
🖤🖤🖤
Mencintai itu menyenangkan,
Menunggu itu menyakitkan,
Mengharap itu melelahkan.
🖤🖤🖤
"Kemana sih sebenarnya kau pergi, Ngel?!"
Sam menarik napas panjang sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. Kini, ia berada di halaman depan Villa bersama Ara, Rangga, Revina, dan juga Ryuu. Mereka berlima sudah mencari Angel kemana-mana, tapi Angel tetap tak bisa ditemukan. Ini membuat hati Sam semakin tak karuan karna jam menunjukkan waktu pukul 10 malam.
"Tadi, saat aku, Rangga, dan Angel mencari Ara一aku menyuruh Angel untuk kembali ke Villa. Maksudku, biar aku saja dan Rangga yang mencari Ara. Dia mengangguk dan mengiyakan perintahku dengan senyuman manisnya. Namun ternyata, dia tak kembali ke Villa sama sekali," ujar Sam gelisah.
Ara menatap Sam merasa bersalah, "Maaf, Sam. Andai saja aku tak pergi dari Villa tadi, pasti kalian tak akan kerepotan mencariku."
Sam menggelengkan kepalanya, "Ini bukan salahmu, Ra. Andai saja Angel menuruti perintahku untuk kembali ke Villa, pasti dia akan bersama kita sekarang disini."
"Sepertinya para gadis memang senang pergi untuk dicari, ya?" tanya Ryuu ketus, tatapannya itu tertuju pada Ara.
"Lebih baik kau diam saja, Ryuu. Ucapanmu tak membantu sama sekali," kata Rangga membela Ara.
"Ah, aku ingat!" seru Sam seraya menatap semua yang ada dihadapannya dengan serius.
"Ingat apa?" tanya Ara yang sangat khawatir sekaligus penasaran.
"Beberapa hari yang lalu, saat aku bersama Angel menunggu Bus untuk berangkat ke sekolah, ada seorang laki-laki misterius yang memperhatikan Angel di halte."
"Laki-laki misterius? Seperti apa rupanya?" Kini Rangga ikut bertanya.
"Arggh! Aku tak bisa melihat wajahnya karna dia menggunakan masker penutup mulut dan juga jaket hitam yang besar menutupi badannya."
"Berarti, ada kemungkinan Angel diculik oleh laki-laki misterius itu," kata Revina sekenanya yang membuat Sam, Rangga, dan Ara membelalakkan matanya kaget.
"H-hei! Revina!" tegur Rangga karna ucapan Revina tadi hanya memperkeruh suasana.
"Aku tahu kau tidak suka pada Angel, tapi kumohon jangan bicara yang tidak-tidak disaat seperti ini," ujar Ara cukup kesal.
Sam menundukkan kepalanya. Jari-jarinya bergerak menutupi separuh wajahnya yang terlihat sangat lelah mencari Angel. Tentu saja, hati Sam sangat tak tenang. Suasana hatinya itu sangat kacau sekarang. Apalagi jika membayangkan Angel diculik oleh laki-laki misterius tersebut.
"Oke, kita sebut saja si laki-laki misterius itu adalah stalker," kata Ryuu yang mengejutkan semuanya karna dia sedari tadi baru mengeluarkan suaranya.
Ryuu menatap semuanya satu-persatu seraya berjalan mengitari teman-temannya itu. Wajahnya yang selalu menampakkan ekspresi dingin dan datar berubah menjadi ekspresi yang sangat serius sekarang.
"Ada kemungkinan si stalker mengikuti dan menguntit kita semua sampai sini. Tapi, tujuannya itu terpaku pada satu orang, yaitu Angel. Kita semua harus berhati-hati karna mungkin saja stalker itu masih ada disekitar sini memantau kita," ujar Ryuu yang membuat Sam mengernyitkan dahinya bingung.
"Lalu, kita harus bagaimana? Apa aku harus menelpon polisi saja?" tanya Sam seraya merogoh ponsel yang ada disaku jaketnya.
"Tidak, jangan dulu. Jika si stalker mendengar ada suara sirine polisi datang kesini, yang ada dia pasti akan kabur membawa Angel entah kemana. Firasatku, Angel masih ada di sekitar sini," jawab Ryuu dengan tenang.
"Hei, bagaimana bisa kau setenang itu?" tanya Rangga dengan nada cukup tinggi.
"Manusia tidak akan bisa mencari akar dari permasalahan jika tak bersikap tenang," kata Ryuu dengan sedikit penekanan.
Ryuu yang sedari tadi menatap Sam mengalihkan tatapannya pada Rangga. Kini, dua laki-laki tampan berbeda ras itu saling bertatapan dengan tajam. Membuat suasana yang sudah keruh semakin keruh.
"H-hei, sudah. Sudah. Jangan berdebat," ucap Ara mencoba melerai mereka berdua.
Ryuu tersenyum miring, "Aku tak berniat berdebat dengannya. Tak ada gunanya juga untukku. Toh, dia yang memulai duluan."
"Orang yang tak punya hati sepertimu mana tahu betapa khawatirnya Sam pada Angel! Dan kau masih bisa setenang ini melihat temanmu sedang kacau hatinya?" tanya Rangga cukup emosi.
Baru saja Sam akan melerai perdebatan yang semakin memanas, tiba-tiba saja datang seorang perempuan paruh baya bersama gadis SMA berjaket merah menghampiri mereka berlima.
"Wah, sepertinya sedang seru sekali ya disini. Ada apa sih?" tanya perempuan paruh baya itu sambil tersenyum simpul.
DEG!!!
"A-angel?!"
***
"Wah, maaf ya mengagetkan kalian semua hehehe," kata perempuan paruh baya itu seraya duduk di ruang tamu Villa, lalu diikuti oleh semua yang ada disitu.
Ara, Sam, Rangga dan Revina saling berpandangan. Mereka merasa sedikit canggung dengan kedatangan perempuan paruh baya itu. Apalagi, perempuan paruh baya itu datang bersama Angel.
"A-anu, apakah anda suruhan dari Bunda Yuu untuk memantau kita disini?" tanya Ara yang paling duluan membuka suara.
"Hahaha, benar. Perkenalkan, nama saya Tiara. Panggil Ibu Tia saja," katanya seraya tersenyum lebar.
Sam menatap Angel yang duduk di sebrangnya dengan tajam. Lain halnya dengan Sam, Angel malah tak berani menatap pacarnya itu sedikitpun. Ia hanya menunduk sambil memainkan ujung resleting jaketnya.
"P-perkenalkan, Bu. Nama saya Altheara, dipanggil Ara. Yang disamping saya ini Rangga, Revina, dan Sam."
"Aku bisa memperkenalkan diriku sendiri, kali," gumam Revina jengkel pada Ara. Detik selanjutnya, sikut Revina disenggol oleh Rangga karna rupanya lelaki itu mendengar gumaman Revina.
"Sedangkan yang disamping Ibu itu Angel dan Ryuu," sambung Ara sambil tersenyum.
Tia ikut tersenyum, ia pun menatap satu-persatu ke-6 murid SMA itu. Namun, tatapannya itu terhenti pada Ryuu yang sedang melipat tangan di dada dengan eskpresi super dingin.
"Hei, wajahmu terlihat asing, apa kau blasteran?" tanya Tia penasaran.
"Aku..."
"Dia anak dari Bunda Yuu. Dia memang blasteran Indo-Jepang, Bu. Jadi wajar wajahnya begitu," jawab Ara memotong ucapan Ryuu.
Tia mengangguk-anggukan kepalanya, "Oh, kau anak dari Nyonya Yuu? Pantas saja kalian mirip hahaha."
Hening. Tak ada satupun yang berbicara. Baru saja Rangga akan membuka suara untuk mencairkan suasana, tiba-tiba...
"Bagaimana bisa Angel bersamamu, Bu?" tanya Sam yang pandangannya masih tak lepas dari Angel.
Tia menoleh ke arah Angel disampingnya sambil tertawa.
"Dia? Hahaha, ceritanya tak begitu panjang. Aku melihatnya berlarian di sekitaran dekat rumahku. Ku kira dia pencuri, jadi aku menangkap dan menyekapnya di rumahku."
"Apa itu benar, Ngel?" tanya Rangga penasaran.
Angel mengangguk. Namun pandangannya itu masih saja menunduk.
"Tapi setelah Angel menceritakan siapa dia dan dia menginap di Villa mana, aku jadi tahu bahwa dia adalah anak-anak SMA yang dititipkan Nyonya Yuu padaku untuk dipantau. Ya, begitulah. Akhirnya aku memutuskan untuk mengantar Angel pulang karna sepertinya dia tersesat dan tak tahu arah kembali untuk ke Villa ini," jelas Tia cukup panjang lebar.
Sam mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti, tapi entah kenapa tatapannya pada Angel tetap tajam. Rupanya, Sam cukup kesal pada Angel karna ucapannya tak didengarkan sama sekali untuk kembali ke Villa saat mereka mencari Ara tadi.
"Oke, kalau begitu, aku pulang dulu ya. Besok aku akan kesini lagi untuk memantau kalian. Ingat, jangan macam-macam ya selama disini, hehehe," goda Tia seraya bangkit dari duduknya lalu pergi begitu saja keluar dari Villa.
Pipi Ara memerah mendengar ucapan Tia tadi. Sekilas, terlintas di benaknya saat ia mencium pipi Ryuu beberapa waktu yang lalu. Oh, rasanya ingin ia menyembunyikan wajahnya dari Ryuu karena malu setengah mati. Ternyata, tanpa Ara sadari, Ryuu memperhatikan wajah Ara yang merah tersipu sedari tadi.
"Oke, lebih baik kita juga beristirahat. Sudah larut malam juga," ujar Rangga bangkit dari duduknya, lalu diikuti oleh Sam, Revina, dan Angel.
Mereka semua pun naik ke lantai atas menuju kamar masing-masing. Merasa hanya tersisa dirinya dengan Ryuu, Ara buru-buru berlari mengikuti Angel yang sudah ada di tangga. Rasanya ia begitu malu jika harus berduaan dengan Ryuu.
"Ngel, tadi sebelum kau datang, kita semua mencarimu, tahu. Dan Sam terlihat sangat khawatir padamu," bisik Ara pada Angel tepat didepan pintu kamar Angel dan Revina.
"Benarkah?" tanya Angel cukup kaget.
Ara mengangguk, "Tadi, aku melihat ekspresi Sam padamu. Sepertinya ia kelihatan marah."
"Hmm, aku juga tahu, Ra. Lalu bagaimana ini? Aku harus bagaimana? Meminta maaf padanya?" Wajah Angel terlihat begitu gelisah dan gundah.
"Harusnya aku yang minta maaf pada kalian berdua. Jika bukan karna aku..." Ara menunduk seraya menggenggam kedua tangan Angel, "...pasti situasi kalian tidak akan seperti ini."
"Hei, ini bukan salahmu kok. Ini salahku yang tak mendengarkan ucapan Sam. Kau tenang saja ya. Ini 100% bukan salahmu," kata Angel seraya tersenyum. Ara pun ikut tersenyum haru.
"Ngomong-ngomong, aku 'kan akan tidur di ruang tamu, bisa pinjam jaketmu yang tebal itu? Jaketku terlalu tipis dan aku kedinginan, hehe."
***
"Al, kau mencintai Rangga?"
Ara membuka mata perlahan. Ia baru saja terbangun dari tidur di sofa ruang tamu yang lampunya redup karna hanya ada 1 lampu saja yang dinyalakan. Perlahan tapi pasti, matanya menyapu ke seluruh penjuru ruangan. Sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Ara berjalan menuju dapur untuk mengambil minum.
"Aneh, sepertinya tadi aku mendengar suara Ryuu," gumam Ara yang masih belum sepenuhnya sadar.
Sesampainya di dapur, Ara dengan cepat membuka pintu kulkas dan mengambil botol berisi air putih. Tanpa berlama-lama, ia pun langsung meminumnya dengan buru-buru.
"Jangan minum seperti itu, kau bisa tersedak, bodoh."
DEG!!!
"UHUK! UHUK!"
Ara tersedak karena kaget mendengar suara Ryuu yang ternyata kini ada dibelakangnya.
"R-ryuu? Uhuk, uhuk. Sejak kapan kau ada disini?" tanya Ara masih kaget.
"Memangnya penting kau tahu aku kesini kapan?" Ryuu balik bertanya dengan ketus seraya mengambil botol air minum yang dipegang Ara一dan meminumnya tanpa permisi.
DEG!!!
Rasa kaget Ara bertambah saat Ryuu meminum botol air minum miliknya begitu saja. Gadis itu membelalakkan matanya kaget dengan mulut menganga一membuat Ryuu yang ada disampingnya tertawa kecil.
"Ekspresimu persis seperti orang bodoh, haha," ujar Ryuu seraya mengembalikan kembali botol minum Ara ke tangannya. Detik berikutnya, Ryuu berjalan ke ruang tamu lalu duduk di Sofa tempat Ara tidur tadi.
"H-hei! Kau tidak merasa yang tadi kau lakukan itu salah?" tanya Ara seraya duduk di samping Ryuu.
Ryuu mengernyitkan dahinya, "Salah? Aku hanya meminum air dari botolmu, memangnya salah?"
"M.. Maksudku.. Itu.. Lho.."
"Apa?"
"Ku dengar, kalau laki-laki dan perempuan minum di botol yang sama. Itu namanya..."
"Ciuman secara tak langsung?" tanya Ryuu memotong ucapan Ara.
Ara membulatkan matanya, lagi-lagi ia kaget setengah mati.
"Eeehhh? Kau tahu?" tanya Ara tak percaya.
Ryuu mengangguk, melirik Ara sebentar, lalu membuang wajahnya, "Kau pikir aku tak tahu?"
"Lalu, kenapa kau tetap meminum air di botol bekasku tadi?"
"Ya memangnya kenapa? Toh, kita kan sudah sering berciuman. Tiga kali eh, empat kali bukan dengan yang di jurang pendek tadi?" tanya Ryuu datar yang sukses membuat pipi Ara memerah dan salah tingkah.
"Kenapa dia begitu santai mengucapkan 'kita kan sudah sering berciuman'? Dasar Ryuu aneh," batin Ara yang kini begitu malu.
"Eh? Apa jangan-jangan..."
"A-apa?"
"Kau tidak mau kita berciuman secara tak langsung? Kau lebih ingin kita berciuman secara..."
"H-hei! Aku tidak berpikir begitu!" seru Ara memotong ucapan Ryuu sambil membuang muka menahan rasa malu. Menyadari akan hal itu, Ryuu malah semakin ingin menggoda Ara.
"Jika dipikir-pikir lagi, kita itu sepasang sahabat yang paling aneh ya di dunia ini ya," ujar Ryuu seraya merebahkan dirinya di Sofa sambil menatap langit-langit ruang tamu.
Ara menoleh ke arah Ryuu seketika, "Maksudmu?"
"Iya, maksudku, tidak ada sepasang sahabat yang mencium sahabatnya sendiri kan?"
"Ya, kau benar," ucap Ara mengiyakan meski rasa malu masih memenuhi dirinya.
"Mungkin, kita tak pantas disebut sahabat lagi. Kita sudah tak seharusnya bersahabat lagi," ujar Ryuu sambil tersenyum tipis dan menatap Ara hangat. Sungguh ekspresi yang sangat berbeda dari Ryuu biasanya.
Hening. Ara mencoba menangkap apa maksud dari ucapan Ryuu padanya. Hingga akhirnya, Ara pun mengerti lalu membelalakkan matanya kaget entah untuk ke berapa kalinya.
"RYUU? KAU SEDANG MENEMBAKKU SEKARANG?"