STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 30 - Tak di Hargai



🖤🖤🖤


Terkadang, ada sakit yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata.


🖤🖤🖤


Itsunomaniyara hidzuke wa kawatte


Nande toshi tte toru ndarou


Mou se wa nobinai kuse ni


Chakushin no oto de tobiokitakedo son shita na


Kimi ka to omotta no ni


Tanggal kalender berlalu begitu saja


Berapa sih usiamu kucoba hitung-hitung


Tinggiku mungkin tak akan bertambah lagi


Teleponku berbunyi. Aku bergegas, namun tak terangkat


Kukira itu telepon darimu


Nanika no techigai de


Suki ni natte kurenai kana


Dou nimo kimi no inai basho wa


Kuuki ga usukute sa


Mungkinkah ini suatu kesalahan


Telah jatuh cinta padamu


Dimanapun tempat tanpa adanya dirimu


Udara terasa sangat menyesakkan


Kudaranai hanashi wa omoitsuku no ni


Kimi o dakishimete ii riyuu dake ga mitsukaranai


Aa sou ka souda yo na


HAPPIIBAASUDE kataomoi no ore


Aku yang pandai membuat lelucon


Tak cukup mampu membuat alasan untuk bisa memelukmu


Yah, seperti itulah


Selamat ulang tahun, tuk cintaku yang tak berbalas


Ai ga nanika wa shiranaikeredo


Suki to iu namae no itami ninara kuwashii kamo


Kimi ni mo oshiete agetaikeredo kekkyoku


Osowaru no wa oredarou


Aku tak tahu apa itu cinta


Mungkin cinta itu nama lain dari sakit yang kurasa


Ingin ku ungkapkan ini padamu bagaimanapun juga


Ku ingin selalu mengungkapkannya


Semua mata memandang Ara dengan tatapan kagum, termasuk Ryuu yang awalnya mencoba untuk tak memperdulikan nyanyian sahabatnya itu. Namun, tetap saja. Walau semuanya terlihat kagum dengan suara Ara, tapi tak ada satupun yang mengerti arti dari lagu tersebut kecuali Ryuu. Hal inilah yang membuat Ryuu merasa cukup canggung dengan suasa seperti ini.


"Suaramu memang seperti malaikat, Putri," puji Rangga sambil tersenyum manis.


Angel dan Sam mengangguk dan bertepuk tangan bersamaan, "Iya, kau memang pantas menjadi penyanyi!" tambah mereka.


"Ya, suaramu tidak begitu buruk," kata Revina ragu-ragu.


Ara tersenyum lebar. Ia merasa senang jika memang suaranya bisa diterima oleh teman-temannya itu. Namun, hal yang paling ia tunggu-tunggu adalah bagaimana respon Ryuu setelah mendengar arti lagu yang ia nyanyikan tadi. Apakah Ryuu akan sadar dengan perasaan ia terhadapnya? Atau malah...


"Banyak intonasi dan pengucapan yang salah dari bahasa jepangmu, tahu. Kau seharusnya tidak memasang wajah bangga seperti itu," kritik Ryuu pedas saat Ara baru saja menatapnya sedetik yang lalu.


Ara tertegun sebentar mendengar kritik Ryuu yang cukup menohok di hatinya.


"M-maaf..."


Hanya itulah kata yang bisa Ara ucapkan, ia sendiri bingung harus menjawab apa selain itu.


Angel berdecak kesal, "Ryuu, setidaknya kau pujilah Ara dari segi suaranya. Ya, wajar saja pengucapan dan intonasi dari bahasa jepang Ara masih banyak yang salah. Dia kan bukan asli orang jepang sepertimu!" bela Angel tak terima dengan ucapan Ryuu pada Ara tadi.


"Menurutku, Al masih harus banyak belajar sebelum berani menyanyikan lagu bahasa jepang seperti tadi," ujar Ryuu sambil melirik Ara sekilas, lalu kembali membuang wajahnya.


"Ehm, begini Ryuu. Mungkin benar Ara masih harus banyak belajar bahasa jepang. Namun, setidaknya ia sudah berusaha menyanyikan lagu khusus untuk ulang tahunmu, kan? Ya, setidaknya kau bisa menghargai itu," bela Rangga diikuti anggukan oleh Sam.


"Ngomong-ngomong, lagu tadi menceritakan tentang apa? Aku sama sekali tidak mengerti lho, Ra. Hehehe, ceritakan dong!" seru Sam mencoba mengalihkan pembicaraan agar tak semakin memanas.


Ara berdehem berkali-kali. Ia melirik Ryuu sekilas lalu mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Ryuu yang merasa dilirik hanya diam sambil menatap Ara tajam.


"Ryuu, kau pasti mengerti 'kan arti lagu yang Ara bawakan tadi?" tanya Revina penasaran karna melihat ekspresi Ara yang aneh sekarang.


Ryuu mengangguk, "Aku tahu arti dari lagu itu. Namun, mendengar Al menyanyikannya secara asal, membuatku kesal mendengarnya."


"Eh?" Ara terkejut mendengar penuturan Ryuu, "Aku sudah berlatih berhari-hari lho untuk menyanyikan lagu itu, Ryuu."


"Kau yakin? Itu yang namanya berlatih berhari-hari?"


Ara mengangguk mencoba meyakinkan Ryuu. Namun, yang di yakinkan malah terlihat tidak peduli dan malah bangkit dari tempat duduknya.


"Lain kali, kau harus sadar diri. Nilai bahasa jepangmu di sekolah itu jelek. Jadi jangan coba-coba menyanyikan lagu bahasa jepang di hadapanku. Mengerti?" tanya Ryuu dingin.


Ara menunduk. Ia tak menjawab pertanyaan Ryuu sama sekali.


"H-hei! Jaga ucapanmu!" seru Angel tak terima.


Rangga menatap Ara khawatir, "Putri, kau yakin bisa bersahabat dengan dia? Sahabat macam apa yang bicara seperti itu pada sahabatnya sendiri?"


Ara masih saja tak menjawab. Gadis itu lebih memilih bangkit dari dari duduknya.


"Teman-teman, aku mau cari angin dulu ya ke depan sana. Ku mohon jangan ganggu aku, aku ingin sendiri dulu, hehehe," ujar Ara sambil tersenyum manis lalu berlari dengan kencang keluar dari halaman depan Villa.


"Hei! Ra! Kau mau kemana?!" teriak Angel spontan.


Hening seketika. Kini, ekspresi Angel, Sam, dan Rangga bertambah khawatir dengan kepergian Ara. Berbeda dengan Revina yang tersenyum miring, ia cukup puas mendengar penuturan Ryuu pada Ara seperti tadi.


Angel memutuskan bangkit, lalu berdiri menatap Sam dan Rangga yang masih duduk.


"Bantu aku mencari Ara, dia pasti belum terlalu jauh berlari," kata Angel yang dibalas anggukan oleh Sam dan Rangga.


Mereka bertiga pun berlari keluar dari halaman depan Villa, mengikuti jejak kemana Ara pergi. Namun, sebelum benar-benar berlari jauh, Angel menghentikan langkahnya. Ia menengok ke arah belakang, tepat di halaman depan Villa.


Ryuu masih berdiri mematung. Sedangkan Revina masih duduk santai di dekat api unggun. Melihat itu, Angel mengepalkan tangannya geram sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ara tidak seharusnya menyukai orang tak punya hati seperti Ryuu. Dia bahkan tak menghargai Ara sama sekali yang bernyanyi dengan tulus untuknya," batin Angel seraya melanjutkan larinya untuk mencari Ara. Mengikuti Sam dan Rangga yang sudah cukup jauh berlari didepannya.


"Sam, Rangga! Tunggu aku!"


***