
🖤🖤🖤
Aku sangat ahli mencintai sesuatu yang tak akan pernah kumiliki.
🖤🖤🖤
Petang ini, Ryuu dan Sam baru saja selesai latihan basket. Dua sejoli itu kini berjalan keluar dari gerbang SMA Soetomo, menuju area luar sekolah mereka. Kebetulan, Ryuu dan Sam sama-sama tak membawa sepedanya hari ini. Jadi mereka memutuskan untuk pulang bersama dengan berjalan kaki saja.
Karena suasana begitu hening, Sam berdehem. Otaknya yang jarang ia pakai itu berputar mencari topik yang bagus untuk dibicarakan bersama Ryuu.
"Ehm, Ryuu. Aku mau bertanya."
"Apa?" tanya Ryuu sambil terus berjalan, menatap ke arah depan.
"Tadi siang saat istirahat, kita kan latihan basket ya..."
"Ya, terus?"
"Nah selesai latihan basket, aku lihat fans-mu menyerbumu dengan segudang minuman dan snack."
Ryuu melirik Sam sekilas, "Kenapa? Kau iri karena aku memiliki banyak fans?"
Sam menggeleng dengan cepat sambil tertawa terbahak-bahak.
"Hei, aku tak butuh di kagumi oleh banyak orang, di kagumi oleh Angel saja aku sudah sangat bersyukur, hahaha."
Kali ini Ryuu yang menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia rasa, memang hanya ada Angel saja di kepala Sam. Tak ada yang lain selain gadis itu.
"Hei, tadi kau bilang, kau mau bertanya padaku. Kau mau tanya apa?" tanya Ryuu sadar akan ucapan Sam yang pertama.
Sam menghentikan tawanya. Raut wajahnya kali ini terlihat lebih serius daripada biasanya.
"Diantara banyaknya minuman dan snack dari para fans-mu, kenapa yang kau terima hanya pemberian dari Revina saja?" tanya Sam cukup ragu.
"Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan pada Revina siang tadi. Makanya ku terima saja minuman dan snack dari dia untukku."
Sam menghentikan langkahnya. Dahinya mengkerut tanpa ia sadari. Hah? Apa Sam tak salah dengar? Ada angin apa Ryuu mau membicarakan sesuatu dengan Revina? Terlebih, hal macam apa yang jadi topik pembicaraan mereka berdua?
Sam menyadari bahwa Ryuu sudah cukup jauh berjalan di depannya. Dengan cepat, Sam pun berlari menghampiri Ryuu lalu berjalan beriringan seperti tadi.
"Kau lihat kan? Siang tadi saat latihan basket, Ara ikut menyemangatimu," kata Sam memulai kembali percakapan.
Ryuu mengangguk, "Dia tak menyemangatiku. Dia hanya diam, berdiri layaknya patung."
"Hmm? Masa sih? Tapi, aku lihat dia bawa minuman untukmu. Bukankah itu sama saja dengan menyemangatimu, ya?"
"Hah? Al bawa minuman untukku?"
"Iya. Selesai latihan basket, Ara berjalan menghampirimu yang sedang di kerumuni fans di pinggir lapangan. Ia berniat memberikanmu minuman. Aku dan Angel saksinya dari sebrang tempat dirimu berdiri bersama para fans-mu," jelas Sam.
Ryuu menghembuskan napasnya panjang, "Omong kosong. Aku tak menerima apapun dari Al. Dia hanya berdiri di depanku lalu pergi begitu saja saat Revina datang."
"Duh, kau ini. Kenapa kau begitu tak peka, hah?" Sam mulai kesal pada sahabatnya itu. Nada bicaranya kali ini cukup tinggi.
"Tak peka? Tak peka apanya?" Ryuu balik bertanya dengan datar.
"Dia itu cemburu karena melihatmu menerima minuman dan snack dari Revina."
"Cih, cemburu?" tanya Ryuu terdengar agak meledek.
Sam berdecak sambil mengacak-acak rambutnya kesal, "Kau tahu, tidak? Saat Ara berjalan meninggalkan lapangan basket, ia menangis tersedu-sedu sambil memeluk erat minuman yang tadinya akan ia berikan untukmu!" seru Sam tak tahan melihat ekspresi Ryuu yang datar-datar saja sedari tadi.
DEG!!!
Ryuu menghentikan langkahnya seraya menoleh pada Sam dengan cepat.
"Apa? Al menangis?" tanya Ryuu membelalakkan matanya kaget.
***
Ryuu mengernyitkan dahinya bingung ketika melihat Santia (Mommy-nya Ara) dan Yui (Bunda-nya Ryuu) berdiri bersama di depan rumah Ara. Dari kejauhan, bisa Ryuu lihat ekspresi wajah dua wanita paruh baya itu benar-benar pucat. Entah apa yang terjadi. Yang jelas, kini Ryuu semakin mempercepat langkahnya untuk menghampiri Yui dan juga Santia.
"Bunda, tante. Kenapa kalian berdua ada di luar rumah?" tanya Ryuu bingung.
Santia membulatkan matanya kaget sambil menyentuh pelan pundak Ryuu.
"R.. Ryuu.. Kau pulang sendirian?" tanya Santia terbata-bata. Sorot matanya menunjukkan rasa khawatir yang luar biasa.
"Iya, tante. Aku pulang sendiri saja."
"K.. Kau tidak pulang bersama Ara?" tanya Yui pada anaknya tersebut.
Ryuu menggeleng, "Al sudah pulang dari sore tadi, Bun. Alasanku baru pulang jam 7 malam ini karena aku baru selesai latihan basket untuk turnamen minggu depan," kata Ryuu menjelaskan. Selesai ia berkata begitu, wajah Santia semakin pucat.
"Apa sesuatu terjadi pada Al?" batin Ryuu ikut khawatir.
"Ryuu. Ara sampai sekarang belum pulang. Nomor ponselnya juga sedari tadi tidak aktif," ujar Yui lirih. Bisa dirasakan rasa khawatir Yui sebanding dengan Santia. Ya, Ryuu tahu itu. Jika sesuatu terjadi pada Ara, bukan hanya Mommy-nya Ara saja yang sedih, tapi pasti Bundanya juga.
"Bun, apa Om Bram dan Ayah belum pulang dari kantor?" tanya Ryuu menanyakan keberadaan Daddy-nya Ara dan Ayahnya.
Yui menggeleng lemas, "Mereka lembur hari ini di Kantor. Kemungkinan pulang besok."
"Yui, sepertinya aku tak bisa diam saja seperti ini. Aku harus hubungi polisi. Aku takut Ara diculik orang jahat," kata Santia begitu gelisah dan khawatir.
Yui mengusap-usap pundak Santia pelan. Ia bisa memaklumi bagaimana perasaan seorang Ibu yang sangat khawatir dengan keberadaan anaknya. Apalagi, Ara itu perempuan. Resiko penculikan pada perempuan lebih tinggi daripada laki-laki.
"Jangan, tante. Jangan hubungi polisi. Aku saja yang akan mencari Al. Aku tahu dia ada dimana," kata Ryuu mencoba meyakinkan diri, meski sebenarnya ia tak begitu tahu pasti Ara ada dimana.
Santia dan Yui saling berpandangan beberapa detik. Lalu, detik selanjutnya, Santia segera menggelengkan kepala.
"T.. Tapi, Ryuu. Lebih baik kita hubungi pol一"
"Tante dan Bunda tenang saja, ya. Aku pasti akan menemukan Al!" seru Ryuu seraya berlari meninggalkan Santia dan Yui yang berdiri di tempatnya. Entah sadar atau tidak, perasaan khawatir Ryuu setara dengan Santia. Terlebih, Ryuu juga merasa bersalah karena ternyata sudah membuat Ara menangis siang tadi.
"Aku yakin, Al tak mungkin diculik. Dia pasti sedang menangis di suatu tempat. Ya, dia kan cengeng. Dia tak akan mungkin menangis hanya siang tadi saja. Pasti ia melanjutkan tangisannya itu di suatu tempat," batin Ryuu sambil terus berlari.
***
Sudah hampir 1 jam Ryuu berlari mengelilingi komplek rumahnya. Tapi, nihil. Ryuu tak bisa menemukan Ara. Sambil bernapas terengah-engah, Ryuu pun mengeluarkan ponsel dari tas sekolahnya. Ia menelpon Angel dengan cepat.
"Halo?" Suara Angel terdengar tanda telepon sudah tersambung.
"Aku di rumahku, lah."
"Apa Al ada di rumahmu?"
"Tadi saat pulang sekolah sih, iya. Dia ke rumahku. Tapi sekarang dia sudah pulang."
"Pulang? Bersama siapa?"
"Rangga. Ya, Rangga yang mengantar Ara."
Ryuu membelalakkan matanya mendengar penuturan Angel.
"Ya sudah, kalau begitu, kututup ya teleponnya. Terimakasih atas infonya."
"Eh! Eh! Eh! Sebentar, sebentar."
"Apa lagi, Ngel? Aku sedang buru-buru mencari Al. Bundaku dan Mommy-nya sudah sangat khawatir."
"Ehm, asal kau tahu saja. Ara itu menangis karenamu. Dia benar-benar patah hati tadi siang."
Ryuu menundukkan kepalanya sambil memejamkan mata. Rasa bersalahnya berkumpul dalam hatinya sekarang.
"Iya, aku sudah tahu itu."
"Lalu, apa kau tak mau minta maaf padanya?"
"Sekarang aku sedang mencari keberadaannya, untuk meminta maaf padanya, Ngel."
Angel terdiam. Gadis itu sama sekali tak bersuara.
"Ngel? Sudah, ya? Kututup teleponnya. Dah."
"Ryuu!!!" pekik Angel sangat keras hingga membuat kuping Ryuu sakit. Ryuu pun menjauhkan ponselnya dari kupingnya. Lalu memencet tombol Speaker.
"Ada apa lagi?"
"A.. Aku baru ingat! Rangga bilang, dia mau menembak Ara hari ini!"
DEG!!!
"Apa?!"
"Iya, Rangga bilang saat pulang sekolah tadi. Jika Rangga benar-benar menembak Ara, mungkin saja Ara akan menerimanya. Apalagi, sekarang Ara sudah sangat patah hati karenamu."
"Al itu pacarku. Kalau dia menerima cintanya Rangga, berarti dia selingkuh dariku."
"Hei, aku sudah tahu hubungan pura-pura kalian. Ara sudah membocorkannya padaku."
Ryuu memejamkan matanya sambil berdecak kesal. Tanpa ucapan terakhir, Ryuu pun segera mematikan teleponnya pada Angel. Dengan perasaan marah, kecewa, dan sedih一Ryuu berlari. Kali ini ia berjalan menyusuri jalanan, keluar dari komplek perumahannya.
***
"Maaf ya, Ra. Ban sepedaku malah kempes. Aku jadi mengantarmu ke rumah jalan kaki saja."
Ara menatap Rangga sambil tersenyum simpul. Lalu setelah itu, ia menunduk. Menatap langkah kakinya yang beriringan dengan Rangga.
"Matamu masih ada air mata," kata Rangga yang sukses membuat Ara kembali menatapnya.
"Eh? Benarkah?" tanya Ara seraya mengucek-ucek matanya dengan tangannya.
Rangga tanpa permisi memegang pergelangan tangan Ara, menghentikan gadis itu agar tak lagi mengucek matanya. Karena terlalu terkejut, Ara pun segera melepaskan genggaman Rangga pada pergelangan tangannya.
"Jangan pakai tangan," ujar Rangga lembut seraya mengeluarkan sapu tangan dari sakunya.
"Eh? Kau punya sapu tangan?" tanya Ara heran.
Rangga tertawa kecil, "Tenang saja, sapu tangan ini bersih kok. Aku hanya membawanya untuk jaga-jaga saja jika sesuatu terjadi."
Setelah bicara seperti itu, Rangga pun mengusap pelan pipi dan area sekitar mata Ara dengan sapu tangannya.
Ara menelan ludahnya. Ia sama sekali tak bisa bicara saat Rangga memperlakukannya dengan lembut. Oh, tidak. Ara tak boleh terbuai dengan hal ini.
"Oh, rupanya kalian disini."
DEG!!!
Ara dan Rangga refleks menoleh bersamaan ke sumber suara. Betapa terkejutnya mereka saat melihat Ryuu berdiri di hadapan mereka berdua sambil melipat tangan di bawah dada. Lengkap dengan tatapan super sinisnya.
"Ryuu, sedang apa kau disini?" tanya Rangga tersenyum manis. Mengabaikan tatapan sinis dari Ryuu.
"Al, Bundaku dan Mommy-mu mencarimu. Mereka berdua khawatir karena kau belum pulang juga," kata Ryuu seraya berjalan menghampiri Ara.
Ara menunduk. Ia tak mau mata sembabnya itu terlihat oleh Ryuu.
"Ayo, kita pulang," ujar Ryuu seraya menarik pergelangan tangan Ara.
Dengan cepat, Ara menepis tangan Ryuu yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Al? Kau tak mau pulang, hah?" tanya Ryuu mulai kesal.
Ara tak menjawab. Ia masih saja menunduk.
"Ryuu, biar aku saja yang mengantar Ara ke rumahnya," ucap Rangga yang sukses membuat Ryuu langsung menatapnya tajam.
"Tidak usah. Lagipula aku yang bertanggung jawab atas kepulangan Al. Bundaku dan Mommy-nya sudah menunggu di rumahnya," kata Ryuu ketus.
"Hmm, kalau begitu, kenapa kita tak bertanya saja pada Ara? Dia pilih diantar aku, atau diantar olehmu?" tanya Rangga terdengar seperti menantang Ryuu.
Ryuu mengangguk. Pandangan mata dua laki-laki itu kini menatap lurus ke arah Ara. Merasa di tatap begitu lama, Ara semakin canggung dan terus saja menunduk.
"Al, kau mau pulang bersama siapa?" tanya Ryuu dingin.
"Rangga," jawab Ara dengan cepat. Membuat Ryuu membelalakkan mata tak percaya.
"Rangga, kau boleh pulang duluan. Ada hal yang harus aku bicarakan dengan Ryuu," sambung Ara yang kini membuat Ryuu cukup lega.
Rangga mengangguk. Tanpa bicara apa-apa, laki-laki itu berjalan menjauh dari Ryuu dan Ara.
"Awas saja kau, Ryuu. Aku akan mendapatkan Ara secepatnya," batin Rangga sambil mengepalkan tangan kanannya. Berusaha meredam emosi yang ingin meluap.