STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 13 - Belum Mengerti



"Maaf, Ra. Sepertinya camping kita ke puncak akan dibatalkan."


Ara membelalakan matanya kaget sambil menutup pintu rumahnya. Pasalnya, ia baru saja pulang dari sekolah dan mendapatkan kabar tak mengenakkan dari Mommy-nya. Bagaimana gadis itu tak kaget kalau rencana Camping mereka dibatalkan begitu saja?


Dengan tatapan kecewa sekaligus sedih, Ara berjalan menghampiri Santia yang ada di ruang tamu.


"Kok dibatalkan sih, Mom?" tanyanya protes.


Bukan menjawab, Santia malah menyuruh Ara agar duduk disampingnya.


"Mom, kenapa dibatalkan campingnya?" tanya Ara sekali lagi.


Santia berdehem, "Ehm, itu karna kantornya Daddy dan Ayahnya Ryuu sedang mengerjakan proyek besar. Jadi, mereka berdua harus kerja lembur mulai besok hingga waktu yang tak bisa ditentukan."


"Sungguh partner kerja yang the best," gumam Ara sebal sambil berjalan meninggalkan Santia.


"Hei, kau mau kemana Ra?"


"Ke kamar!" seru Ara sambil lari menaiki tangga dan berjalan menuju kamarnya.


Terdengar suara pintu kamar Ara yang ditutup. Melihat sikap anaknya seperti itu, Santia hanya menghela napas. Ia sudah tahu Ara pasti sangat kecewa. Terlebih, Camping bersama keluarga Ryuu adalah hal yang paling dinantikan anaknya. Termasuk dirinya juga. Ya, mau bagaimana lagi. Urusan pekerjaan lebih penting dari liburan, bukan?


***


"Selamat pagi, Aryuu!"


Ara melirik kedatangan Sam yang baru saja masuk kelas. Pagi ini, tidak biasanya Ara sudah berada di kelas dan duduk manis di bangkunya. Itu karna ia berangkat pagi-pagi sekali dan meninggalkan Ryuu yang masih berada di rumahnya.


"Aryuu! Hei, kenapa melamun saja?" tanya Sam yang berdiri di hadapan Ara.


"Namaku Ara! Bukan Aryuu!" seru Ara kesal.


"Wah, sensitif sekali ya kau pagi ini. Sedang dapat bulanan, ya?" tanya Sam sambil cekikikan.


PLETAK!!


Baru saja Ara ingin memukul kepala Sam, namun seseorang dibelakang Sam lebih dulu memukul kepala laki-laki itu.


"Aww! Sakit ta-"


"Eh? Angel?" tanya Ara dan Sam bersamaan.


"Bicaramu sopan sekali, ya Sam," ujar Angel ketus sambil berjalan lalu duduk di bangkunya.


Sambil memegangi kepalanya yang sedikit benjol, Sam tertawa, "Hehe, itu karna tidak biasanya Ara sangat sensitif. Aku 'kan hanya bercanda saja."


"Suasana hatiku sedang tak bisa diajak bercanda, Sam," ucap Ara sambil menyalakan ponselnya dan men-scroll beranda instagram miliknya.


"Tuh, kan. Kau dengar sendiri," imbuh Angel sambil memutar bola matanya sebal.


Sam diam sambil memanggut-manggutkan kepalanya. Dalam hati, ia merasa aneh juga kenapa Ara dan Angel selalu bersikap seolah tak menyukainya. Padahal, yang ia lakukan hanya menghibur dua temannya itu. Namun kenapa selalu salah di mata Ara dan Angel?


"Ra, waktu kita tinggal sebentar lagi, tahu," ujar Angel seraya menghampiri Ara di bangkunya.


"Eh? Waktu?"


"Kau tak ingat? Coach jeremy dari ekskul band, dia 'kan memberikan kita waktu 1 minggu untuk mencari personil band kita sendiri."


Ara menepuk jidatnya, "Duh! Iya! Kenapa aku bisa lupa, ya?!" serunya panik.


"Aku sudah menawarkan banyak orang di ekskul badminton-ku, tapi tak ada satupun diantara mereka yang mau ikut ekskul band," kata Angel sedih.


"Aku bahkan belum menawarkan sama sekali ke siapapun!" tambah Ara panik.


Di tengah kepanikan mereka berdua, tiba-tiba saja Ryuu datang dengan wajah dingin-tidak, 100x lebih dingin dari biasanya. Ia pun berjalan lalu duduk di bangkunya yang berada di tengah-tengah antara bangku Sam dan Ara.


"Hei, Yo! Selamat pagi kapten!" sapa Sam ceria sambil menghampiri Ryuu.


Bukan menjawab, Ryuu malah menatap tajam Ara yang duduk di sebrangnya, "Kau berangkat sendirian hari ini. Kenapa?"


GLEK!


Ara yang sedari tadi pura-pura tak melihat kedatangan Ryuu hanya bisa menelan ludahnya. Ia tak berani menatap Ryuu sedikitpun.


"Ah! B-bagaimana jika kau ikut ekskul Band, Ryuu? Ayolah, bantu kami! Kami hanya punya waktu sedikit lagi untuk mencari personil lain selain kami!" seru Angel memelas dengan raut wajah memohon.


"Aku 'kan memang ikut ekskul Band. Al menawarkan kepadaku 4 hari yang lalu," ujar Ryuu datar.


Angel membulatkan matanya, "Eh? Ara! Kenapa kau tak bilang padaku bahwa Ryuu mau ikut ekskul Band?"


Ara diam. Ia mencoba menyibukkan diri dengan bermain game di ponselnya. Menyadari akan hal itu, Angel hanya menghembuskan napas.


"Hmm, berarti kita butuh sekitar 2-3 orang lagi untuk jadi personil Band kita," kata Angel sambil menatap seisi kelas, ia mencoba mencari wajah teman kelasnya yang pantas ditawarkan ikut band.


"Bagaimana kalau aku saja? Begini-begini aku jago main bass!" seru Sam dengan senyuman percaya diri.


"Hmm, ya sudah. Padahal jika aku ikut band kalian, aku bisa membantu hubungan seseorang agar lebih baik lagi," ucap Sam sambil berjalan perlahan menghampiri Ara.


Ara yang peka terhadap apa yang dikatakan Sam, dengan cepat langsung berdiri seraya menarik pundak Sam.


"Boleh! Kau boleh ikut band kami!" seru Ara bersemangat dengan tatapan membara.


Sam pun tertawa terbahak-bahak, "Tapi, ada syaratnya ya."


"Eh? Syarat?" tanya Ara dan Angel bersamaan.


"Berikan padaku!"


Sam dengan secepat kilat merebut ponsel Ara yang sedang dipegangnya. Awalnya, Ara protes dan tak terima ponselnya diambil. Tapi karna Sam bilang hanya pinjam sebentar, Ara akhirnya membolehkan saja. Meski dalam hati, gadis itu sebenarnya bingung apa yang akan dilakukan Sam dengan ponselnya.


"Jangan macam-macam ya kau!" ancam Angel dan hanya dibalas tawa oleh Sam.


"Tenang saja, aku akan membuat Ara dan Ryuu semakin dekat," bisik Sam di telinga Angel. Sedangkan Ara hanya menatap bingung Sam apa yang akan direncanakan temannya itu.


***


"Eh? Ryuu? Kau baru pulang?"


Ara menghentikan langkahnya saat melihat Ryuu yang ada dihadapannya-sedang mendorong sepeda miliknya. Malam ini, Ara baru saja pulang dari rumah Angel karna mengerjakan tugas sekolah mereka sepulang sekolah tadi.


"Sepedamu kenapa? Kempes lagi?"


Ryuu mengangguk. Mereka pun akhirnya berjalan bersama untuk pulang ke rumah masing-masing. Di perjalanan, Ara masih penasaran kenapa Ryuu pulang larut sekali. Apa jangan-jangan Ryuu juga habis mengerjakan tugas sekolah sama sepertinya? Jika iya, dimana Ryuu mengerjakan tugas sekolahnya itu? Bukankah Ryuu selama ini tak punya teman selain Ara?


"Aku dari rumah Revina," ujar Ryuu seakan menjawab kebingungan Ara.


Ada rasa sesak dihati Ara saat mendengar nama Revina disebut. Namun, rupanya gadis itu berusaha untuk ceria dan tersenyum pada Ryuu.


"Oh, begitu. Kau mengerjakan tugas sekolah bersamanya, ya?"


"Iya," jawab Ryuu dingin.


Hening. Hanya terdengar suara langkah sepatu mereka masing-masing. Jalanan juga sudah terlihat sepi. Aneh, padahal jam baru menunjukkan pukul setengah 8 malam. Namun, kenapa sudah se-sepi ini?


"Aku belum izin pada orangtuaku," ujar Ryuu membuka suara.


"B-belum izin?"


"Iya, aku belum minta izin pada Bunda atau Ayah tentang kepulanganku yang larut seperti ini. Mereka pasti mencemaskanku."


"Tapi, setahuku Daddy dan Ayahmu sedang lembur di kantor mulai hari ini. Jadi pasti mereka berdua belum pulang ke rumah," jelas Ara cepat.


"Hmm," gumam Ryuu pelan.


"Berarti, aku harus mengabari Bundaku saja," tambahnya.


Ryuu pun menghentikan langkahnya lalu diikuti oleh Ara yang disampingnya. Ia dengan cepat membuka tasnya dan meraih ponsel dalam tasnya itu. Namun, detik selanjutnya Ryuu malah berdecak kesal.


"Kenapa, Ryuu?"


"Ponselku mati," jawab Ryuu.


"Ini, pakai ponselku saja. Kebetulan aku ada pulsa telepon. Kau bisa mengabari dan menelpon Bundamu, nih," ujar Ara sambil menyodorkan ponselnya. Tanpa pikir panjang, Ryuu pun menerima dan mengambil ponsel Ara.


Baru saja Ryuu menyalakan ponsel sahabatnya itu, tiba-tiba saja ekspresi wajah Ryuu berubah.


"Apa ini?!" seru Ryuu dengan suara agak keras.


DEG!!


Ara langsung terlonjak kaget dan refleks mengambil ponselnya dari tangan Ryuu. Betapa terkejutnya ia saat melihat foto wallpaper kuncinya, adalah foto orang yang menjadi sahabatnya sekaligus orang yang di sukainya.


Siapa lagi kalau bukan NAKAJIMA RYUU?!


"Eh? B-bagaimana bisa?" gumam Ara gugup dan wajah yang memerah.


"Aku tidak melihatnya, kok," ucap Ryuu sambil membuang wajahnya. Namun sebenarnya, Ryuu bepikir 'Apa-apaan sih?' dalam hatinya.


Ara dengan tangan cukup gemetar menghapus foto tersebut dan mengganti wallpaper kunci ponselnya. Dalam hati, ia terus-menerus mengutuk Sam. Ya, pasti Sam yang memotret Ryuu dan mengganti wallpaper ponselnya dengan sengaja! Ara benar-benar menyesal meminjamkan ponselnya pada Sam alias Maha Samudra.


"Sial !!!" batin Ara kesal sekaligus malu dihadapan Ryuu.


"Ya sudah, ayo kita lanjut jalan saja," ujar Ryuu datar seolah tak terjadi apa-apa.


Ara pun mengangguk gugup, "A-ah, ayo! Hehe, lagipula kita sebentar lagi sampai kok! Jadi kau tak perlu mengabari Bundamu."


Ryuu diam sambil mengangguk. Ia tak sedikitpun menatap Ara karna masih bingung. Kenapa Ara menggunakan fotonya untuk wallpaper kunci ponselnya? Apa Ara tak sengaja melakukan itu? Lalu, kenapa diam-diam Ara memiliki foto candid Ryuu? Bukankah lebih baik Ara meminta foto Ryuu secara langsung daripada memotret diam-diam seperti itu?


Ah, sepertinya Nakajima Ryuu masih belum mengerti juga.