STUCK IN FRIENDZONE

STUCK IN FRIENDZONE
Ch. 41 - Bersiap



🖤🖤🖤


Kau tahu apa yang lebih menyakitkan dari cinta?


Pura-pura dicintai.


🖤🖤🖤


Malam harinya...


Angelica Nasution


Ra, maaf ya! Tadi sore sepulang Band, aku tidak jadi ke rumahmu. Huhuhu :(


Papahku menjemputku soalnya, dan hari ini rencananya Sam akan ke rumahku untuk bertemu dengan Papah. Doakan ya, semoga Papahku menyetujui hubunganku dengan Sam :)


Huh, padahal awalnya aku mau menginap di rumahmu hari ini. Tapi, takdir berkata lain. Maaf ya, Ra! Lain kali saja kau cerita tentang cintamu yang diterima Ryuu, hehehe...


Eh! Atau kalau bisa, kau ceritakan saja saat kita berempat double date di hari minggu nanti! Bagaimana?


Seperti biasa, Angel mengirimkan pesan teks cukup banyak kepada Ara sekarang. Setelah seksama membaca pesan-pesan tersebut, Ara pun berniat membalasnya. Namun, niatnya itu buyar ketika Santia, sang Mommy masuk ke kamar Ara tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Ra, ada Ryuu tuh di bawah tuh, di ruang tamu. Katanya dia ingin bertemu denganmu," kata Santia yang tentu saja kehadirannya itu mengejutkan Ara.


"Duh, Mom. Aku kaget tahu! Kenapa tidak ketuk pintu dulu?" protes Ara lalu dibalas tawa oleh Santia.


"Hahaha, kau berlebihan! Ya sudah, Mommy keluar lagi ya, masih banyak hal yang dibicarakan di grup chat Mommy, hehehe," ujar Santia seraya pergi dari kamar Ara, tak lupa pintu kamar anaknya itu ditutup rapat kembali.


"Hmm, dasar ibu-ibu sosialita, hihihi," batin Ara tertawa kecil.


Setelah tawanya selesai, ekspresi Ara kini berubah sekarang. Gadis itu mengernyitkan dahinya saat menyadari akan sesuatu.


"Eh? Ryuu ada di ruang tamu?Ada angin apa Ryuu ingin bertemu denganku?" batin Ara kembali.


TOK!


TOK!


TOK!


"Iya, Mom! Aku akan turun ke ruang tamu sekarang!" seru Ara seraya bangkit dari kasurnya.


Ara pun dengan cepat berjalan lalu membuka pintu kamarnya. Betapa terkejutnya ia saat melihat sosok laki-laki tinggi, berkulit putih, berwajah tampan, dan bermata tajam berada di depan kamarnya sekarang. Siapa lagi kalau bukan...


"... Ryuu?!"


Ryuu diam tanpa bicara apa-apa. Ia seperti biasa memasang ekspresi dingin pada Ara.


"A-apa ada sesuatu? Kenapa kau ingin bertemu denganku malam-malam begini?" tanya Ara penasaran.


Ryuu masih diam. Namun, kali ini ekspresinya itu berubah. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu hal.


"Ryuu, ada apa sih? Kau membuatku penasaran," Ara bertanya lagi. Kali ini, gadis itu refleks menggenggam tangan Ryuu.


"Ehm, ma.. Maaf," kata Ara seraya melepaskan genggaman tangannya pada Ryuu. Ia takut sikapnya itu mengganggu dan membuat Ryuu tak nyaman.


Namun, tiga detik setelah Ara melepaskan genggaman tangannya, Ryuu dengan secepat kilat menggenggam tangan Ara kembali.


Ara pun mengernyitkan dahinya, perasaan bingung dan senang bercampur dalam hatinya sekarang.


"E.. Eh? Ryuu?"


"Aku ingin cerita padamu," kata Ryuu tak menghiraukan rasa bingung Ara.


"Cerita? Cerita apa? Kenapa tak nanti saja di sekolah besok, Ryuu?"


Ryuu memutar bola matanya, "Kalau di sekolah, aku tak akan bisa cerita. Kau tahu sendiri kan? Kita selalu di mata-matai oleh teman-teman kelas kita jika di sekolah?"


"Hmm iya juga sih," jawab Ara mengiyakan ucapan Ryuu, "Memangnya, kau mau cerita apa sih? Sepertinya sangat penting sekali."


"Iya, memang penting. Namun, sebelum aku bercerita, bisakah kau mengganti bajumu dulu?"


"Eh? Memangnya kenapa?"


DEG!!!


Ara membelalakkan matanya kaget setengah mati saat sadar bahwa baju yang dipakainya cukup minim. Lehernya dan pundaknya yang putih mulus terlihat tanpa sedikitpun tertutup. Ya, wajar saja sih. Tadinya kan Ara berniat untuk langsung tidur, makanya gadis itu memilih baju minim agar tidak gerah.


BRUKKK!!!


"RYUU! KENAPA KAU TIDAK BILANG DARI AWAL, SIH? AKU KAN MALUUU!" seru Ara seraya masuk lalu menutup pintu kamarnya rapat-rapat.


"Itu karena, aku juga baru sadar ternyata sedari tadi kau berpakaian seperti itu di depanku!" sahut Ryuu dari luar kamar Ara.


"Huh, alasan! Aku baru tahu ternyata kau juga punya sisi seperti itu! Dasar Ryuu, mesum!"


Setelah berteriak seperti itu, Ara langsung merebahkan dirinya di kasur tanpa sedikitpun menghiraukan teriakan Ryuu di luar kamarnya. Pipinya merah merona, perasaan malu dan canggung tercampur aduk di hatinya sekarang. Ya, ini karena pertama kalinya Ara memakai baju minim di depan Ryuu. Dan itu tentu saja membuat Ara kaget sekaligus malu setengah mati.


***


Esoknya, sepulang sekolah..


Di ruang Band...


"Tak terasa ya, festival musik tinggal beberapa hari lagi. Ternyata kalian bisa berlatih hanya dengan waktu dua minggu saja. Aku terharu pada kalian semua," kata Coach Jeremy tersenyum manis pada semua anak didik Band di hadapannya.


Satu-persatu anak ekskul Band pun ikut tersenyum, senang akan pujian Coach Jeremy.


"Coach, setelah festival selesai nanti, bagaimana kalau kita merayakannya?" tanya Ara meminta pendapat.


Sam dan Angel mengangguk-anggukan kepalanya, "Wah! Benar juga, tuh!" seru Sam penuh semangat.


Tatapan Ara dan Coach Jeremy kini tertuju pada Ryuu dan Revina. Mereka menunggu jawaban dari ke-2 anak band itu.


"Ya, boleh saja sih, aku setuju," kata Revina agak ragu.


Sedangkan Ryuu masih diam. Namun laki-laki itu pada akhirnya mengangguk-anggukan kepalanya.


"Oke, kalau begitu, sudah diputuskan ya! Semoga, di festival musik nanti, kita harus menang ya!" seru Coach Jeremy penuh semangat.


Hening. Tak ada satupun dari anggota Band yang berbicara. Mereka semua saling berpandangan satu sama lain. Merasa kobaran semangatnya itu tak berpengaruh pada anak didiknya, Coach Jeremy pun kebingungan sendiri.


"Eh? Kalian kenapa diam?"


"Ehm, Coach, memangnya di festival musik nanti, kita lomba ya? Kenapa Coach bilang kita harus menang?" tanya Sam mendahului Ara yang sudah siap bertanya.


Ara, Angel, dan Revina mengangguk, tanda rasa penasarannya sama seperti Sam.


"Eh? Memangnya aku tak bilang pada kalian semua? Ini bukan sekedar festival musik, tapi juga perlombaan Band untuk kalian!" jawab Coach Jeremy.


"EHHH?!!!" teriak semua anggota Band, kecuali Ryuu yang sedari awal sudah tahu bahwa latihan Band mereka memang ditujukan untuk perlombaan, bukan sekedar pertunjukkan festival semata.


****


Sepulang ekskul Band...


"Duh, ini tidak mungkin! Jika sedari awal aku tahu ini lomba, mungkin aku akan lebih giat lagi berlatih!" seru Angel mengeluh.


Ara dan Sam mengangguk setuju dengan ucapan Angel. Sedangkan Ryuu yang disamping Ara hanya diam tanpa suara. Kini, mereka berempat sedang berjalan menuju parkiran sekolah. Oh, jangan tanya Revina dimana. Semenjak Ryuu dan Ara berpura-pura pacaran, Revina seperti enggan dekat-dekat lagi dengan Ryuu. Gadis itu memilih untuk pulang duluan daripada bersama dengan Ryuu dan Ara.


Sesampainya di parkiran sekolah, Ara dan Ryuu segera mengambil sepeda mereka masing-masing. Berbeda dengan Sam yang membawa sepeda motor, dan Angel entah sejak kapan sudah duduk di jok motor belakang Sam.


"Festival hari sabtu kan? Kira-kira bisa tidak ya kita kencan di esok harinya?" tanya Sam meminta pendapat.


"Eh? Iya juga ya, kita kan akan double date di hari Minggu nanti ya?" timpal Angel balik bertanya.


Ara mengernyitkan dahinya, "Eh? Memangnya kenapa? Jika festival hari sabtu, bukankah itu bagus? Berarti di hari minggunya kita bisa double date kan?"


"Memangnya kau tak akan lelah di festival musik hari sabtu nanti? Bagaimana kita bisa kencan di hari minggunya kalau kita lelah di hari sabtu? Ah, dasar bodoh," jawab Ryuu ketus.


1 detik...


2 detik...


3 detik...


"Ehm, maksudku, honey," sambung Ryuu yang menyadari tatapan aneh Sam dan Angel padanya.


"K.. Kalau begitu, kita harus banyak persiapan ya agar di hari sabtu nanti kita tidak terlalu lelah. Hehehe, iya kan, darling?" tanya Ara pada Ryuu seraya tertawa canggung. Ia takut Sam dan Angel curiga pada Ryuu karna sepertinya Ryuu keceplosan memanggilnya bodoh.


Angel dan Sam mengangguk, "Kau benar! Kita harus banyak persiapan, nih!" seru Sam bersemangat. Sepertinya, Sam dan Angel tak begitu mempermasalahkan ucapan Ryuu tadi pada Ara. Dan itu tentu saja membuat Ara lega.


"Memangnya kita akan double date dimana?" tanya Ara penasaran.


"Di Mall Violetta! Bagaimana? Apa kalian setuju?" Angel balik bertanya sambil tersenyum manis pada Ryuu dan Ara.


Ara mengangguk sambil membalas senyuman Angel, "Ah, hahaha! Boleh, boleh. Kau setuju kan, darling?"


"Iya, aku setuju, honey," jawab Ryuu dengan terpaksa ikut tersenyum.


"Ah, kalian berdua sangat so sweet ya!" seru Sam tersenyum-senyum, "Ya sudah, kalau begitu, aku pulang duluan ya! Dah!"


"Dadah, Sam, Angel! Hati-hati di jalan!"


"Iya, Ra! Kau juga ya hati-hati di jalan dengan pacarmu, hehehe!"


Setelah berucap seperti itu, sepeda motor Sam pun melaju dengan kecepatan sedang menuju luar gerbang sekolah. Meninggalkan Ryuu dan Ara yang masih berdiri di parkiran sekolah.


"K.. Kalau begitu, bagaimana kalau kita juga segera pulang, Ryuu?" tanya Ara seraya menaiki sepedanya. Bersiap untuk mengayuh sepedanya tersebut.


Ryuu menatap tajam Ara, "Kau tahu kan kelulusan tinggal berapa bulan lagi?" tanya Ryuu yang sukses membuat Ara menatapnya bingung.


"Sekitar 4 bulan lagi. Memangnya kenapa, Ryuu?"


"Itu artinya, kita harus banyak belajar bukan? Memangnya kau tak ingin lulus, apa? Lulus dengan nilai tinggi agar bisa masuk universitas terpilih."


"T.. Tentu saja aku mau! Walau bodoh begini, aku juga mau lulus dengan nilai bagus, tahu!" seru Ara yang merasa Ryuu merendahkannya.


Ryuu memutar bola matanya, "Al, kau tak sadar hari minggu itu waktunya aku belajar? Bukan untuk bermain? Dan di hari minggu nanti, aku harus kencan denganmu? Double date, pula. Kau tahu bagaimana perasaanku saat ini?"


"A-aku tahu kok tentang hal itu! Lagipula, bagaimana lagi? Sam dan Angel yang mengajak kita. Kalau kita menolak, pasti mereka berdua curiga pada kita."


Ryuu terdiam. Namun, di balik diamnya itu, Ara merasa Ryuu setuju dengan ucapannya.


"Jika kau memang keberatan, bagaimana jika kita jujur saja pada Sam dan Angel bahwa kita pacaran pura-pura?" tanya Ara meminta pendapat.


Ryuu menggeleng, "Jangan. Mulut Sam sangat tak bisa dijaga. Begitu pula dengan Angel. Aku sangat tahu mulut perempuan itu bagaimana. Jadi, biarlah ini jadi rahasia kita berdua saja."


Ara mengangguk sambil tersenyum.


"Ya sudah, kalau begitu, persiapkan dirimu di hari minggu nanti, ya, darling! Hehehe," kata Ara seraya tertawa kecil.


Ryuu berdecak sambil membuang mukanya, "Jangan memanggilku begitu jika hanya ada kita berdua saja, bodoh."


"Hehehe, lagipula kau duluan kan yang memanggilku dengan panggilan honey?"


"T.. Tidak! Enak saja. Sejak kapan aku duluan yang memanggilmu dengan panggilan menjijikkan itu?" tanya Ryuu menyangkal.


Ara yang menyadari wajah memerah Ryuu segera tertawa terbahak-bahak. Walau ucapan sahabatnya itu cukup pedas, namun Ara bisa tahu bahwa Ryuu kini sedang malu padanya. Merasa di tertawakan cukup puas oleh Ara, Ryuu pun menatap Ara tajam lalu detik selanjutnya ia pergi mengayuh sepedanya. Meninggalkan Ara yang masih tertawa terbahak-bahak di parkiran sekolah.


"Eh, Ryuu! Tunggu aku!" seru Ara ketika menyadari Ryuu yang meninggalkannya begitu saja. Gadis itu pun akhirnya ikut mengayuh sepedanya, berusaha mengejar Ryuu yang sudah jauh di depan sana.