STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 64 - Wanita Itu...



🖤🖤🖤


Semoga suatu hari nanti,


Aku bisa jatuh cinta pada orang yang BISA kumiliki.


🖤🖤🖤


Seminggu pun berlalu terasa begitu cepat. Turnamen ekskul basket Ryuu menang beberapa hari yang lalu. Namun, hal itu nyatanya tak membuat seorang Nakajima Ryuu senang. Justru makin hari ia makin terpuruk karena 'perang dingin' antara Bunda dan Ayahnya yang tak kunjung selesai.


Apalagi, seseorang yang sangat Ryuu harapkan tetap ada disampingnya一Ara一malah menjauhi dan menghindari Ryuu tanpa sebab. Hal ini bisa Ryuu rasakan karena setiap dia memanggil atau bertemu Ara, gadis itu pasti akan langsung pergi seolah tak melihat keberadaannya sama sekali.



Sebenarnya, menjauh dan menghindari Ryuu bukanlah tanpa sebab. Ara memang terpaksa melakukan itu karena dia cukup kecewa dengan keputusan Ryuu yang akan ikut pindah ke Jepang. Kesannya, semua tantangan yang Ryuu berikan pada Ara adalah omong kosong semata. Ya, karena itulah, Ara tak ingin menjalankan satupun tantangan yang diberikan oleh Ryuu. Dan memilih menjauhinya sekarang. Karena Ara pikir, dia harus belajar terbiasa jauh dari Ryuu sebelum akhirnya sahabatnya itu pergi ke Jepang.


***


Sepulang sekolah, di Kelas MIPA B...


Ryuu meremas foto ukuran 4x5 yang ada di tangannya. Foto itu menampakkan wajah wanita berusia kisaran 35-40 tahunan yang sedang tersenyum manis. Entahlah, Ryuu juga tak tahu siapa yang ada dalam foto itu. Yang ia tahu bahwa foto tersebut ada di tas kerja milik Vino, Ayahnya.



"Aku harus menyelidiki siapa wanita itu. Dia pasti lebih dari sekedar fans Ayah. Ya, jika memang sekedar fans, kenapa Ayah harus punya foto wanita itu di dalam tas kerjanya? Aku yakin, dia adalah selingkuhan Ayah sekaligus penyebab dari Bunda yang ingin pindah ke Jepang," batin Ryuu berspekulasi, dia geram menahan emosinya.


Ryuu menatap ke sekeliling ruangan kelas. Hanya ada dirinya sendiri. Ya, Ara dan lainnya sudah pergi duluan ke Ruang Band. Kebetulan memang Coach Jeremy memanggil anggota Band untuk ke ruang Band sepulang sekolah ini. Entahlah, Ryuu juga tak tahu apa maksud dari Coach Jeremy memanggil mereka semua. Padahal kan, ujian tinggal 1 bulan lagi. Seharusnya segala kegiatan Ekskul untuk anak kelas 12 dihentikan.


"Ryuu? Kenapa kau masih disini?" tanya seorang gadis tepat di pintu masuk kelas.


Ryuu terperanjat kaget seraya menengok ke arah sumber suara. Matanya yang tadinya membulat kini meredup seketika karena ternyata yang datang adalah Revina, bukan Ara.


"Coach Jeremy memanggilmu, tuh," kata Revina seraya berjalan menghampiri Ryuu yang sedang duduk di kursinya.


"Memangnya anggota Band kita mau apalagi, sih? Kenapa kita masih harus ikut ekskul?" tanya Ryuu protes.


Revina mengangkat kedua bahunya. Kini ia sudah berdiri di hadapan Ryuu.


"Katanya, setelah Ujian Nasional, akan diadakan acara Pensi khusus anak kelas 12 saja. Tapi waktunya belum ditentukan kapan, masih wacana," jawab Revina mencoba santai walau Ryuu menatapnya begitu sinis.


"Ya ampun, kenapa kau meremas foto ini? Apakah ini foto Ara?" tanya Revina seraya mengambil foto ukuran 4x5 tersebut yang tergeletak di atas meja一tepatnya disamping tangan Ryuu.


Ryuu segera menahan pergelangan tangan Revina. Dari tatapan Ryuu, bisa dilihat bahwa Revina tak boleh membuka foto yang sudah diremas olehnya itu.


"Ini bukan foto Al. Dan kau, jangan ikut campur atau mencoba mendekatiku," ujar Ryuu ketus seraya mengambil foto itu di tangan Revina.


Revina diam. Menatap Ryuu penuh rasa kekhawatiran. Entah Akting atau tidak, Ryuu tak bisa menebak itu karena Revina selalu bersikap pura-pura di depannya.


"Sepertinya kau sedang ada masalah keluarga, ya? Akhir-akhir ini kulihat kau begitu lesu," kata Revina tak lama kemudian.


Ryuu membuang mukanya tanpa bicara apa-apa.


"Ara juga sepertinya menjauhimu. Parah sekali ya, dia. Padahal disaat-saat seperti ini, kau pasti membutuhkan dukungannya. Tapi dia malah menjauhimu," kritik Revina ketus.


Ryuu dengan cepat menatap tajam Revina seraya menggebrak mejanya cukup kencang. Membuat Revina kaget bercampur takut.


"Jangan bicara macam-macam tentang Al. Kau tak tahu sifatnya seperti apa. Jadi kau jangan sok tahu," ujar Ryuu ketus.


Revina mengangguk sambil menundukkan kepalanya. Dalam hati, ia bergerutu karena ternyata Ryuu masih bisa membela Ara padahal jelas-jelas gadis itu menjauhi dan menghindari Ryuu akhir-akhir ini.


Pandangan Revina pun beralih ke lantai di samping meja Ryuu. Foto ukuran 4x5 itu ternyata tergeletak di lantai. Mungkin karena Ryuu menggebrak mejanya terlalu kencang tadi hingga foto itu jatuh dari mejanya.


"Foto siapa sih itu sebenarnya? Apa itu foto Ara? Ya, semoga saja. Semoga kini Ryuu membenci Ara karena dia menjauhi Ryuu tanpa sebab," batin Revina seraya membungkukkan tubuhnya. Sedangkan tangan kanannya menjulur ke bawah一mengambil foto itu dari lantai.


Tanpa berlama-lama, Revina segera membuka foto yang sudah diremas tersebut. Ryuu yang melihat itu pun tak tinggal diam. Ia mencoba mengambil foto tersebut dari tangan Revina namun akhirnya gagal. Foto itu sudah terbuka semua dan Revina bisa dengan jelas melihat siapa yang ada di foto tersebut.


DEG!!!


Revina membelalakkan matanya kaget setengah mati. Ia menatap Ryuu dan foto itu secara bergantian. Membuat Ryuu sendiri juga bingung karena melihat ekspresi Revina yang seperti itu.


"Ada apa, sih? Kenapa kau begitu kaget?" tanya Ryuu ketus seraya meremas kembali foto itu.


"R.. Ryuu, kenapa kau bisa punya foto Mamahku?"


DEG!!!


Kali ini, gantian Ryuu yang membelalakkan matanya kaget setengah mati. Nafas dan detak jantungnya terasa berhenti beberapa detik. Tatapan yang tadinya ketus pada Revina, kini berubah dengan tatapan penuh amarah dan kebencian.


"Wanita di foto itu... Adalah Mamahmu?" tanya Ryuu terdengar begitu menakutkan di telinga Revina.


Revina mengangguk perlahan. Ia sendiri kebingungan sekaligus kaget kenapa foto Mamahnya bisa ada pada Ryuu. Apalagi, foto tersebut diremas oleh laki-laki itu.


Ryuu masih menatap Revina penuh rasa benci, tanpa sedikitpun berkedip. Wajahnya yang putih bersih terlihat agak kemerahan karena menahan emosi yang akan memuncak.


"Dia adalah selingkuhan Ayahku. Penyebab dari keluargaku hancur akhir-akhir ini," kata Ryuu lirih, namun sarat akan rasa kecewa dan kemarahan.


Revina mundur beberapa langkah sambil menggelengkan kepalanya perlahan. Tatapannya kini kosong, namun air matanya sudah berkumpul di pelupuk hingga membuat pandangannya memburam. Ia menatap Ryuu antara percaya dan tidak percaya.


"Bohong! Kau bohong, Ryuu! Mana mungkin Mamahku berselingkuh dari Papahku! Mamahku tak akan pernah berbuat seperti itu, Ryuu!" teriak Revina seraya menggelengkan kepala dengan kuat. Tangisnya pecah saat itu juga.


Ryuu bangkit dari duduknya. Ia memperhatikan Revina yang kini sedang menangis tersedu-sedu dihadapannya. Cukup lama Revina menangis, menutup seluruh wajah dengan kedua tangannya. Hingga pada akhirnya, Ryuu menyadari bahwa kini Revina tidak sedang ber-akting. Gadis itu benar-benar hancur, sama seperti dirinya sekarang.


***


"Sudah hampir 10 menit, tapi Revina belum juga datang bersama Ryuu. Kira-kira mereka kemana, ya?" tanya Coach Jeremy yang sukses membuat permainan drum dari Angel, bass dari Sam, dan vokal dari Ara一berhenti secara bersamaan.


Sam memanggut-manggutkan kepalanya, "Hmm, benar juga, Coach. Mereka kenapa tak kunjung ke ruang Band, ya."


Dan Angel tentu saja paham akan hal itu.


"Ra, bagaimana kalau kau cari Revina dan Ryuu sekarang?" tanya Coach Jeremy.


Angel menggelengkan kepala, ia mencoba untuk mewakili perasaan Ara yang sudah pasti tak mau menuruti perintah Coach Jeremy.


"Ehm, Coach. Kenapa harus Ara yang mencari mereka berdua? Bukankah ada Sam? Kenapa tidak kau suruh Sam saja, Coach?" tawar Angel seraya memelototi dan mengerutkan dahinya pada Sam yang duduk tak jauh darinya. Dari raut wajah seperti itu, Sam tahu bahwa Angel sedang memberinya kode agar setuju dengan ucapannya.


"Iya, Coach. Aku saja yang mencari Ryuu dan Revina," timpal Sam sambil mengangguk-anggukan kepala dengan antusias sambil menatap Angel dan Ara bergantian.


Coach Jeremy dengan cepat menggeleng, ia kembali menatap Ara yang kini sedang menunduk.


"Ra, kau kan pacarnya Ryuu. Bukankah lebih baik kau yang mencari dia? Bagaimana kalau ternyata Ryuu dan Revina sedang berduaan tanpa sepengetahuanmu?" tanya Coach Jeremy yang membuat hati Ara seketika panas mendengarnya.


Sam dan Angel saling berpandangan tak mengerti. Hei, sejak kapan Coach Jeremy mem-provokator hubungan orang lain? Terlebih, hubungan anak didiknya sendiri.


Tak lama kemudian, akhirnya Ara mengangguk. Mengiyakan suruhan Coach Jeremy terhadapnya. Dengan senyuman yang susah payah ia tampilkan di wajahnya, Ara pun segera berjalan keluar dari Ruang Band menuju kelasnya. Karena seingat Ara, Ryuu masih berada di kelas. Semoga saja ucapan Coach Jeremy tadi tak benar adanya. Ara yakin Ryuu dan Revina tak akan mungkin berduaan, apalagi bermesraan dibelakang Ara.


"Bodoh. Padahal aku sudah bertekad untuk menjauhi dan menghindari Ryuu. Ya, aku harus terbiasa tanpa dia sebelum akhirnya dia pindah ke Jepang,"


"Tapi, saat aku mendengar perkataan Coach Jeremy tadi, kenapa aku sangat cemburu? Kenapa hatiku terasa sangat panas membayangkannya? Apa ini karena aku masih belum bisa melupakan Ryuu?" batin Ara seraya terus berjalan.


***


Kosong.


Satu kata itu mewakili suasana kelas 3 MIPA B sekarang. Ya, kosong. Tanpa ada siapapun di kelas itu. Ara yang baru sampai beberapa detik yang lalu pun kini terheran-heran sendiri. Eh? Jika Ryuu tak ada di kelas, kemana perginya dia sekarang? Apa Ryuu sudah pulang duluan? Tidak, tidak, tidak. Ara yakin Ryuu tak akan pulang dengan cepat ke rumahnya. Apalagi, rumahnya itu sedang dipenuhi dengan masalah.


Ya, meski Ara sudah menjauhi Ryuu akhir-akhir ini. Tak bisa dipungkiri, bahwa Ara masih memperhatikan gerak-gerik Ryuu. Semenjak keluarganya ada masalah, Ryuu memang selalu pulang telat ke rumahnya bahkan terkesan mengulur waktu. Jadi, kali ini pun Ara yakin bahwa Ryuu masih ada di sekitaran sekolah. Dia tak mungkin pulang ke rumahnya begitu cepat.


Tapi, dimanakah Ryuu? Kemana perginya laki-laki itu?


Tak ingin bertanya-tanya terlalu lama, Ara dengan cepat membalikkan tubuhnya. Seketika, ia terperanjat kaget karena ternyata ada seorang laki-laki yang sedari tadi sedang berdiri di belakangnya.


"R.. Rangga?! Sejak kapan kau ada disini?!" teriak Ara kaget.


Rangga tertawa kecil melihat ekspresi kaget Ara yang lucu, "Kenapa kau sekaget itu? Hahaha. Aku sudah disini semenjak kau berdiri di depan pintu kelas."


"Kau berniat mengagetkanku, kan?" tanya Ara sebal.


"Tidak, kok. Hanya saja, aku penasaran kenapa kau ada disini. Kudengar dari Revina, ekskul Band kalian sedang latihan hari ini. Tapi, kenapa sekarang kau malah ada di depan kelas?" Rangga balik bertanya heran.


"Aku sedang mencari Revina dan Ryuu. Awalnya, Revina disuruh Coach untuk mencari Ryuu. Tapi mereka berdua sekarang malah tak kunjung datang ke ruang Band," jelas Ara dengan nada bicara setengah kesal, dan setengah sedih.


Rangga tertegun sebentar mendengar penjelasan Ara.


"Eh, sebentar. Kau mencari Revina dan Ryuu? Ehm, entah aku salah lihat atau tidak, aku lihat mereka berdua pergi ke atap sekolah," kata Rangga ragu-ragu, namun sukses membuat mata Ara membulat sempurna.


"A.. Atap sekolah? Untuk apa?" tanya Ara kaget dan bingung secara bersamaan.


***


Di Atap Sekolah...


"Kenapa kau membawaku kesini, Ryuu? Kau mau membunuhku dengan cara mendorongku dari Atap Sekolah ini?" tanya Revina sesampainya dia dan Ryuu di Atap Sekolah.


Ryuu berdecak kesal sambil menyodorkan sekotak tisu kecil kepada Revina. Tapi, matanya itu tak sedikitpun membalas tatapan Revina yang sangat membuat iba.


"Aku membawamu kesini agar kau puas untuk menangis. Jika kau menangis di kelas seperti tadi, pasti orang-orang yang masih ada kegiatan ekskul di sekolah ini akan heran. Mereka akan menganggapku membuatmu menangis," jelas Ryuu sambil membuang mukanya.


Revina mengangguk perlahan. Dengan ragu-ragu, ia menerima kotak tisu kecil itu dari tangan Ryuu.


"Terimakasih," ucapnya seraya membuka isi dalam kotak tisu itu. Detik selanjutnya, ia dengan segera menyeka air matanya dengan tisu tersebut.


Hening. Hanya ada suara sepoi angin yang terdengar di telinga Ryuu dan Revina. Pikiran mereka berdua masih kalut dan tak percaya dengan sesuatu yang tak pernah terbayangkan ini. Sungguh mengejutkan, sekaligus mengecewakan.


"Ku.. Kukira tadi, kau akan marah atau memaki-maki diriku saat kau tahu ternyata foto itu adalah foto Mamahku. Tapi ternyata, kau bersikap diluar dugaanku," kata Revina membuka suaranya.


Ryuu menundukkan kepalanya, "Jujur saja, tadinya aku memang sangat marah dan langsung membencimu seketika. Apalagi, ketika tahu bahwa foto itu adalah Mamahmu, aku merasa sedang berhadapan dengan Mamahmu secara langsung. Wajahmu benar-benar mirip dengannya."


Revina terdiam, ikut menundukkan kepalanya.


"Tapi, jika dipikir-pikir lagi, tak seharusnya aku membencimu ataupun marah kepadamu. Kau jelas-jelas tak tahu apa-apa soal ini. Ya, sebenarnya kita adalah korban dari apa yang Orangtua kita lakukan," sambung Ryuu lirih.


Revina mengangguk setuju, air matanya kembali menetes tanpa bisa ia tahan.


"Kau benar. Kita sebagai anak menjadi korbannya. Pantas saja akhir-akhir ini Papahku menjadi begitu arogan, sepertinya Papah juga sudah tahu mengenai hal ini. Itu sebabnya, keluargaku juga sama hancurnya seperti keluargamu," tambah Revina sambil menangis sesegukan. Ia benar-benar tak kuasa menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya.


Ryuu pun mengangkat wajahnya, menatap iba Revina yang terlihat begitu hancur sama sepertinya. Meski Ryuu tak menangis, tapi hatinya itu begitu hancur hingga sulit dijelaskan oleh kata-kata.


Perlahan tapi pasti, Ryuu menarik pundak Revina agar tubuh gadis itu mendekat padanya. Revina tak mengelak ataupun bicara apa-apa saat Ryuu memeluknya dengan lembut. Dalam pelukan tersebut, tangis Revina begitu terdengar pilu di telinga Ryuu.


Beberapa meter dari tempat Ryuu dan Revina berdiri, ternyata ada satu gadis yang melihat pemandangan itu dengan jelas. Ya, siapa lagi kalau bukan Ara?


Jantungnya terasa berhenti berdetak melihat Ryuu memeluk Revina dengan lembut. Hatinya remuk, pikirannya kalut, dan nafasnya memburu melihat itu. Ara sampai tak bisa berkata apa-apa selain menatap lurus Ryuu dan Revina dengan raut wajahnya yang menyedihkan.


"Apa lagi ini, Ya Tuhan? Kenapa aku harus melihat ini?" batin Ara berteriak kencang. Namun mulutnya itu tak bisa sedikitpun mengucapkan satu kata saja. Lidahnya terasa sangat kelu saat ini.


Tanpa permisi, Rangga yang sedari tadi ada di belakang Ara segera membalikkan tubuh gadis itu dengan secepat kilat. Lalu dia mendekap tubuh kecil Ara penuh rasa pengertian.



"Jangan dilihat," bisik Rangga pelan dan begitu lembut.


Ara mengangguk lemah. Meski sebenarnya, ia terus meronta menahan rasa sakit yang begitu menohok di hatinya sekarang.