STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 36 - Sahabat Kedua



🖤🖤🖤


Jangan menarik ulur hati, nanti terlanjur tertarik dan kau akan sulit melepasnya.


🖤🖤🖤


"Bagaimana? Kau suka dengan sungai disini?" tanya Rangga sesampainya dia dan Ara di sungai dekat Villa.


Ara tersenyum lebar pada Rangga. Dia sungguh takjub melihat pemandangan sungai yang airnya begitu jernih mengalir. Jarang sekali melihat sungai sejernih ini, pikirnya. Karna di sekitar rumahnya 'kan tak ada sungai seperti ini.


"Ara, maafkan aku ya."


"Eh? Kenapa?"


Rangga berjalan menjauhi Ara sambil memasukkan tangan ke saku celananya. Bingung akan hal tersebut, Ara pun berlari mengejar Rangga.


"Kenapa kau minta maaf, Rangga?" tanya Ara yang kini sudah berada di samping Rangga. Mereka berdua sama-sama berjalan mengitari sungai.


"Tadi malam, saat kita berdua di bawah pohon. Kau tak ingat?"


DEG!!!


Pandangan Ara langsung kosong seketika saat mengingat kejadian semalam一sesuai apa yang ditanyakan Rangga padanya. Benar juga. Kemarin malam, saat mereka berdua duduk di bawah pohon, Rangga hampir saja menciumnya. Sepertinya Ara harus sangat berterimakasih pada kedatangan Ryuu yang timing-nya sangat pas sekali, sehingga Rangga tak jadi mencium Ara.


"Ka-kau tak perlu meminta maaf," ujar Ara canggung sambil mengusap leher belakangnya.


"Benarkah? Aku hanya takut saja, Ra. Kau jadi tak nyaman denganku karna aku berniat menciu一"


"Ngomong-ngomong, kenapa kau sekarang memanggilku dengan panggilan Ara? Bukankah dari awal kita bertemu, kau memanggilku Putri?" tanya Ara yang baru menyadari hal itu sedari tadi.


Rangga tertawa mendengar pertanyaan Ara. Kini, laki-laki berambut blonde itu menghentikan langkahnya, lalu diikuti oleh Ara yang ada disampingnya. Sambil menatap Ara begitu lembut, Rangga pun mengusap pelan rambut kecoklatan Ara.


"Ku pikir, panggilan 'Ara' akan membuatku lebih dekat denganmu, seperti Angel dan Sam. Jadi aku memutuskan untuk memanggilmu Ara saja ketimbang Putri, hehehe," jelas Rangga lalu dibalas anggukan oleh Ara.


"Hmm, begitu.."


Rangga melepaskan tangannya dari kepala Ara. Kali ini, dia dengan cepat menyentuh kedua tangan Ara. Membuat gadis yang ada dihadapannya itu terlonjak kaget.


"E-eh? Ada apa, Rangga?" tanya Ara seraya berusaha melepaskan tangan Rangga dari tangannya. Namun, nihil. Rangga malah semakin memperkuat genggamannya.


"Aku tahu kau menyukai Ryuu. Jadi, aku tak akan mungkin memintamu untuk jadi pacarku," kata Rangga dengan suara lembut.


Ara membelalakkan matanya kaget, "Hah? M-maksudmu?"


"Ya, intinya, ku harap aku bisa menjadi sahabatmu yang kedua setelah Ryuu."


"T-tapi, Angel kan juga sahabatku. Berarti kau adalah sahabatku yang ketiga一"


Rangga tersenyum manis seraya menempelkan jari telunjuknya di bibir Ara. Memberi kode agar Ara menghentikan ucapannya.


"Angel kan perempuan. Aku ingin, aku jadi sahabat laki-lakimu yang kedua setelah Ryuu. Apakah boleh?" tanya Rangga lagi-lagi dengan suara lembutnya. Membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan luluh, termasuk Ara.


***


"Sekali lagi, aku minta maaf, Sam."


Sam membuang muka tanpa mengucapkan apa-apa. Ia hanya membiarkan Angel duduk di sampingnya di bawah pohon yang tak jauh dari Villa yang mereka tempati. Sudah hampir setengah jam, Angel mencoba untuk meminta maaf pada Sam atas kelakuannya tadi malam yang tak menuruti ucapan pacarnya itu. Namun, selama hampir setengah jam itu pula, Sam tak menjawab apapun yang Angel katakan padanya.


"Ku pikir, Ara akan lebih cepat ditemukan jika aku ikut membantu. Jadi, aku tak menuruti ucapanmu untuk kembali ke Villa. Alih-alih menemukan Ara, aku malah tersesat sendiri hingga akhirnya bertemu dengan Bu Tia."


Sam mencoba melirik Angel sekilas. Betapa terkejutnya ia ketika melihat wajah Angel yang sangat sedih dengan mata yang berkaca-kaca.


"K.. Kau menangis?"


Ditanya seperti itu, tangis Angel pun pecah. Dia langsung memeluk Sam dengan erat tanpa permisi. Membuat Sam yang ada disampingnya cukup tersentak kaget.


"Kau tidak tahu sih bagaimana rasanya menjadi aku tadi malam! Aku sangat ketakutan, tahu! Ku kira aku akan benar-benar tersesat dan tak akan pernah bertemu denganmu dan yang lainnya lagi!" seru Angel sambil menangis tersedu-sedu.


Sam membalas pelukan Angel, mempererat pelukan tersebut sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


"Semalam juga aku sangat cemas mencarimu. Aku takut, kau di culik atau apa," ujar Sam yang malah membuat tangisan Angel semakin kencang.


"H.. Hei, sudah. Jangan menangis, Ngel. Aku minta maaf karna tadi malam dan saat sarapan tadi, sikapku begitu padamu. Aku minta maaf, ya sayang," sambung Sam mencoba menenangkan Angel.


"Jangan bicara seperti itu! Lagipula siapa juga yang akan menculikku, hah?" tanya Angel seraya meninju pelan pundak kiri Sam sambil terus menangis.


"Saat kau hilang kemarin, pikiranku jadi kemana-mana. Aku sempat berpikir kau di culik oleh penguntit yang menguntitmu di Halte Bus waktu itu. Ingat, tidak?"


DEG!!!


Tangisan Angel terhenti seketika. Ia langsung melepaskan pelukannya pada Sam lalu menatap pacarnya itu dengan tatapan sangat serius. Begitu serius hingga yang ditatap terlihat bingung sendiri.


"K.. Kenapa, Ngel?"


"Aku sepertinya belum cerita ya, soal penguntit itu?"


"Eh? Memangnya ada apa dengan penguntit tersebut?"


"Sebenarnya, dia adalah ayahku."


DEG!!!


"Eh?!" Sam membulatkan matanya dengan mulut menganga tak percaya.


"Ayahku sendiri yang bilang. Dia mengawasiku karna tahu bahwa aku punya pacar. Jadi, jika ada waktu senggang, dia pasti akan menguntitku, hihi," jelas Angel sambil tertawa kecil melihat ekspresi Sam yang begitu lucu.


"J-jadi?"


"Ya, jadi sepertinya kau harus ke rumahku agar aku bisa memperkenalkan dirimu pada ayah sekaligus keluargaku."


***


Ara dan Rangga kini sedang duduk di atas batu besar dekat sungai. Sambil terus berbincang, Ara memainkan riak air sungai dengan tangannya. Lain halnya dengan Ara, Rangga malah asyik memperhatikan gadis itu sambil tersenyum-senyum.


"Sepertinya kau sangat suka sungai, ya."


Ara menoleh ke arah Rangga, lalu kembali memainkan riak air sungai sambil tersenyum, "Iya, aku sangat suka air jernih yang mengalir seperti ini."


"Hal apa lagi yang kau suka?" tanya Rangga penasaran.


"Apa kau suka.. Bulan?" sambung Rangga sambil memperhatikan kalung yang Ara pakai di lehernya.


DEG!!!


"Eh? Kok kau bisa tahu?" tanya Ara kaget. Kali ini ia berhenti memainkan riak air sungai, beralih menatap Rangga.


Rangga tertawa kecil melihat ekspresi kaget Ara, "Itu, kalungmu一"


"Oh? Ini, ya?"


Rangga mengangguk.


"Boleh lepaskan kalungmu? Aku ingin melihatnya," tanya Rangga meminta izin, membuat Ara agak tertegun mendengarnya.


"Eh? Untuk apa?"


"Tenang saja, aku tak akan macam-macam, kok," Rangga tersenyum manis, mencoba membuat Ara luluh. "Aku hanya ingin lihat saja lebih dekat lagi kalung indahmu itu."


Ara akhirnya mengangguk. Namun, baru saja ia akan melepaskan kalung pemberian Ryuu tersebut dari lehernya, tiba-tiba...


"Oh, kalian berdua disini rupanya."


DEG!!!


"Ryuu?!"


Ryuu menatap Ara dan Rangga dingin sambil berjalan melewati bebatuan, menghampiri mereka berdua. Sesampainya ia di batu besar tempat Ara dan Rangga duduk, ia pun duduk di samping Ara dengan ekspresi yang tak menyenangkan.


"Dari kemarin kalian senang sekali berduaan, ya? Ada apa sih sebenarnya?" tanya Ryuu dengan nada meledek namun tatapannya sangat tajam pada Ara.


"Ehm, itu..."


Rangga menyentuh pundak Ara, memberi kode agar dirinya saja yang bicara.


"Aku meminta Ara untuk jadi sahabat laki-lakinya yang kedua. Dan Ara masih mempertimbangkan hal itu, takut kau akan marah padanya karna memiliki sahabat laki-laki selain dirimu," jelas Rangga pada Ryuu.


Ryuu mengangguk-anggukan kepalanya, "Hmmm, begitu, ya."


"Jadi, bagaimana, Ra?" tanya Rangga meminta persetujuan Ara.


Ara tak bisa menjawab. Dia terlalu takut untuk membuka suara karna Ryuu menatapnya begitu tajam.


"Sepertinya Al harus berdiskusi dahulu denganku tentang hal ini," kata Ryuu yang sukses membuat Ara mengernyitkan dahinya bingung.


"Untuk apa berdiskusi, Ryuu?" tanya Rangga yang mewakili pertanyaan Ara dalam hatinya.


"Aku sahabatnya Al, jadi tak ada salahnya kan berdiskusi dengannya terlebih dahulu mengenai hal ini?"


Rangga terdiam untuk beberapa saat. Lalu, detik berikutnya, ia mengangguk.


"Baiklah, aku akan pergi ke Villa. Kalian boleh mendiskusikan hal ini disini saja," ujar Rangga seraya berdiri dari duduknya.


"Dah, Ra," sambung Rangga sambil mengusap-usap kepala Ara, lalu setelah itu ia pun pergi dari situ.


Keadaan hening tercipta bersamaan dengan kepergian Rangga. Ara tak berani sedikitpun menatap Ryuu. Karna ia tahu, kini ia sedang ditatap oleh Ryuu dengan tatapan tajamnya itu.


Sebenarnya sih, Ara tak takut dengan tatapan Ryuu. Hanya saja, ia merasa jika Ryuu menatapnya tajam, level ketampanan Ryuu bertambah 1000x lipat dari biasanya. Dan jantung Ara merasa tak sanggup menerima kenyataan itu.


"Jujur padaku. Sebenarnya kau menyukai Rangga atau tidak?" tanya Ryuu membuka suaranya, membuat Ara seolah 'dipaksa' untuk menatapnya.


"Eh?"


"Kau menyukai Rangga atau tidak?" Ryuu mengulang pertanyaannya.


"Itu sih... Kau kan tahu cinta pertamaku dari dulu hingga detik ini hanya kau saja. Jadi一"


PLTAK!


"A-awww!" jerit Ara kecil karna Ryuu menjentik dahinya tiba-tiba.


"Bukan itu maksudku, bodoh. Yang ku tanyakan adalah, apakah kau menyukai Rangga dalam konteks pertemanan? Bukan dalam konteks cinta pertama," ujar Ryuu memutar bola matanya.


Ara mengusap-usap dahinya sambil memanyunkan bibirnya, "Sejujurnya sih, kurasa Rangga itu orang yang baik. Dan aku merasa nyaman dengannya. Namun, akhir-akhir ini entah kenapa aku terganggu olehnya. T.. Tapi, aku tahu sih, niatnya itu baik padaku. Mungkin akunya saja yang berlebihan dan tak bisa memaklumi kebaikannya padaku," jelasnya panjang lebar.


"Kau pikirkan saja matang-matang. Jika dia menjadi sahabatmu, kau pasti akan lebih didekati lagi olehnya, bukan?"


Ara mengangguk, membenarkan pendapat dari Ryuu. Jika ia mengizinkan Rangga untuk jadi sahabatnya, pasti Rangga akan semakin mendekatinya dengan alasan, "Kita kan adalah sahabat!" begitu. Dan entah kenapa, jauh di dalam lubuk hati Ara, ia tak mau hal itu terjadi. Bagaimanapun, Ara tak akan berpaling dari Ryuu sedikitpun.


"Aku harus bagaimana dong, Ryuu?" tanya Ara dengan wajah tak tenang.


Ryuu terdiam. Tatapannya itu lurus ke bawah, seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu, tak lama setelah itu, ia pun menatap Ara sangat lekat. Membuat Ara yang ada disampingnya juga serasa dituntut untuk balas menatapnya.


"Al, ku rasa, aku bisa membantumu."


Ara mengernyitkan dahinya heran, "Eh? Maksudmu?"