STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 77 - Marah



🖤🖤🖤


Jika kau benar-benar mencintaiku. Bagaimana supaya aku percaya kata-katamu itu?


🖤🖤🖤


"Ra, ini buket bunga untukmu!"


Ara dan Angel berhenti melangkah tatkala Rangga一yang entah datang dari mana一menghadang Ara dan Angel yang hendak berjalan ke kelas. Di samping Rangga, ada Revina dan kawan-kawannya yang tersenyum menatap Ara.


"Buket bunga?" Ara bergumam heran.


"Ini permohonan maafku karena kemarin tak bisa mengantarmu pulang," jelas Rangga tersenyum malu.


Ara tersentak kaget sambil membulatkan matanya.


"Eh? Rangga tak mengantarku pulang tadi malam? Lalu, siapa yang mengantarku kalau begitu? Kenapa saat aku membuka mata tadi malam, aku sudah berada di kamarku?" batin Ara bertanya-tanya.


"Selamat ya Ra, kalian resmi berpacaran, " ujar Revina tersenyum manis. Mendengar itu, Ara dan Angel saling berpandangan tak mengerti.


"Ra? Kau berpacaran dengan Rangga?" tanya Angel kaget.


Ara menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, "T-tidak. Kemarin kami hanya main saja, tapi Rangga tak menembakku一"


"Ra, kau serius melupakan hal kemarin yang terjadi di antara kita?" potong Rangga terlihat sedih. Membuat Ara semakin kaget dan bingung dibuatnya.


"Eh? Apa sih maksudmu?" Ara mengernyitkan dahinya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Aku benar-benar tak mengerti."


Rangga tersenyum manis sebelum akhirnya berjalan mendekati Ara. Lalu setelah itu, ia mendekatkan kepalanya samping kepala Ara. Membisikkan sesuatu pada gadis tersebut.


"Ya sudah, kalau begitu, nanti akan kuberi tahu. Disini ramai, jadi aku tak bisa asal memberitahukannya padamu," bisik Rangga seraya mengerlingkan sebelah matanya.


Ara terdiam. Pikirannya berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi kemarin bersama Rangga. Namun, nihil. Hal terakhir yang bisa ia ingat hanyalah ketika ia dan Rangga sedang makan di Restoran China. Setelah itu, ia tak bisa mengingat apapun lagi.


Tanpa Ara dan Angel sadari, Revina tersenyum miring. Rupanya, rencana kencan yang dilakukan Rangga tak lain adalah bagian dari rencananya juga. Rangga hanyalah boneka Revina yang kebetulan一memang menyukai Ara. Jadi, dengan begitu, Rangga sangat mudah sekali diperalat oleh Revina.



Dari kejauhan, tampak Ryuu berdiri memperhatikan Ara. Meskipun tak menguping dari awal, tapi Ryuu mendengar saat Revina bilang selamat pada Ara atas hubungannya dengan Rangga. Dan entah kenapa, hal itu membuat Ryuu kesal mendengarnya.


"Ucapan cintamu itu tak bisa dipercaya, Al," gumam Ryuu sambil membalikkan tubuh. Lalu berjalan menuju kelasnya.


***


Sepulang Sekolah...


"Dadah, Ryuu, Rangga! Aku pulang dulu!" seru Sam seraya menyalakan mesin motornya. Tak lama setelah itu, ia pun meninggalkan Ryuu dan Rangga berdua di parkiran sekolah.


Sore ini, suasana parkiran sekolah begitu sepi. Hanya ada Rangga dan Ryuu disana. Itu karena banyak murid yang sudah pulang, seperti Ara dan Angel. Namun juga banyak murid yang melaksanakan ekstrakulikuler.


"Wah, tumben sekali ya Sam tidak pulang sekolah bersama Angel. Mereka berpacaran kan, Ryuu?" Rangga memulai percakapan dengan santai sambil tersenyum ramah.


Ryuu melirik Rangga sebentar. Lalu detik berikutnya, ia segera berjalan menuju sepedanya yang ia parkir. Pertanyaan Rangga hanya dianggap angin belaka olehnya.


Menyadari akan hal itu, Rangga pun tersenyum. Ia mulai gencar melaksanakan aksinya untuk membuat Ryuu marah padanya.


"Ehm, Ryuu. Bicara soal pacaran, kau tahu tidak bahwa aku resmi jadi pacar Ara? Aku menembaknya kemarin saat kami kencan," ujar Rangga sambil kembali tersenyum. Namun, kali ini bukanlah senyuman ramah atau manis yang ia tampakkan. Tapi senyuman seperti orang yang menantang.


Ryuu tak mengindahkan ucapan Rangga. Ia malah mengambil sepedanya lalu segera duduk di jok sepeda tersebut tanpa bicara apa-apa.


"Mau kau itu pacar Al atau bukan, aku tak perduli," kata Ryuu sinis sebelum akhirnya ia mengayuh sepedanya perlahan. Meninggalkan Rangga yang diam tak berkutik.


"Aku mencium Ara! Aku menembaknya lalu menciumnya kemarin!" teriak Rangga agar suaranya bisa di dengar Ryuu.


DEG!


KRIIITTT!!!


Ryuu seketika menghentikan laju sepedanya sambil menoleh ke belakang一ke arah Rangga berdiri. Disana, Rangga tersenyum miring karena ia sadar sudah berhasil membuat Ryuu terkejut dan pasti marah padanya.


Dengan emosi yang masih Ryuu tahan, ia memutar balik arah sepedanya lalu mengayuh kembali menuju tempat Rangga berdiri.


"Kenapa? Kau terkejut?" Rangga bertanya dengan nada menantang sesampainya Ryuu dihadapannya.


Ryuu menatap tajam Rangga, "Aku tak akan percaya begitu saja padamu. Kau dan Revina sama-sama licik. Kalian memang saudara yang sangat serasi," sindir Ryuu pedas.


Rangga tertawa terbahak-bahak mendengar sindiran Ryuu.


Ryuu membulatkan matanya kaget. Hatinya mulai terguncang mendengar ucapan Rangga. Ya, ia tak mau asal percaya pada Rangga. Tapi, kenapa ia malah ragu pada Ara? Apakah benar Ara diam saja saat Rangga menciumnya berkali-kali? Jika memang Ara menyukai Ryuu, gadis itu pasti tak akan mau dan pasti akan menolak jika dicium laki-laki lain selain Ryuu.


Ya, normalnya memang begitu, kan?


"Kau tahu? Saat aku mencium bibir Ara, ia terlihat sangat menikmati ciumanku. Apalagi saat aku mulai menciumi lehernya. Ia benar-benar一"


BRUGGHHH!!!


Ryuu sekuat tenaga menonjok pipi Rangga menggunakan tangannya yang sedati tadi ia kepal. Amarahnya meledak saat ini dan tak bisa ia kendalikan lagi. Nafasnya memburu, wajahnya memerah, dan tatapannya tajam seperti psikopat yang siap membunuh korbannya.


Bukannya kapok, Rangga malah tertawa terbahak-bahak lagi. Ia mengelap perlahan bibirnya yang berdarah dan agak sobek akibat tonjokkan Ryuu.


"Wah, tak kusangka murid jenius dan berbakat sepertimu bisa seperti ini juga," kata Rangga dengan nada meledek.


"Jujur padaku. Saat kemarin aku menjemput Al di Restoran China, kenapa dia bisa tertidur dikursi Restoran? Kau memberinya obat tidur, kan?!" tanya Ryuu pelan. Namun sarat akan emosi.


"Hahaha, benar." Rangga tersenyum miring, "Tadinya, aku berniat akan menidurinya. Makanya, aku mengajaknya ke Restoran dan memasukkan obat tidur ke minumannya."


BRUGGHHH!!!


Ryuu kembali menonjok pipi Rangga. Kali ini, tenaganya lebih kuat 2x lipat dari yang sebelumnya. Sampai-sampai Rangga terpental ke belakang dan jatuh ke tanah dengan keras. Setelah itu一tanpa berkata apa-apa, Ryuu pun meninggalkan Rangga yang terkapar di tanah. Ia mengayuh sepedanya sangat cepat untuk segera pulang ke rumahnya.


Rangga entah untuk yang keberapa kalinya一tertawa terbahak-bahak. Ia membiarkan tubuhnya terkapar dan terlentang di tanah.


"Emosi orang pendiam sangat menakutkan, ya. Hahaha," gumam Rangga dengan santai.


***


Ara sedang menonton anime romantis di ponselnya. Sesekali ia tersenyum-senyum, lalu tertawa terbahak-bahak menonton anime tersebut. Karena bosan menonton sambil duduk, ia pun merebahkan dirinya di ranjang sambil terus menonton anime kesukaannya itu.


KLEK!


Pintu kamar Ara terbuka. Menampilkan seorang wanita berusia 40 tahun berpakaian rapi dan membawa tas belanja.


"Ra, Mommy ke Supermarket dulu ya," kata Santia memberi tahu.


Ara mengangguk-angguk, tapi matanya tak lepas dari ponselnya.


"Kau yakin tak mau ikut?" tanya Santia memastikan.


"Tidak, Mom. Sebentar lagi aku mau mandi," jawab Ara cepat.


"Oh, baiklah. Mommy berangkat dulu ya, Nak!"


Pintu kamar Ara pun ditutup. Sedangkan Ara kembali fokus menonton anime. Ia benar-benar tak mau terlewat sedikitpun dialog yang ada di anime tersebut.


Tanpa sadar, matanya menatap ke arah jam dinding. Jarum jam menunjukkan angka pukul 17:35. Dengan cepat, ia mematikan ponselnya lalu segera bergegas masuk ke kamar mandi untuk mandi sore.


"Jika aku terlalu lama menonton anime, bisa-bisa aku lupa mandi, makan, dan tidur. Aku harus berusaha agar aku tak kecanduan. Apalagi sebentar lagi akan UN," batin Ara sadar dalam hatinya.


Beberapa menit kemudian...


Ara keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang segar dan wajah yang berseri. Handuk putih yang melingkar di tubuhnya sangat serasi dengan kulit putihnya yang cerah. Sambil menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuk khusus kepala, ia bersenandung kecil.


Tiba-tiba...


TOK! TOK! TOK!


"Mom? Mommy tak jadi ke Supermarket?" tanya Ara heran karena mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya.


TOK! TOK! TOK!


Ara tertawa kecil karena menyadari tingkah Mommy-nya yang mulai menyebalkan.


"Masuk saja, Mom. Dari tadi kan tidak aku kunci," ujar Ara kembali menggosok-gosok rambutnya dengan handuk.


KLEK!!!


"Mom, shampoo-ku habis. Nanti aku ikut ke Supermarket, ya. Hehehe."


Hening. Tak ada suara apapun yang terdengar di telinga Ara. Padahal jelas-jelas tadi ia mendengar pintu kamarnya sudah terbuka. Dengan perasaan terheran-heran, ia pun membalikkan tubuhnya dan menatap lurus一seseorang yang berdiri di ambang pintu kamarnya.


DEG!!!


"M-mau apa kau kesini?" tanya Ara terkejut setengah mati.