
🖤🖤🖤
Terkadang, seseorang akan bersikap seenaknya saat tahu bahwa ia teramat diinginkan.
🖤🖤🖤
Sepeninggal Rangga dari hadapan Ryuu dan Ara, Ryuu kembali menarik tangan gadis itu. Tak beda dari yang tadi, Ara lagi-lagi menepis paksa tangan Ryuu yang melingkar di pergelangan tangannya. Tentu saja hal itu pun membuat Ryuu cukup kesal padanya.
"Aku mau pulang sendiri saja," kata Ara ketus.
Ryuu berdecak kesal seraya memutar bola matanya malas, "Maumu apa, sih? Asal kau tahu saja, ya. Aku ini sudah mencarimu dimana-mana selama 1 jam lebih. Bunda dan Tante Santia juga sudah menunggumu di rumah."
Ara diam tak bersuara lagi. Sedangkan Ryuu menatap lekat-lekat Ara yang setengah menunduk.
"Matamu... Sembab?" tanya Ryuu menurunkan nada bicaranya.
Ara tersentak kaget. Lalu dengan cepat, ia menutup kedua matanya dengan tangannya.
"Apa kau menangis karenaku?" Ryuu menambah pertanyaan, yang semakin menambah kegugupan Ara.
"Aku kelilipan saja, kok."
"Bohong," kata Ryuu dingin.
Ara menelan ludahnya kasar. Sudah ia duga, pasti Angel ataupun Sam memberitahukan perihal ia menangis karena Ryuu.
"Iya, aku menangis karenamu," ujar Ara jujur pada akhirnya, seraya membalas tatapan Ryuu.
Ryuu tertawa meledek, "Dasar cengeng. Kau menangis hanya karena aku menerima minuman dan snack dari Revina?"
"Bukan hanya itu saja, tahu!" seru Ara kesal karena dirinya di tertawakan Ryuu.
Ryuu menghentikan tawanya. Tatapannya kali ini lebih serius dari yang sebelumnya. Entah kenapa, di tatap se-serius ini membuat Ara cukup salah tingkah.
"Asal kau tahu saja. Siang tadi, aku sengaja menerima minuman dan snack Revina untukku. Ada sesuatu yang aku bicarakan dengannya," jelas Ryuu yang sukses membuat Ara mengernyitkan dahinya.
"Sesuatu? Sesuatu apa?" tanya Ara bingung.
"Masih ingat dengan Cupcake yang Revina berikan untukmu saat malam ulang tahunmu?" Ryuu balik bertanya, membuat Ara semakin bingung.
"Iya, aku ingat. Aku hanya makan segigit saja. Selebihnya, kau yang makan," jawab Ara cukup ketus.
"Revina sudah memberikan obat mabuk di dalam Cupcake itu."
DEG!!!
"Hah? Obat? Kau tahu darimana?" tanya Ara terkejut setengah mati.
"Revina sendiri yang bilang. Aku mendesaknya untuk jujur siang tadi saat di lapangan basket."
"Be.. Berarti, saat aku melihatmu tidur di sofa waktu itu, kau sedang mabuk karena efek Cupcake itu ya?"
Ryuu mengangguk, mengiyakan.
"Lalu, kenapa hanya kau saja yang mabuk? Aku juga kan makan walau hanya segigit," kata Ara heran.
"Kau tidak akan mabuk kalau makan hanya segigit. Karena dosis obatnya memang tidak begitu tinggi," jelas Ryuu cepat.
Ara menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tak percaya ternyata Revina berani berbuat seperti itu padanya. Padahal, di malam ulang tahun Ara, Revina meminta maaf dan terlihat tulus padanya.
Pikiran Ara pun kini melayang ke kejadian malam ulang tahunnya. Ia mengingat ketika Ryuu bilang ingin pulang ke Jepang. Dan juga mengucapkan kata 'Cinta' pada Aoi. Mengingat hal itu, tentu saja membuat hati Ara remuk lagi.
"Al? Kenapa kau diam? Sudah jelas kan masalahnya? Ayo, kita pulang," kata Ryuu membuyarkan lamunan Ara seraya menggenggam tangan sahabatnya itu dengan erat.
Lagi dan lagi. Ara menepis tangan Ryuu kasar. Membuat Ryuu kali ini naik pitam karena ini sudah kesekian kalinya Ara menepis genggaman tangannya.
"Kenapa lagi, sih? Kau sebenarnya mau apa, hah?" tanya Ryuu tak sadar bahwa nada bicaranya cukup tinggi.
"Aku tahu kau mabuk saat malam itu. Tapi, benarkah kau tak mengingat apapun? Sedikitpun?!" Ara balik bertanya dengan nada bicara yang tak kalah tinggi.
"Jujur saja, kepalaku saat itu sangat pusing. Aku tak bisa mengingat apapun selain kau yang duduk di hadapanku!"
Mata Ara berkaca-kaca. Sekuat tenaga ia menahan tangisnya. Tidak, tidak boleh. Ara berprinsip bahwa Ryuu tak boleh melihatnya menangis. Ia tak mau dibilang cengeng lagi oleh sahabatnya itu.
"Al, apa aku melakukan sesuatu padamu?" tanya Ryuu penasaran. Kali ini nada bicaranya cukup lembut.
"Iya, kau一"
"Apa aku melecehkanmu?" tanya Ryuu memotong ucapan Ara. Dilihat dari sorot mata Ryuu, terlihat bahwa Ryuu merasa sangat bersalah.
Ara menggeleng dengan cepat, "Kau tak melecehkanku. Hanya saja, kau menciumku."
Ryuu membulatkan matanya kaget mendengar ucapan Ara. Bersamaan dengan hal itu, otak Ryuu otomatis mengingat hal yang diucapkan Ara padanya. Benar. Ara tak berbohong soal ini. Ryuu bisa mengingat dengan jelas bahwa ia mencium Ara saat itu.
"M.. Maaf," kata Ryuu seraya menundukkan kepalanya.
"Maaf? Kau bilang maaf, hah?!"
"Ya. Aku hanya bisa bilang maaf saja padamu. Kau mau aku apa lagi?" tanya Ryuu ketus. Laki-laki itu malah tersulut emosinya karena Ara.
"Kau tak ingat bahwa kau juga bilang ingin pergi ke Jepang? Ke negara asalmu?"
"Hah? Aku bilang begitu padamu?"
"Iya. Setelah itu, kau bilang bahwa kau mencintai Aoi dan dia adalah cinta pertamamu!" seru Ara tak kalah emosinya dengan Ryuu.
Ryuu membelalakkan matanya kaget. Sedangkan Ara terdiam, tangisnya pecah kala itu juga. Ara tak bisa menahan kesedihannya yang masih mengganjal di hatinya. Ia menangis tersedu-sedu di depan Ryuu. Tak perduli bahwa Ryuu akan menganggapnya cengeng atau tidak.
"Saat di Puncak, kau bilang kan padaku? Walau kau menerima perjodohanmu dengan Aoi, tapi kau belum tentu menyukai gadis itu. Tapi...kenapa? K.. Kenapa kau berbohong padaku, Ryuu?" Ara menghentikan ucapannya lirih. Tangisannya terdengar sangat menyayat hati Ryuu.
"Kau memberiku tantangan beberapa bulan yang lalu. Tantangan pertama darimu adalah aku harus membuatmu menyukaiku. Jangka waktunya hingga kelulusan SMA kita. Apa kau tahu? Saat itu, aku merasa amat bahagia karena kau memberiku harapan dan kesempatan. Tapi, ternyata kau hanya menganggapku mainan semata. Kau mempermainkan perasaanku, Ryuu!"
Ryuu menundukkan kepalanya. Ini pertama kalinya Ara semarah itu padanya. Ya, Ryuu sadar. Ia tak akan bisa meredam emosi Ara yang kini sedang meluap. Ara yang selalu terlihat ceria dan tegar, kini menunjukkan sifat tersembunyinya pada Ryuu.
"Ku pikir, aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku. Ku pikir, aku bisa terbebas dari zona pertemanan masa kecil kita! Tapi, ternyata aku salah. Ya, aku terlalu bodoh karena selama 10 tahun ini hanya cinta padamu! Aku tak pernah sekalipun mencintai laki-laki lain selain dirimu!"
Ara mengelap air mata yang terus menerus keluar dari matanya. Hatinya sudah tak berbentuk lagi sekarang. Ditambah, Ryuu yang sedari tadi diam saja seakan mengiyakan semua ucapan Ara. Begitu sakit, begitu hancur hati gadis itu saat ini.
"Bilang padaku bahwa aku hanyalah beban untukmu! Bilang padaku bahwa kau tak akan pernah bisa menerima rasa cintaku! Bilang padaku bahwa kau一"
"Cukup, Al! Cukup!" seru Ryuu memotong ucapan Ara.
Ara menghentikan ucapannya. Tangisannya semakin menjadi-jadi. Ia meluapkan segala emosi yang beberapa hari ini ia pendam di depan Ryuu. Ah, sepertinya Ara sudah tak perduli lagi akan seperti apa hubungannya dengan Ryuu ke depannya.
"Aku menyerah, Ryuu," lirih Ara sambil menunduk.
Ryuu membulatkan matanya, menatap Ara tak percaya.
"Menyerah?"
"Iya, aku menyerah. Aku tak mau lagi berharap padamu. Aku ingin kita mengakhiri hubungan pura-pura kita sebagai sepasang kekasih," jelas Ara yang tangisannya kini agak reda.
Ryuu memutar bola matanya sambil membuang wajah, "Oh, ternyata cintamu padaku hanya sebatas ini, ya. Sudah kuduga, perasaanmu padaku hanya main-main saja."
"Main-main? Kau bilang, perasaanku padamu main-main?! 10 tahun, Ryuu. 10 tahun! Kau tahu tidak rasa sakitnya bertepuk sebelah tangan selama 10 tahun?!" teriak Ara marah. Lagi-lagi amarahnya meluap. Melihat itu, Ryuu memejamkan matanya. Ia sadar ucapannya itu menyakiti hati Ara lagi.
"Lalu, kau mau apa sekarang? Kau mau hubungan kita seperti apa?" tanya Ryuu mengubah topik pembicaraan.
"Sudah kubilang, aku menyerah! Aku tak akan lagi mencintaimu! Aku akan menjauh, intinya aku tak akan lagi ada di kehidupanmu!"
"Kau lupa dengan perjanjian kita? Kalau nilai UN-mu lebih kecil dariku, kau baru boleh menyerah terhadap perasaanmu padaku. Jangan menjauhiku sesuka hatimu!" seru Ryuu tak terima dengan keputusan Ara.
Ara menggeleng dengan cepat, "Aku berubah pikiran! Mau nilai UN-ku kecil atau tidak, aku akan tetap menjauhimu!"
"Tidak boleh. Kau tidak boleh menjauhiku tanpa alasan yang jelas," ujar Ryuu dingin lengkap dengan tatapan tajamnya.
Ara tak diam. Ia balik menatap tajam Ryuu meski dengan mata yang sembab.
"Kau siapa, hah? Kenapa kau mengaturku sesukamu?" tanya Ara ketus.
"Aku adalah Nakajima Ryuu. Sahabat kecilmu dari saat kita umur 8 tahun," jawab Ryuu yang sukses membuat Ara tersenyum pahit.
"Sahabat? Ya, kau benar. Kau dan aku terjebak zona pertemanan. Dan ini adalah saatnya untuk kita mengakhiri semuanya!" seru Ara seraya membalikkan badan. Bersiap untuk berjalan meninggalkan Ryuu.
Namun, baru saja satu langkah, Ryuu dengan cepat menarik pundak Ara hingga gadis itu kembali berada di hadapannya sekarang. Tak sempat mengelak, Ryuu dengan cepat menarik tengkuk Ara lalu memiringkan kepalanya.
Ryuu mencium bibir Ara tiba-tiba!
Secepat kilat, Ara mendorong tubuh Ryuu. Matanya terbelalak kaget dengan apa yang Ryuu lakukan padanya. Sial, meski Ara berekspresi marah pada Ryuu, tapi jantungnya malah berdetak kencang tak karuan.
"Apa yang kau lakukan, hah?! Kenapa kau menciumku?!" teriak Ara sambil mengelap bibirnya dengan sapu tangan milik Rangga.
"Kau tak akan bisa melupakanku. Dan itu adalah ciuman terakhirku untukmu," jelas Ryuu sambil berjalan duluan, meninggalkan Ara yang masih membeku di tempatnya.
"Ayo, kita pulang," sambung Ryuu tanpa sedikitpun menoleh ke belakang.
Ara menggigit bibir bawahnya kesal. Matanya lagi-lagi mengeluarkan bulir-bulir bening tanpa bisa ia tahan. Ia tak mengerti dengan jalan pikiran Ryuu. Ia tak mengerti kenapa Ryuu malah menciumnya dan berbicara seperti itu padanya. Jika memang Ryuu mencintainya, kenapa Ryuu tak mengelak semua ucapan amarah dari Ara tadi? Kenapa Ryuu malah diam saja?
"Kau benar-benar rumit, Ryuu. Kau membuatku frustasi," lirih Ara seraya berjalan di belakang Ryuu yang sudah berjalan cukup jauh di depannya.
***
🐈CCM's Time🐈
Hei.. Hei.. Hei!!!
Apa kabar kalian semuaaa??? Adakah yang merindukanku? Wkwkwk😹
Aku hiatus beberapa hari aja ya kemaren-kemaren. Maaf ngga ngasih tau kalian dulu😿 Tapi, walau hiatus, aku tetep sempetin ngetik dan jadilah double UP seperti sekarang ini, hihihi😹
Bagaimana? Apa kalian suka chapter kali ini? Apa emosi kalian terkuras juga karena baca perdebatan Ryuu dan Ara yang semakin panas? Hahaha😹😹😹 Hope you like and enjoy reading this chapter😻
Oh iya, btw buat temen2 tercintahku *aseeek* :v Buat kalian yang suka dm aku nanya kapan UP, aku udh nentuin bahwa mulai besok UP novel ini akan rajin tiap hari! Kalau ada kendala, mungkin aku akan kasih pengumuman yaaa biar kalian ada kepastian gtu, wkwk😻😹
Big Love, Meow🐾💖