STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 59 - Yang Sebenarnya



🖤🖤🖤


Terkadang, otak lebih logis.


Tapi hati selalu egois.


🖤🖤🖤








Ara menatap seisi ruangan kamarnya yang dipenuhi dengan foto Ryuu di dinding kamarnya itu. Beragam foto Ryuu mulai dari saat SD hingga SMA. Sebenarnya ada juga sih foto Ara bersama Ryuu, meski tidak begitu banyak. Hal itu karena Ryuu paling tak suka di foto. Tapi, dengan segala pemaksaan Ara, Ryuu selalu bersedia di foto oleh gadis itu meski sebenarnya ia enggan.


"Kalau Ryuu tahu aku menyimpan foto-fotonya sebanyak ini, pasti dia akan menertawakanku. Kesannya seperti aku memang begitu mencintainya," batin Ara seraya duduk di kasurnya. Menatap kembali seisi ruangan kamarnya.


Pandangan Ara kini terpaku pada satu catatan dengan tulisan yang cukup besar. Ya, itu adalah catatan tentang isi perjanjian一ralat, lebih tepatnya isi persyaratan dari Ryuu untuk Ara.


1. Selalu bersikap layaknya sepasang kekasih yang penuh cinta.


2. Tidak memberi tahukan hubungan pura-pura ini kepada siapapun.


3. Tidak boleh bawa perasaan di dalam hubungan pura-pura ini.


4. Yang bisa mengakhiri hubungan pura-pura ini hanya Ryuu saja.


(note : catatan itu ada di chapter 40 - Ajakan)


"Ya, benar. Yang bisa mengakhiri hubungan pura-pura ini hanyalah Ryuu. Aku tak punya berhak sama sekali," batin Ara seraya menundukkan kepalanya. Menatap kaki pendeknya yang beralaskan sendal dalam rumah berwarna pink.


Ting!


Sebuah notifikasi pesan mengagetkan jantung Ara. Tanpa waktu lama, Ara pun segera mengambil ponselnya yang berada di atas bantal.


Sebelum memeriksa siapa yang mengirimnya pesan, Ara terdiam.


"Apakah Ryuu yang mengirimku pesan? Apa dia akan menjelaskan padaku bahwa yang ku katakan padanya tadi adalah kesalahpahaman? Apa dia..."


Ara menghentikan gumamannya. Ia menarik napas panjang sambil menutup kedua matanya.


"Apa dia akan memberikan alasan kenapa aku tak boleh menyerah padanya? Apa dia akan memberikan alasan kenapa dia tadi menciumku? Apakah dia..."


"...Mulai menyukaiku?" tanya Ara ragu-ragu pada dirinya sendiri. Pipinya memerah tanpa ia sadari.


Ara segera membuyarkan lamunannya sendiri. Tidak, tidak mungkin. Dia dan Ryuu baru saja bertengkar hebat tadi. Tak mungkin Ryuu tiba-tiba menyatakan cinta padanya. Apalagi, semua emosi dari pertanyaan yang Ara keluarkan tadi tak satupun yang Ryuu jawab. Ya, Ara yakin Ryuu tak akan semudah itu membalas perasaannya.


Tangan lentik Ara pun menyalakan ponselnya lalu menempelkan sidik jari pada tombol 'home' ponselnya tersebut. Matanya seketika membulat saat membaca isi pesan dari seseorang yang tadi sempat ia sangkal.


^^^Nakajima Ryuu❤^^^


^^^Al? Kau sudah tidur? ^^^


Ara berdehem guna menenangkan dirinya sendiri. Aneh sekali. Kenapa Ryuu bisa begitu santai mengirimnya pesan? Apa laki-laki itu tak merasa bersalah atau merasa canggung pada Ara karena pertengkaran mereka tadi? Oh, bukan Nakajima Ryuu namanya kalau tak membingungkan sifatnya.


Altheara Kawaii😸


Belum. Ada apa?


Ara mencoba untuk membalas pesan seadanya. Ia tak mau Ryuu menganggap bahwa dirinya senang karena Ryuu mengiriminya pesan.


^^^Nakajima Ryuu❤^^^


^^^Besok kan hari Minggu. Aku dan yang lainnya akan pergi ke Perpustakaan Kota untuk belajar. Kau yakin tak mau ikut? ^^^


Altheara Kawaii😸


Tidak, terimakasih. Aku sudah punya janji bersama Rangga. Kami akan belajar di rumahku.


^^^Nakajima Ryuu❤^^^


^^^Oh, kau lebih memilih belajar bersama dia ketimbang denganku? ^^^


Altheara Kawaii😸


Tentu saja. Dia lebih punya hati daripada laki-laki yang sering mencampakkanku. Inisial laki-laki itu adalah NR.


^^^Nakajima Ryuu❤^^^


^^^Hmm, begitu ya. ^^^


Altheara Kawaii😸


Lihat saja, Ryuu. Walaupun kau meremehkanku, aku pasti akan bisa melupakanmu dan segera mendapatkan pacar!


^^^Nakajima Ryuu❤^^^


^^^Wah, benarkah? Kalau begitu, selamat berjuang, ya :) ^^^


Ara melempar ponselnya dengan kesal ke kasurnya. Ia benar-benar tak mengerti akan jalan pikiran Ryuu. Sambil menggigit bibir bawahnya kesal, Ara merebahkan dirinya di kasur.


"Padahal kau sudah menciumku beberapa kali! Padahal aku merasa kau sudah menaruh perasaan padaku! Ternyata kau lebih buruk dari yang ku kira!" seru Ara dengan perasaan kesal yang menggebu-gebu. Saking kesalnya, Ara memejamkan mata sambil menarik napas dalam-dalam.




***


Esoknya...


"Mommy! Aku berangkat ya!"


Ara menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Sambil merapikan rambutnya, ia menghampiri Santia yang berada di dapur.


"Daddy sudah berangkat kerja, ya?" tanya Ara sambil memakan roti kukus yang baru saja dibuat oleh Sang Mommy.


Santia mengangguk sambil tersenyum hangat, "Memangnya kau mau kemana di hari Minggu pagi ini?"


"Aku akan belajar di rumah Rangga," jawab Ara sambil terus mengunyah roti.


"Rangga? Teman barumu?"


"Iya, dia baru saja masuk ke sekolahku saat semester dua bulan-bulan kemarin, Mom."


"Ehm, kenapa kau harus belajar bersama Rangga? Kenapa tak bersama Ryuu saja? Ryuu kan jenius, pasti dia bisa mengajarimu untuk menghadapi soal UN nanti," kata Santia cukup heran pada anaknya.


"Tidak mau. Aku tak mau diajari oleh laki-laki sombong dan egois seperti dia."


Santia membelalakkan matanya kaget seraya mendekat pada Ara yang masih saja mengunyah rotinya.


"Hei, apa hubunganmu dengan Ryuu一"


"Aku masih bersahabat dengan dia, Mom. Tenang saja. Aku tak akan pernah lebih dari sekedar teman masa kecil untuknya," ujar Ara memotong ucapan Santia.


Santia diam menatap sendu anaknya. Sedangkan Ara masih asyik mengunyah sambil sesekali meminum susu vanilla kesukaannya.


"Apa kau baik-baik saja, sayang? Kenapa kau makan sangat lahap?" tanya Santia sambil mengusap pelan rambut Ara.


Ara mengernyitkan dahinya heran, "Aku baik-baik saja, Mom. Memangnya salah jika aku makan dengan lahap? Lagipula berat badanku akhir-akhir ini turun drastis. Aku butuh banyak makan untuk membuat berat badanku ideal kembali."


"Hmm, Mommy tahu ada yang kau sembunyikan. Kau selalu makan lahap jika ada sesuatu yang membuatmu sedih," kata Santia yang sukses membuat Ara berhenti mengunyah. Kali ini Ara membalas tatapan Mommy-nya yang begitu sendu.


"Nak, kau kan sudah besar. Tidak ada salahnya menceritakan masalah percintaanmu dengan Mommy. Apalagi masalah perasaanmu pada Ryuu," sambung Santia sambil tersenyum penuh arti.


Ara membulatkan matanya seraya menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat.


"Mom, apa maksudmu bilang begitu? Aku tak punya perasaan kok pada一"


"Mommy dan Bunda Yui tahu semuanya. Kau sudah menyukai Ryuu dari saat kalian berumur 8 tahun, bukan? " Santia memotong ucapan Ara dengan cepat.


Ara menundukkan kepalanya sebelum akhirnya bertanya dengan lirih.


"Kenapa Mommy dan Bunda Yui bisa tahu?"


"Tentu saja karena perasaanmu itu sangat terlihat jelas untuk Ryuu. Kau tahu, Nak? Kenapa keluarga kita dan keluarga Ryuu selalu mengadakan makan malam rutin tiap satu bulan sekali? Itu tujuannya adalah untuk membuatmu dan Ryuu semakin dekat," jelas Santia membuat Ara kaget setengah mati.


"Eh? Benarkah?"


"Iya, begitulah. Mommy dan Bunda Yui memang sudah berniat menjodohkan kalian berdua sejak pertama kali kami bertemu dan bertetangga."


DEG!!!


Pengakuan dari Santia membuat Ara seribu kali lipat lebih terkejut dari yang sebelumnya. Eh? Dijodohkan? Apa Ara tak salah dengar?


"T.. Tapi, Mom. Ku dengar Ryuu sudah dijodohkan oleh Neneknya di Jepang dari saat Ryuu berumur 5 tahun."


"Benarkah? Kenapa Yui tak pernah bilang ke Mommy?" tanya Santia kaget.


"Ehm, itu..."


"Bundaku tak tahu soal perjodohanku di Jepang, Tante."


DEG!!!


Santia dan Ara saling berpandangan, terkejut dengan kedatangan Ryuu yang tiba-tiba ke dapur rumah mereka. Apalagi, setelan Ryuu juga sudah rapi sama seperti Ara. Santia pikir, mungkin Ryuu dan Ara akan pergi bersama hari ini.


"Eh, Ryuu? Ada apa pagi-pagi seperti ini ke rumah?" tanya Santia tersenyum kikuk. Santia cukup malu karena tertangkap basah sedang membicarakan Ryuu bersama Ara.


"Tante, aku ini memang dijodohkan sedari kecil oleh Nenekku. Tapi, Nenek belum sempat bilang ke Bundaku karena kami terlanjur pindah ke Indonesia, ke negara asal Ayahku," jelas Ryuu tak berniat mengganti topik pembicaraannya dengan Mommy-nya Ara.


Santia tertawa canggung, "Kalau begitu, apa kau tak berniat memberitahukan pada Bundamu soal perjodohanmu disana, Ryuu?"


"Sepertinya tidak perlu, Tante. Lagipula, bukankah keinginan Bundaku dan Tante adalah menjodohkanku dengan Al?"


Seketika, Ara tersedak susu vanilla yang ia minum. Wah, rupanya Ryuu mendengar pembicaraan Ara dan Santia sedari tadi. Eh? Situasi macam apa ini? Kenapa Ryuu sangat terlihat bersemangat menggiring pembicaraan ke arah 'perjodohan'? Ara sungguh tak mengerti maksud dari Ryuu.


"Hmm, mungkin memang sudah saatnya mereka tahu. Aku dan Yui sudah tak bisa menyembunyikan apapun lagi pada mereka yang kini sudah dewasa," batin Santia sambil menatap Ryuu dan Ara secara bergantian.


"Ehm, Ryuu. Maaf jika Tante bertanya seperti ini. Perjodohanmu di Jepang dengan Perjodohanmu bersama Ara, kau pilih yang mana?" tanya Santia yang cukup membuat Ryuu dan Ara tersentak kaget.


Ara segera memanyunkan bibirnya dan mengernyitkan dahinya sambil menatap Santia. Tanda bahwa Ara tak nyaman dengan pertanyaan Mommy-nya itu. Apalagi, Ryuu juga terlihat sama kagetnya dengan Ara.


"Mommy apa-apaan sih? Kenapa berani bertanya seperti itu?"


Dibandingkan rasa kaget, Ara sebenarnya lebih ke arah penasaran. Benar juga pertanyaan dari Mommy-nya. Sekarang, Ryuu pasti bingung akan pilih calon jodoh yang mana untuknya. Kira-kira, siapa yang akan dipilih Ryuu? Ara? Atau Aoi?


"Aku pilih..."