STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 85 - Pura-pura



...🖤🖤🖤...


...Mau sampai kapan pura-pura tak punya rasa?...


...🖤🖤🖤...


Hari demi hari berlalu. Minggu demi minggu sudah terlewatkan. Kini一di hari Senin yang cerah ini, Ujian Nasional akan dilaksanakan oleh seluruh pelajar SMA di Indonesia. Termasuk murid-murid kelas 12 di SMA Soetomo. Mereka semua berhamburan masuk ke dalam kelas agar tak ketinggalan Ujian yang paling mendebarkan ini.


Ara, Angel dan Sam sudah duduk rapi di tempat duduknya masing-masing. Begitu pula dengan Rangga, Revina, dan juga murid lainnya di kelas 12 MIPA B. Namun, ada satu murid yang belum datang.


Nakajima Ryuu. Ya, murid laki-laki blasteran Jepang-Indo itu belum datang ke kelas. Padahal UN sudah akan dimulai dalam beberapa menit lagi. Hal itu tentu saja membuat Ara sangat khawatir.


"Ra, memangnya kau tak berangkat bersama Ryuu?" tanya Sam setengah berbisik.


Ara menoleh ke arah Sam yang tempat duduknya bersebrangan dengan tempat duduk Ryuu, "Dia saja masih tak mau melihat wajahku. Bagaimana bisa aku berangkat bersamanya ke sekolah hari ini?" katanya balik bertanya.


Sam mengangguk-anggukan kepala mengerti. Dalam hatinya, ia turut mengkhawatirkan sahabatnya tersebut.


Tak lama kemudian, Angel memanggil-manggil nama Ara dengan suara berbisik. Rupanya, Angel memberitahu bahwa Ryuu sudah masuk kelas dan kini sudah berdiri di dekat papan tulis.


"Maaf, Pak. Saya terlambat. Ada kendala saat berangkat sekolah tadi," ujar Ryuu seraya setengah membungkukkan badannya.


Guru pengawas UN mengangguk, terlihat tak mempermasalahkan atas keterlambatan Ryuu.


"Syukurlah UN dimulai 2 menit lagi. Jadi kau hanya nyaris terlambat, Ryuu," kata guru pengawas tersebut.


"T-terimakasih, Pak," balas Ryuu tersenyum simpul. Lalu, setelah itu, ia segera berjalan menuju tempat duduknya.


Mata Ara tak lepas sedikitpun memandangi Ryuu meski sahabatnya itu sudah duduk di sebrangnya. Merasa diperhatikan, Ryuu pun melirik ke arah Ara sekilas, lalu segera mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Terlihat bahwa ia enggan menatap Ara.


"Tuh, kan. Dia mengabaikanku terus. Bahkan dia tak mau menatapku," batin Ara sambil memanyunkan bibirnya. Ia berhenti memandangi Ryuu.


Tanpa disadari, Rangga yang duduk dekat dengan Sam一kini sedang memperhatikan gerak-gerik Ara dan Ryuu. Dalam hati, ia tertawa puas. Benar-benar puas karena melihat kerenggangan antara Ryuu dan Ara yang sangat jelas terlihat.


"Sekarang aku tak butuh saran atau suruhan apapun dari Revina lagi. Aku bisa sendiri untuk menghancurkan hubungan Ryuu dan Ara," batin Rangga kesenangan.


***


SKIP


Hari ini adalah hari terakhir UN dilaksanakan. Semua wajah anak kelas 12 SMA Soetomo terlihat tenang juga senang tatkala mendengar suara bel sekolah berbunyi. Itu tandanya, UN sudah benar-benar berakhir dan mereka semua sukses melewati masa-masa UN dengan tertib. Ya, jika UN berakhir, itu tandanya mereka hanya tinggal bersantai menunggu hasil UN keluar dari pemerintah.


Tak lama setelah bel sekolah berbunyi, semua anak kelas 12 terlihat berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing. Jiwa dan pikiran mereka yang kemarin-kemarin terlihat pusing memikirkan UN, terlihat ceria dan fresh kembali. Sama halnya seperti Ara, Angel, juga Sam. Tiga murid kelas 12 MIPA B itu juga terlihat sangat senang sekarang.


"Hei, karena kita sudah sukses mengikuti tes UN dalam beberapa hari ini, bagaimana kalau pulang sekolah sekarang kita pergi main dulu?" ajak Sam seraya menghampiri Ara dan Angel yang masih duduk dibangkunya masing-masing.


Ara dan Angel refleks berpandangan. Lalu tak lama, senyuman pun menghiasi wajah dua gadis cantik itu.


"Ide bagus, Sam!" seru Angel seraya berdiri lalu berjalan mendekati Sam.


Sam cekikikan melihat ekspresi wajah Angel yang begitu senang.


"Pacarmu ini kan memang jenius, hehehe," kata Sam memuji diri sendiri. Membuat senyuman Angel memudar.


"Jenius? Kemarin saja saat UN Matematika, kau sibuk berbisik padaku meminta jawaban. Itu yang kau sebut jenius? Hah?" tanya Angel sambil menjewer telinga Sam. Membuat Sam terpekik lalu tertawa一minta dilepaskan telinganya dari jeweran pacarnya itu.


Angel pun melepaskan jeweran tangannya dari telinga Sam. Detik selanjutnya, ia menatap Ara dan Ryuu yang masih saja duduk di bangku mereka masing-masing.


"Ra, kau ikut kan?" tanya Angel mencoba memastikan.


Ara tanpa pikir panjang mengangguk dengan cepat.


"Kalau kau, Ryuu?" Kali ini Sam yang bertanya.


Ryuu yang sedari tadi sedang membaca buku langsung menatap Sam一tak mengerti dengan apa yang Sam tanyakan padanya.


"Apa?" Ryuu bertanya dengan wajah super dingin dan super serius. Membuat Ara yang melihatnya menelan ludah kasar.


"Aku, Angel, dan Ara akan pergi main sekarang. Kau mau ikut atau tidak?" jelas Sam memperjelas ajakannya.


Bukannya menjawab, Ryuu malah diam. Dari diamnya, bisa dilihat bahwa ia kini sedang menimbang-nimbang ajakan Sam. Antara ikut atau tidak, ia terlihat cukup bingung.


"Aku mau一"


"Aku boleh ikut kan? Dengan Revina?" tanya Rangga tiba-tiba dengan senyuman lebar. Pertanyaannya itu memotong suara yang baru saja akan Ryuu jawab untuk Sam.


"Kalian jika ingin main ya berdua saja. Aku dan Sam hanya mengajak Ryuu dan Ara, tahu," kata Angel ketus seraya melipat tangan di bawah dada.


Sam menatap Angel dalam-dalam, secara tak langsung menegur pacarnya itu agar tak bicara ketus pada Rangga dan Revina.


"Hmm, saat aku dengar tadi, sepertinya yang punya rencana main itu adalah Sam. Jadi, keputusan aku dan Rangga boleh ikut atau tidak一berarti ada pada Sam, bukan?" balas Revina tak kalah ketus. Membuat Angel geram dibuatnya.


"Ya tidak apa-apa sih, kalau kami berdua tak boleh ikut. Itu terserah padamu, Sam," tambah Rangga yang makin membuat Sam bingung.


Sam kembali menatap Angel. Namun, Angel malah membuang muka一tetap teguh pada pendiriannya agar Rangga dan Revina tak boleh ikut. Merasa susah untuk dibujuk, Sam kini mengalihkan pandangannya pada Ara yang sedari tadi diam saja.


Mengerti maksud dari tatapan Sam, Ara pun segera bangkit dari bangkunya lalu berjalan menghampiri Sam dan Angel yang berdiri tak jauh didepannya.


"Ra, aku dan Revina boleh ikut kan?" tanya Rangga dengan nada memohon pada Ara. Membuat Ara tak bisa berkutik.


Ara melirik Sam sekilas. Ternyata, Sam juga butuh jawaban dari Ara soal hal ini. Ya, cukup aneh sih. Padahal keputusan ada pada Sam karena Sam-lah yang mengajak duluan perihal ini, tapi kenapa harus Ara yang memutuskan hal tersebut?


"Ehm, menurutku ya..." Ara melirik Rangga yang menatapnya dengan tatapan penuh permohonan. Karena merasa iba, ia pun mengangguk.


"Semakin ramai semakin bagus, bukan? Jadi, kupikir tak ada salahnya Rangga dan Revina ikut," sambung Ara menyetujui. Membuat Angel sontak menatap Ara tak terima.


Ara menatap Angel dengan tatapan puppy eyes sambil merangkul sahabatnya itu dari samping. Angel yang awalnya cukup sebal, menjadi luluh akibat perlakuan Ara. Ya, mau tak mau, Angel harus ikut menyetujui keputusan Ara tadi.


Karena Angel sudah setuju, Ara pun melepaskan rangkulannya sambil tersenyum ceria.


"Ya sudah, kalau begitu, ayo kita berangkat!" seru Sam berjalan lebih dahulu dibanding yang lain.


"Eh, eh, tunggu. Memangnya kita mau kemana?" tanya Rangga membuat langkah kaki Sam terhenti seketika.


Sam menoleh ke belakang sambil tersenyum lebar, "Bagaimana kalau kita ke tempat karaoke? Aku sudah lama tak bernyanyi dengan merdu!"


Angel dan Ara langsung tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan tadi. Sedangkan Revina dan Rangga hanya tersenyum, menyembunyikan rasa ingin tertawanya.


"Sejak kapan kau punya suara merdu, hah?" ledek Angel lalu diikuti tawa oleh Ara.


Sam menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil cengengesan. Namun, itu tak berlangsung lama karena pandangan Sam tiba-tiba saja tertuju pada Ryuu yang sedari tadi masih duduk di bangkunya. Ryuu disana hanya diam menatap Sam dan yang lain.


"Ryuu, kau tak mau ikut dengan kita?" tanya Sam yang hampir saja lupa dengan keberadaan Ryuu yang masih ada dikelas.


Ara dan yang lainnya ikut menoleh ke belakang, ke arah Ryuu duduk. Sedangkan Ryuu kembali berpikir, bingung antara ingin ikut atau tidak.


Tanpa ada yang menyadari, Rangga tersenyum miring sebelum akhirnya ia merangkul Ara dari samping. Sontak, Ara pun terkejut sambil menoleh ke arah samping一membelalakkan matanya pada Rangga.


Bukan hanya Ara, Sam dan Angel juga ikut terkejut dengan pergerakan Rangga yang tiba-tiba.


"Ra, kau kan pernah bilang saat kencan kita minggu kemarin, kau akan menyanyikanku sebuah lagu untukku. Nah, mumpung hari ini kita akan pergi ke tempat karaoke, kau harus menepati janjimu ya," ujar Rangga tak menggubris ekspresi Ara yang masih terkejut akibat rangkulannya.


Ara tersenyum simpul sambil mencoba melepaskan rangkulan Rangga di pundaknya. Namun, bukannya melepaskan, Rangga malah semakin mengeratkan rangkulannya pada Ara seiring dengan senyumannya yang melebar.


"Kalian pergi saja ke tempat karaoke. Aku tak mau ikut," kata Ryuu tiba-tiba. Membuat semuanya menatap Ryuu seketika.


Tanpa sengaja, Ryuu dan Ara berkontak mata. Ara menatap Ryuu sedih karena sahabatnya itu memutuskan tak mau ikut. Sedangkan Ryuu buru-buru membuang muka, tak ingin berkontak mata dengan Ara terlalu lama.


"Sudah kuduga, Ryuu pasti tak mau ikut pergi karaoke karena ada aku. Dia tak ingin melihat wajahku," batin Ara sedih sambil menundukkan pandangannya. Membuat Rangga yang masih merangkul di sampingnya tersenyum tipis, cukup puas akan hal ini.


"Kalau Ryuu tak ikut, aku juga tak ikut deh. Kalian berempat saja yang ke tempat karaoke," kata Revina tersenyum manis.


Sam dan Ara mengangguk mengiyakan. Sedangkan Angel hanya diam, cukup senang karena akhirnya Revina tak ikut bersama mereka.


"Kalau begitu, dadah! Kami pergi dulu ya, Ryuu, Rev," ujar Sam seraya berjalan duluan. Tak lupa, ia bergandengan tangan dengan Angel sambil terus berjalan. Tak peduli dengan Angel yang terus bergerutu karena tak mau di gandeng.


Di belakang, Rangga ikut menggandeng tangan Ara seperti halnya Sam dan Angel. Tentu saja, Ara terkejut dan refleks berusaha melepaskan tangan Rangga yang menggenggam tangannya erat.


"Tanganku dingin. Izinkan aku menggandeng tanganmu sebentar saja, ya," ucap Rangga dengan suara lembut. Lengkap dengan senyuman manisnya. Membuat Ara mau tak mau mengangguk pelan, tak tahu harus bicara apa.


Mereka berdua pun berjalan mengikuti Sam dan Angel yang sudah berjalan cukup jauh di depan sana. Sebelum keluar dari pintu kelas, Ara sempat menoleh ke belakang. Dimana di kelas hanya ada Ryuu dan Revina yang tersisa. Walau menoleh hanya sekilas, namun bisa Ara lihat bahwa Ryuu dan Revina kini sedang mengobrol berdua.


Dan sepertinya, Ryuu terlihat tak peduli dengan Rangga yang kini sedang menggandeng tangan Ara. Ya, benar-benar terlihat tak peduli.


"Ra, ayo jalan," ujar Rangga membuyarkan lamunan Ara.


"Ehm, a-ayo," kata Ara seraya melangkahkan kakinya keluar melewati pintu kelas. Di samping Ara, Rangga mencoba mensejajarkan langkahnya sambil terus menggandeng tangan Ara erat. Ia tersenyum puas dan senang karena Ara terlihat tak risih dengan tatapan maupun gandengan tangannya.