STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 72 - Masakan



🖤🖤🖤


Kudapati diri makin tersesat, saat kita bersama...


Desah nafas yang tak bisa dusta...


Persahabatan berubah jadi cinta...


~Zigas, Sahabat Jadi Cinta~


🖤🖤🖤


Sore ini, Ara dan Ryuu baru saja pulang dari Minimarket terdekat. Ya, sesuai permintaan Ryuu di kantin siang tadi, Ara bersedia menemani sahabatnya itu belanja. Karena, Ara pikir, kapan lagi bisa belanja bersama Ryuu? Apalagi, kali ini Ryuu sendiri yang mengajaknya untuk ikut menemaninya.


"Al, kau mau ikut masuk ke dalam rumahku?" tanya Ryuu menghentikan langkahnya, lalu melirik Ara yang berdiri disampingnya dengan tegap.


"Iya, aku sangat ingin membantumu memasak, hehehe," jawab Ara cengengesan, menampilkan deretan gigi putih bersih miliknya.


Ryuu menggelengkan kepalanya seraya menghembuskan napas. Ia tahu, Ara tak bisa memasak dan mungkin hanya akan mengganggunya memasak saja.


Ia pun membuka pintu rumahnya一mempersilahkan Ara untuk masuk duluan ke dalam.


"Bunda sedang berada di Kamar. Jadi, kau jangan berisik ya," ujar Ryuu memperingatkan Ara seraya masuk ke dalam dan menutup kembali pintu rumahnya.


"Ah, ku pikir, aku akan bertemu dengan Bunda Yui. Sudah lama aku tak bertemu dengannya. Hampir 1 minggu lebih," gumam Ara pelan namun masih bisa didengar oleh Ryuu. Mereka berdua perlahan berjalan menuju dapur.


"Bunda sedang sakit. Jadi, aku mohon agar kau bisa memaklumi hal itu."


Ara tersenyum penuh arti, menatap Ryuu yang ada disampingnya.


"Siap, Bos!" serunya ceria.


***


"Wah, akhirnya jadi juga!"


Ara menatap masakan yang baru saja selesai Ryuu masak. Hanya dua macam sih, tapi entah kenapa sukses membuat tenaga Ara terkuras banyak. Masakan pertama, yaitu *Tempura. Dan masakan kedua, yaitu *Tamagoyaki. Ya, dua masakan tersebut adalah masakan khas dari Jepang. Yang merupakan masakan paling disukai oleh Bunda Yui dan Ryuu.



^^^*Tempura : Udang Tepung goreng^^^



^^^*Tamagoyaki : Telur dadar gulung Manis^^^


Ara pun menyimpan dua piring berisi masakan tersebut ke meja makan bundar di ruang makan一yang tak jauh dari dapur.


"Ah, aku capek sekali!" kata Ara seraya duduk di depan meja makan.


Ryuu tersenyum meledek, "Al, sedari tadi kau hanya melihatku memasak saja. Kenapa malah kau yang capek?" tanyanya sambil ikut duduk didepan meja makan一tepatnya bersebrangan dengan Ara.


"Iya, maksudku, aku capek melihatmu memasak hahaha," jawab Ara tertawa renyah. Sedangkan Ryuu hanya tersenyum-senyum saja mendengar itu.


"Ini, makanlah," kata Ryuu seraya menyodorkan sepiring nasi putih pada Ara.


"Eh? Bukankah ini untukmu?"


"Kau penasaran dengan Tempura dan Tamagoyaki, bukan? Ini, makanlah dengan nasi," kata Ryuu memperjelas.


Ara mengangguk perlahan. Raut wajahnya terlihat sangat antusias. Setelah itu, ia pun mengambil sedikit Tempura dan Tamagoyaki ke piring nasinya. Lalu memakan masakan Ryuu tersebut dengan lahap.


"Bagaimana? Apakah enak?" tanya Ryuu penasaran.


Ara berhenti mengunyah. Tatapannya lurus menatap Ryuu dihadapannya. Melihat sahabatnya yang tak bicara apa-apa, tentu saja Ryuu jadi kebingungan sendiri.


"Eh? Apa rasanya aneh? Soalnya, aku sudah lama tak memasak Tempura dan Tamagoyaki. Terakhir kali aku memasak ini, saat masih SMP," jelas Ryuu merasa tak enak pada Ara.


"Ryuu..." panggil Ara pelan. Tatapannya terlihat kosong sekarang.


"Iya?"


"Dua masakan jepang ini, namanya apa?"


"Tempura dan Tamagoyaki. Ini masakan khas rumahan di Jepang sana. Sangat sederhana sih. Bagaimana, apakah rasanya enak?"


"Rasanya bagaimana, Al?" tanya Ryuu semakin penasaran.


"Ini benar-benar enak, Ryuu! Kelihatannya memang sederhana. Tapi, aku tak pernah memakan masakan rumahan se-enak ini!" seru Ara antusias, lalu kembali memakan masakan tersebut dengan lahap.


"Saking enaknya, aku sampai ingin menangis, Ryuu!" sambung Ara dengan mata berkaca-kaca sambil terus mengunyah.


Melihat hal itu, Ryuu pun tertawa terbahak-bahak. Jawaban dari Ara tentang masakannya benar-benar diluar dugaan. Apalagi, ekspresi sahabatnya yang berlebihan itu membuat Ryuu tak bisa menahan tawanya.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Ara memanyunkan bibirnya, tak terima bahwa dirinya ditertawakan. Meski begitu, sebenarnya ia senang melihat Ryuu yang bisa tertawa karena dirinya.


"Memangnya, seenak itu, ya?" tanya Ryuu seraya menyumpit Tempura dan Tamagoyaki bersamaan. Lalu memakan dua masakan buatannya tersebut.



"Enak sekali, kan? Wah! Aku saja sampai kaget pas awal mengunyah masakanmu ini!"


"Kau memang jenius di bidang apa saja ya, Ryuu. Bakatmu saja begitu banyak. Jika masakanmu seenak ini, mungkin kau bisa jadi Chef!" sambung Ara tersenyum manis.


Ryuu memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah akibat pujian Ara. Syukurlah, karena terlalu fokus makan, Ara tak menyadari hal tersebut.


"Cepat habiskan," perintah Ryuu lalu dibalas anggukan semangat oleh Ara.


***


"Makan sudah, cuci piring sudah, berarti sekarang adalah waktunya aku一"


"Pulang," kata Ryuu dengan cepat memotong ucapan Ara.


Ara memajukan bibirnya beberapa senti. Ia sebal karena Ryuu memotong ucapannya begitu saja. Tanpa merasa bersalah, Ryuu pun berjalan keluar dari dapur meninggalkan Ara sendirian.


"Hmm, sepertinya kau tak mau aku lama-lama di rumahmu, ya!" seru Ara sebal seraya berjalan mengikuti Ryuu dari belakang.


Mereka pun sampai di ruang tamu, tepatnya dekat di pintu utama rumah Ryuu.


"Silahkan, kau boleh pulang," ujar Ryuu mempersilahkan agar Ara membuka pintu rumahnya.


Ara masih memanyunkan bibirnya sebal seraya melipat tangan di bawah dada. Entah kenapa, rasanya ia tak mau pulang begitu saja dari rumah Ryuu. Ia ingin sedikit lebih lama lagi bersama sahabatnya itu.


"Aku sudah menemanimu belanja, membantumu masak, memakan masakanmu, dan membantumu mencuci piring," ujar Ara bersamaan dengan empat jarinya (jari telunjuk dan jari tengah dari tangan kanan & kirinya, membentuk huruf V) yang ia perlihatkan pada Ryuu. Ia sedang menghitung apa saja yang ia lakukan untuk Ryuu sore ini.


"Ya, terus?"


"Apa aku tak mendapatkan ucapan terimakasih?" tanya Ara semakin sebal karena Ryuu yang tak peka.


Ryuu berdecak seraya memutar bola matanya, "Kau ini kenapa pamrih sekali?"


"Hei! Maksudku bukan begitu, Ry一"


SRETTT!!!


Ryuu secepat kilat menarik tubuh kecil Ara ke dalam dekapannya. Membuat Ara tadi sukses menjerit pelan karena terlalu terkejut dengan apa yang Ryuu lakukan sekarang.


Ryuu memeluk Ara begitu erat. Namun, Ara sama sekali tak membalas pelukan dari sahabatnya itu karena terlalu terkejut sekaligus bingung.


"R... Ryuu," panggil Ara ragu-ragu.


"Hmm?"


"Kenapa kau一"


"Ini bentuk terimakasihku padamu karena sore ini kau sudah banyak membantuku," ujar Ryuu dengan suara begitu lembut.


Lama-kelamaan, Ara pun membalas dan mengeratkan pelukan Ryuu padanya. Ia begitu bahagia karena ini pertama kali dalam hidupnya, Ryuu memeluknya seperti ini. Pelukan yang begitu hangat hingga membuatnya terbuai dan merasa tak ingin melepaskannya.



"Aku mencintaimu, Ryuu," gumam Ara tersenyum-senyum sendiri.



Ryuu mengangguk, "Iya, aku tahu," balasnya seraya menempelkan dagunya di atas kepala Ara. Ia berusaha tersenyum meski ada sesuatu di hatinya yang mengganjal一membuat senyumannya tak bertahan lama.