
🖤🖤🖤
Kau tak akan tahu apa yang bisa diperbuat oleh orang yang mencintaimu.
Bisa saja dia membahagiakan
Atau mungkin menghancurkan.
🖤🖤🖤
Setelah menyimpan sepeda di garasi一Ryuu berjalan berniat masuk ke dalam rumahnya. Tapi, langkah kakinya itu terhenti tatkala mendengar suara tangisan wanita yang terdengar cukup keras dari dalam rumah. Tanpa pikir panjang, ia pun segera membuka knop pintu lalu berlari masuk ke dalam一menuju ruang tamu.
"Bun.. Bunda?"
Mata hitam Ryuu menangkap pemandangan yang benar-benar membuatnya kaget. Vas bunga di meja yang pecah, bingkai-bingkai foto yang berantakan, dan juga sofa ruang tamu yang tak beraturan. Di samping sofa, terlihat Yui yang sedang menangis sambil duduk memangku dagunya di lutut.
"Bunda, ada apa ini?" Ryuu segera berjalan menghampiri Bundanya tersebut lalu duduk di hadapan sang Bunda.
Yui tak menjawab apapun selain menangis tersedu-sedu. Membuat hati Ryuu sangat teriris melihat hal itu. Dengan cepat, ia pun segera memeluk Bundanya itu erat.
"Ryuu, Aku sudah baca semua pesan Ayahmu dengan rekan kerjanya. Mereka berdua benar-benar berselingkuh, Ryuu," jelas Yui terus menangis dengan keras. Meluapkan rasa sedihnya dalam pelukan anaknya itu.
Ryuu mengangguk-angguk mengerti karena ia juga sudah tahu hal itu dari Revina.
"Bunda tahu darimana?"
"Ponsel Ayahmu tertinggal di kamar sebelum berangkat kerja hari ini. Dan aku melihat semua isi dalam ponselnya yang ternyata adalah一"
"Sudah, Bun. Tak usah dilanjutkan. Aku sudah mengerti," potong Ryuu karena menyadari Yui bersusah payah menjelaskan di sela-sela tangisannya.
Ryuu pun semakin mengeratkan pelukannya pada sang Bunda. Semakin lama Yui menangis, semakin hancur hati Ryuu mendengarnya. Ya, sebagai anak tunggal, hal ini benar-benar sangat membuatnya terpukul. Hingga tanpa sadar ia juga ikut menangis meski tak sekeras dan sekencang Bundanya itu.
"Nanti malam, saat Ayah pulang dari Kantor, kita harus bicarakan ini baik-baik," kata Ryuu berusaha tenang guna menenangkan Yui.
Diluar dugaan, Bundanya itu malah melepas paksa pelukan Ryuu lalu mendorong tubuh Ryuu agar menjauh.
"Bicarakan ini baik-baik? Ryuu, masalah ini tidak sepele! Masalah ini tak akan bisa dibicarakan baik-baik!" seru Yui yang mendadak tangisannya berhenti. Kali ini Yui menatap sangat kesal anaknya itu一karena merasa tak dimengerti.
Ryuu menundukkan kepalanya. Ia merasa sikap tenangnya itu tak berguna untuk menenangkan Yui.
"Kalau begitu, mau Bunda apa?" tanya Ryuu menatap dalam-dalam mata Bundanya tersebut.
"Cerai. Aku ingin bercerai dengan Vino, Ayahmu," jawab Yui dengan cepat tanpa pikir panjang.
Ryuu tertegun mendengar jawaban Yui yang begitu serius. Ada rasa sakit dalam hatinya saat mendengar kata 'perceraian' keluar dari mulut Yui, sang Bunda.
"Kalau Vino tak mau bercerai, aku akan tetap pergi dari sini," ujar Yui sambil membuang muka.
Ryuu menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, "Bunda akan pergi kemana? Ke Jepang? Ke rumah Nenek?"
"Kemanapun itu! Asal aku bisa lepas dari Ayahmu!" Nada bicara Yui meninggi. Menatap Ryuu dengan tatapan sungguh-sungguh.
Ryuu kehabisan kata-kata. Ia tak kuasa untuk bicara atau sekedar menambah pertanyaan pada Bundanya. Hati laki-laki itu sudah tak berbentuk lagi一sama seperti sang Bunda. Ya, sepasang anak dan Ibu itu sadar bahwa keluarga kecil mereka tak lama lagi akan segera hancur.
Dan ini benar-benar tak pernah Ryuu duga dalam hidupnya.
***
"Aku pulang."
Ara berjalan dengan langkah kaki yang lunglai一masuk ke dalam rumahnya. Tatapannya kosong menatap ke arah depan sambil terus berjalan. Beberapa detik kemudian, ia sudah berada di ruang tamu. Yang dimana一disana sudah ada Santia, Mommy-nya yang sedang duduk santai di sofa sambil membaca majalah mingguan.
"Eh? Sayang? Kau sudah pulang?" sambut Santia yang kaget dengan kedatangan Ara yang tiba-tiba.
Ara melirik ke arah Santia sebentar. Lalu segera duduk di samping Mommy-nya itu dengan lemas.
"Kau kenapa, Ra? Sakit?" tanya Santia khawatir melihat sikap anaknya yang terlihat tak bersemangat.
Ara menggeleng pelan, "Tidak, Mom. Aku tidak sakit. Hanya saja..."
Mata coklat Ara menatap Santia dengan tatapan penuh keseriusan. Menyadari hal itu, Santia jadi kebingungan dan heran sendiri.
"Mom, kau tahu tidak? Om Vino kan..."
Ara menceritakan semua hal yang ia dengar dari percakapan Ryuu dan Revina di sekolah tadi. Tentu saja, sepanjang Ara bercerita, Santia sungguh terkejut dan tak menyangka dengan apa yang anaknya katakan. Ia pikir, Vino tak akan pernah berani bermain wanita dibelakang Yui. Ini karena hubungan Vino dan Yui selalu terlihat harmonis dimatanya. Namun, mendengar dan mengetahui fakta yang sebenarnya dari Ara, ia merasa ini benar-benar diluar dugaan.
"Apa yang harus kita lakukan, Mom?" tanya Ara selesai ia bercerita.
Santia menghela napasnya pasrah, "Mau bagaimana lagi, Ra? Kita tak bisa melakukan apa-apa untuk membantu Ryuu maupun Yui."
"Kenapa tak bisa?" Ara menatap Santia dengan tatapan penuh permohonan, "Mommy kan sahabatnya Bunda Yui dan juga Om Vino. Mommy pasti bisa melakukan sesuatu!"
"Sayang, walaupun Yui dan Vino adalah sahabatku, tapi tidak baik mencampuri masalah keluarga orang lain. Apalagi, Yui sudah tak pernah ke rumah kita lagi. Dia sudah tak pernah menceritakan apapun padaku, Ra," jelas Santia pada anaknya tersebut.
"Lalu, kita harus bagaimana, Mom? Aku benar-benar kasihan dan tak tega pada Ryuu dan juga Bunda Yui," lirih Ara sambil menundukkan kepalanya.
"Kita doakan saja semoga masalah keluarga Ryuu segera mereda. Semoga Tuhan memberikan rencana yang terbaik untuk mereka," kata Santia seraya mengelus-elus rambut panjang Ara. Mencoba menenangkan hati anaknya tersebut.
Ara mengangguk mengerti. Dalam hati, ia berdoa sama seperti yang Mommy-nya katakan. Ya, apa yang Santia katakan memanglah benar. Keluarga Ara bukanlah anggota dari keluarga Ryuu. Jadi, mau bagaimanapun, mereka hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk keluarga Ryuu tanpa harus ikut campur.
***
Malam harinya...
Vino baru saja pulang dari Kantor bersama Bram一Daddy-nya Ara. Setelah saling berpamitan, Bram pun masuk ke dalam rumahnya. Diikuti oleh Vino yang masuk ke dalam rumahnya juga. Ya, jangan lupakan rumah mereka yang posisinya bersampingan.
Setelah menutup pintu, Vino perlahan berjalan一berniat menuju kamarnya. Namun, belum sampai kamar, ia disambut dengan Vas bunga yang melayang dari ruang tamu. Vino terkejut setengah mati karena Vas bunga itu hampir saja mengenai wajahnya.
PRANG!!!
Vas bunga tersebut terjatuh ke lantai. Membuat suara yang cukup berisik di telinga Vino dan si pelempar Vas. Siapa lagi kalau bukan Yui? Istrinya sekaligus Bunda dari Ryuu?
"Sayang? Kenapa kau melempar一"
Baru saja bicara, Vino kembali dilempar sesuatu. Kali ini, sebuah ponsel berhasil mengenai pipinya lalu terjatuh sangat keras ke lantai. Saking kerasnya, layar ponsel tersebut sampai retak menjadi beberapa bagian.
"Pergi kau! Pergi dari sini!" teriak Yui penuh dengan rasa frustasi.
Vino menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengernyitkan dahi, "Yui, kau kenapa? Kenapa kau seperti ini?"
"Aku tidak mau melihat wajahmu lagi! Seharusnya kau pergi saja bersama wanita itu!"
"Siapa? Siapa wanita itu? Kau membicarakan siapa?"
"Oh? Kau masih pura-pura bodoh ya? Dua minggu lalu, aku masih bisa diam saja karena aku tak punya bukti tentang perselingkuhanmu! Yang aku tahu hanyalah kau menyimpan foto wanita itu di tas kerjamu! Tapi sekarang, Tuhan menunjukkan segalanya padaku. Kau tak sengaja meninggalkan ponselmu di rumah hari ini, dan aku melihat semua isi pesanmu bersama wanita itu!"
***
Ryuu membuka matanya tatkala mendengar kegaduhan yang ada di ruang tamu. Tanpa pikir panjang, ia segera bangkit dari ranjangnya lalu berlari keluar kamar. Menuruni anak tangga lalu tiba di ruang tamu.
Di ruang tamu, terlihat pemandangan yang berantakan lagi. Padahal, sore tadi, Ryuu sudah membereskan semuanya. Namun rupanya Yui kembali membuat ruang tamu berantakan tanpa sepengetahuan Ryuu.
Vino dan Yui terlihat cukup kaget dengan kedatangan Ryuu yang tiba-tiba. Karena mereka pikir, anaknya itu sudah tidur dan tak akan melihat pertengkaran mereka berdua malam ini.
"Ryuu! Lihatlah! Ayahmu dengan santainya pulang ke rumah malam ini. Padahal, aku lebih bersyukur jika Ayahmu bermalam dengan wanita simpanannya saja!" teriak Yui sambil menangis.
"Bunda, tenanglah," kata Ryuu seraya menghampiri Yui一berniat memeluk Bundanya tersebut.
Namun, dengan cepat Yui menolak pelukan dari Ryuu dan berjalan mundur beberapa langkah. Menjauh dari hadapan Ryuu dan Vino. Sambil terus menangis, Yui menutup seluruh wajah dengan kedua tangannya.
"Ayah. Aku mau menanyakan satu hal padamu. Tapi kumohon jawab dengan jujur," ujar Ryuu membuka pembicaraan dengan Vino.
Vino diam. Ia sudah tahu dengan apa yang akan ditanyakan oleh anaknya itu.
"Foto wanita yang waktu itu ada di tas kerjamu, apakah itu benar-benar selingkuhanmu?" tanya Ryuu tak mau bertele-tele dan langsung pada poinnya.
"Ayah tahu? Wanita itu adalah Mamah dari temanku, Revina. Sore tadi, Revina memperlihatkan padaku isi pesan Mamahnya dengan Ayah yang terlihat sangat romantis."
Vino tetap diam tak bergeming. Kali ini lelaki yang belum genap berusia 40 tahun itu menatap Yui yang sedang menangis.
"Jawab aku, Ayah," Ryuu menekan nada bicaranya dengan tegas. Sebenarnya, ia sendiri sudah tahu apa jawaban dari sang Ayah. Namun ia ingin mendengar pengakuan langsung dari Vino tentang hal ini.
"M.. Maaf, Ryuu. Maafkan aku, Yui." Vino kini terisak一menangis tersedu-sedu sambil menundukkan kepalanya.
Mata Ryuu pun perlahan memerah dan memanas. Bulir demi bulir air kini turun membasahi pipinya. Ia ikut menangis seperti kedua orangtuanya. Ya, tak ada satupun diantara mereka yang berbicara lagi. Hati Ryuu dan Yui semakin hancur mendengar perkataan maaf dari Vino tadi. Itu artinya, Vino benar-benar berselingkuh kan?
Tanpa sadar, Ryuu mengepalkan tangan kanannya kencang. Ia dengan cepat memukul dada bidang Vino dengan keras hingga Ayahnya itu terjatuh ke lantai.
"Kenapa kau melakukan ini pada keluarga kita? Kenapa kau harus berselingkuh dari Bunda, Yah? Kenapa? Kenapa?!" Ryuu bertanya lirih dan pelan. Namun sarat akan kemarahan dan kesedihan yang mendalam.
Vino yang tadi terjatuh kini memposisikan dirinya duduk setengah membungkukkan badannya seraya menunduk, "Maafkan aku, Ryuu, Yui. Aku memang khilaf. Aku tidak bermaksud menghancurkan keluarga kita一"
"Cukup! Aku tak mau mendengarmu bicara apapun lagi! Aku sudah terlanjur kecewa padamu!" seru Yui memotong permintaan maaf dari Vino. Setelah bicara seperti itu, Yui pun berlari menuju kamar lalu menutup pintu dengan sangat keras.
Sedangkan tangisan Vino semakin keras. Membuat Ryuu yang mendengarnya semakin muak dan marah.
"Kenapa kau menangis, Yah? Bukankah kau seharusnya kau senang karena setelah ini, kau pasti akan bercerai dengan Bunda? Dengan begitu, kau akan bisa leluasa melanjutkan hubunganmu dengan wanita itu kan?" sindir Ryuu sambil menyeka air mata di pipinya.
"Sebenarnya, aku tak berpikir untuk serius berselingkuh, Ryuu. Aku hanya main-main saja dan tak menyangka akan berdampak seperti ini pada keluarga kita," kata Vino masih menunduk. Tak berani menatap wajah Ryuu yang penuh rasa marah, kecewa, dan sedih.
"Oh? Kau hanya main-main, Ayah? Kau pikir perselingkuhan hanya masalah kecil? Tak ada yang namanya main-main dalam masalah keluarga, Yah. Sebagai kepala keluarga, kau pasti sangat tahu tentang hal itu."
Vino bungkam seribu bahasa. Ia tak tahu harus bicara apa lagi.
"Aku mungkin saja bisa memaafkanmu, Ayah. Karena bagaimanapun, kau adalah orangtuaku. Tapi, aku tak bisa jamin apakah Bunda bisa memaafkanmu atau tidak," ujar Ryuu dingin seraya berjalan pergi一menaiki anak tangga lalu berjalan masuk ke kamarnya. Meninggalkan Vino yang masih terpaku di tempat dengan beban penyesalan yang tak terkira.