
🖤🖤🖤
Sudah terbiasa..
Tapi kenapa masih sesakit ini?
🖤🖤🖤
"Raaa! Araaa!"
"Putriii! Kau dimanaaa?"
Sudah hampir setengah jam Angel, Rangga, dan Sam mencari dimana keberadaan Ara. Namun, hasilnya nihil. Ara masih tak ditemukan. Hal ini karna lampu yang di pasang di sekitar jalan dekat Villa tidak begitu terang. Mungkin sudah lama tidak diganti, begitu kira-kira menurut Angel, Sam, dan Rangga.
"Hei, kalau begini caranya, Ara pasti akan sulit ditemukan. Bagaimana kalau kita berpencar saja?" usul Sam yang nafasnya sudah tersengal-sengal karna kelelahan.
Angel dan Rangga mengangguk setuju.
"Ya sudah, kalau begitu aku akan ke arah kanan, kau ke arah kiri, dan aku arah tengah. Bagaimana?" tanya Rangga lalu diikuti oleh anggukan Sam dan Angel.
Rangga berlari duluan ke arah kanan. Baru saja Angel akan ikut berlari ke arah yang ditentukan, tiba-tiba Sam menarik tangan Angel. Mencoba menghentikan langkah pacarnya itu.
"Ngel, kau lebih baik di Villa saja. Biar aku dan Rangga yang mencari Ara," ujar Sam dengan lembut.
Angel melepaskan tangan Sam yang menggenggam tangannya, "Tidak, aku tidak bisa. Aku tidak bisa berdiam diri kalau menyangkut soal Ara!"
"Hei, hei, hei. Sayang, dengarlah. Kau ini perempuan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau pergi sendirian mencari Ara ke arah sana. Lebih baik kau di Villa saja. Tunggu aku. Diantara aku dan Rangga pasti akan ada yang menemukan Ara. Kau mengerti?" tanya Sam mencoba melunakkan hati Angel.
Angel terdiam beberapa saat. Lalu detik selanjutnya, gadis itu pun mengangguk sambil tersenyum.
"Ya sudah, aku pulang lagi ke Villa ya. Kau boleh melanjutkan mencari Ara lagi," kata Angel masih mempertahankan senyumannya.
"Akan ku antar kau ke Villa一"
"Tidak, tidak apa-apa. Aku bisa sendiri kok, Sam."
"Tapi kan一"
CUP!
Angel mengecup bibir Sam sekilas. Membuat Sam langsung diam terpaku beberapa saat. Melihat itu, Angel pun tertawa.
"Sudah sana, aku tidak apa-apa kok pulang ke Villa sendiri."
"Kau serius?"
Angel mengangguk sambil tersenyum manis. Oh, demi apapun, Sam bersumpah ini pertama kalinya Angel tersenyum semanis itu padanya.
"Ya sudah! Aku pergi dulu ya mencari Ara! Dadah sayang!" seru Sam seraya tersenyum sumringah sambil berlari dengan kecepatan kilat ke jalan sebelah kiri.
"Hati-hati!" teriak Angel dari kejauhan lalu dibalas dengan lambaian tangan Sam.
***
FLASHBACK ON
Ryuu dan Ara yang masih berumur 9 tahun sedang berbincang di taman belakang rumah milik Ryuu. Malam ini, seperti biasa acara makan malam diadakan oleh keluarga Ryuu dan Ara setiap sebulan sekali. Ya, keluarga mereka sungguh terlihat harmonis. Apalagi, sekarang Ara sangat bahagia. Karen Ryuu sedikit demi sedikit sudah cukup akrab dengannya.
"Ryuu! Kau semakin hari semakin tampan!"
"Benarkah? Wah, terimakasih Al!"
"Hmm, bahasa jepangnya tampan apa sih?"
"Bahasa jepangnya tampan yaitu Ikemen."
"Oh begitu! Berarti Ryuu Ikemen, dan aku apa?"
"Kau kawaii, Al!"
"Kawaii? Apa itu kawaii?"
"Kawaii itu artinya IMUT hehehe."
"Wah, berarti aku imut ya di matamu? Terimakasih Ryuu ikemen, hahaha."
"Sama-sama, Ara kawaii! Hahaha."
"Ryuu, jika sudah besar nanti, maukah kau mengajariku bahasa jepang?"
"Kenapa kau ingin bisa bahasa jepang, Al?"
"Itu karna aku takut, suatu hari nanti kau akan pergi lagi ke Jepang. Maka dari itu, jika itu terjadi, aku akan menyusulmu ke Jepang!"
"Hmm itu alasanmu ingin bisa bahasa jepang?"
"Iya, hehehe."
"Ya sudah, nanti kalau sudah besar, aku akan mengajarkanmu ya!"
FLASHBACK OFF
.
.
.
"Padahal, dia dulu pernah semanis itu ucapannya padaku," Ara mengelap air mata yang menetes sedikit demi sedikit dari matanya, "Tapi sekarang, ucapannya itu setajam pedang."
Ara menatap sekelilingnya. Kini, ia sedang duduk di sebuah pohon beringin besar yang cukup jauh jaraknya dari Villa. Lampu yang menerangi jalan juga cukup redup dan tak menyorot langsung ke arah Ara. Ya, mungkin ini sebabnya teman-temannya itu belum bisa menemukannya sampai sekarang.
Ara kembali menangis sambil sesekali mengusap pelan air matanya. Aneh. Ia merasa aneh pada dirinya sendiri. Ini pertama kalinya ia menangis karna ucapan sinis dan dingin Ryuu padanya. Kenapa? Bukankah ia sudah terbiasa dengan itu semua? Namun, kenapa rasanya sekarang berbeda? Kenapa rasanya masih sesakit ini kalau memang ia sudah terbiasa?
"Hei, disini kau rupanya."
DEG!!!
Ara refleks menoleh ke arah sampingnya. Dengan mata terbuka lebar, ia melihat seorang lelaki berjaket tebal berdiri lalu duduk di sampingnya sekarang. Siapa lagi itu kalau bukan...
"Rangga?!" teriak Ara terkejut.
"Sssttt, jangan teriak-teriak. Sudah malam tahu, Put. Hehehe," kata Rangga sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir Ara.
Ara pun tambah terkejut lalu dengan cepat menarik telunjuk Rangga dari bibirnya.
"K-kenapa kau bisa menemukanku?"
Rangga tertawa mendengar pertanyaan Ara, "Aku, Sam, dan Angel berpencar hampir setengah jam mencarimu. Dan ternyata Tuhan men-takdirkanku agar aku yang bisa menemukanmu, disini," jawabnya sambil tersenyum manis.
Ara tersipu untuk beberapa saat. Melihat itu, Rangga semakin gemas pada gadis disampingnya tersebut.
"Aku heran padamu, Putri."
"Eh? Heran kenapa?"
Rangga tersenyum sambil mengelap air mata Ara yang masih tersisa di pipinya, "Habis menangis pun kau masih secantik ini."
Ara membelalakkan matanya kaget. Demi apapun, baru kali ini ada orang yang bilang ia cantik kalau habis menangis. Ya, Mommy-nya saja tak pernah bilang begitu padanya.
"Hahaha, wajahmu lucu kalau sedang salah tingkah! Hahaha.."
"Huh! Jangan menggodaku!"
"Ngomong-ngomong Put, apa kau benar-benar menyukai Ryuu?"
Ara tertegun, "Eh?"
"Aku mendengar percakapan Angel dan Sam saat tadi sebelum kami berpencar mencarimu."
"Apa kata mereka?"
"Ya, mereka berdua membicarakan perasaanmu pada Ryuu yang sudah hampir 10 tahun tak terbalas."
Ara menunduk. Entah kenapa, mendengar nama Ryuu membuatnya kembali bersedih.
"Serius kau menyukai Ryuu selama itu?"
Ara mengangguk namun masih saja menunduk. Ia tak bisa menjawab apa-apa jika Rangga menanyakan soal Ryuu sekarang.
Tak tahan melihat Ara kembali bersedih, Rangga pun menyentuh dagu Ara agar gadis itu meluruskan kepalanya. Kini, Rangga menatap Ara dengan tatapan yang sangat teduh. Membuat Ara yang kini juga menatapnya merasa cukup tenang.
Namun, tanpa Ara sadari, sedikit demi sedikit Rangga memajukan wajahnya. Hingga akhirnya wajah mereka hanya berjarak sekitar 10cm saja.
"Aku akan membuatmu melupakannya," kata Rangga hampir berbisik.
Merasa tak ada penolakan dari Ara, Rangga pun menutup matanya dan kembali memajukan wajahnya.
DEG.. DEG.. DEG..
Ingin rasanya Ara berlari secepat kilat. Namun, tubuhnya itu entah kenapa membeku. Ia sangat ingin menolak Rangga yang akan menciumnya sekarang. Karena, ia tak mau ada laki-laki yang menciumnya selain Ryuu.
"Ah, mendokusai ! (Ah, menyusahkan!)"
DEG!!!
"Ryuu?!" teriak Ara terkejut setengah mati dengan keberadaan Ryuu yang entah sejak kapan, berdiri di hadapan Ara dan Rangga yang sedang duduk.
Rangga membuka matanya dan refleks menatap Ryuu. Kini, suasana canggung tercipta diantara mereka bertiga.
"Maaf mengganggu kegiatan kalian, silahkan lanjutkan saja kembali. Dah!" ujar Ryuu dingin sambil melipat tangan di depan dadanya lalu berjalan berbalik arah.
Ara dengan cepat langsung berdiri lalu mengejar Ryuu. Ia meninggalkan Rangga yang masih duduk, diam terbeku di tempatnya. Entah kenapa, hatinya cukup sakit melihat Ara lebih memilih mengejar Ryuu daripada disini bersamanya. Dengan emosi yang berusaha ia redam, ia mengepalkan tangannya tanpa ia sadari.
"Awas saja kau, Ryuu. Cepat atau lambat, Ara akan menjadi milikku."