STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 19 - Pengakuan



Ara berlari tergesa-gesa menuju UKS Sekolah. Setelah mendapat kabar dari Angel dan Sam tadi, tanpa pikir panjang dia langsung pergi dari rumah menuju Sekolah kembali. Mendengar Ryuu yang pingsan tak sadarkan diri, tentu saja Ara tak bisa diam begitu saja.


Sesampainya di UKS, Ara pun langsung masuk dan menutup pintu. Terlihat Ryuu yang terbaring lemah sendirian di ranjang yang ada dipojok ruangan UKS.


"Ryuu," panggil Ara lirih.


Ara menghampiri Ryuu dan duduk disamping sahabatnya itu dengan tatapan super cemas. Seumur hidupnya, baru pertama kali dia melihat Ryuu selemah ini dimatanya.


"Ryuu, aku ada disini," kata Ara sambil mencoba menyentuh tangan Ryuu. Namun, niatnya itu terpaksa ia urungkan karna ternyata Ryuu sudah bangun duluan.


Ryuu membuka matanya perlahan, "Al?"


"Ryuu? Kau baik-baik saja?" tanya Ara sangat khawatir.


"Kalau aku baik-baik saja, aku pasti tak akan pingsan, bodoh."


"Kalau begitu, apa kepalamu masih sakit?" tanya Ara seraya mencoba menyentuh kepala Ryuu. Dengan cepat Ryuu menangkis tangan Ara agar tak menyentuh kepalanya.


"Sudah mendingan, tenang saja," jawab Ryuu ketus.


Ara tersenyum lega, "Syukurlah, aku sangat khawatir karna mendengar kabarmu dari Angel dan Sam tadi. Kau benar-benar membuatku jantungan."


"Jangan berlebihan, aku tak selemah yang kau pikirkan."


Ara mengangguk-anggukan kepala sambil memperhatikan sekelilingnya, "Teman-temanmu kemana? Kenapa kau ditinggalkan sendiri disini?"


"Aku yang menyuruh mereka agar pergi dari sini. Bagaimanapun mereka harus melanjutkan latihan basket, bukan? Sudah kuserahkan urusan ekskul basket hari ini pada Sam."


"Hmm, begitu. Oh iya! Aku bawa beberapa obat dan minuman untukmu. Ini, minumlah!" ujar Ara seraya memberikan sekantung plastik pada Ryuu. Ryuu pun dengan segera membuka plastik tersebut dan meminum salah satu minuman yang ada.


Hening. Suasana diantara mereka jadi sangat canggung sekarang. Ara tak tahu harus bicara apa lagi pada Ryuu. Bagaimanapun, dia ingat bahwa siang tadi-kejadian tak terduga menimpa dirinya. Kejadian yang membuat pikirannya kacau balau. Kejadian yang membuat hatinya kalut tak berbentuk.


"Al," Ryuu membuka suara perlahan.


"Iya?" tanya Ara mencoba tersenyum.


"Soal tadi siang-"


"Oh! Hahaha, tadi siang ya? Sudahlah, lupakan saja! Lagipula aku tidak terlalu memikirkannya kok!"


Ryuu menatap Ara dengan tatapan tak percaya. Dilihat dari segi manapun, raut wajah Ara tak bisa berbohong bahwa sebenarnya dia sangat kepikiran dengan kejadian tadi siang.


"Aku melakukan itu agar kau tidak ke atap sekolah, Al. Aku tidak mau kau bertemu Revina."


"Kau tidak bisa melakukannya segampang itu, Ryuu. Dan juga, itu bukan hal yang bisa dilakukan sepasang sahabat," jelas Ara.


"Aku tahu," kata Ryuu seraya membuang mukanya.


Ara menatap Ryuu dalam-dalam meskipun Ryuu tak sedikitpun menatapnya balik. Dalam hati gadis itu, tersimpan rasa penasaran yang masih menggebu-gebu. Rasa penasarannya itu bagaimanapun harus terjawab. Ya, harus.


"Boleh ku tahu kenapa kau mau mengajar les Revina tanpa dibayar olehnya?" tanya Ara ragu-ragu.


Ryuu melirik Ara sekilas, lalu matanya kembali menatap arah lain, "Dia mengetahui rahasiaku. Jadi, aku harus menuruti kemauannya."


DEG!!


Ara membelalakkan matanya kaget, "R-rahasia? Apa?"


"Aku tak bisa memberitahumu soal itu."


"Ehhh? Lalu bagaimana ceritanya Revina bisa mengetahui rahasiamu itu?" tanya Ara semakin penasaran.


"Ceritanya cukup panjang. Lagipula aku malas membahas tentang dia."


"Hmm, bilang saja kalau kau memang mau merahasiakannya dariku. Tidak kusangka kau sangat mencintainya," gerutu Ara dengan suara kecil tapi Ryuu masih bisa mendengar suaranya.


"Sudah kubilang, aku membencinya," ujar Ryuu ketus seraya merogoh kantung celana basketnya.


"Ini, punyamu," sambung Ryuu sambil memberikan sesuatu pada Ara. Saat dilihat, ternyata itu adalah sebuah kalung berbentuk bulan sabit dengan bintang yang ada disisinya.


Ara menaikkan alisnya bingung, "Ini punyaku? Maksudmu?"


"Iya, ini hadiah yang pernah ku janjikan waktu itu padamu."


"Hadiah?" Ara masih tak mengerti.


Ryuu pun berdecak kesal, "Ini hadiah yang ku janjikan saat kita di puncak dulu. Kau 'kan jatuh, dan aku berusaha mengobati lukamu-"


"Oh iya! Aku baru ingat!" seru Ara cukup histeris.



Mata Ara berbinar-binar karna melihat kalung tersebut. Ia mengagumi keindahan kalung itu yang diberikan oleh Ryuu untuknya. Ada rasa senang sekaligus terharu dalam hatinya sekarang. Jika diperbolehkan, ingin sekali Ara memeluk Ryuu dan mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya. Tapi, yang bisa dilakukan olehnya hanya tersenyum saja pada Ryuu.


"Jika kau tak suka, sini! Kembalikan saja," ucap Ryuu dingin seraya mencoba mengambil kalung itu dari tangan Ara.


Ara menghindar lalu menyimpan kalung itu ke tas selempang yang ia bawa. Sambil tertawa kecil, dia mencubit pipi Ryuu pelan.


"Terimakasih ya, aku suka kalungnya," kata Ara yang hatinya kini berbunga-bunga.


Ryuu melirik Ara sekilas, lalu pandangannya ia alihkan kembali ke sembarang arah.


"Sama-sama."


Lama Ara terdiam sambil memperhatikan wajah Ryuu. Sedangkan yang diperhatikan hanya membuang muka-mencoba untuk mengabaikan Ara. Dilihat dari segi manapun, Ara benar-benar merasa bahwa dirinya teramat sangat menyukai Ryuu. Ingin dia buktikan pada dunia bahwa seorang Nakajima Ryuu-sahabatnya sendiri, bisa menjadi miliknya seutuhnya.


"Kenapa sih kau memperhatikanku terus?" tanya Ryuu yang sukses mengejutkan Ara.


Ara tertawa canggung, "Hahaha, tidak kok. Siapa juga yang memandangmu. By the way, sekarang sudah semakin sore. Bagaimana kalau kita pulang, Ryuu?"


"Tidak, kau duluan saja."


"Lho? Kenapa?"


"Aku masih betah disini."


"Ya sudah. Kalau begitu, aku juga tak mau pulang!" seru Ara sambil menopang dagu dengan tangannya.


"Pulang sana! Nanti Mommy-mu akan mencarimu."


Ryuu memutar bola matanya, "Lebih baik kau pulang saja."


"Tidak! Tidak mau," ucap Ara sambil menutup kupingnya. Mencoba tak mendengarkan usiran Ryuu padanya.


"Dasar keras kepala," kata Ryuu ketus.


"Biarkan saja. Lagipula, kalau aku pergi dari sini, kau tidak akan ada teman mengobrol 'kan?"


"Aku lebih baik tak ada teman mengobrol daripada harus mengobrol denganmu," ujar Ryuu dingin.


Ara memanyunkan bibirnya sebal, "Ah! Kau ini tak mengerti, ya? Aku kasihan padamu tahu! Kalau aku pulang, nanti kau akan kesepian disini. Setidaknya biarkan aku menemanimu disini sampai kau mau pulang!"


Ryuu diam. Tapi matanya itu menatap Ara tajam.


"K-kenapa kau memandangku begitu, Ryuu?" tanya Ara merasa aneh.


Ryuu kini tersenyum. Tidak, lebih tepatnya dia menyeringai pada Ara. Dia memiliki ide untuk menjahili Ara. Tapi bukannya takut, Ara malah terpana dengan wajah Ryuu yang sedang menyeringai padanya. Sungguh damage yang bukan main untuk jantungnya sekarang.


"Kau serius akan menemaniku disini sampai aku mau pulang?" tanya Ryuu kembali dengan wajah datar.


Ara mengangguk sungguh-sungguh.


"Kalau aku tak ingin pulang dan berniat menginap disini, bagaimana?"


"Ya berarti aku juga akan menginap disini!" seru Ara tegas dengan wajah polos.


Ryuu berusaha menahan tawa melihat wajah Ara yang begitu polos mengatakan hal tersebut padanya. Ah, benar. Dia hampir lupa bahwa sahabatnya itu selalu berpikiran positif padanya.


"Kau tak takut denganku?" tanya Ryuu.


"Tidak, kenapa aku harus takut padamu?"


"Ada kalanya orang jenius sepertiku berubah menjadi serigala lapar yang bisa menerkam siapa saja."


"Hah? Serigala lapar?"


"Mungkin saja aku akan menerkammu jika kau terus-terusan disini bersamaku."


Beda dari dugaan Ryuu, ternyata Ara malah tertawa terbahak-bahak. Ah, rupanya gadis itu masih belum mengerti ucapan Ryuu.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Ryuu aneh.


"Tidak, hanya saja aku tak mengerti apa yang kau ucapkan."


Ryuu berdecak kesal, dia langsung menarik tangan Ara agar mendekat padanya. Jarak wajah diantara mereka pun hanya sekitar 10 cm saja. Oh, jangan tanya Ara yang sudah sangat gelagapan sekarang.


"R-ryuu?" Ara menelan ludahnya. Ia berusaha mengatur debaran jantungnya yang mulai tak teratur.


"Kau tak pernah berpikiran negatif padaku, ya?"


"Negatif? Maksudmu?"


"Dari dulu, kau selalu terlihat santai dan nyaman setiap berduaan denganku. Di kamarku, di kamarmu, dan dimanapun itu."


Ara mengernyitkan dahinya bingung, "Ryuu, aku benar-benar tak mengerti ucapanmu."


Lagi-lagi Ryuu berdecak kesal, dia memutar bola matanya lalu menatap Ara tajam.


"Intinya, pulanglah sana. Aku tak mau kau berlama-lama disini."


"Eh? Kenapa? Aku 'kan mau menemanimu!"


Ryuu menarik napas panjang, "Bisa saja 'kan aku melakukan hal macam-macam padamu? Aku ini laki-laki normal!"


Ara tertawa terbahak-bahak. Rupanya, sekarang ia sudah mengerti maksud dari ucapan Ryuu.


"Ryuu yang ku kenal tidak akan pernah berbuat macam-macam padaku. Kau ini 'kan sahabatku!"


Entah kenapa, Ryuu semakin ingin menjahili Ara. Ia dengan cepat bangkit dan mendorong tubuh Ara hingga jatuh ke ranjang UKS yang tadi ditempatinya.


"Hei! Kau kenapa, sih?" tanya Ara mulai panik dengan sikap Ryuu yang aneh.


"Kau terlalu menyepelekanku sebagai laki-laki normal, Al," kata Ryuu yang kini berada diatas Ara. Ia menopang tubuhnya dengan kedua tangannya agar tak menindih tubuh Ara.


"Bisa saja 'kan aku melakukan ini padamu?"


Tangan Ryuu menyentuh kepala Ara. Lalu tangannya turun menuju dahi, hidung, bibir, hingga ke leher gadis itu. Darah Ara pun berdesir sangat kencang. Perlakuan Ryuu sukses membuat ia tak bisa berkata-kata.


Ryuu memiringkan wajahnya, berpura-pura seakan dia akan mencium Ara. Melihat itu, tentu Ara tak bisa diam begitu saja. Ia mencoba menahan wajah Ryuu dengan tangannya.


"J-jangan, Ryuu! Kumohon!" seru Ara panik.


Ryuu menggenggam tangan Ara lalu mengunci tangannya disamping tubuh Ara. Kini, Ara tak bisa bergerak ataupun menahan wajah Ryuu lagi.


Ryuu menyeringai, "Aku bisa berubah jadi serigala lapar, kapanpun ku mau."


Wajah Ryuu semakin dekat dengan wajah Ara. Sambil menutup matanya, Ara mencoba mengumpulkan keberanian. Bagaimanapun, dia tak mau hal tersebut terjadi padanya diluar nikah.


"Ryuu, aku mengaku bahwa aku memang menyukaimu! Sangat-sangat menyukaimu! Tapi, bukan hal seperti ini yang aku inginkan!" seru Ara yang masih menutup matanya. Ia tak kuasa menatap Ryuu yang berada diatasnya.


DEG!!!


Ryuu membulatkan matanya. Perlahan, dia melepaskan genggaman tangannya pada Ara. Detik selanjutnya, dia pun mengubah posisinya menjadi duduk. Tatapannya kini kosong menatap ke arah depan.


"R-ryuu?"


Ara menepuk jidatnya. Ia sadar, Ryuu pasti sangat shock mendengar pengakuannya tadi. Suasana pun berubah menjadi sangat canggung. Lalu, Ara menundukkan kepalanya. Rasa malu sekaligus gugup berkumpul di hatinya sekarang.


Yang tadi itu, bukan saat yang tepat untuk Ara mengaku bahwa ia menyukai Ryuu. Ya, Ara sadar. Ryuu masih menganggapnya sebagai sahabat. Jadi, salah besar karna Ara malah mengakui perasaannya tadi.


"K-kalau begitu, aku pulang duluan ya. Kau juga jangan pulang terlalu larut! Dah!" seru Ara seraya berdiri lalu berjalan keluar UKS.


Sebelum Ara menutup pintu UKS, sekilas ia melihat raut wajah Ryuu yang menatapnya datar. Aneh. Ketimbang dibilang shock, wajah Ryuu justru menampakkan ekspresi dingin padanya.


Apa mungkin Ryuu sudah tahu dari awal bahwa Ara menyukai dirinya? Jadi, dia tidak terlihat shock sama sekali saat mendengar pengakuan Ara tadi? Entahlah, Ara juga tak begitu mengerti.