STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 53 - A Painful Kiss



🖤🖤🖤


Aneh...


Aku lebih menyukainya setelah tahu dia tidak bisa kumiliki.


🖤🖤🖤


Ara mengerang pelan sambil membuka matanya. Butuh beberapa waktu untuk mengumpulkan seluruh nyawanya itu. Menit berikutnya, mata coklat Ara menyapu ke seluruh ruangan. Matanya menangkap jam dinding yang menunjukkan angka pukul 2 malam. Gadis itu pun terkejut kala menyadari sekarang ia ada dimana.


"Eh? Kenapa aku ada di kamarku?"


Dengan sigap Ara bangkit dari kasurnya lalu keluar dari kamar. Ia dengan cepat menuruni anak tangga lalu menuju ke ruang tamu.


DEG!!!


"Kenapa Ryuu jadi di ruang tamu? Bukankah dia..."


Ara tak melanjutkan ucapannya. Ia malah tersenyum-senyum sambil menghampiri Ryuu yang sedang tertidur pulas di sofa. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Ara dengan cepat duduk di atas meja. Tepat di hadapan Ryuu. Ia sangat antusias ingin melihat wajah tampan Ryuu yang sedang tertidur.


"Jadi, saat aku tertidur di Sofa ini, kau memindahkan aku ke kamarku ya? Hahaha, kau memang orang yang susah ditebak," ujar Ara terkekeh geli.


"Jika dipikir-pikir lagi, kenapa akhir-akhir ini aku semakin menyukai Ryuu ya? Padahal aku tahu, kemungkinan Ryuu akan menyukaiku balik hanya 1% saja," gumam Ara pelan. Matanya fokus menatap setiap inci wajah Ryuu.


"Enghhh..."


Ryuu tiba-tiba mengerang seraya bangkit dari posisi tidurnya. Melihat itu, tentu saja Ara terkejut. Sekarang Ryuu ada dalam posisi duduk di hadapan Ara.


"Ryuu? Kau sudah bangun?" tanya Ara ragu-ragu karena melihat mata Ryuu yang masih setengah terbuka.


"Hah? Apa kau bertanya padaku?" Ryuu balik bertanya dengan wajah setengah mengantuk.


Ara tersenyum simpul, "Apa kau tak kedinginan disini? Kenapa kau malah memindahkanku ke kamarku?"


"Aku gerahhh..." jawab Ryuu singkat. Ia mengibas-ngibaskan tangannya pada wajahnya.


"Eh? Gerah? Padahal di kamarku cukup dingin lho. Apa AC-nya tidak berfungsi, ya?"


Ryuu menggeleng pelan, "Hei, apa kau sudah mengerjakan PR Kimia?" tanya Ryuu yang sukses membuat kening Ara berkerut.


Kenapa Ryuu jadi membahas PR Kimia?


"Duh, aku jadi ingin baca buku sambil berenang di kolam renang. Sepertinya akan sangat sejuk disana," kata Ryuu sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Ara terkekeh, "Hei, kau tidak akan mungkin bisa baca buku sambil berenang, Ryuu. Kau ini ada-ada saja."



Ryuu tak menjawab. Matanya tetap dalam posisi setengah terbuka sedari tadi. Dari ucapannya yang aneh, Ara yakin Ryuu sedang mengigau sekarang.


"Ryuu, lebih baik kau kembali tidur. Aku juga akan tidur di kamarku," ucap Ara berniat bangkit dari duduknya. Namun, Ryuu dengan cepat menahan tangan Ara agar tetap duduk di posisinya.


"Ryuu? Apa kau mau aku yang tidur di ruang tamu lagi? Dan kau yang tidur di kamarku? Oh, baiklah. Silahkan saja," kata Ara sambil tersenyum penuh pengertian.


Ryuu diam. Tangannya yang masih menggenggam tangan Ara pun di arahkannya menuju kedua pipinya. Setelah kedua tangan Ara menempel di pipinya, laki-laki itu melepaskan genggaman tangannya pada Ara.



"Aku ingin pergi ke Jepang. Aku rindu negara asalku," gumam Ryuu pelan. Namun Ara masih bisa mendengarnya.


Ryuu mengangguk, bibir merah mudanya sedikit mengkerut, "Setelah lulus nanti, aku pasti akan ke Jepang. Ya, pasti."


Ara mengangguk-angguk tanda mengerti. Namun, dirinya cukup sedih mendengar hal tersebut.


"Kau akan pergi meninggalkanku, ya?" tanya Ara lirih.


"Tidak, justru aku akan menemuimu," jawab Ryuu dengan cepat.


"Eh? Maksudmu?" tanya Ara seraya melepaskan kedua tangannya dari pipi Ryuu.


Ryuu tak menjawab. Ia lagi-lagi diam tanpa alasan. Sedangkan Ara kini menatap Ryuu lekat-lekat. Mencoba menetralisir apa maksud dari ucapan Ryuu tadi.


"Aku menyukaimu."


DEG!!!


Ara sontak membulatkan matanya kaget setengah mati. Jantungnya terasa berhenti berdetak untuk beberapa saat. Rasanya, Ara berada di dalam mimpi sekarang.


"Tidak, lebih tepatnya, kaulah cinta pertamaku."


Ara mengedip-ngedipkan matanya tak percaya. Bukan, dirinya bukan di dalam mimpi. Ia merasa sedang melayang di antara ribuan awan di atas langit sana. Perasaan haru, bahagia, dan shock bercampur aduk. Ia bahkan sampai tak bisa berkata-kata karena hal ini.


"Aku mencintaimu..."


Mata Ara berbinar. Jika boleh, ia ingin sekali menangis dan berteriak pada dunia bahwa ia sangat, sangat, dan sangat bahagia sekarang.


"...Aoi."


DEG!!!


Sesaat setelah berucap seperti itu, Ryuu dengan cepat kilat menyambar bibir Ara. Mengulum bibir manis Ara dengan lembut. Sesekali me-lu-mat-nya pelan. Ini pertama kalinya Ryuu menciumnya seperti ini. Namun, Ara sama sekali tak bahagia dengan ciuman ini.



Meski selewat, Ara bisa mendengar Ryuu menyebut nama 'Aoi' sesaat setelah Ryuu berkata 'Aku mencintaimu'. Itu artinya...


Ryuu menyatakan cinta pada Aoi? Bukan pada Ara?


Ara yang merasa sudah di atas awan tadi, sekarang jatuh ke tanah begitu keras. Hatinya terasa di hantam panah bertubi-tubi. Jantungnya terasa di setrum listrik beribu-ribu volt. Begitu perih dan pedih mendengar Ryuu berkata cinta pada gadis lain, bukan pada dirinya.


Ara membiarkan Ryuu mencium bibirnya tanpa sedikitpun membalas ciuman tersebut. Tetes demi tetes air mata kini jatuh ke pipinya. Ya, Ara tahu. Alasan Ryuu menciumnya karena Ryuu menganggap Ara adalah Aoi一gadis yang dijodohkan dengan Ryuu oleh Neneknya di Jepang sana.


Semakin lama Ryuu mencium Ara, semakin remuk hati gadis itu. Tapi, entah kenapa, Ara tak bisa menghentikan hal tersebut. Dirinya terlalu lemas bahkan untuk sekedar mengelak ciuman Ryuu.


Ini...


Adalah ciuman yang paling menyakitkan yang Ryuu berikan padanya. Begitu menyakitkan hingga membuat Ara menangis lirih dalam ciuman tersebut. Tapi, sepertinya Ryuu tak menyadari akan hal itu.


"Jadi, ciuman seperti ini yang akan kau lakukan dengan Aoi? Ciuman seperti ini yang akan kau lakukan dengan gadis yang kau cinta? Sepertinya, aku terlalu percaya diri ya. Karena baru sadar bahwa kau tak pernah menciumku dengan ciuman seperti ini."


"Itu artinya..."


"Kau sama sekali tak mencintaiku. Kau dulu menciumku hanya untuk bersenang-senang."


"Ciuman tanpa perasaan. Aku sangat membenci ini!"


Batin Ara menjerit-jerit penuh rasa sedih, marah, dan kecewa. Namun, semua rasa sakitnya itu curahkan lewat tangisan dalam diamnya. Sedangkan Ryuu tetap menciumnya tanpa sedikitpun memberi celah untuk Ara bernapas.