
🖤🖤🖤
Kita hanya sekedar ditakdirkan bertemu, lalu berteman.
Bukan untuk bersama-sama.
🖤🖤🖤
Istirahat sekolah, di kantin...
"APA?!"
Sam dan Angel terkejut dengan mulut menganga bersamaan. Pasalnya, Ara baru saja menceritakan kejadian yang baru saja menimpanya dua hari yang lalu. Ya, saat dimana Ryuu memberikan tantangan aneh untuk gadis itu. Tentu saja, Sam dan Angel yang mendengar penuturan Ara pasti sangat terkejut dan shock.
"Kemarin di hari minggu, dia mengajariku pelajaran yang tak aku kuasai. Anehnya, mulutnya itu semakin pedas saja padaku. Apa karna sekarang dia sudah tahu bahwa aku menyukainya ya?" tanya Ara heran.
Sam mengangguk, "Kebanyakan, cowok yang sudah tahu perasaan lawan jenisnya cenderung akan menyepelekan si lawan jenis tersebut. Apalagi jika si cowok tak menyukainya."
Ara cemberut sambil menyeruput pelan es jambunya. Ia menatap Angel, memelas lebih tepatnya.
"Hei! Menurutku sih, bukan seperti itu Sam! Aku yakin, sebenarnya Ryuu juga menyukai Ara! Hanya saja, Ryuu tidak mau mengakui hal itu!" bela Angel pada Ara.
Sam mengangguk-anggukan kepalanya malas. Lalu pandangannya itu ia alihkan pada Ara, "Kau yakin, Ra? Bahwa Ryuu menyukaimu juga?"
"Tidak," jawab Ara sambil menunduk.
Angel mencubit pelan tangan Sam, tapi matanya tak lepas dari Ara yang terlihat sangat sedih.
"Kemarin, dia mengajarimu seperti apa? Apa dia mengajarimu penuh dengan kasih sayang?"
Ara menggeleng perlahan, "Kemarin itu..."
Flashback On
Di kamar Ryuuu..
"Kau serius tidak tahu ini? Bab ini kan sudah dibahas pekan kemarin di sekolah," kata Ryuu sambil mengetuk-ngetuk meja belajar Ara dengan pulpen yang sedang dipegangnya.
Ara cemberut, mata coklatnya itu meminta Ryuu agar berbelas kasihan padanya. Namun, alih-alih berbelas kasihan, Ryuu malah semakin terlihat kesal pada gadis itu.
"Kalau kau memang tidak jago di kelas MIPA, kenapa kau tidak masuk kelas IPS saja saat baru masuk SMA dulu?" tanya Ryuu.
"Itu, karnaã„§"
"Karna kau mengikutiku yang masuk kelas MIPA juga kan?"
"Hehehe, iya. Kau hebat sekali bisa tahu niatku. Hehehe," kata Ara sambil tersenyum-senyum.
Ryuu kali ini menggebrak meja perlahan, sorot matanya itu sudah setajam pedang sekarang.
"Kau masuk kelas MIPA bukan karna niatmu sendiri. Itu sebabnya kau jadi bodoh seperti ini."
"B-bodoh? Aku tidak sebodoh yang kau pikirkan, kok!" elak Ara sambil mengambil boneka beruang coklat milik Ryuu. Siapa lagi kalau bukan Baka?
"Baka-chan, memangnya aku terlihat sangat bodoh ya?" tanya Ara pada boneka tersebut.
"Tidak, kok! Kau sangat pintar dan cantik di mataku, Ara-chan!" seru Ara sambil menggerakkan si Baka, seolah si Baka sendiri yang menjawab pertanyaan Ara.
Ryuu menggeleng-gelengkan kepalanya. Kini ia lebih memilih untuk diam sambil membaca buku kesukaannya.
"Kau baca buku tentang apa?" tanya Ara penasaran.
Ryuu membuang muka, "Buku yang tak akan pernah bisa kau baca," jawabnya ketus.
"Hmm, buku tentang kedokteran kesukaanmu, ya," ucap Ara seraya melirik cover buku yang Ryuu baca.
"Apa kau akan jadi dokter, Ryuu?" tanya Ara pada detik selanjutnya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Ya, soalnya, kau senang sekali membaca buku-buku rumit tentang kedokteran. Kupikir, kau memang bercita-cita jadi dokter. Apa aku benar?"
Ryuu terdiam. Manik mata coklatnya itu menatap lurus ke arah depan. Ia terlihat seperti memikirkan sesuatu.
"Jika aku menjadi dokter, mungkin aku tidak akan tinggal disini lagi," jawabnya tak lama kemudian.
Ryuu tak menjawab apa-apa. Ia hanya menatap Ara lama, lalu kemudian membuang mukanya. Sedangkan Ara kebingungan dan heran sendiri. Ada apa dengan Ryuu? Kenapa ucapannya itu membingungkan?
"Ryuu, jangan-jangan, kau mau pulang一"
"Diamlah, kau berisik sekali. Cepat selesaikan soal yang kuberikan padamu!" kata Ryuu memotong ucapan Ara.
Ara tersadar seraya mengangguk, "S-siap!" serunya. Meski dalam hatinya, ia masih ingin bertanya lebih jauh pada Ryuu.
Flashback Off
"Ahh, aku harus bagaimana nih? Sam, Angel. Bantulah aku!"
Sam dan Angel saling berpandangan. Rupanya, mereka berdua sangat mengerti maksud dari cerita Ara tadi. Tapi kenapa Ara sendiri tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan Ryuu dalam ceritanya?
"Ara, sepertinya jika kita lulus nanti, Ryuu akan pergi ke Jepang lagi, deh. Kemungkinan dia akan kuliah disana, bekerja disana, lalu menikah disana一"
"Ah, Sam! Jangan menakutiku!" seru Ara sambil menutup kuping dengan kedua tangannya.
"Tapi, Ra. Benar apa kata Sam. Jika Ryuu akan menjadi dokter, mungkin dia tak akan tinggal disini lagi," imbuh Ara membenarkan ucapan Sam.
"Huh! Mentang-mentang kalian sudah berpacaran, pendapat kalian juga bisa sama seperti itu," celoteh Ara sambil memanyunkan bibirnya.
Angel tertawa, "Ryuu menantangmu untuk membuatnya jatuh cinta padamu hingga kelulusan nanti kan? Jika sampai waktu kelulusan Ryuu belum jatuh cinta padamu, bisa saja Ryuu benar-benar akan pergi meninggalkanmu dan menetap di negara kelahirannya, yaitu Jepang."
"Nah! Benar tuh!" seru Sam mengangguk-angguk.
Ara semakin memanyunkan bibirnya mendengar perkataan dua sejoli yang ada dihapadannya itu.
"Lalu, aku harus bagaimana?" tanya Ara.
"Kau harus membuatnya tertarik padamu! Bagaimanapun caranya!" seru Sam bersemangat.
"Eh? Tidak, tidak, tidak. Kau pikir mudah menaklukan dia? Untuk bersahabat dengannya saja aku cukup kesulitan dulu, apalagi membuatnya jatuh cinta padaku?"
"Ra, mulai detik ini, kau harus berubah! Kau tidak boleh jadi Ara yang seperti ini lagi!" ujar Angel menambahkan.
"Lho, memangnya ada apa dengan diriku yang sekarang?" tanya Ara kebingungan.
"Kau itu selalu optimis namun mudah untuk pesimis," kata Rangga yang berdiri di samping Ara, entah sejak kapan.
Ara, Angel, dan Sam saling berpandangan. Lalu detik selanjutnya, ekspresi mereka berubah karna terkejut dengan kedatangan Rangga. Sedangkan Rangga hanya tersenyum manis seperti biasa.
"Rangga? Kau menguping, ya?!" teriak Ara terkejut.
***
"Dengar, Ra. Ryuu sudah memberi kesempatan padamu untuk membuatnya jatuh cinta padamu. Kau jangan sia-siakan itu!"
"Bagaimanapun, kau harus membuatnya jatuh cinta padamu sebelum hari kelulusan tiba. Coba kau hitung, deh. Waktu kelulusan sekitar 8 bulan lagi. Berarti ada waktu 8 bulan untukmu agar terus berusaha mendapatkan hati Ryuu!"
"Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Sekeras dan sedingin apapun es, pasti akan meleleh juga pada akhirnya. Buat Ryuu tergila-gila padamu seperti kau tergila-gila padanya!"
"Ya, aku yakin! Kau pasti bisa! Kita berdua akan senantiasa mendukungmu!"
Ara mengayuh sepedanya sambil melamun, ia teringat ucapan Sam dan Angel sepulang ekskul Band tadi. Memang. Tak ada yang salah dengan ucapan dua temannya itu. Tapi, perkataan Sam dan Angel malah membuatnya cukup terbebani.
"Bagaimana caranya membuat dia jatuh cinta padaku?"
Kira-kira, seperti itulah pertanyaan yang langsung melintas di pikiran Ara saat mendengar Sam dan Angel menyemangatinya.
Ara melewati toko souvenir dan aksesoris. Melihat toko itu, ia pun menghentikan laju sepedanya dan berputar arah menuju toko souvenir tersebut. Setelah mem-parkir sepedanya di halaman depan toko, dengan cekatan ia masuk ke dalam toko itu.
"Ulang tahun Ryuu tinggal 2 hari lagi. Aku bingung akan membelikannya apa," batin Ara dalam hati sambil berjalan, melihat-lihat barang yang dijual disitu.
DEG!!!
Langkahnya terhenti seketika saat melihat pemandangan tak mengenakkan ada di hadapannya sekarang. Karna terlalu terkejut, Ara malah berteriak kecil yang membuat seluruh orang di toko itu menoleh ke arahnya.
"Al? Mau apa kau kesini?" tanya Ryuu yang cukup terkejut melihat Ara.
Ara berdehem, mencoba menetralisir pikirannya yang kacau dan hatinya yang terbakar cemburu. Bagaimana tidak? Ryuu ternyata bersama Revina di toko itu layaknya kekasih!
Jika bisa, ingin rasanya Ara menarik Ryuu agar tak dekat-dekat dengan Revina. Ingin rasanya ia membuat Ryuu hanya dekat dengannya saja. Namun, mustahil. Bagaimanapun, Ara hanyalah sahabat Ryuu, bukan kekasihnya.
"Ya tuhan, aku harus bagaimana ini?" batin Ara sedih sambil menatap Ryuu dalam-dalam.