
Istirahat Sekolah, di Kantin..
"Begitu ceritanya, Ngel. Ah!!! Aku malu sekali pokoknya!!!"
Angel mengangguk-angguk tanda mengerti. Sambil menyeruput es jeruk kesukaannya, ia mencoba menenangkan Ara yang berada di fase 'malu setengah mati'.
"Duh, aku harus bagaimana ini, Ngel?" tanya Ara yang masih bingung sekaligus malu.
"Sam memang harus diberi pelajaran, Ra!" seru Angel agak kesal.
Ara menggeleng, "Tapi, sepertinya Sam seperti itu agar aku semakin dekat dengan Ryuu."
"Ya tetap saja! Bagaimana jika ternyata Ryuu malah merasa tak nyaman denganmu karna foto miliknya dijadikan wallpaper ponsel milikmu?"
"Sedang menggosipkan apa nih, para ladies?"
Kedatangan Sam yang sering tiba-tiba ternyata sudah tak membuat Ara dan Angel terkejut lagi. Tanpa basa-basi, Sam langsung duduk di samping Ara. Karna, jika Sam duduk di samping Angel, sudah pasti ia akan diusir.
"Mau apa sih kau kesini?" tanya Angel ketus.
"Aku kesini untuk Ara, bukan untukmu," timpal Sam meledek.
Angel pun membuang mukanya kesal.
"Ra, yang kemarin bagaimana? Apa Ryuu melihat wallpaper kunci ponselmu?"
Ara mengangguk, "Sam, apa tak ada cara lain selain hal yang kemarin? Aku sungguh malu dan tidak tahu harus bilang apa pada Ryuu, tahu."
"Hahaha, tenang saja. Ryuu sepertinya tak mempermasalahkan itu," ujar Sam dengan santainya.
Ara mengangguk. Baru saja ia akan membuka suara, tiba-tiba saja Ryuu datang bersama dengan Revina.
Ekspresi wajah Ara langsung berubah ketika melihat ada Revina disamping Ryuu. Menyadari akan hal itu, Angel dan Sam hanya tersenyum canggung pada Ryuu dan Revina.
"Apa dia boleh ikut band kalian?" tanya Ryuu sambil melirik Revina disebelahnya.
Angel mendorong pundak Sam, menyuruh laki-laki itu agar menjawab pertanyaan Ryuu.
"E-eh? B-boleh sih, karna anggota dari suatu band minimal 5 orang," jawab Sam terbata-bata karna melihat ekspresi wajah Ara dan Angel yang tidak menyenangkan.
"Wah, syukurlah! Terimakasih ya, kebetulan aku memang bisa main alat musik keyboard," ujar Revina senang.
Ryuu hanya diam lalu pergi dari situ. Diikuti oleh Revina yang berjalan disamping laki-laki tersebut. Suasan hening pun tercipta antara Ara, Angel, dan Sam. Mereka tak bisa bicara apa-apa setelah melihat Ryuu dan Revina tadi.
"Sejak kapan Revina dekat dengan Ryuu?" tanya Sam bingung.
Angel menggeleng, "Entahlah. Sepertinya semenjak Ryuu mengajarkan Revina les."
"Hah? Les?"
"Iya, jangan banyak tanya lagi kau!"
Ara hanya menundukan kepalanya. Rasanya, ia benar-benar tak tahu harus apa. Begitu mengecewakan melihat Ryuu dan Revina bersama. Namun, tentu saja gadis itu tak bisa berbuat apapun. Dia hanya sebatas teman masa kecil juga sahabat Ryuu. Dia bukan seseorang yang spesial bagi Ryuu.
Jadi, tak ada alasan untuknya melarang Ryuu dekat dengan Revina, 'kan?
***
Sepulang sekolah..
"Angel!"
Angel menoleh ke arah samping tepat dimana orang yang memanggilnya berdiri. Ia cukup terkejut karna Sam memanggilnya dengan wajah begitu bersemangat.
"Apa, sih?" tanya Angel ketus.
"Coach Jeremy memanggil kita berlima di ruang Band."
"Eh? Serius?"
"Iya, aku serius. Ngomong-ngomong, Ara dan yang lainnya mana?"
"Sepertinya sih masih di kelas."
"Ya sudah, ayo kita susul mereka disana!" seru Sam seraya menarik tangan Angel dan menggenggamnya.
"Ih, lepaskan!" teriak Angel sambil menepis tangan Sam.
"Jangan kurang ajar, ya!" tambah Angel lagi seraya berjalan duluan didepan Sam. Ia berniat berjalan menuju kelas untuk memanggil Ara dan yang lainnya.
Sam pun tertawa, "Hoho, maaf. Aku tak sengaja, lagipula 'kan berpegangan tangan saja apa salahnya?" tanyanya seraya berlari mengejar Angel.
"Semua tentangmu itu salah! Tidak ada yang benar!" seru Angel berapi-api seraya menghindar dari kejaran Sam.
"Hahaha, kau imut sekali kalau sedang marah-marah."
***
"Oke, selamat siang anak-anak!"
Ara, Ryuu, Sam, Angel, dan Revina terkejut bersamaan saat melihat kedatangan seorang laki-laki gemuk-yang tiba-tiba muncul di pintu kamar mandi ruang Band. Laki-laki gemuk yang umurnya baru menginjak 30 tahun itu pun menghampiri mereka berlima yang masih kaget dengan kedatangannya.
"Wah, wajah kalian tegang-tegang sekali ya. Santai saja padahal, hahaha."
Sam ikut tertawa, "K-kami bukan tegang Coach, hanya kaget saja."
Ara dan Angel memandang Sam bersamaan, "Oh, ini Coach Jeremy?" tanya Ara sambil tertawa canggung.
Dalam hati, sebenarnya Ara agak kaget melihat penampilan dan fashion Coach Jeremy yang agak aneh. Apalagi, nada bicaranya yang penuh canda itu membuatnya semakin berpikir, "Apa dia benar-benar Coach Jeremy, sang pelatih Band yang katanya sangat ditakuti itu?" batinnya.
"Oke, pertama-tama, kita mulai perkenalan dulu ya!" seru Coach Jeremy dengan semangat.
"Karna katanya, tak kenal maka tak sayang kan? Hahaha.." tambah Coach Jeremy sambil tertawa terbahak-bahak.
Semua yang ada disitu pun mencoba tertawa, menghargai apa yang ditertawakan Coach Jeremy juga. Kecuali Ryuu, dia merasa sangat konyol berada di ekskul Band ini. Karna bagaimanapun, dia tak ada sedikitpun minat di Band. Jika bukan karna permintaan Ara, dia pasti tak mau ikut ekskul ini.
"Dimulai dari yang paling kanan. Oke, mulai!" seru Coach Jeremy sambil menunjuk Ara karna memang Ara-lah yang berada di paling kanan.
"B-baik! Ehm, namaku Altheara Ananda Putri. Dipanggil Ara. Aku kelas 3 MIPA B. Keahlianku di bidang alat musik sebenarnya tidak ada."
"Apa? Tidak ada?" tanya Coach Jeremy sangat terkejut.
"T-tapi, aku bisa menyanyi, Coach!" jawab Ara dengan cepat.
Coach Jeremy mengangguk-angguk sambil tersenyum, "Kalau begitu, nanti aku akan mengetes suaramu ya."
"Oke, selanjutnya!" sambung Coach Jeremy masih dengan semangat yang tadi.
***
"Oke, aku sudah tahu keahlian kalian semua. Dan jujur, aku senang bisa mendapat anggota Band yang baru," ujar Coach Jeremy tersenyum-senyum sendiri.
"Ara sebagai vokalis, Angel sebagai Drummer, Ryuu sebagai gitaris, Samudra sebagai Bass, dan Revina..."
"Aku bisa main keyboard, Coach," ujar Revina melanjutkan ucapan Coach Jeremy yang terpotong.
Coach Jeremy mengangguk, "Oke, kalian semua boleh pulang hari ini. Kita lanjutkan lagi di pertemuan selanjutnya!"
"Eh? Kok kita pulang, Coach? Bukankah kita harusnya belajar setidaknya 1 atau 2 lagu?" tanya Angel heran.
"Untuk pertemuan awal, sepertinya cukup sampai sini saja. Lagipula, aku ingin segera pulang karna lapar. Hahaha..." canda Coach Jeremy, namun cukup membuat semua yang ada disitu sebal.
Coach Jeremy pun pergi dari ruang Band. Meninggalkan lima remaja SMA itu yang hanya duduk mematung. Mereka semua saling berpandangan karna suasana canggung tercipta.
"Ya sudah, kalau begitu bukankah kita harus pulang juga?" tanya Angel sambil tersenyum manis.
"Iya, ayo kita pulang!" seru Sam seraya berdiri dari tempat duduknya.
Angel berdecak kesal, "Hei, aku mengajak Ara. Bukan kau!"
"Hahaha, ku kira kau mengajakku," kata Sam dengan wajah tanpa dosa.
"Ryuu, hari ini sepertinya masih ada waktu untuk mengajar les di rumahku. Bagaimana menurutmu?" tanya Revina yang seketika membuat suasana jadi keruh.
Ryuu hanya diam sambil mengangguk. Sedangkan Ara yang berada disampingnya hanya menatap sahabatnya itu dengan tatapan sedih. Merasa ditatap, Ryuu pun melirik Ara sekilas.
"Hmm?" tanya Ryuu bergumam.
"T-tidak kok, tidak apa-apa. Kau boleh mengajar les dulu di rumah Revina. A-aku pulang sendiri, saja. Hehehe.." jawab Ara gugup, menyembunyikan hatinya yang sedang sedih.
Ryuu membuang mukanya, "Baguslah, kau bisa pulang bersama Sam atau Angel. Jangan terlalu bergantung padaku." ucapnya dingin.
Karna kesal mendengar ucapan Ryuu, Revina pun menarik tangan Ara dan membawa Ara keluar dari ruang Band. Tanpa basa-basi juga, Sam mengikuti Angel dan Ara dibelakang.
"Aku muak melihat Ryuu yang seperti itu. Dia mulai tak peduli padamu, Ra," kata Angel kesal.
Ara mengangguk, "Mungkin memang benar, Ryuu menyukai Revina."
"Tuh, 'kan? Kau menyadari hal itu juga, 'kan?"
"Tapi, aku masih belum bisa menyerah, Ngel."
Angel membulatkan matanya, "Kenapa?"
"Ku rasa, masih belum saatnya untuk menyerah terhadap Ryuu," jawab Ara tersenyum meski dengan mata berkaca-kaca.
Di belakang sana, Sam mengepalkan tangannya kesal. Jauh dalam lubuk hatinya, ia juga sebenarnya muak melihat Ryuu yang seperti itu. Bagaimana tidak? Ia adalah saksi bisu dari persahabatan Ara dan Ryuu sejak mereka SMP. Ara dan Ryuu sudah seperti permen karet ataupun magnet yang tak bisa dipisahkan. Namun, saat mereka menginjak kelas 3 SMA, kenapa Ryuu dengan mudahnya dekat dengan perempuan lain? Kenapa Ryuu dengan mudahnya jauh dari Ara? Melihat Ara yang pura-pura tegar, Sam jadi sangat tak tega.
"Sepertinya aku harus semakin ikut campur, ya," batin Sam dalam hati.