauhi Ara. Membuat gadis itu merasa dipermainkan.
"Ryuu! Kenapa malah pergi sih?" tanya Ara seraya mengejar Ryuu.
Langkah kaki Ryuu terhenti. Karna terlalu mendadak, Ara pun menabrak punggung Ryuu. Ya, cukup sakit untuk hidung mancung Ara karna punggung Ryuu yang cukup keras itu ditabraknya.
"Kau mendiamkanku dan mengacuhkanku selama seminggu penuh. Apa kau tak merasa bersalah?"
Ara menelan ludahnya mendengar sahabatnya itu membuka suaranya. Oh, tidak. Ternyata ini yang akan dibicarakan Ryuu sedari tadi. Ara tak mungkin menjelaskan alasan ia mendiamkan dan mengacuhkan Ryuu. Ia terlalu malu untuk menjelaskan hal tersebut.
"Kali ini malah kau yang diam," ucap Ryuu cukup ketus.
Ara pun tertawa, ia mencoba mencari alasan sambil memutar bola matanya ke kanan dan kiri, "Ryuu, tahu tidak? 'Kan ada PR Matematika Peminatan! Kau sudah mengerjakan?"
"Sudah," jawab Ryuu singkat dan cepat.
Ara lagi-lagi menelan ludahnya. Rasanya ia ingin mati saja jika ditatap tajam oleh Ryuu. Apa yang harus ia lakukan?
"Jawab aku," ujar Ryuu yang terlihat sangat serius dari biasanya.
"Aku tidak bisa, Ryuu."
"Baiklah, aku tak akan memaksa."
Ryuu pun bersiap untuk berjalan meninggalkan Ara. Namun, sebelum itu terjadi, Ara menarik tangan Ryuu dengan cepat hingga Ryuu tersungkur ke arah Ara.
DEG!!
"Eh?" batin Ara dalam hati.
Untuk beberapa saat Ara dan Ryuu diam. Mencoba menetralisir apa yang sekarang sedang terjadi pada mereka. Ryuu memang tersungkur ke arah Ara, namun itu lebih dari sekedar tersungkur! Wajah mereka, tepatnya bibir mereka bertabrakan tanpa di duga.
Tak ada satu pun diantara Ara dan Ryuu yang berani menjauhkan bibir mereka satu sama lain. Mata mereka malah berpandangan begitu lama. Salah, ini benar-benar salah. Ara merasa ini tidak benar! Sepasang sahabat tak ada yang berciuman, kan? Dalam hati, Ara tidak tahu harus senang, sedih, atau marah pada Ryuu.
"Ya tuhan, ini kedua kalinya kita berciuman. Ada apa sebenarnya dengan skenario hidupku? Apa yang kau rencanakan, Tuhan?" batin Ara dalm hati.
***
Esoknya, di sekolah..
"Ini di kali dengan ini. Lalu, hasilnya berarti 89. Setelah ini, masukkan rumus yang tadi, jadi hasilnya.."
Ara mengacak-acak rambutnya kesal. Ia berusaha menepis pikirannya yang selalu tertuju pada kejadian tadi malam. Walaupun ia berusaha untuk menyibukkan diri dengan mengisi soal MTK, tapi ia begitu sulit untuk fokus. Entah kenapa hatinya berdebar kencang tiap ingat kejadian tadi malam.
Angel yang ada di hadapannya tentu saja kebingungan melihat tingkah aneh Ara. Apalagi, istirahat kali ini Ara tidak mau ke kantin. Ada apa sebenarnya dengan sahabatnya itu?
"Ra, tadi malam.."
"HAH? APA?" Ara berteriak begitu terkejut.
Ara menunduk, "Aku gagal memberikan penjelasan pada Ryuu. Dan kami malah.."
"Malah apa?"
"..melakukannya untuk kedua kalinya."
Angel membelalakkan matanya kaget setengah mati. Baru saja Angel akan berteriak, namun gagal karna Ara buru-buru menutup mulut sahabatnya itu.
"Apa.. Apa Ryuu menciummu dalam keadaan sadar?" tanya Angel mengecilkan suaranya.
Ara mengangguk. Tentu saja itu membuat Angel lebih kaget lagi.
"Ja-jadi, dia.."
"Bukan, itu bukan keinginan dia dan aku. Itu hanya kecelakaan."
Angel mengernyitkan dahinya, "Ceritakan!" serunya agak memaksa.
Ara mengangguk pelan, "Jadi begini ceritanya..."
(Flashback On)
(Tadi malam, jam 20:04 di taman belakang rumah Ryuu)
Ara menjauhkan dirinya dari Ryuu. Bibirnya itu terasa kaku, seperti ada sesuatu yang baru saja menyengatnya. Apa lagi kalau bukan bibir Ryuu? Suasana canggung pun tercipta. Hening. Tak ada satu pun diantara mereka yang berani bicara.
Ara tak sengaja berkontak mata dengan Ryuu. Ia pun buru-buru membuang muka dan segera berlari dari situ menuju pagar untuk keluar dari taman itu. Meninggalkan Ryuu yang berdiri mematung tanpa kata-kata.
Speechless, tentu saja.
Mereka bersahabat sejak kecil dari umur mereka 8 tahun. Dan ini tahun ke-10 mereka bersahabat. Mana mungkin sahabat itu berciuman? Itu bukanlah hal yang akan dilakukan oleh sepasang sahabat, bukan?
(Flashback Off)
"Sepertinya seru sekali ya bercerita."
DEG!!!
Angel dan Ara menoleh ke arah sumber suara. Di belakang, laki-laki tampan bak aktor jepang tersenyum cukup manis. Ara pun membelalakkan matanya, sama seperti Angel.
"Ryuu.." gumam Ara masih kaget.
"Al, bisa ikut aku sebentar?" tanya Ryuu yang masih mempertahankan senyumannya.
Ara menaikkan alisnya bingung. Selain bingung melihat Ryuu yang jarang sekali tersenyum, ia juga bingung Ryuu akan mengajaknya kemana.
"Ayo, ikut aku. Ngel, aku pinjam Altheara sebentar ya." ujar Ryuu meminta izin lalu segera menarik tangan Ara dan berjalan keluar dari kelas. Ara pun pasrah saja, ia tak berani bicara apalagi menolak.
Langkah kaki Ryuu terhenti di depan laboratorium kimia. Ia dengan cepat melepaskan genggaman tangannya pada Ara. Ara pun menelan ludahnya. Suasana di sekitar laboratorium memang sepi, karna ruangan ini berada di paling ujung sekolah. Jadi, wajar saja 'kan jika Ara merasa sangat gugup?
"Ryuu, ka-kau mau bicarakan hal yang tadi malam?" tanya Ara membuka pembicaraan.
Ryuu melirik Ara sebentar, lalu pandangannya ia alihkan ke sembarang arah, "Ya, begitulah."
"So-soal itu..."
"...aku tak keberatan kok. Lupakan saja. Lagipula kemarin 'kan hanya kecelakaan," sambung Ara seraya tersenyum canggung.
Ara pikir, ucapannya itu akan membuat Ryuu membiarkannya pergi. Ternyata tidak. Buktinya Ryuu malah menjentikkan jarinya di dahi Ara. Ara pun meringis, namun tak bisa berkata apa-apa karna Ryuu menatapnya begitu tajam.
"Tak keberatan? Kau tak keberatan?" tanya Ryuu sinis.
Ara mengangguk dan menatap Ryuu bingung. Kenapa Ryuu terlihat tak terima dengan ucapannya?
"Aku keberatan, bodoh."
"Eh? I-itu 'kan bukan keinginanku dan juga bukan keinginanmu. Itu hanya kecelakaan, bukan?"
"Kalau kau tak menarik tanganku begitu kencang, mungkin aku tak akan tersungkur ke arahmu."
"Ya, itu 'kan karna kau akan pergi! Kalau kau tak akan pergi juga, aku tak akan menarik tanganmu!"
Ryuu memutar bola matanya, "Masalahnya, kedua orangtuaku melihat dari atas loteng rumahku, bodoh."
DEG!!
Ara membelalakkan matanya seketika, "EH??!!"