STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 89 - Rencana?



...🖤🖤🖤...


...Bagaimanapun, aku harus bisa mendapatkanmu....


...🖤🖤🖤...


Beberapa waktu sebelumnya...


Ryuu dan Revina sudah kembali ke rumah sakit. Mereka berdua sudah menemui Satpam di rumahnya, dan juga sudah ke Studio Band untuk mengambil ponsel mereka dan yang lainnya.


"Ryuu, Revina!" seru Sam sesaat setelah Ryuu dan Revina sampai dihadapan Sam juga Angel di ruang tunggu UGD.


"Ada apa?" Ryuu bertanya tanpa basa-basi. Sembari menyodorkan ponsel Sam dan Angel pada mereka berdua.


Sam dan Angel pun menerima ponsel mereka di tangannya.


"Ada apa, Sam? Kenapa ekspresi kalian berdua begitu?" Kali ini Revina ikut bertanya karena aneh melihat ekspresi dua sejoli yang ada dihadapannya.


"Kak Angga sudah sadar. Tadi Dokter menyuruh salah seorang diantara kita untuk masuk ke ruangan Kak Angga," jelas Angel.


Ryuu menoleh ke arah Revina yang ada di sampingnya.


"Revina, kau saja sana yang ke ruangan Kak Angga. Kau 'kan anggota keluarganya," suruh Ryuu.


"Nanti beritahu kami bagaimana kondisi Kak Angga sekarang," tambah Ryuu seraya duduk di bangku tunggu UGD.


Revina mengangguk tanpa ragu. Ia pun segera berjalan menuju kamar dimana Angga sedang mendapatkan perawatan intensif.


Hening. Suasana diantara Ryuu, Sam, dan Angel benar-benar hening. Ryuu dan Sam diam sambil menatap banyaknya orang berlalu-lalang disekitar rumah sakit. Berbeda dengan Angel yang kini baru saja menyalakan layar ponselnya.


Mata Angel membulat dengan sempurna. Ia dengan cepat menatap Ryuu dan Sam secara bergantian. Membuat yang ditatap cukup terkejut menyadari itu.


"Ada apa, sih?" tanya Ryuu datar.


"Rangga ternyata menelfonku sedari siang tadi. Panggilan tak terjawabnya sampai 53 kali panggilan, lho. Kira-kira ada apa ya? Sepertinya darurat sekali. A-aku takut ini ada sangkut pautnya dengan Ara," jawab Angel menjelaskan seraya memperlihatkan layar ponselnya yang penuh dengan log panggilan tak terjawab dari Rangga.


"Iya, ya. Benar katamu, Ngel. Aneh sekali Rangga menelfonmu sampai sebanyak itu," ujar Sam seraya ikut menyalakan layar ponsel miliknya.


Sama seperti Angel sebelumnya, tiba-tiba mata Sam membulat dengan sempurna. Ia terkejut setengah mati melihat log panggilan yang tak terjawab dari Rangga hingga mencapai 67 kali panggilan.


"Rangga juga m-menelfonku sebanyak ini一"


"Guys, gawat!"


Suara seruan Revina tanpa di duga menghentikan ucapan Sam. Seketika, Sam dan yang lainnya pun menatap Revina一yang kini sedang berlari menghampiri mereka bertiga di ruang tunggu UGD.


"Ada apa?" Ryuu bertanya paling awal. Entah kenapa, perasaannya sudah tak enak melihat ekspresi wajah Revina.


"Tadi, syukurlah Kak Angga sudah sadar. Kemudian, dia menanyakan keberadaan Ara dimana. Ku jawab saja, Ara dan Rangga tidak ada di studio sejak tadi siang," jawab Revina sesampainya ia dihadapan teman-temannya.


"Lalu? Apa jangan-jangan Kak Angga tahu Ara dan Rangga ada dimana?" tanya Angel.


Revina menggeleng pelan, "Kak Angga tak tahu dimana Rangga. Sebelum pingsan 'kan, Kak Angga tahunya Rangga itu sedang bersama kita di ruangan Band."


Ryuu, Sam, dan Angel kini saling berpandangan cemas. Kira-kira pikiran mereka itu seperti ini :


Kalau Ara tidak bersama Rangga sedari siang tadi, lalu kemana Ara hingga sore ini?


"T-tapi, Kak Angga ingat sesuatu," ujar Revina membuat semua temannya kembali fokus menatap dan siap mendengarkan ucapan Revina kembali.


"Sebelum pingsan, Kak Angga ingat bahwa Ara menolongnya dan membantunya duduk di sofa lobi Studio Band. Lalu Kak Angga minta pada Ara untuk mengambilkan obat serta air minum milik Kak Angga di ruangan pribadi miliknya."


"Lalu? Kau ini bicara jangan setengah-setengah dong!" bentak Angel karena geram pada ucapan Revina yang tak tuntas.


"Ngel, sabar. Dengarkan saja penjelasan Revina baik-baik, jangan dulu marah-marah," kata Sam berusaha mengingatkan pacarnya seraya menatap Revina, menyuruh Revina agar kembali melanjutkan ucapannya.


"Tapi, Kak Angga tak sempat memberitahukan kata sandi pintu ruangan pribadinya pada Ara," ujar Revina sambil menunduk, terdiam tanpa alasan.


"Kenapa kau berhenti bicara? Cepat lanjutkan ucapanmu, Rev," kata Sam heran.


Revina mendesah pasrah, "Kak Angga tak sempat melanjutkan ucapannya lagi. Ia kembali tak sadarkan diri, jadi aku tak tahu一"


"Aku sudah mengerti apa yang mau Kak Angga sampaikan," Ryuu memotong ucapan Revina tiba-tiba. Membuat semua pandangan teman-temannya kini beralih padanya.


"Apa yang kau mengerti, Ryuu? Ucapan Kak Angga saja belum selesai, lho," ujar Angel meragukan Ryuu.


Ryuu melirik Angel dengan ekspresi wajah dingin seperti biasanya. Lalu kemudian ia menatap semua temannya satu- persatu.


"Ruangan pribadi milik Kak Angga adalah ruangan yang pintunya ber-kata sandi. Setahuku, pintu ruangan yang ada alat kata sandinya ini sering error. Kenapa aku tahu? Karena ruangan pribadi di kantor milik Ayahku juga sering sekali error," Ryuu mulai menjelaskan penalarannya dengan suara yang tenang guna tak membuat suasana menjadi semakin genting.


"Ah! Apa jangan-jangan Ara berhasil masuk ke ruangan Kak Angga? Tapi, saat mau keluar dari ruangan Kak Angga, Ara malah terkunci dan terjebak karena ternyata alat kata sandi di ruangan itu malah error. Bukankah begitu?" tebak Sam mencoba peka terhadap penalaran Ryuu.


Ryuu mengangguk namun ekspresinya seperti tak setuju dengan tebakan Sam.


"Tadi siang, Rangga mencari dimana keberadaan Al kan? Kupikir, mungkin saja mereka sudah bertemu di depan pintu ruangan milik Kak Angga. Dan aku yakin, Al pasti menjelaskan pada Rangga tentang bagaimana kondisi Kak Angga."


Sam dan Angel mengangguk-angguk tanda mulai mengerti penalaran Ryuu. Sedangkan Revina diam, membiarkan Ryuu untuk kembali menjelaskan penalarannya.


"Tentu Rangga pasti tahu kata sandi ruangan milik Kakaknya, Kak Angga. Ia pasti membantu Al untuk masuk ke dalam ruangan itu, guna mengambil obat serta air minum milik Kak Angg一"


"Ya, sialnya, ternyata Ara dan Rangga malah terjebak berdua di ruangan Kak Angga karena alat kata sandi di pintu Kak Angga error. Begitu kan, maksudmu?" potong Sam melanjutkan ucapan yang akan Ryuu katakan.


"Penalaranmu dengan penalaran dari Kak Angga sama, Ryuu. Ada kemungkinan kini Ara dan Rangga sedang terjebak di ruangan Kak Angga sedari tadi siang hingga sekarang," tambah Angel membuat hati Ryuu semakin tak karuan.


"Tidak, tidak mungkin. Kalau memang Rangga dan Ara terjebak disana selama berjam-jam, kenapa yang menelfonku dan yang lainnya hanya Rangga saja? Kenapa Ara tak ikut menghubungi atau menelfonku? Aku kan jelas-jelas sahabatnya!"


"Nomor ponsel Al tidak aktif. Saat perjalanan kembali kesini, aku sudah mencoba berkali-kali untuk menghubunginya. Sepertinya ponsel dia mati," jawab Ryuu menjelaskan kebingungan yang masih mengganjal di hati Angel.


"Kalau begitu, kita harus mencari Ara di Studio Band sekarang! Ara tak akan aman bersama Rangga!" seru Angel seraya bangkit dari duduknya. Baru saja akan melangkah, Ryuu ikut bangkit lalu menghadang jalan Angel.


"Biar aku saja yang kembali ke studio," kata Ryuu menatap Angel sangat serius.


"Aku 'kan一"


"Kau disini saja bersama Sam dan Revina, tunggu disini sampai keluarga Kak Angga datang. Nanti kuhubungi lagi jika Al dan Rangga sudah ditemukan," Ryuu berkata dengan tenang. Meski sebenarnya, hatinya tak setenang suaranya.


"Iya, Ngel. Kita disini dulu saja sambil menunggu keluarga Kak Angga datang. Tak enak jika saat keluarga Kak Angga datang, kita yang terakhir kali bersama Kak Angga di Studio malah tak ada di rumah sakit ini," kata Sam seraya merangkul pacarnya itu agar kembali duduk di tempatnya.


"T-tapi, kan. Ada Revina disini yang juga anggota keluarga Kak Angga!" elak Angel enggan menuruti ucapan Sam dan Ryuu.


"Tidak. Aku akan ikut Ryuu ke Studio Band. Karena aku disuruh Kak Angga untuk memastikan bahwa Ara dan Rangga baik-baik saja," timpal Revina yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping Ryuu. Bersiap untuk segera keluar dari koridor rumah sakit.


***


Ryuu dan Revina sudah berada di dalam Studio Band. Tanpa ingin buang-buang waktu, mereka berdua segera berlari menyusuri lobi, lalu koridor ruangan setiap ruang Band. Sesuai permintaan Revina, Ryuu berlari di paling depan mencari ruangan Angga yang terletak di paling ujung gedung studio.


Kini, sampailah mereka di luar ruangan Angga.


"Rev, kau tahu apa kata sandi ruangan Kak Angga?" tanya Ryuu memulai pembicaraan.


Revina menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu, Ryuu. Yang tahu kata sandi ruangan Kak Angga hanyalah Rangga saja."


Ryuu terdiam. Mata coklatnya menatap ke arah lantai yang bersih mengkilap. Ia menunduk sambil memasukkan tangan ke saku celananya. Ya, meski sikapnya terlihat sangat tenang, sebenarnya hatinya sekarang berkecamuk tak karuan.


"Tapi, setahuku pintu ruangan ini sering di dobrak sih jika alat kata sandinya error. Kak Angga memang sering mengganti pintu ruangannya setiap bulan karena sering di dobrak," jelas Revina membuat secercah harapan pada Ryuu.


Ryuu menoleh ke arah Revina disampingnya, lalu menatap pintu ruangan milik Angga.


"Serius? Tak apa jika aku mendobrak pintu ini?"


Revina mengangguk, mengiyakan apa kata Ryuu.


"Tenang saja, Kak Angga tak akan marah. Lagipula ini 'kan ada alasannya, karena kita ingin menyelamatkan Rangga dan Ara juga," kata Revina mencoba menenangkan keraguan Ryuu.


"Baiklah," balas Ryuu mengerti.


Ryuu pun mengambil ancang-ancang dan menarik napas panjang perlahan. Ia berniat akan mendobrak pintu ruangan Angga dengan sekuat tenaga. Dan...


BRUKKK!!!


Pintu ruangan Angga terbuka dalam satu kali dobrakan dari hentakan tubuh Ryuu.


Pemandangan di dalam ruangan Angga benar-benar mengejutkan. Terlihat sepasang manusia berbeda jenis kelamin sedang duduk bersampingan一sambil berpelukan erat.


"Al?" Ryuu membelalakkan matanya tanpa berkedip. Ibarat kaca yang pecah, hatinya hancur berkeping-keping melihat Ara dan Rangga sedang berpelukan.


Namun nyatanya, Ryuu tak menyadari rasa sakit hati yang menjalar dihatinya sekarang.


Selain itu, untuk pertama kalinya dalam hidup Ara, baru kali ini ia melihat ekspresi Ryuu yang sangat terkejut tanpa ekspresi dingin dan cuek seperti biasanya.


Ini benar-benar situasi yang tak terduga.


"R-ryuu!"


Ara dengan cepat mendorong tubuh Rangga agar melepaskan pelukannya. Ia lalu segera bangkit lalu berjalan menghampiri Ryuu dan Revina yang berdiri terpaku di depan ruangan Angga.


"R-ryuu, aku bisa jelaskan一"


"Ayo pulang," potong Ryuu cepat seraya membalikkan tubuhnya. Berjalan pergi mendahului Ara.


Ara menoleh ke arah Rangga lalu ke arah Revina. Sesaat setelah berpamitan pada dua temannya itu, Ara pun segera berlari menyusul ke-tertinggalannya di belakang Ryuu.


Kini, hanya tersisa Revina dan Rangga saja di dalam Studio. Tanpa basa-basi, Revina menghampiri sepupunya itu dengan wajah khawatir.


"Hidungmu mimisan lagi? Repot ya ternyata punya alergi dingin," kata Revina seraya membantu Rangga untuk berdiri.


Rangga tersenyum miring sambil menggulung blezer milik Ara di lengannya. Ia tak menggubris perkataan Revina.


"Bagaimana keadaan Kak Angga?"


"Sudah aman, kok. Tadi di UGD Kak Angga sempat sadar, tapi sekarang sudah tak sadarkan diri lagi. Mungkin karena efek obat."


Rangga mengangguk-angguk tanda mengerti.


"Rangga, kenapa tadi kau bisa berpelukan dengan Ara? Apa kau一"


"Revina, kali ini kau benar-benar harus membantuku, ya?"


Revina mengernyitkan dahi tak mengerti. Ia menatap sepupunya itu dengan tatapan bingung.


"Aku punya rencana untuk benar-benar memisahkan Ryuu dan Ara," Lagi-lagi Rangga tersenyum miring sambil menatap Revina tajam.


"Rencana? Rencana apa?"