
🖤🖤🖤
Meski sudah kutegaskan bahwa aku tidak apa-apa.
Tetap saja mencintai tanpa balasan itu menyakitkan.
🖤🖤🖤
"Terimakasih ya, Rangga," ucap Ara sesaat setelah sampai di depan rumahnya.
Rangga pun tersenyum manis melihat Ara yang turun dari sepedanya. Ia memperhatikan gerak-gerik Ara dari atas sampai bawah.
"K.. Kenapa, Rangga?" tanya Ara merasa diperhatikan.
"Ah, tidak. Hanya saja, sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu."
"Hahaha? Memikirkan sesuatu? Apa maksudmu?" Ara mencoba tertawa walau terdengar sangat dipaksakan.
"Mulutmu mungkin bisa berbohong. Tapi, mata dan hatimu tak akan bisa."
Ara menelan ludahnya kasar. Ia tak tahu mau mengelak apa lagi. Meskipun Rangga baru mengenalnya beberapa bulan saja, namun sepertinya Rangga sangat memahami dirinya.
"Apa Ryuu menyakitimu?"
Ara tersentak kaget, "Eh?"
"Apa dia mempermainkan perasaanmu?" Rangga bertanya dengan pertanyaan yang berbeda.
"T.. Tidak kok. Hubunganku dengan Ryuu baik-baik saja," jawab Ara mengelak.
"Syukurlah jika hubunganmu baik-baik saja. Tapi..."
Rangga menghentikan ucapannya. Perlahan tapi pasti, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Ara.
"Jika kau sudah banyak tersakiti oleh Ryuu. Ingatlah aku yang akan selalu menunggumu," bisik Rangga lirih.
Ara tertegun sebentar. Karena suasana begitu canggung, Ara pun segera pamit pada Rangga untuk masuk ke dalam rumahnya. Meninggalkan Rangga yang berdiam mematung di tempat sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Kita lihat saja. Gadis itu pasti akan segera menjadi milikku," gumam Rangga sambil terkekeh.
***
Flashback On
"Apa kau.. Apa kau setuju dijodohkan dengan Aoi?"
"Tentu saja, bagaimanapun dia adalah calon perempuan pilihan Nenekku. Aku yakin pilihan Nenek tak akan salah."
Ara tersentak kaget mendengar jawaban Ryuu yang cukup membuat hatinya tertohok. Sambil menundukkan kepalanya, ia melepaskan tangannya yang sedari tadi menahan knop pintu kamar Ryuu.
"Tapi, bukan berarti aku menyukainya, Al. " ujar Ryuu yang sepertinya menyadari kesedihan Ara.
"Eh?" Ara langsung menatap Ryuu kaget sambil membelalakkan matanya.
"Kan sudah ku bilang, aku memberimu waktu untuk membuatku menyukaimu hingga waktu kelulusan tiba. Jika sampai saat waktu kelulusan aku masih belum juga menyukaimu, sepertinya memang tak ada pilihan lain selain menerima perjodohanku dengan Aoi di Jepang sana," jelas Ryuu sambil menutup pintu kamarnya dengan cepat.
(Dialog diatas ada di Chapter 35)
Flashback Off
"Padahal, Ryuu bilang padaku bahwa ia belum tentu menyukai Aoi. Tapi..."
Ara tak melanjutkan ucapannya. Matanya menatap seluruh isi kamarnya. Sedangkan pikirannya melayang ke beberapa hari yang lalu. Oh, tidak. Ara tak bisa membendung air matanya jika mengingat Ryuu yang berkata cinta pada Aoi. Bukan pada dirinya. Hatinya terasa sangat teriris jika mengigat hal itu.
"Aku tahu bahwa Ryuu tidak mencintaiku. Namun, aku tak menyangka ternyata Ryuu memang mencintai Aoi. Dia berbohong padaku. Dia mempermainkan perasaanku," lirih Ara sambil menangis tersedu-sedu.
TOK!
TOK!
TOK!
Ara menyeka air matanya buru-buru. Ia tak mau terlihat habis menangis di depan Mommy-nya, maupun di depan Ryuu. Sesaat setelah Santia mengetuk pintu, Ara pun segera keluar dari kamarnya.Menuruni anak tangga, lalu berjalan menuju ruang tamu.
Disana, terlihat laki-laki berbadan tinggi, berkulit putih, dan berwajah tampan sedang duduk lengkap dengan ekspresi dinginnya.
"Ryuu? Ada apa?" tanya Ara datar seraya duduk di sofa. Ekspresinya tak kalah dingin dengan Ryuu.
"Kau tak melihat isi pesanku di ponselmu?" Ryuu balik bertanya dengan nada ketus.
Ara menggeleng, "Ponselku sedang di charge. Ada apa? Bilang saja padaku sekarang."
"Lusa一tepatnya hari minggu nanti, aku dan Sam akan belajar di Perpustakaan Kota. Sam juga bilang akan mengajak Angel," jelas Ryuu.
"Ya, lalu?" Ara bertanya dengan mata dan wajah yang lurus ke depan. Tak sedikitpun menatap Ryuu.
"Apa kau mau ikut belajar bersama kami?"
"Tidak mau," jawab Ara dengan cepat.
Ryuu cukup tersentak kaget mendengar jawaban Ara. Tak biasanya Ara menolak ajakannya seperti ini.
"Hei, Ujian Nasional itu sebentar lagi. Kau yakin tak ingin ikut belajar?" tanya Ryuu memastikan.
"Iya, aku yakin. Aku bisa belajar sendiri kok di rumah. Aku tak perlu bantuan darimu," jawab Ara ketus.
"Oh, oke. Baiklah. Orang yang terlalu percaya diri sepertimu adalah ciri-ciri orang bodoh yang tak bisa diajari," balas Ryuu tak kalah ketusnya sambil membuang muka.
"Aku tak akan kalah dari orang jenius yang sombong dan tak punya hati sepertimu!"
Ara menelan ludahnya kasar. Ia sendiri tak sadar berani berucap seperti itu pada Ryuu. Oh, tidak. Ara yakin Ryuu pasti sangat tersinggung sekarang.
"Al, kau tak ingat berapa nilai UN-mu saat SMP dulu? Jika nilai UN-mu yang sekarang sama jeleknya seperti saat SMP, bisa-bisa kau tak akan masuk Universitas," ujar Ryuu yang kini sedikit menurunkan nada bicaranya.
"Kenapa kau ini sangat senang meremehkanku? Kau pikir aku tak bisa mengalahkanmu, apa?" tanya Ara tersulut emosi.
Ryuu menggeleng-gelengkan kepalanya. Rupanya Ara tak mengerti sama sekali dengan apa yang ia ucapkan.
"Lihat saja, Ryuu. Nilai UN-ku pasti akan lebih besar darimu!" seru Ara seraya bangkit dari duduknya. Berdiri menantang Ryuu yang masih duduk di tempat.
"Oke. Baiklah. Jika nilai UN-mu lebih kecil dariku, maka kau harus menjauhiku. Kau harus menyerah terhadap perasaanmu padaku. Bagaimana?"
DEG!!!
Ara membelalakkan matanya kaget. Nyalinya ciut seketika. Ia tak percaya bahwa Ryuu akan mengatakan hal tersebut padanya. Oh, tidak. Ara sudah sangat mengenal Ryuu. Sahabatnya itu tak pernah main-main dengan ucapannya.
"Aku..."
Ara menggigit bibir bawahnya. Ia ragu untuk melanjutkan ucapannya. Namun, saat matanya bertemu dengan mata Ryuu, bisa dilihat bahwa ekspresi Ryuu sangat serius sekarang.
"...terima tantangan keduamu!" seru Ara setelah cukup lama mengumpulkan tekad.
Ryuu mengernyitkan dahinya bingung, "Tantangan kedua?"
"Iya, tantangan pertama adalah tantangan untuk membuatmu mencintaiku hingga waktu kelulusan tiba. Dan tantangan kedua adalah tantangan nilai UN-ku yang harus lebih besar darimu. Kalau aku kalah, maka aku harus menjauh dan menyerah terhadap perasaanku padamu," jelas Ara kembali mengingatkan Ryuu.
Ryuu mengangguk sambil tersenyum miring. Ia hampir saja melupakan tantangan pertama yang ia berikan untuk Ara. Detik selanjutnya, ia pun bangkit dari duduknya. Berdiri berhadapan dengan Ara yang lebih pendek darinya.
"Jika nilai UN-mu lebih jelek dariku, kau harus menuruti apapun permintaanku. Bagaimana?" tanya Ara meminta pendapat Ryuu.
Ryuu mengangguk sambil mengacak-acak rambut Ara. Membuat gadis itu cukup tersentak lalu dengan segera menepis tangan Ryuu dari atas kepalanya.
"Kalau begitu, selamat berjuang ya," kata Ryuu sambil tersenyum, terlihat meremehkan Ara.