
...🖤🖤🖤...
..."Aku mencari kesempatan untuk bisa bicara denganmu. Namun, kau tak pernah meluangkan sedikit waktumu untukku."...
...🖤🖤🖤...
"Kak Angga! Kak Angga!"
Ara berlari masuk ke dalam ruangan dimana Angga dirawat. Di dalam ruangan, terlihat Rangga dan Revina yang sedang duduk di sofa putih panjang. Sofa tersebut terletak tak jauh dari ranjang Angga. Melihat kedatangan Ara, Rangga tersenyum sedangkan Revina yang berada di sampingnya hanya diam saja.
Rangga pun berdiri一menyambut kedatangan Ara yang terpaku di tempatnya.
"Bagaimana keadaan Kak Angga? Apa Kak Angga baik-baik saja?" Ara langsung to the point tanpa basa-basi seraya menatap ranjang Angga yang kosong dan rapi.
"Kemana Kak Angga? Kenapa dia tak ada?" sambung Ara heran.
"Kak Angga sudah boleh pulang dari rumah sakit hari ini, Ra," jawab Revina.
Rangga mengangguk, "Alasanku kenapa menelfonmu tadi, adalah karena Kak Angga bilang ia mau bertemu denganmu," kata Rangga menambahkan.
Ara mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Namun, masih ada satu hal yang mengganjal di hatinya.
"Kenapa Kak Angga ingin bertemu denganku? Apa ada yang ingin ia bicarakan padaku?" batin Ara.
"Ra, Jika Kak Angga sudah selesai ganti baju dan datang kesini, bilang saja aku dan Revina menunggu di bawah ya. Kami berdua menunggu di parkiran," kata Rangga seraya menepuk pelan pundak Ara. Sesaat setelah bicara seperti itu, Rangga dan Revina pun pergi keluar dari kamar itu sambil membawa tas bawaan milik Angga.
Sambil menunggu Angga yang belum juga datang, Ara memutuskan untuk duduk di sofa panjang putih yang ada disitu. Lalu, ia mengambil ponselnya yang berada dalam tas selempangnya.
Mata Ara melotot seketika tatkala melihat banyak panggilan tak terjawab dari Sam, dan Angel. Andai saja ponselnya bukan dalam mode hening, pasti Ara akan mendengar nada dering panggilan di ponselnya.
Baru saja ia akan memanggil kembali nomor ponsel Ryuu, tiba-tiba panggilan dari Angel masuk.
Tut!
"Halo? Ngel? Ada apa kau menelfonku?"
"Ara! Kau dimana sekarang?"
"Aku... ada di rumah sakit tempat dimana Kak Angga dirawat."
Hati Ara tak karuan mendengar nada bicara Angel yang terdengar panik.
"Kau segera kesini ya, aku akan share location padamu."
"M-memangnya ada apa, Ngel?"
"Pokoknya kau kesini secepatnya! Oke? Aku dan yang lainnya menunggumu disini."
Tut!
Angel mematikan panggilannya sebelah pihak. Membuat Ara kini bertanya-tanya dengan beribu pertanyaan di kepalanya.
"Eh? Bandara?" Ara mengernyitkan dahinya bingung saat melihat share location yang dikirimkan Angel untuknya. Untuk apa Angel berada di bandara sekarang?
Cklek!
"Altheara?"
Seorang lelaki jangkung, berkulit kuning langsat, dan berwajah tampan berdiri di ambang pintu. Ia terlihat kaget melihat Ara.
"Kak Angga? Apa Kak Angga sudah selesai? Rangga dan Revina menunggu Kakak di parkiran. Semua bawaan Kakak juga sudah dibawa mereka berdua," jelas Ara tanpa basa-basi sambil berjalan keluar melewati Angga yang masih berdiri di ambang pintu.
Angga pun menutup pintu kamar pasien tersebut. Kini, mereka berdua sudah berada di luar kamar.
"Ara? Kenapa kau ada disini? Apa adikku一 Rangga yang menyuruhmu kesini?"
DEG!
"Eh? Bukankah Kak Angga yang bilang ingin bertemu denganku hari ini?"
Angga menggeleng keras sambil mengernyitkan dahinya. Tak mengiyakan pertanyaan Ara.
Baru saja Ara akan bicara, tiba-tiba sebuah panggilan dari Angel masuk ke ponselnya yang berada dalam genggamannya. Secepat kilat, ia segera mengangkat panggilan itu.
"Sebentar Ngel, aku akan segera kes一"
"Ra, sebentar lagi pesawat Ryuu akan berangkat. Kau yakin tak akan menemuinya untuk terakhir kalinya?"
Ara membelalakkan matanya kaget setengah mati, "Apa maksudmu? Ryuu mau kemana memang?"
"Pokoknya, cepat kesini ke lokasi bandara yang sudah ku kirim!"
Kali ini Ara yang mematikan panggilan secara sepihak. Tanpa memperdulikan Angga yang masih kebingungan, Ara pun berlari menyusuri lobi rumah sakit一menuju pintu keluar rumah sakit tersebut. Membuat Angga mau tak mau harus ikut mengejar Ara di belakang.
Tep!
Angga berhasil menarik tangan Ara agar berhenti berlari. Tentu saja, Ara dengan cepat melepaskan paksa genggaman Angga sambil menatap lelaki yang lebih tua tiga tahun darinya itu.
"Kak, maaf. Aku harus segera pergi, ada urusan yang sangat penting," kata Ara yang suaranya terdengar lirih di telinga Angga.
"Kalau begitu, aku akan mengantarmu," jawab Angga cepat. Meski ia sendiri tak tahu, urusan penting apa yang dimaksud oleh Ara.
***
Rangga dan Revina sudah berada dalam mobil milik keluarga Revina yang terletak di parkiran. Dua manusia yang memiliki hubungan sepupu itu duduk di bangku mobil paling depan.
"Rangga, aku rasa kau sudah terlalu keterlaluan. Kau sampai menipu Ara agar ke rumah sakit hari ini dengan menggunakan nama Kakakmu, Kak Angga," kata Revina tak setuju dengan kebohongan Rangga.
Rangga tersenyum menyeringai. Tak menggubris ucapan Revina.
"Aku memang tak suka pada Ara. Namun, bukan berarti aku一"
"Revina, bukankah kau sendiri yang bilang hari ini Ryuu akan pergi ke jepang?" potong Rangga sambil menatap Revina serius.
Revina mengangguk.
"Kau menyukai Ryuu, kan?"
Lagi-lagi Revina mengangguk.
"Tapi, kan一"
Revina menunduk. Ia menatap jari-jemarinya yang saling terpaut. Pikirannya melayang ke beberapa hari kemarin saat Ryuu curhat padanya di sekolah, tepatnya di hari terakhir Ujian Nasional.
...(Flashback, Chapter 85 - Pura-pura)...
"Ryuu, kenapa kau tak ikut bersama yang lain?" tanya Revina yang kini sudah duduk di sebrang Ryuu. Jarak mereka duduk hanya di sekat oleh satu meja saja.
Ryuu membuang muka. Enggan bicara apa-apa.
"Sepertinya ada sesuatu yang kau sembunyikan ya, Ryuu."
Ryuu tetap diam. Namun kali ini, lelaki itu berdiri seraya mengambil tas sekolahnya. Ia berniat untuk pergi dari situ dan pulang ke rumah. Tapi karena pergerakannya itu terlalu cepat, tas sekolah ia jatuh ke lantai cukup keras.
Ryuu pun berjongkok seraya memungut buku dan pulpen yang jatuh dari dalam tasnya. Sedangkan Revina hanya diam melihat Ryuu. Hingga detik berikutnya一Revina melihat sesuatu berwarna biru yang tadi ikut jatuh ke lantai bersamaan dengan buku dan pulpen Ryuu.
Tanpa berkata apa-apa, Revina segera ikut berjongkok seraya mengambil buku kecil berwarna biru tersebut di tangannya.
"Ryuu, ini paspor milikmu?" tanya Revina kaget sambil menatap Ryuu dan paspor itu berulang kali.
"Jawab aku, Ryuu," tegas Revina karena melihat Ryuu masih saja diam.
Ryuu pun membuang muka ke sembarang arah, "Iya, itu paspor milikku."
"Untuk apa kau buat paspor? Jangan-jangan..."
"Tadinya, hari ini aku berniat akan bilang pada Ara tentang kepergianku ke jepang nanti. Makanya aku bawa paspor ini sebagai bukti," potong Ryuu seraya mengambil paspor miliknya dari tangan Revina. Lalu memasukkan paspor itu ke dalam tasnya.
Ryuu berdiri sambil menyeleting tas-nya一membuat Revina ikut berdiri juga. Sambil menatap Ryuu kaget sekaligus tak percaya, Revina menyentuh pundak lelaki tinggi nan tampan itu.
"Kenapa kau pergi ke jepang? Apa Bundamu disana sedang tidak baik-baik saja?
Ryuu menunduk. Ia sendiri bingung harus cerita atau tidak pada Revina. Karena orang yang ia harapkan untuk mendengar ceritanya hanya satu orang saja, yaitu Ara.
"Kita sudah saling bertukar cerita tentang keluarga kita yang hancur karena perselingkuhan Ayahmu dan Mamahku. Jadi, tidak apa. Kau harus menceritakan keluh kesahmu padaku sekarang. Seperti aku yang sering menceritakannya juga padamu," ucap Revina mencoba membujuk Ryuu.
Lama Ryuu terdiam dan menunduk. Hingga pada akhirnya, lelaki itu membuka suara.
"Bundaku ternyata sedang hamil dan ia tetap nekat pergi dan menetap di jepang. Dan kemarin, aku dapat kabar dari calon tunanganku bahwa Bundaku sedang sakit-sakitan dan kondisinya cukup parah disana," jelas Ryuu dengan nada suara dingin namun sarat akan kesedihan yang mendalam.
"T-tunggu sebentar. Calon tunanganmu? Maksudmu, Tachibana Aoi yang pernah kau ceritakan dulu?"
"Iya, kau masih ingat ternyata."
"Eh? Kukira kau sudah tak akan dijodohkan lagi dengan gadis jepang itu一"
"Di jepang, perjodohan bukanlah hal yang main-main. Pihak keluarga dari pihak manapun tidak bisa asal membatalkan perjodohan. Apalagi, perjodohan ini sudah direncanakan sejak aku dan Aoi masih kecil," jelas Ryuu memotong ucapan Revina.
Revina mengangguk tanda mengerti dengan penjelasan Ryuu, "Jadi? Kau akan pergi ke jepang untuk menyusul Bundamu disana?"
Ryuu mengangguk mantap seraya menatap lurus Revina tajam dan serius.
"Jangan bilang pada Al soal ini. Karena, aku sendiri yang akan bilang padanya. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk membicarakan ini dengan Al," kata Ryuu tetap dengan nada dinginnya namun terdengar sangat tegas.
...Flashback Off...
Revina menatap ke samping一menatap Rangga yang masih tertawa puas. Entah kenapa, meskipun gadis itu berhasil membuat Ryuu dan Ara pasti tak akan bertemu untuk yang terakhir kalinya一tapi ia merasa bersalah terutama pada Ryuu.
Ya, ia memang membenci Ara yang selalu dekat dengan Ryuu. Tapi jika ia melakukan hal ini, tentu ia juga akan membuat Ryuu sangat sedih kan? Dan tentu saja, ia tak mau Ryuu sedih. Karena penderitaan keluarga Ryuu sama seperti penderitaan keluarganya yang hancur. Ia tak mau menambah penderitaan Ryuu lagi karena hal ini.
"Penerbangan Ryuu ke jepang dimulai jam 12:00, kan? Sekarang sudah jam 11:45. Kalaupun Ara sekarang pergi ke Bandara untuk menemui Ryuu, pasti sudah terlambat," ujar Rangga tertawa puas.
"Rangga, aku一"
Rangga berhenti tertawa. Ia menatap sepupunya tersebut sambil memicingkan mata.
"Kau kenapa? Kenapa ekspresimu begitu? Jangan bilang kau menyesal?" tanya Rangga menduga.
Revina diam. Pikirannya lagi-lagi melayang ke hari kemarin. Saat ia dan Ryuu berada di luar studio band.
...(Flashback, Chapter 89 - Kau Marah?)...
Ryuu dan Revina berdiri di luar studio. Tangan Ryuu sibuk membuka pintu dengan kunci agar pintu utama studio band terbuka. Namun, entah kenapa kunci tersebut jatuh dan jatuh lagi ke tanah. Ya, bisa Revina sadari bahwa Ryuu kini terlihat tak fokus.
"Ryuu, sini, biar aku saja yang buka," kata Revina mencoba membantu.
"Tak usah, aku bisa sendiri," tolak Ryuu sambil terus berusaha membuka pintu dengan kunci.
Revina pun menyentuh tangan Ryuu. Berusaha membuat Ryuu berhenti. Dan benar saja, Ryuu berhenti memasukkan kunci ke dalam lubang pintu. Lelaki itu kini menatap Revina kesal.
"Singkirkan tanganmu dari tanganku," kata Ryuu ketus.
Revina menggeleng, "Apa kau sudah memberitahu pada Ara soal kepergianmu ke jepang?"
DEG!!!
Ryuu merasa pertanyaan Revina begitu menohok di hatinya. Karena apa? Karena ia sendiri bingung mau menjawab apa.
"Kenapa? Apa kau berniat tak mau memberitahukan pada Ara? Bagaimana kalau aku saja yang bilang?"
"Tidak, kau jangan ikut campur," kata Ryuu cepat sambil menatap dingin Revina.
"Lalu, kapan kau akan bilang?"
"Besok."
"Kenapa harus besok?"
"Karena besok aku akan berangkat ke jepang. Pesawatku akan lepas landas pukul 12:00. Sebelum pukul 12:00, aku akan mencari waktu untuk membicarakan ini pada Al," jelas Ryuu yang membuat Revina membelalakkan mata tak percaya.
Baru saja gadis itu akan membuka suaranya, pintu studio band berhasil dibuka oleh Ryuu. Ryuu pun masuk ke dalam studio band一meninggalkan Revina yang masih kaget setengah mati. Detik berikutnya, dengan langkah yang terburu-buru Revina masuk menyusul Ryuu ke dalam studio band.
...Flashback Off...
"Aku benar-benar jahat. Bukan hanya pada Ara, tapi juga pada orang yang kucintai yaitu Ryuu," batin Revina merasa sangat bersalah. Dalam lubuk hatinya, ia berharap Ryuu dan Ara bisa bertemu di Bandara.