
🖤🖤🖤
Biasanya, orang yang paling menyakiti adalah orang yang paling merasa dirinya adalah korban.
🖤🖤🖤
"Jelaskan padaku. Kenapa Ryuu menuduhku berciuman denganmu? Kau bilang apa pada Ryuu?"
Rangga tersenyum mendengar pertanyaan Ara yang baru saja sampai di Cafe Garden malam ini. Setelah mendapat pesan dari Ara petang tadi, ia bergegas untuk menemui Ara yang ingin bertemu dengannya.
Lama menunggu jawaban, akhirnya Ara duduk di hadapan Rangga. Tatapannya benar-benar terlihat kesal dan marah pada laki-laki itu.
Merasa ditatap dengan tatapan tak menyenangkan, Rangga pun melebarkan senyumannya. Ia berpura-pura bersikap tenang meski Ara menatapnya seperti itu.
"Rangga. Kau bercerita macam-macam ya pada Ryuu?" Ara kembali mengulang pertanyaan. Tidak, lebih tepatnya, mengintrogasi Rangga.
"Aku tak bilang apapun. Ryuu sendiri yang bertanya padaku, apakah aku melakukan hal macam-macam denganmu waktu kencan kita kemarin. Kujawab, aku tak melakukan apapun dan dia mulai menuduhku aneh-aneh," jelas Rangga berbohong, namun wajahnya kini terlihat sangat serius dan meyakinkan.
Ara diam. Matanya berusaha menemukan kebenaran dari raut wajah Rangga. Namun, pikirannya teralihkan tatkala melihat sudut bibir Rangga yang sobek dan memar.
"Kau..."
"Aku ditonjok oleh Ryuu," potong Rangga dengan cepat sambil tersenyum. "Hanya luka kecil, kau tak perlu khawatir, Ra."
Ara menggelengkan kepalanya sambil menatap Rangga khawatir. Entah kenapa, perasaan kesal dan marah yang ada dihatinya hilang begitu saja saat melihat luka Rangga yang di akibatkan oleh Ryuu.
"Kau yakin tak apa-apa? Kau benar-benar terluka parah," kata Ara refleks menyentuh sudut bibir Rangga.
"A-awww," Rangga meringis pelan yang membuat Ara tersentak dan berhenti menyentuh sudut bibir laki-laki itu.
"Ryuu yang menonjokmu hingga begini, Rangga?"
Rangga mengangguk sambil tersenyum penuh arti.
"Sepulang sekolah sore tadi, dia benar-benar meluapkan emosinya padaku. Aku juga tak tahu kenapa dia menuduhku berciuman denganmu, Ra."
Mendengar pengakuan Rangga, Ara pun menggigit bibir bawahnya dengan geram. Ia tak menyangka, Ryuu bisa berbuat seperti ini pada orang lain. Karena setahu dirinya, Ryuu adalah orang yang selalu tenang dan tak pernah meluapkan emosinya pada siapapun. Ya, Ryuu adalah tipe orang yang memendam sendiri. Bisa dibilang, laki-laki itu memang sangat introvert.
Tapi, kenapa sekarang Ryuu berubah?
"Ryuu juga menuduhku bahwa aku mencium lehermu, Ra," kata Rangga yang membuyarkan lamunan Ara.
Ara mendesah pasrah, "Iya, dia juga bilang begitu padaku. Padahal jelas-jelas kita kemarin hanya kencan biasa saja."
"Aku memang tak akan pernah berbuat macam-macam padamu, Ra. Apalagi sampai kelewat batas seperti itu," timpal Rangga sambil menatap lurus leher Ara yang ruam dan memerah.
"Lehermu... masih merah?" sambungnya heran.
Ara tertegun sebentar lalu segera mengusap lehernya dengan tangannya.
"Kan sudah ku bilang padamu kemarin, aku ini alergi panas. Jadi jika aku kepanasan, kulitku akan merah-merah dan ruam seperti ini. Dan untuk mengobati ini, aku harus memakai salep. Kebetulan salep punyaku yang biasanya kupakai sudah habis, jadi kulitku termasuk kulit leherku ini masih akan terus memerah karena aku belum memakai salep sedikitpun," jelas Ara panjang lebar lalu dibalas anggukan penuh pengertian dari Rangga.
Kenapa? Karena Revina merasa sudah tak bisa lagi mengusik Ryuu dan Ara. Jadi, jalan satu-satunya adalah memanfaatkan Rangga yang juga memang menyukai Ara. Dengan begini, semuanya jadi terasa lebih mudah bagi Revina untuk menghancurkan hubungan Ryuu dan Ara, kan?
***
"Tak kusangka Ryuu bisa menonjok orang seperti itu. Apalagi, yang ditonjok olehnya adalah anak kelas kita sendiri. Aku kira dia tak punya jiwa berkelahi, Ra," komentar Sam sesaat setelah Ara menceritakan hal kemarin pada Sam dan Angel.
Istirahat kali ini, mereka bertiga berkumpul di meja kantin yang biasa mereka tempati. Ara menceritakan semua yang terjadi antara dirinya, Ryuu, dan Rangga. Bukan hanya sekedar bercerita, tapi ia juga meminta tanggapan dan pendapat dari Sam dan Angel一selaku teman yang cukup dekat dengan Ryuu.
Angel menyadari tatapan Ara yang begitu sendu. Terlihat sorot mata Ara benar-benar pasrah dengan keadaan. Sebagai sahabatnya, tentu saja Angel tak bisa membiarkan hal tersebut.
"Ku pikir, sepertinya Rangga playing victim disini," kata Angel yang sukses membuat Ara dan Sam menatapnya bersamaan.
"P-playing victim?" Ara mengernyitkan dahinya tak mengerti.
"Iya. Rangga sudah mengadu domba Ryuu denganmu, Ra. Dan sekarang, dia merasa menjadi korban dari kekerasan yang Ryuu lakukan. Padahal mungkin saja dia duluan yang memulai semuanya hingga Ryuu tersulut emosi dan menonjoknya. Menurutku sih, begitu," jelas Angel menyampaikan pendapatnya.
Sam manggut-manggut saja mendengar penjelasan Angel. Sedangkan Ara terdiam, mencoba memahami apa yang Angel jelaskan padanya.
"Kenapa kau berprasangka buruk pada Rangga? Ku pikir, Rangga tak sejahat itu. Buktinya aku dan dia berkawan baik hingga saat ini," ujar Sam kurang setuju dengan pendapat pacarnya itu.
Angel berdecak kesal, "Rangga itu menyukai Ara. Untuk membuat Ara terlepas dari Ryuu, Rangga pasti menghalalkan segala cara. Coba bayangkan, andai saja Rangga yang menyukaiku. Pasti hubunganmu dengan Rangga juga tak akan berjalan baik seperti sekarang!"
"Ah, benar juga sih katamu," kata Sam sambil tersenyum malu.
Angel memutar bola matanya lalu mengalihkan pandangannya pada Ara. Terlihat Ara yang sedang termenung lengkap dengan tatapan yang kosong. Membuat Angel semakin khawatir.
"Coba saja kau bicarakan ini pelan-pelan pada Ryuu nanti, Ra. Kalau bisa sih, sepulang sekolah nanti," saran Angel seraya mengusap-usap pundak Ara. Mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"Tapi, Ryuu bilang padaku bahwa dia tak ingin melihatku lagi. Melihatnya saja tak boleh, apalagi berbicara padanya," kata Ara lirih.
"Ryuu itu kemarin tersulut emosi." Angel menyentuh pipi Ara pelan lalu kembali melanjutkan ucapannya, "Jadi dia tak bisa berpikiran jernih dan mengucapkan hal yang menyakitimu."
"Aku yakin, Ryuu itu sebenarnya sangat sayang padamu. Buktinya, mendengarmu dicium saja dia benar-benar marah dan cemburu. Iya, kan?" tanya Angel mencoba menenangkan Ara.
Ara terdiam lama. Hingga pada akhirnya, senyuman manis terukir di wajahnya. Wajah ceria yang sedari tadi ia sembunyikan kini mulai tampak lagi.
"Terimakasih ya, Angel," ujar Ara lalu dibalas senyuman manis oleh Angel.
"Sama-sama, Ara."
Merasa tak dianggap, Sam mengerucutkan bibirnya sambil menatap Ara dan Angel bergantian.
"Aku tak diberi ucapan terimakasih, nih?" protes Sam tak terima karena ia merasa sudah mendengarkan keluh kesah Ara.
Ara dan Angel pun tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Sam yang terlihat seperti perempuan dan cukup menggelikan.
"Iya, iya. Aku juga berterimakasih padamu, Sam. Terimakasih pada kalian berdua yang mau mendengarkan curhatanku dan memberikan saran padaku," ujar Ara yang sukses membuat senyuman Sam merekah. Sedangkan Angel mencubit pelan lengan pacarnya itu一agar tak bertingkah menggelikan lagi.