
...🖤🖤🖤...
...Aku tak memintamu untuk melupakanku. Aku hanya minta, semoga kau bisa baik-baik saja tanpa adanya aku dalam keseharianmu....
...🖤🖤🖤...
Di Bandara...
"Bagaimana, Ngel? Apa Al sudah ada kabar? Apa dia sudah di jalan untuk kesini?" tanya Ryuu datar namun terdengar gelisah.
Angel menggeleng perlahan lalu menatap Ryuu yang berdiri di sampingnya. Raut wajah Ryuu terlihat sedih, sama seperti Sam yang duduk di samping Angel.
"Tenanglah, Ryuu. Kau duduk saja dulu disini, di sampingku. Aku yakin Ara akan segera datang," ujar Sam mencoba menenangkan Ryuu.
"Sebentar lagi aku akan check in, Sam. Aku tak punya banyak waktu," kata Ryuu seraya menyapu seluruh pandangannya. Ia berharap bisa menemukan Ara diantara banyaknya orang yang berlalu-lalang di sekitaran bandara.
Angel tiba-tiba berdecak sambil berdiri, menatap Ryuu cukup kesal.
"Lagipula, kenapa sih kau tak bilang dari awal pada kami bahwa kau akan pergi ke jepang? Kenapa mendadak sekali, Ryuu? Terlebih, kau juga pasti akan membuat Ara sangat sedih tentang hal ini!" seru Angel cukup emosi. Membuat Sam一sang pacar一ikut bangkit dari posisi duduknya.
"Angel, ini bukan waktu yang tepat untuk marah-marah pada Ryuu. Kau harus mengerti situasi saat ini," kata Sam mencoba menenangkan Angel.
Angel bungkam. Ia berusaha meredam emosinya pada Ryuu. Ya, benar apa kata Sam. Ini bukanlah waktu yang tepat untuk marah-marah. Apalagi, Angel yakin Ryuu juga sekarang sedang sedih dan panik karena Ara tak kunjung datang.
Sam menggenggam tangan Angel dan menuntun pacarnya itu agar kembali duduk di sampingnya.
"Coba kau hubungi lagi Ara, Ngel," pinta Sam pada Angel.
Angel mengangguk. Dengan cekatan, ia menyalakan ponselnya dan kembali memanggil Ara untuk ke sekian kalinya.
Tak butuh waktu lama, Ara mengangkat telepon Angel cukup cepat.
"Halo? Ra? Kau sekarang dimana?"
"Aku dan Kak Angga terjebak macet di jalan, Ngel. A-apa Ryuu masih ada di bandara?"
"Masih, ia masih ada disini bersamaku dan Sam."
"K-kalau begitu, bilang padanya untuk menungguku!"
"T-tapi, Ra..."
Tut!
Sambungan telepon terputus. Membuat Angel sendiri bingung kenapa panggilannya terhenti begitu saja. Padahal, ia tak mematikan telepon. Dan ia juga yakin, di saat seperti ini 一Ara juga tak akan mematikan telepon sepihak. Setidaknya, Ara pasti ingin bicara dengan Ryuu lewat telepon yang tersambung di ponsel Angel, kan?
***
"Duh! Kenapa ponselku harus lowbat segala!" keluh Ara kesal dalam hatinya. Ia mengacak rambutnya frustasi.
"Ada apa, Ra? Apa sahabatmu sudah berangkat ke jepang?" tanya Angga menyadari gerak-gerik Ara yang aneh.
Ara menggeleng pelan. Ia menatap lurus ke jendela mobil一menatap jalan raya yang macet dipenuhi oleh banyak mobil. Entah apa yang membuat jalan macet hari ini. Padahal biasanya, mau hari libur atau tidak一jalan raya tak akan se-macet dan se-ramai ini.
"Kak Angga, jarak dari sini ke bandara tak jauh lagi kan?" tanya Ara memastikan. Ia menatap serius Angga yang duduk di sampingnya一tepatnya di bangku pengemudi.
Angga mengangguk namun terlihat tak yakin.
"Memangnya kenapa, Ra? Percuma saja kau naik angkutan umum, bis, atau taksi一"
"Aku akan berlari saja menuju bandara, Kak! Dadah!" seru Ara seraya membuka pintu mobil Angga.
Gadis itu pun dengan cepat melesat. Ia berlari menyusuri trotoar jalan dan melewati banyak mobil yang berjajar akibat macet. Sambil terus berlari, air matanya tak henti-hentinya mengalir. Pikirannya kacau karena masih bingung kenapa Ryuu akan pergi ke jepang. Padahal, hari ini harusnya adalah jadwal 'kencan' mereka yang kedua kalinya. Tapi kenapa ternyata justru kenyataan ini yang ia dapatkan dari Ryuu?
"Ryuu, tunggu aku! Aku akan segera menemuimu di bandara!" batin Ara menjerit. Berharap masih ada kesempatan untuk menemui Ryuu walau kesempatannya itu hanya beberapa persen saja.
***
"Ryuu!"
Angel, Sam, dan Ryuu bersamaan menoleh ke belakang. Di belakang mereka一berjarak sekitar 6 meter一berdiri seorang gadis cantik. Gadis itu mengenakan setelan dress selutut berwarna peach, selaras dengan kulit putih dan rambut panjang bergelombangnya. Sambil terus tersenyum menampakkan deretan giginya yang putih bersih, gadis itu berjalan sambil menyeret koper yang ada di tangannya. Aura manis sekaligus elegan terpancar dalam diri gadis itu.
"Ryuu! *Hisashi buri! O genki desuka?" tanya gadis itu yang kini sudah berdiri di hadapan Ryuu.
((*Sudah lama tak bertemu! Bagaimana kabarmu? ))
Sam dan Angel saling berpandangan. Selain tak mengerti dengan bahasa gadis tersebut, mereka berdua juga tidak kenal siapa dia.
"*Naze anata wa koko ni iru nodesu ka?" Ryuu membalas perkataan gadis tersebut. Bisa Sam dan Angel lihat, bahwa Ryuu seperti tak senang dengan kedatangan gadis tersebut.
(( *Kenapa kau ada disini? ))
Baru saja gadis itu akan menjawab, Angel terlebih dahulu membuka suaranya.
"Ryuu, apa dia keluargamu di jepang?" tanya Angel mengernyitkan dahi bingung.
"Bukan, dia adalah一"
"Halo! Selamat siang! Namaku adalah Tachibana Aoi, aku adalah gadis yang sudah dijodohkan Ryuu dari saat kami berdua masih kecil! Salam kenal ya!" seru gadis bernama Aoi itu一sukses membuat Ryuu sangat terkejut. Tak hanya Ryuu, Sam dan Angel juga ikut kaget.
"Eh? *Indoneshia-go ga hanasemasu ka?" tanya Ryuu tak percaya.
(( *Kau bisa bicara bahasa indonesia? ))
Gadis itu tersenyum lebar, "Tentu saja bisa dong! Kau pikir, selama bertahun-tahun aku merindukanmu di jepang一aku hanya berdiam diri saja begitu? Aku belajar bahasa indonesia secara otodidak. Karena aku berharap, aku bisa menyusulmu ke Indonesia. Tapi, sepertinya aku tak perlu lagi belajar bahasa indonesia, ya. Karena apa? Karena..."
Aoi mendekatkan diri ke arah Ryuu. Ia dengan cepat menjinjitkan kedua kakinya lalu memeluk Ryuu dengan erat. Sedangkan Ryuu diam, tak membalas pelukan dari Aoi.
"Karena akhirnya, kau akan pulang ke jepang. Menetap disana bersama keluargamu, dan juga keluargaku. Aku sangat senang, Ryuu. Aku sudah lama menantikan hal ini," kata Aoi dengan mata berkaca-kaca. Semakin mempererat pelukannya pada Ryuu.
"Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau ada di sini?" Ryuu mengalihkan pembicaraan.
"Aku sudah disini dari dua hari yang lalu. Aku hanya ingin menyambutmu lebih awal dari keluargamu yang ada di jepang. Bahkan, aku sampai repot-repot memesan tiket pesawat dan mengatur jadwal penerbangan yang sama denganmu."
"Jadi, ini alasannya kenapa beberapa hari lalu kau menanyakan padaku perihal tiket pesawat dan jadwal penerbanganku. Kau cukup berlebihan, ya," kata Ryuu seraya melepaskan pelukan Aoi secara sepihak. Membuat Aoi cukup kecewa karena tindakan lelaki itu.
"Sudah jam segini. Aku harus segera check in dan pergi," kata Ryuu menatap jam tangan di tangannya. Lalu ia mengalihkan pandangannya pada Angel dan Sam yang sedari tadi diam saja.
Sam tanpa bicara apa-apa langsung memeluk Ryuu dengan mata berkaca-kaca.
"Sampai jumpa, Ryuu. Maaf jika aku banyak membuatmu kesal. Jangan lupakan aku, ya. Jika ada waktu, berkunjunglah sesekali ke Indonesia untuk menemuiku atau menemui Ara," kata Sam seraya melepaskan pelukannya pada Ryuu.
Ryuu menggeleng, "Aku tak akan pernah ke Indonesia lagi一"
Ucapan Ryuu terhenti karena suara pengumuman di bandara menggema di segala penjuru. Pengumuman tersebut menyebutkan bahwa penerbangan pesawat X yang menuju Jepang akan segera lepas landas. Maka dari itu, bagi penumpang yang sudah memiliki tiket diharap untuk melakukan check in sekarang.
"Ryuu, ayo kita check in," ajak Aoi sembari menggenggam tangan Ryuu.
Ryuu menatap tangan Aoi yang menggenggam erat tangannya. Di saat-saat seperti ini, sebenarnya tangan Ara-lah yang ia harapkan menggenggam tangannya untuk yang terakhir kalinya.
"Ayo," balas Ryuu. Mereka berdua pun membalikkan tubuh lalu berjalan sambil menyeret koper masing-masing. Meninggalkan Sam dan Angel yang berdiri terpaku di tempat.
Sam menyeka air matanya yang perlahan turun di pipinya. Menyadari itu, Angel segera memberikan tisu pada pacarnya tersebut.
"Aku sangat sedih. Bagaimanapun, Ryuu adalah sahabat pertamaku."
Angel mengangguk tanda mengerti perasaan Sam.
"Aku mau ke toilet dulu ya. Kau kan tahu sendiri, kalau aku sedang sedih pasti selalu sakit perut," ujar Sam seraya berlari meninggalkan Angel sendiri. Mencari toilet.
Angel menggeleng-gelengkan kepalanya, "Bisa-bisanya dia sakit perut disaat situasi seperti ini."
"Eh, tapi, tunggu. Kalau Sam saja bisa se-sedih itu karena kepergian Ryuu. Bagaimana nasib Ara, ya?" lirih Angel gelisah. Matanya menatap ke sekeliling penjuru bandara.
Dan...
DEG!!!
Angel membelalakkan matanya kaget karena melihat Ara berdiri diantara banyaknya orang yang berlalu lalang di bandara itu. Ara berdiri tak jauh dari tempat Angel berdiri. Gadis itu terlihat menatap kosong lantai putih bandara.
"Ara!" seru Angel seraya berlari secepat kilat menghampiri Ara.
"Ra! Ara!" Angel mengguncang pelan tubuh Ara agar Ara tersadar dari tatapan kosongnya.
"Ra, kau sejak kapan berdiri disini?" tanya Angel masih kaget.
"Aku tadi melihat Ryuu dipeluk oleh seorang gadis. Siapa gadis itu?" Ara balik bertanya. Namun tatapannya tetap kosong dan raut wajahnya juga datar tanpa ekspresi.
"I... Itu..." Angel bingung harus menjawab apa. Jika ia jawab jujur, pasti itu akan semakin melukai hati Ara, bukan?
"Aku tahu. Dia adalah gadis yang dijodohkan dengan Ryuu. Tachibana Aoi, namanya. Benar, kan?"
Angel mengalihkan pembicaraan, "Kenapa kau tak langsung menghampiri Ryuu tadi? Kalau saja kau menghampiri Ryuu, kau mungkin bisa mengucapkan salam perpisahan padanya," ucap Angel seraya menyeka air mata Ara yang sedikit demi sedikit jatuh membasahi pipi.
Ara diam. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi selain kecewa karena ia melihat secara langsung一Ryuu dipeluk oleh Aoi. Dan, parahnya, Ryuu tak menolak pelukan tersebut.
"Hahaha, kenapa aku menangis ya? Padahal jelas-jelas aku dan Ryuu tak punya hubungan apa-apa. Tapi kenapa rasanya seperti aku ditinggalkan dan di khianati olehnya?" Ara tertawa getir sambil berusaha menahan air matanya. Namun, nihil. Air matanya terus saja keluar tanpa bisa ia tahan.
Baru saja Angel akan memeluk Ara. Tiba-tiba tubuh Ara ditarik oleh seseorang dari belakang. Dan...
BRUK!
Ara kini berada dalam dekapan seorang lelaki.
"Ryuu?" Ara tersenyum lebar sambil mendongakkan kepalanya ke atas. Matanya yang tadinya berbinar kembali meredup karena melihat orang yang memeluknya bukanlah Ryuu. Melainkan Angga yang baru saja datang.
Tangisan Ara pun langsung pecah saat itu juga. Membuat Angel maupun Angga ikut merasa sedih karena mendengar tangisan Ara yang terdengar sangat menyedihkan.
"Ra! Ara!" seru Sam dari kejauhan seraya berlari menghampiri Angga, Angel, dan Ara.
"Ini, ada surat dari Ryuu," kata Sam seraya menyodorkan secarik kertas yang sudah dilipat pada Ara.
Angga pun melepaskan pelukannya pada Ara. Mempersilahkan Ara untuk mengambil kertas tersebut dari tangan Sam.
"Dari mana kau mendapatkan surat itu? Bukankah tadi Ryuu sudah pergi check in bersama Aoi?" tanya Angel sambil berbisik pada Sam.
"Tadi saat keluar dari toilet dan berjalan menuju kesini, aku bertemu dengan Ryuu. Ia sedang berdiri memperhatikan Ara yang sedang dipeluk Kak Angga tadi," jawab Sam ikut berbisik.
"Hah? Ryuuu melihat一"
"Iya. Mungkin karena Ryuu buru-buru, ia jadi tak ada waktu memberikan surat ini pada Ara. Akhirnya ia menitipkannya saja padaku."
"Bodoh, dasar kau tak peka," ketus Angel kesal pada Sam yang tak mengerti. Jelas-jelas, alasan kenapa Ryuu menitipkan surat tersebut pada Sam adalah karena Ryuu cemburu melihat Ara dipeluk oleh Angga.
Dengan perasaan tak karuan, Ara pun perlahan membuka lipatan kertas tersebut. Merentangkannya agar surat dari Ryuu tersebut bisa ia baca.
Untuk Altheara Ananda Putri.
Sebenarnya, aku ingin mengatakan ini secara langsung padamu. Tapi, karena kau tak kunjung datang ke halte bus ataupun bandara, aku akan menuliskan perihal yang akan ku utarakan dalam secarik kertas ini saja.
Al, kau adalah sahabat terbaikku. Kau adalah teman pertamaku saat aku tiba di Indonesia. Dari umur 8 tahun kita sudah bersama-sama. Namun, aku minta maaf kalau aku terkadang masih tak bisa memahamimu. Aku masih tak bisa mengerti sikapmu yang keras kepala, terlalu cerewet, dan terlalu ceria.
Kau tahu? Sebenarnya, sebelum kau bilang padaku bahwa kau menyukaiku, aku sudah tahu hal itu sejak dulu. Hmm, aku sudah menyadarinya saat kita duduk di bangku SMP. Itu karena kau selalu saja menempel padaku, tanpa pernah dekat dengan laki-laki selain diriku. Saat itu, aku pikir kau hanyalah penghalang yang akan menghalangiku dalam belajar.
Makanya, selama ini aku berusaha untuk membuatmu menyerah terhadapku. Perlakuanku yang dingin, ucapanku yang pedas, dan sikapku yang tanpa hati tak lain hanya untuk membuatmu bisa menjauh dariku. Namun, bukannya menjauh, kau malah terlihat semakin menyukaiku dan tak pernah ingin lepas dari sisiku.
Sebenarnya jika boleh jujur, aku itu benci gadis bodoh. Tapi, setelah bertemu dan mengenalmu lebih dalam, kupikir tak ada salahnya bersahabat dengan gadis bodoh sepertimu. Selain menghibur, ternyata kau memiliki energi ceria yang tak semua orang punya. Hahaha...
Oh iya, aku meninggalkan boneka pemberianmu. Baka-chan, kan namanya? Kau memberikannya padaku saat aku ultah kelas 9 SMP. Aku sudah menitipkannya pada Mommy-mu. Ku pikir, kalau aku menitipkan itu, mungkin kau tak akan merasa kesepian karena Baka-chan masih ada bersamamu.
Al, sebenarnya aku sangat bersyukur bisa memiliki sahabat sepertimu. Terlepas dari kau bodoh dan keras kepala, sejujurnya aku selalu nyaman saat di dekatmu. Entah kenapa, hatiku selalu saja damai saat melihat senyuman dan tawamu. Kau benar-benar membangkitkan jiwa semangatku tiap kali aku melihatmu.
Namun...
Maaf ya, jika aku sering membuatmu sakit hati. Maaf, jika aku sering membuatmu menangis tanpa sepengetahuanku. Kau tetap saja mau berada didekatku, padahal ucapanku seringkali menyakitimu.
Aku benar-benar minta maaf jika selama 10 tahun terakhir ini, aku tak selalu memperlakukanmu dengan baik. Aku memang laki-laki yang egois dan tak tahu diri, Al. Kau tak seharusnya mencintai laki-laki seperti diriku.
Ah, sepertinya kata maaf saja tak cukup ya. Aku tak tahu harus bilang apa lagi. Intinya, aku sangat berterimakasih dan bersyukur bisa dipertemukan denganmu. Andai saja aku bertemu gadis lain, mungkin aku tak akan pernah bisa merubah sifatku yang seperti ini.
Al, aku pergi ya. Aku akan menyusul Bunda di Jepang. Dan tentunya, aku tak akan pernah pulang lagi ke Indonesia. Karena aku harus menetap di Jepang bersama Bunda. Mungkin, di Jepang aku akan bekerja agar tak merepotkan Nenek dan bisa membantu keuangan untuk persalinan Bunda nanti. Jadi kau tak perlu mengkhawatirkanku, ya.
Oh, iya! Aku sudah mengirimkan video pada Sam. Jika kau bertemu dengannya, ku harap kau mau melihat video tersebut ya. Itu adalah video berisikan lagu yang ku nyanyikan. Bukan lagu buatanku sih, tapi aku yang menyanyikannya sendiri untukmu. Ya, itu lagu untukmu, Al.
Hmm, aku bingung mau menulis apa lagi. Aku terlalu sedih hingga tak sadar menangis saat menulis surat ini. Jadi maaf ya jika kertas surat ini agak basah, hahaha. Semoga kau bisa memakluminya.
Sebelum aku pergi, padahal aku berharap bisa bertemu dulu denganmu untuk yang terakhir kalinya. Aku sampai menunggumu berjam-jam di halte bus dengan harapan一bisa pergi jalan-jalan atau makan bersamamu sebelum aku pergi ke bandara hari ini. Tapi, kupikir jika aku melalukan itu, kau tak akan bisa melepaskanku pergi. Aku hanya akan membuatmu sangat sedih, dan aku pun pasti tak akan tega meninggalkanmu disaat kau menangisiku.
Jadi, maaf ya jika aku pergi tanpa bilang apa-apa padamu. Aku benar-benar minta maaf, Al.
Aku tak memintamu untuk melupakanku. Aku hanya minta, semoga kau bisa baik-baik saja tanpa adanya aku dalam keseharianmu. Mungkin berat rasanya, karena aku juga pasti akan merasakan hal yang sama sepertimu. Tapi, jika kau dan aku berusaha untuk baik-baik saja, segalanya pasti mungkin 'kan jika kita mau berusaha?
Hmm sepertinya, aku akhiri saja ya surat ini. Sudah terlalu banyak, jadi mirip seperti cerpen hahaha. Pokoknya, kau harus jaga dirimu baik-baik ya. Ingat, kurangi sifat keras kepalamu. Jangan selalu memikirkan orang lain, tapi pikirkan juga dirimu sendiri. Jangan terlalu baik pada laki-laki yang hanya melihatmu dari sisi cantikmu saja. Mereka hanya melihat parasmu, tak tahu isi dalam otakmu seperti apa. Hahaha, tidak, tidak. Aku hanya bercanda kok :D
Sampai jumpa!
Eh, bukan. Sampai jumpa adalah perkataan orang yang pasti akan bertemu lagi, ya.
Kalau begitu, selamat tinggal!
Mau bagaimanapun kita berpisah, kau tetaplah orang yang tak akan pernah aku lupakan dalam hidupku.
Ara menangis begitu keras sambil memeluk kertas itu. Hatinya begitu sakit dan hancur karena membaca surat dari Ryuu tersebut. Melihat tangisan Ara semakin keras, kali ini Angel mendahului Angga untuk memeluk Ara.
"Tidak apa-apa. Kau boleh meluapkan segala rasa sakitmu. Kau boleh menangis sepuasmu, Ra," kata Angel mempererat pelukannya pada Ara. Kali ini Angel ikut menangis karena merasakan kesedihan Ara yang amat mendalam setelah membaca surat tersebut.
Di belakang Angel, Sam ikut menangis. Membuat Angga cukup terkejut karena semua orang disekitarnya menangisi kepergian Ryuu.
"Sepertinya Ryuu orang yang sangat berharga untuk mereka semua, ya. Terlebih, untuk Ara," batin Angga peka dan paham.