
🖤🖤🖤
Accismus adalah keadaan dimana kamu berpura-pura tidak tertarik pada seseorang/sesuatu. Tapi sebenarnya kamu sangat tertarik.
Di Jepang, orang yang semacam itu disebut Tsundere.
🖤🖤🖤
SKIP
Seminggu kemudian...
Ryuu mengayuh sepedanya dengan cepat. Mata kecoklatannya itu menatap seorang perempuan di depannya一yang sedang mengayuh sepeda juga.
Altheara Ananda Putri. Siapa lagi kalau bukan dia?
Minggu pagi yang cerah ini, Ryuu dan Ara berniat menjenguk Sam di rumahnya. Ya, Sam baru saja keluar dari Rumah Sakit setelah hampir seminggu di rawat. Tentu saja sebagai teman dekat Sam, Ryuu dan Ara sangat ingin menjenguknya.
Tapi, satu hal yang sedari tadi di pikirkan oleh Ryuu adalah...
"Mengapa Al mengayuh sepeda duluan di depanku? Apa dia tak ingin berangkat bersamaan denganku ke Rumah Sam?"
Tak ingin bertanya-tanya terlalu lama, Ryuu pun semakin mempercepat laju sepedanya untuk menyusul Ara.
"Al, kenapa kau buru-buru sekali? Kau tak ingin berangkat bersamaku?" tanya Ryuu sambil terus mengayuh.
Ara melirik Ryuu sekilas. Meski hanya sesaat, bisa Ryuu lihat wajah Ara yang memerah seperti orang kepanasan. Bukannya menjawab, Ara malah semakin mengayuh dengan cepat. Meninggalkan Ryuu yang tertinggal di belakangnya.
"Gadis aneh. Kenapa sih, dia? Sudah seminggu ini dia tak berbicara sedikitpun padaku," gerutu Ryuu kebingungan.
BRUKKK!!!
Ryuu membulatkan matanya saat melihat Ara yang ada di depannya一terjatuh karena menabrak seorang laki-laki yang merupakan Pejalan Kaki. Melihat itu, Ryuu pun menghentikan laju sepedanya lalu segera turun menghampiri Ara.
"Kau ini tak punya mata apa bagaimana? Kenapa malah menabrakku yang berdiri di samping jalan raya?!" seru si Pejalan kaki tersebut marah. Ia merapikan kaos hitam yang dikenakannya karena kotor terkena ban sepeda Ara.
Ara diam. Gadis itu tak bisa mengeluarkan suara karena terlalu takut melihat kemarahan pejalan kaki tersebut.
"Mohon maaf, Tuan. Aku sepupu dari gadis ini. Aku minta maaf atas apa yang dilakukannya pada Tuan," ujar Ryuu berbasa-basi seraya berjongkok. Detik selanjutnya, Ryuu bangkit. Ia menatap ke bawah一ke arah Ara yang terduduk di aspal jalan raya.
"Ah! Aku tak perlu permintaan maaf! Aku hanya ingin gadis ini lebih memakai matanya lagi saat sedang mengayuh sepeda agar tak merugikan orang lain!"
Ryuu berdehem sambil kembali berjongkok. Lalu ia menatap Ara dingin, "Tuan, sebenarnya, dia ini memiliki penyakit mental. Dia tak bisa membedakan mana yang benar, dan mana yang salah. Jadi, aku minta maaf karena tadi dia sudah menabrak Tuan. Apa Tuan tidak apa-apa? Apa ada luka? Jika ada, aku yang akan membayar biaya pengobatannya," ujar Ryuu yang membuat Ara membelalakkan matanya seketika.
"Enak saja! Aku tak punya penyakit mental, tahu!" batin Ara sebal.
Laki-laki tersebut yang awalnya terlihat marah, kini menatap Ara prihatin.
"Oh, ya sudah. Aku akan memaafkan dia. Tapi, lain kali kau harus selalu mengawasinya agar tak merugikan orang lain lagi, ya," kata pejalan kaki tersebut lalu pergi dari situ.
Sesaat setelah pejalan kaki tersebut benar-benar pergi, Ryuu melirik Ara sekilas. Sedangkan yang di lirik hanya mengalihkan pandangannya ke objek yang lain.
"Kau kenapa, sih?" tanya Ryuu heran.
"K.. Kenapa? Aku tidak kenapa-napa, tuh, " jawab Ara gelagapan, matanya masih tak ingin menatap Ryuu.
"Semenjak kencan minggu kemarin, kau berperilaku berbeda dan aneh."
Ara menggelengkan kepalanya sambil tertawa canggung, "Hahaha, kau bicara apa sih? Aku tak mengerti, tahu!" serunya lalu tak lama bangkit dari duduknya.
Ryuu yang masih berjongkok一menatap Ara tajam. Rupanya, ia tak terima dengan jawaban Ara yang seperti itu.
"A.. Ayo kita lanjutkan perjalanan kita. Sepertinya Sam sudah lama menunggu," kata Ara seraya menaiki sepedanya.
Ara pun mengayuhkan sepedanya dengan cepat. Meninggalkan Ryuu yang masih menatapnya lurus dan tajam. Sebenarnya, Ryuu itu tipe yang mudah peka. Jadi, jika ada sesuatu pada Ara, pasti ia akan tahu dengan cepat.
"Dasar gadis aneh," ucapnya ketus lalu segera menaiki sepedanya. Menyusul Ara yang sudah jauh di depan sana.
***
"Wah, pasangan so sweet datang nih!"
Ryuu menjitak kepala Sam pelan, "Berlebihan sekali, kau!" serunya lalu di balas tawa oleh Sam.
Ara tersenyum canggung sambil menatap semua yang ada di kamar Sam. Angel, Revina, dan juga..
... Rangga.
Saat menyadari Rangga juga ikut serta, Ara mencoba tersenyum juga padanya. Meski dalam hati, Ara cukup takut pada laki-laki itu. Kenapa takut? Ya karena hanya Rangga saja yang masih terlihat tak percaya dengan hubungan Ara dan Ryuu.
Hanya Rangga yang sepertinya tak bisa ditipu.
"Bagaimana keadaanmu, Sam? Apa masih ada yang di rasa?" tanya Ara membuka pembicaraan.
"Tidak kok, aku sudah benar-benar sembuh. Meski terkadang, kepalaku masih cukup pusing."
"Hei, itu namanya kau belum benar-benar sembuh, bodoh!" seru Angel ketus lalu dibalas tawa oleh Sam.
"Nih, obatmu saja yang di meja tidak diminum-minum," kata Revina.
Angel mengangguk, "Biarkan saja si bodoh ini, dia memang ingin mati agar bisa pergi dariku selama-lamanya."
Ara tertawa kecil mendengar ucapan Angel lalu merangkul sahabatnya itu.
"Hei, memangnya kau tak keberatan jika Sam meninggal?" tanya Ryuu meledek.
Angel melirik Ryuu sekilas, lalu mempererat rangkulan Ara padanya.
"Enak saja! Aku mungkin akan gila jika dia pergi meninggalkanku begitu saja!"
"Hahaha, kau berlebihan, Ngel," Kali ini Revina ikut meledek Angel.
Sam tersenyum lebar, "Ya, soalnya kau kan sangat mencintaiku. Benar, kan?" tanyanya penuh percaya diri pada Angel.
"Hah? Bicara apa kau? Bukankah kau yang terlalu mencintaiku?!"
"Tuh, kan. Inilah kebiasaanmu. Tidak mengakui apa yang sebenarnya kau rasakan. Dasar Tsundere, hahaha," ledek Sam tertawa lepas.
"Tsundere? Apa itu tsundere?"
"Eh, kenapa?" tanya Ara mulai panik. Ia panik karena takut pertanyaannya itu aneh.
"Ra, kau tak sadar bahwa kau punya pacar yang Tsundere juga?" Angel balik bertanya.
"Hah? Pacar? Siapa?"
DEG!!!
Sam, Angel, Revina, dan Ryuu membelalakkan mata kaget bersamaan. Berbeda dari Rangga yang sedari tadi diam saja. Beberapa detik kemudian, Ara menyadari bahwa ada yang salah dari ucapannya tadi.
Hei, jelas-jelas pacar Ara adalah Ryuu! Kenapa Ara bisa melupakan hal itu di depan teman-temannya?
Ara menundukkan kepala sambil menggigit bibir bawahnya tatkala melihat tatapan Ryuu yang seakan berkata :
"Dasar gadis bodoh! Kenapa kau melupakan hubungan pura-pura ini?"
Ryuu pun terpaksa tertawa demi mencairkan suasana. Lalu diikuti tawa oleh Sam dan Angel juga. Meski dua sejoli itu tak tahu apa yang sebenarnya mereka tertawakan.
"Al memang sering melupakan hubungan kita yang sudah berganti status dari sahabat masa kecil ke status pacaran. Maklum saja ya, dia ini pelupa dan sedikit bodoh, hahaha," kata Ryuu masih melanjutkan tawanya. Saat Ara mencoba menatap Ryuu, disaat itu juga Ryuu melirik sinis Ara sekilas. Membuat Ara mau tak mau harus kembali menundukkan kepalanya.
"Hahaha, benar juga sih. Sepertinya Ara belum terbiasa dengan pergantian status hubungan kalian," ujar Angel mengerti maksud dari ucapan Ryuu.
Sam mengangguk setuju, "Tenang saja, kok. Lama-kelamaan juga Ara pasti akan terbiasa. Ya, kan Ra?"
Ara dengan cepat mengangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum canggung.
"Ya! Kau benar, Sam! Hehehe, aku masih belum terbiasa. Maafkan aku ya, darling, hehehe," kata Ara cengengesan sambil menatap Ryuu. Yang di tatap pun tersenyum manis membalas tatapan Ara.
"Iya, honey. Ku maafkan," timpal Ryuu singkat, padat, dan jelas.
"Oh iya! Revina, katanya tadi kau ingin ke minimarket ya? Kenapa tidak bersama Ara saja kesananya?" tanya Sam mengalihkan pembicaraan.
"Eh? Kapan aku bilang begitu?" Revina balik bertanya dengan bingung.
Sam dan Angel terlihat gelagapan dan saling memberi kode untuk menjawab pertanyaan Revina. Melihat itu, Ara juga tentu saja ikut bingung.
"Aku yang bilang ingin ke minimarket. Bukan Revina," ujar Rangga tiba-tiba yang sontak membuat Sam dan Angel menatap teman laki-lakinya itu.
"Oh, hahaha. Benar juga ya, sepertinya memang Rangga yang bicara begitu tadi saat Ryuu dan Ara belum datang," kata Sam tertawa dibuat-buat.
"Ra, bisakah kau mengantar Rangga ke minimarket? Dia tak tahu minimarket disini ada dimana," tambah Revina lalu diikuti anggukan oleh Sam dan Angel.
"Eh? Kan minimarket sangat dekat dari sini. Sebelum ke rumah Sam saja, kita kan memang melewati minimarket terlebih dahulu," ujar Ara kebingungan.
"D.. Dia ingin ditemani olehmu! Ya, benar! Dia ingin ditemani ke minimarket. Boleh kan, Ryuu? Pacarmu pergi sebentar?" tanya Sam meminta pendapat.
"Terserah saja, sih," jawab Ryuu dingin.
"Ya sudah. Ayo, Ra," kata Rangga dengan cepat menarik lalu menggenggam tangan Ara. Karena terlalu terkejut, Ara menepis tangan Rangga cukup kencang. Meski hanya sekilas, bisa Ara lihat ekspresi Ryuu yang dingin menatapnya lurus.
"Maaf, aku lupa kau sudah punya pacar," ujar Rangga sebelum akhirnya dia berjalan keluar dari kamar Sam.
"Ra, cepat! Antar Rangga ke minimarket!" seru Angel. Ara pun akhirnya dengan terpaksa keluar dari kamar Sam menyusul Rangga yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Ryuu menatap semua temannya satu-persatu. Ia merasa aneh dengan gelagat para temannya itu. Sebenarnya ada apa sih? Kenapa Sam, Angel, dan Revina menyuruh paksa Ara untuk mengantar Rangga ke minimarket? Bukankah minimarket dari sini sangatlah dekat? Mana mungkin Rangga tak tahu akan hal itu?
"Ryuu, jadi begini, kau sepertinya melupakan sesuatu," ujar Angel membuka pembicaraan.
"Apa?"
"Hah? Serius kau melupakannya? Padahal tiap tahun sejak SMP, kau orang pertama yang akan selalu mengingatkan kita akan hal ini, tahu!" seru Sam kaget.
Ryuu berdecak kesal, "Memangnya apa, sih?"
Sam dan Angel pun sama-sama menepuk jidat. Mereka tak menyangka bahwa Ryuu bisa lupa juga akan hal ini.
"Revina, memangnya ada apa?" Kali ini Ryuu bertanya pada orang yang sedari tadi diam.
Revina menggeleng kaku, "Aku juga tak tahu, Ryuu."
Ryuu mengalihkan pandangannya kembali pada Sam dan Angel.
"Katakan saja. Aku tak ingin berpikir lama," ucap Ryuu ketus.
"Ini mengenai ulang tahun Ara. Serius kau lupa, Ryuu?" tanya Angel menatap Ryuu heran.
DEG!!!
"Eh? Ulang tahun?"
"Iya, lusa kan dia ulang tahun!" seru Sam yang membuat rasa kaget Ryuu bertambah.
"Lusa?"
"Duh, kita belum menyiapkan apa-apa untuk ulang tahun Ara! Padahal, setiap tahun, Ara selalu melakukan yang terbaik untuk ulang tahun kita. Benar kan, Sam?" tanya Angel lalu diikuti anggukan oleh pacarnya itu.
Ryuu terdiam sebentar. Otak jeniusnya itu berputar lebih keras dari biasanya. Sambil menyilangkan tangan di bawah dada, Ryuu menatap Sam dan Angel sangat serius.
"Aku punya ide yang bagus untuk ulang tahun Al," kata Ryuu sambil tersenyum miring.
.
.
.
.
.
.
CCM's TIME!😺❤
Dengan segala letih dan penat, aku berusaha menulis dan melanjutkan novel ini sebisaku!
Wkwkwk, lebay amat
Maaf ya UP-nya lama😿 Baru menemukan inspirasi yang terselubung jauh di dalam otak wkwkwk...😹 Hope you like it! Jangan lupa like, komen, dan kalau berkenan sangat boleh untuk Vote agar aku makin semangat buat lanjutin novel ini! Oh iya, buat yang belum masuk grup aku, masuk kuy! Soalnya tiap hari aku bagi2 poin meski aku miskin poin wkwkwk..😹