
🖤🖤🖤
Why you so dazzling?
🖤🖤🖤
"Wah, akhirnya kita sampai juga!" teriak Ara kegirangan seraya berjalan masuk duluan ke dalam Villa.
"Ara, tunggu aku!" Angel berlari menyusul Ara di belakang, rupanya ia tak mau berjalan bersama Sam.
"Salah apa sih aku padanya?" batin Sam bingung sambil menghela napas pasrah.
Kini, mereka semua sudah berada di ruang tamu. Para gadis memutuskan untuk duduk di sofa, sedangkan para laki-laki memutuskan tetap berdiri di tempatnya. Sebelum memasuki kamar masing-masing, rupanya ada sesuatu yang mau Sam bicarakan.
"Dengar ya, ini amanat dari Bunda Yuu."
Ara mengangguk antusias. Beda dengan yang lainnya yang terlihat biasa saja.
"Katanya, kita bebas melakukan apa saja disini一"
"Heeeeh?"
Ara, Angel, dan Revina terlonjak kaget mendengar penuturan awal Sam. Merasa para gadis itu salah paham, Sam pun melanjutkan penuturannya.
"Tenang saja, kami para laki-laki tak akan berbuat macam-macam. Lagipula, Bunda Yuu menyuruh seseorang untuk memantau kita disini," lanjut Sam yang meredakan kagetnya tiga gadis tersebut.
Ara melihat ke arah atas langit-langit ruang tamu. Ia seperti sedang mengingat-ngingat sesuatu, "Hmmm.."
"Ada apa, Putri?" tanya Rangga penasaran.
"Tidak, hanya saja aku ingat sesuatu, hehehe. Bunda Yuu bilang, yang akan memantau kita disini itu namanya Ibu Tiara," jawab Ara sambil tersenyum manis.
"Oh, begitu..." timpal semuanya kecuali Ryuu dan Revina.
Untuk sesaat, mata Ara tak sengaja menatap Ryuu walau hanya sekilas. Tapi, buru-buru gadis itu membuang pandangannya ke sembarang arah. Bagaimana tidak? Ternyata, saat tadi Ara tersenyum manis, Ryuu sedang memperhatikannya dengan sorot mata yang sangat dingin.
"O-oh iya, kamar di Villa ini ada tiga. Dan kasurnya hanya ada satu saja. Bagaimana ini?" tanya Sam meminta pendapat semuanya.
Ara mengangguk-anggukan kepala, "Hmm, karna kita disini berenam, dan kamar juga hanya ada tiga. Ditambah lagi kasur yang hanya ada satu saja. Berarti, satu kamar itu hanya muat dua orang saja dong, ya?"
"Iya benar. Tapi, disinilah yang membuat aku bingung sedari tadi. Jika seandainya Angel tidur bersama Ara, aku dengan Ryuu, nah tidak mungkin dong Rangga dan Revina satu kamar?"
Rangga seketika tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Sam. Berbeda dengan Revina yang sudah memasang tampang kesal sekarang.
"Sam! Walaupun aku dan Rangga sepupu, tapi tidak ada jaminan dia tidak akan berbuat macam-macam padaku!" seru Revina kesal.
"Ya, aku juga tahu. Maka dari itu, berarti diantara kalian berdua harus ada yang mengalah tidak tidur di kamar," kali ini Angel ikut bersuara. Ya, mungkin karna Revina sudah membuka suara juga.
"Jika mengalah tidak tidur di kamar, lalu tidur dimana?" tanya Revina.
"Di sofa ruang tamu, hihihi," jawab Ara sambil tertawa kecil.
Revina membulatkan matanya, "Hah? Sofa ruang tamu? Aku mana bisa tidur?"
"Rangga, kau saja yang tidur di ruang tamu!" sambung Revina di detik selanjutnya.
"Eh?" Rangga bertanya dengan nada meledek.
"Ayolah, kau saja Rangga! Masa kau tidak mau mengalah dengan sepupu cantikmu ini!"
"Aku saja."
DEG!!!
Semua orang yang ada disitu seketika menoleh ke arah Ryuu bersamaan. Ekspresi wajah mereka semua sama, terkejut karna baru mendengar Ryuu membuka suaranya.
"Ryuu? Kau serius?" tanya Sam memastikan.
Ryuu mengangguk, "Kau dan Rangga tidur berdua saja. Aku yang akan tidur di ruang tamu."
Mendengar itu, Ara mendapat ide entah dari mana. Ia dengan secepat kilat berdiri, bangkit dari sofa yang ia duduki. Sambil menarik napas panjang, ia mengumpulkan tekad dalam dadanya.
"Biar aku saja yang tidur di ruang tamu. Angel dengan Revina, Sam dengan Rangga, dan Ryuu sendiri. Bagaimana?" tanya Ara meminta pendapat.
Revina berdecak kesal, "Cih, siapa juga yang mau tidur dengan nenek sihir ini! Aku tidak mau!"
"Hah? Nenek sihir? Kau yakin sebutan itu bukan untukmu sendiri?" sindir Angel menantang Revina.
"Put, biar aku saja deh yang tidur di ruang tamu. Berarti nanti Ryuu dengan Sam, Revina dengan Angel, dan kau tidur sendirian di kamar," ujar Rangga nampak tidak setuju dengan keputusan Ara.
"Iya, Ra. Kau jangan memaksakan dirimu sendiri," tambah Sam.
"Tidak apa-apa kok, lagipula di rumahku pun aku sudah terbiasa tidur di ruang tamu hehehe."
"Tapi, Put一"
"Ya, aku setuju Al tidur di ruang tamu. Kudengar dari Mommy-nya, dia memang hobi tidur di ruang tamu ketimbang di kamarnya sendiri," ucap Ryuu memotong ucapan Rangga.
Ara menatap Ryuu kaget. Hei, jelas-jelas tadi Ara berbohong perihal ia sudah terbiasa tidur di ruang tamu! Tapi, kenapa Ryuu menanggapi kebohongannya itu? Seumur hidupnya, Ara bersumpah tak pernah punya hobi tidur di ruang tamu seperti apa yang diucapkan Ryuu tadi.
"K-kalau begitu, kita harus ke kamar kita masing-masing ya Ra. Untuk tas dan barang bawaanmu, kau tetap boleh menyimpannya di kamar Revina dan Angel. Bagaimana?" ujar Sam.
Revina dan Angel sama-sama menggeleng, "Aku lebih baik tidur dengan Ara!" seru Angel.
"Aku lebih baik tidur sendiri!" seru Revina juga tak mau kalah.
"Jika kalian terus egois seperti ini, lebih baik kalian pulang saja sana," ujar Ryuu dingin seraya berjalan pergi duluan menuju kamarnya.
Semua orang mematung mendengar sindiran Ryuu. Ya, setidaknya sindiran itu sukses membuat Angel dan Revina bungkam. Semuanya pun pergi ke kamar masing-masing. Namun, tidak dengan Angel karna Ara menarik tangannya untuk tetap berdiri di tempatnya. Ada sesuatu yang ingin Ara tanyakan terlebih dahulu pada sahabatnya itu.
"Ngel, aku jarang lho melihatmu berdebat dengan perempuan. Apalagi dengan Revina, kalian sebelumnya tak pernah mengobrol apalagi berdebat seperti tadi. Ada apa sih memangnya denganmu?" tanya Ara penasaran.
Angel terdiam sesaat, lalu membuka mulutnya, "Dia mengirimkan Sam pesan sekitar seminggu yang lalu, Ra."
"Hah? Pesan apa?"
"Isi pesannya sangat membuatku muak, maka dari itu aku juga ikut muak setiap melihat wajahnya."
"Memang apa isi pesannya?"
"Revina bilang, dia ingin meminta bantuan Sam untuk mendekatinya dengan Ryuu. Karna teman yang cukup dekat dengan Ryuu hanya Sam saja, bukan?"
Ara tertegun sebentar mendengar penjelasan Angel.
"Ehm, la-lalu, apa Sam membalas pesan Revina tersebut?"
"Tidak sih, Sam tidak balas sama sekali. Hanya saja, aku muak dengan Revina karna dia berniat memanfaatkan Sam untuk mendekati Ryuu. Untung saja aku tahu duluan tentang hal ini. Jadi, Sam tidak perlu repot-repot membantu gadis licik itu."
Ara menundukkan kepalanya. Ia pikir, Revina sudah menyerah untuk tidak mendekati Ryuu lagi. Nyatanya, tidak sama sekali. Rasa cemas dan khawatir kini muncul di hati Ara.
"Tenang saja, Ra. Kupastikan Revina tidak akan bisa mendekati Ryuu bagaimanapun caranya. Lagipula, dia bukan siapa-siapanya Ryuu, kan? Beda denganmu tahu!" ujar Angel mencoba menenangkan Ara.
"Iya, lah! Kau ini bukan sekedar teman bagi Ryuu, tapi juga sahabatnya dari kecil! Apalagi, kau pernah punya pengalaman dicium olehnya kan? Hehehehe."
Pipi Ara merona seketika. Menyadari hal itu, Angel tertawa kecil.
"Ya sudah, ayo kita ke kamar!" ajak Angel seraya menggandeng tangan Ara.
"Eh? Aku 'kan tidur di ruang tamu, bukan dikamarmu dengan Revina!"
"Tapi kau harus menyimpan tas dan barang bawaanmu di kamar kan?"
Ara mengangguk sambil tertawa, "Hehehe, iya juga sih."
Mereka berdua pun berjalan menuju kamar yang akan ditempati oleh Angel dan Revina.
"Tapi, Ra. Kenapa kau bersikeras ingin tidur di ruang tamu, sih?" tanya Angel yang rupanya masih terlihat tak setuju dengan keputusan Ara.
"Itu karna, aku tidak mau Ryuu yang tidur di ruang tamu, Ngel."
"Lho? Kenapa? Ryuu kan laki-laki, tidak aneh bila laki-laki tidur di sofa ruang tamu kan?"
Ara mengangguk, "Semenjak kejadian Ryuu meminum greentea padahal ia alergi, aku jadi banyak bertanya pada Bundanya Ryuu perihal apa saja penyakit dan alergi Ryuu yang lainnya. Aku takut, kecerobohanku akan terulang lagi di masa yang akan datang."
"Lalu? Apa Ryuu punya alergi lagi?"
"Iya, selain alergi greentea, ternyata Ryuu alergi dingin."
Angel terkejut seraya membulatkan matanya, "Eh? Benarkah?"
"Iya. Maka dari itu, aku tidak mau Ryuu yang tidur di ruang tamu. Ryuu pasti akan kedinginan dan pasti akan kambuh alerginya. Kau kan tahu ini puncak, suhu siang saja sudah dingin. Apalagi malam nanti?"
"Ya ampun, Ra. Kau sampai sebegininya pada Ryuu. Kau benar-benar menyayanginya, ya. Aku jadi terharu," ujar Angel seraya memeluk Ara dari samping.
Ara tertawa kecil, "Lepaskan, hahaha. Kau berlebihan, ah."
"Jika aku jadi laki-laki, aku pasti akan jatuh cinta pada perempuan sepertimu, Ra!"
"Hahaha, kalau kau laki-laki, mungkin aku tidak akan suka padamu!"
"Huh! Dasar!!!"
***
Malam ini, Ryuu dan kawan-kawan sedang berada diluar Villa. Revina, Angel, dan Ara sedang membakar jagung. Sedangkan Sam dan Rangga sedang duduk di depan api unggun sambil menyanyi diiringi oleh petikan gitar Sam. Oh, jangan tanya Ryuu ada dimana sekarang. Dia sedang menyendiri di balkon atas Villa. Entah apa yang dilakukannya disana.
"Ra, panggil Ryuu sana. Jagung bakarnya sebentar lagi siap dihidangkan, lho!" seru Angel sambil mengipas-ngipas jagung yang masih dibakar.
"Eh? Ryuu memangnya ada dimana?"
"Di balkon atas. Cepat panggil dia. Lagipula, menginap di Villa ini 'kan acara miliknya."
Revina berdehem, "Biar aku saja yang memanggil Ryuu diatas," ujarnya seraya berjalan duluan meninggalkan Ara dan Angel.
Angel berdecak kesal melihat kepergian Revina. Ia menatap Ara, lalu dengan cepat mengipas-ngipaskan jagung bakar kembali.
"Ra, kenapa kau diam saja? Harusnya 'kan kau yang memanggil Ryuu disana! Kenapa malah jadi nenek lampir itu?" protes Angel tak terima.
"Hahaha, biarkan saja lah. Lagipula, aku yakin cinta Revina pada Ryuu juga sepihak. Sama sepertiku, hehehe," kata Ara dengan santainya.
Angel menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah. Ia rasa, ucapan Ara yang waktu itu bilang ingin berubah, benar-benar dilakukan Ara sekarang. Ara sudah cukup berubah menurut Angel. Ya, tidak ada lagi Ara yang panikan, gampang menyerah, dan selalu berpikiran negatif. Entahlah, Angel harus bersyukur atau khawatir dengan perubahan Ara?
***
"Karna jagung bakarnya sudah habis, dan perut kita sudah kenyang semua, bagaimana kalau kita adakan sedikit hiburan?" tanya Sam dengan penuh semangat.
"Boleh juga tuh!" sahut Ara, Rangga, dan Angel bersamaan.
Remaja SMA kelas 3 itu semuanya kini duduk melingkari api unggun yang memang sudah dibuat sedari tadi di halaman depan Villa. Berkat bujukan dari Revina, rupanya Ryuu mau turun dari balkon atas sana. Namun, dari awal mereka semua berbincang sambil makan jagung bakar, Ryuu tak sedikitpun membuka suaranya.
"Ryuu, kau mau request lagu apa? Ini 'kan acara milikmu, jadi kau yang harus tentukan!" seru Sam seraya menepuk pelan pundak Ryuu.
Ryuu memutar bola matanya, "Apa saja, asal yang bernyanyi itu jangan kau."
"Eh? Memangnya kenapa?"
"Sadar dirilah, suaramu itu fals."
Sontak, Ara dan yang lainnya tertawa mendengar ledekan Ryuu pada Sam. Sedangkan Sam hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti, "Iya, iya deh. Aku hanya akan jadi pengiring gitarnya saja."
"Hmm kalau begitu, siapa dong yang mau bernyanyi?" tanya Ara menatap semuanya satu-persatu.
Rangga tersenyum manis, "Bukankah kau vocalis di Band kita? Kenapa tidak kau saja yang bernyanyi, Put?"
"Ah, itu..."
Ara menatap Ryuu cukup lama. Merasa ditatap, Ryuu pun membuang wajahnya sambil melingkarkan tangan di depan perutnya.
"Ya sudah, kalau Ara tidak mau bernyanyi, lebih baik aku saja!" seru Revina dengan semangat 45.
"Ehhh, enak saja! Siapa yang membolehkanmu bernyanyi dengan suara nenek lampirmu itu?" sindir Angel membekap mulut Revina yang tadi sudah bersiap ingin bernyanyi.
Revina melepaskan tangan Angel yang membekapnya, "Nenek lampir? Suaraku itu bahkan lebih bagus daripada Ara tahu!"
"Hahaha, jangan mimpi kau! Jelas-jelas vocalis di Band kita itu Ara! Bukan kau! Kau itu hanya pemain keyboard, ingat itu!"
Sam berdehem cukup keras. Entah sejak kapan, tatapan Sam pada dua gadis yang baru saja berdebat itu begitu tajam sekarang. Rupanya, Sam sudah cukup muak dengan pertengkaran Angel dan Revina yang tak ada ujungnya jika tak diberhentikan.
"Revina, sebaiknya kau jangan memperkeruh suasana. Tahan dirimu untuk tidak berdebat dengan Angel sebentar saja," kritik Rangga pada sepupunya itu.
Revina berdecak kesal. Sedangkan Angel sedari tadi sudah menunduk karna menyadari Sam yang kesal padanya sekarang.
"Jadi, Putri, lagu apa yang akan kau bawakan untuk Ryuu yang ulang tahunnya sudah terlewat beberapa hari yang lalu?" tanya Rangga dengan nada meledek. Ia mencoba mencairkan suasana dengan ledekannya itu.
Ara menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil berpikir keras, "Entahlah, aku juga bingung."
"Kalau kau tidak mau bernyanyi, aku mau masuk saja ke dalam," ujar Ryuu dingin yang membuat Ara semakin berpikir keras memutuskan lagu apa yang akan ia nyanyikan untuk sahabatnya tersebut.
"Sam! Apa kau tahu lagu jepang dengan judul Happy Birthday? Penyanyinya adalah Back Number," kata Ara setelah cukup lama ia berpikir keras.
Sam menggeleng dengan cepat, "Aku tidak tahu. Lagu apa itu?"
Ara diam. Ia malah menatap Rangga, Angel, Revina, lalu yang terakhir Ryuu. Ia menatap semuanya dengan tatapan bertanya. Namun, jawaban semua temannya itu sama. Menggelengkan kepala sama seperti Sam一tanda tidak tahu lagu apa yang Ara maksud.
Ara menelan ludahnya kasar. Jika memang semua temannya itu tak mengetahui lagu jepang yang akan ia nyanyikan, itu artinya, hanya Ryuu-lah yang akan mengerti bukan? Ini berarti sama saja seperti Ara menyanyikan lagu spesial yang hanya akan dimengerti Ryuu saja!
"Ayolah Put, kami ingin mendengar suaramu," kata Rangga penuh semangat.
Angel dan Sam mengangguk antusias, "Ayo, Ra!"
Ara pun menarik napas panjang. Sebelum akhirnya, ia mulai membuka mulutnya untuk bernyanyi perlahan.